Yes, It'S U

Yes, It'S U
Bab 45



Untuk sebagian orang acara pindah rumah memang sangat menyenangkan, apalagi membayangkan tempat baru, suasana baru, pasti mood pun akan semakin bagus. Namun, ada hal yang menurun mood ketika pindahan, yaitu membereskan dan mengangkut semua barang yang akan dibawa saat pindah rumah.


"Apa kita tumpuk aja gitu ya?" melihat koper yang sudah memenuhi bagasi mobil.


"Kalau ga cukup, masuk ke mobil saya saja, Pak." Nalendra memberi saran pada Pak Idris.


Pak Idris mengangguk setuju, dia tidak ingin koper-koper yang berisi pakaian masuk ke truk bersama barang-barang yang lain.


"Jangan, Pak. Ke mobil saya saja!" Pak Darmawan menghampiri mereka. "Biar masuk ke mobil saya saja, Pak. Saya juga 'kan ikut ke sana. Takutnya Nalendra ada keperluan yang mendadak," ujar Pak Darmawan.


Nalendra melirik Pak Idris, mereka saling menatap terkejut. "Oh, iya. Baiklah, di dalam tinggal dua koper lagi." ujar Pak Idris kemudian.


"Biar saya yang ambil, Pak." Nalendra segera masuk ke dalam mengambil koper yang tersisa.


"Maaf lho, Pak. Saya merasa ga enak melihat Nalendra. Dia hanya teman Ergha, saya takut dia merasa direpotkan," ungkap Pak Darmawan.


"Nalendra itu anak yang baik, sebelum ke sini dia meminta izin pada saya untuk ikut membantu Rania pindahan. Mungkin dia begitu karena Ergha adalah teman kuliah dan Rania juga teman saat SMA. Saya justru sangat bersyukur Ergha dan Rania mempunyai teman seperti Nalendra."


Pak Darmawan terdiam memikirkan sesuatu, entah apa itu. Namun, membuat hati Pak Idris was-was takut dia salah paham pada Rania.


Semua barang akhirnya selesai di masukan ke dalam truk angkut. Rania menghela napas panjang, rasa sedih kembali datang saat melihat tiap ruangan di rumah impian yang selama ini ditempati bersama Ergha. Kini semua hanya tinggal kenangan. Rania menutup pintu depan rumah dengan asa.


"Teh, tunggu," teriak Bu permata menghampiri Rania yang akan masuk ke dalam mobil.


"Iya, Bu. Ada apa?"


"Ini buat Si Ade, buat ngemil di jalan." Bu permata menyodorkan sekresek penuh jajanan yang biasa Dareen beli.


"Ibu, jadi ngerepotin. Makasi ya Bu," ucap Rania.


Bu permata memeluk Rania dengan hangat. Dia sudah menganggap Rania dan mendiang Ergha sebagai keluarga. Bu permata menyeka air mata yang keluar.


"Hati-hati di jalan, inget kalau ada waktu luang harus main ke sini. Nomor telepon jangan diganti ya, Teh, biar gampang bertukar kabar!"


"Baik, Bu." ucap Rania menahan air mata yang ingin keluar.


"Si Ade mana?" Rania menunjuk mobil paling belakang, Dareen ingin ikut dengan Nalendra.


"Oh, iya atuh. Hati-hati ya, Teh. Kabari Ibu kalau sudah sampe sama."


"Baik, Bu." ucap Rania yang merasa tercekat, tidak bisa berkata lebih. "Assalamu'alaikum." dia masuk ke dalam mobil dan melambaikan tangan pada Bu Permata.


Rania melajukan mobil perlahan. Dia memberi kode agar mobil Pak Darmawan melaju lebih dulu. Rania harus memastikan Sang anak baik-baik di mobil Nalendra, juga untuk mengantisipasi jika Dareen ingin pindah bersamanya.


"Kita pulang saja ya, Bu!" kata Pak Darmawan pada Sang istri.


"Pulang, kenapa?" tanya Bu Darmawan kaget.


"Bapak jadi malas nyetir ke Bandung," jawab Pak Darmawan, suaranya terdengar kesal.


"Ih, ga boleh gitu. Masa ga jadi nganter, 'kan koper mereka ada di mobil kita, Pak!" jawab Bu Darmawan. Dia tahu jika Sang suami kurang nyaman dengan Nalendra, apalagi dareen lebih memilih bersama dengan Nalendra dibandingkan dengan mereka.


"Kita ke sana nganterin koper aja, setelah itu kita pulang!" ucap Pak Darmawan. Bu Darmawan menghela napas sebal melihat tingkah suami yang seperti anak kecil.


Pantas saja Dareen ga mau ikut, toh dia selalu marah-marah jika ada yang tidak sesuai keinginannya walaupun itu hal kecil. batin Bu Darmawan.


Mobil Rania masuk ke rest area daerah Karawang. Dia menerima pesan dari Nalendra yang memberitahu jika Dareen ingin buang air.


Rania parkir di dekat mesjid, dari kejauhan terlihat Dareen yang berada dalam gendongan Nalendra. Sungguh Dareen manja sekali jika bersama Nalendra.


"Pak, mau ke ****** ga?" tanya Rania pada pak Idris.


Rania keluar dan menghampiri Nalendra yang berdiri di depan toilet. "Penuh?" tanya Rania melihat mereka yang belum juga masuk dari tadi.


"Iya." angguk Nalendra.


"Oh, itu sudah keluar. Aku masuk dulu," ujar Nalendra membawa Dareen masuk ke toilet khusus pria.


Rania menunggu di luar cukup lama. Dia tersenyum saat Nalendra membawa Dareen masuk ke toilet tanpa bertanya atau menyerahkan Dareen padanya.


Toilet training buat Dareen. pikir Rania.


"Penuh ya, Bu?" tanya seorang Ibu padanya.


"Maaf, Bu. saya lagi menunggu anak saya yang sedang di toilet," jawab Rania menunjuk arah toilet pria.


"Oh, saya kira sedang mengantri ke dalam," kata Si Ibu tadi sambil berlalu masuk ke dalam toilet wanita.


"Bunda," panggil Dareen berlari dari dalam toilet dan memeluk kaki Rania.


"Dareen, sudah?" tanya Rania.


"Udah," jawabnya.


"Makasi ya," ucap Rania pada Nalendra yang berdiri di depannya. "Ayo, lanjut lagi!"


"Bunda, aku mau sama Om lagi," kata Dareen ketika Rania menuntunnya.


"Iya, nanti Dareen sama Om," ujar Nalendra yang berjalan di belakang mereka. "Bapak mana?"


"Bapak di mobil. Tidur."


"Oh, ayo, Dareen!" Dareen berganti pegangan ke tangan Nalendra karena mobil Nalendra berbeda parkiran dengan Rania.


"Titip ya," ucap Rania tersenyum dibalas anggukan.


Hampir Dua jam kemudian, mereka telah tiba di depan rumah Rania yang ditinggali oleh adiknya, Zyan. Rumah ini adalah rumah masa kecil Rania, sekarang sudah beralih nama menjadi nama Rania. Bu Sekar berpikir akan lebih baik membalik nama kepemilikan rumah menjadi nama anak-anaknya, saat dia dan Pak Idris masih hidup.


Rumah ini lumayan luas, walaupun tak seluas rumah Rania di Bekasi. Namun memiliki halaman yang lebih luas dari halaman rumah Bekasi.


Orang-orang dari jasa pindahan mulai memindahkan kembali barang-barang Rania ke rumah baru. Mereka sangat bersemangat karena Rania bukanlah orang yang pelit makanan. Rania memberi bekal roti dan cemilan lain juga minuman botol untuk mereka di perjalanan tadi.


"Assalamu'alaikum, Mah." Rania menyapa mamanya, Bu Sekar yang telah berada di sana bersama Zyan.


"Wa'alaikumsalam," jawab Bu Sekar memeluk Sang anak.


"Kenapa lama?" tanya Bu Sekar. "Bapaknya Ergha udah datang dari setengah jam yang lalu!"


"Iya, Rania sekalian ngawal truk. Takut mereka ga tau alamatnya," jawab Rania. "Sekarang mereka di mana?"


"Ada di dalam." Bu Sekar melambaikan tangannya melihat Dareen yang seperti biasa berada di gendongan Nalendra. "A Nalendra geuning ikut?" tanya Bu Sekar menyenggol tangan Rania dengan sikut.


"Iya, Panjang ceritanya!"


"Hey, Bro. Ko di gendong?" Zyan mendekati Dareen yang menyembunyikan wajahnya di leher Nalendra.


"Baru bangun, Om," jawab Nalendra tersenyum mengusap punggung Dareen.


"Udah kaya anak sama bapaknya ya!"