
Nalendra pun segera menelepon Rania. setelah cukup lama hanya terdengar nada tunggu, dan ...
"Hallo," suara Rania terdengar sangat merdu dari seberang telepon.
"Iya assalamu'alaikum," Nalendra memberi salam.
"Wa'alaikumsalam, maaf mengganggu waktumu."
"Ga apa-apa, ada apa?" tanya Nalendra mulai gugup.
"Bisakah aku minta tolong?" tanya Rania.
Deg, jantungnya terasa berdegup kencang, "Apa dia tahu aku menginap semalam. Bagaimana ini ... bagaimana jika dia menyuruhku menjauhi Dareen?" batinnya khawatir.
"I-iya," jawabnya gugup.
"Bisakah nanti malam temani Dareen. aku harus ke rumah sakit, ibunya Ergha masuk rumah sakit jadi aku harus menemaninya. Apa bisa nanti malam menginap di rumahku?" tanyanya pelan.
Nalendra merasa seakan ada balon yang meletup di hatinya, ingin rasanya dia berteriak dan tertawa penuh kemenangan.
"Tentu, bagaimana kabarmu?" tanya Nalendra.
"Aku, Alhamdulillah aku baik-baik saja." suara Rania benar-benar membuat Nalendra meleleh. "Ndra, hari ini aku ga akan masak. Bisakah kamu membelikan makan malam buat bapakku dan Dareen?"
"Tentu, nanti akan aku belikan," jawab Nalendra.
"Tolong beli di tempat makan Jepang HObe aja, Dareen yang menu buat anak-anak, kalau buat bapak terserah kamu aja. Nanti aku akan ganti uangnya," ujar Rania.
"Baiklah, tenang saja akan aku belikan, tidak usah dipikirkan uangnya. Terimakasih," ucap Nalendra.
"Ah, aku yang harusnya berterima kasih," jawab Rania diseberang telepon.
"Terimakasih sudah meneleponku," ucap Nalendra tersenyum dengan wajah memerah.
"Tolong jangan bilang bapak kalau aku yang memintamu menginap," ujarnya. "Sekali lagi maaf menganggu waktumu dan merepotkanmu, assalamu'alaikum," ucap Rania dan mengakhiri teleponnya.
"Wa'alaikumsalam." balas Nalendra walaupun tahu jika Rania sudah mengakhiri teleponnya. Rasa senang bercampur dengan rasa tidak percaya jika baru saja Rania meminta untuk menemani Dareen menginap di rumahnya.
Dia memandang berkeliling ruang kantornya. Baru tersadar pekerjaannya hari ini masih menumpuk. Dia langsung menyambar gagang telepon dan menghubungi Aziz.
"Ya, Pak?" tanya Aziz begitu dia sampai di ruangan Nalendra.
"Ziz, ini bisa ga selese maximal jam empat?" tanyanya penuh harap.
Aziz melihat ke arah tumpukan kertas dan laptop Nalendra. "Mari kita coba selesaikan," Aziz langsung duduk di tempatnya semula sebelum tadi dia keluar.
"Maaf, kalau boleh tahu, kenapa bapak ingin segera diselesaikan cepat?" tanyanya, tidak biasanya Nalendra seperti itu. Bahkan sebelumnya mereka berencana akan lembur hari ini, tetapi mendadak meminta harus selesai cepat.
"Aku harus pergi ke Bekasi sebelum magrib, aku juga harus pulang dulu ngambil pakaian buat besok," ujarnya santai.
"Apa ada meeting dadakan di Bekasi?" Aziz begitu penasaran, seingatnya jika ada sesuatu tentu dia yang akan dihubungi duluan untuk membuat jadwal harian Nalendra.
"Tidak, ada urusan urgent di sana," ujar Nalendra beralasan.
Pukul empat lebih mereka baru selesai mengerjakannya. "Pak, biar saya yang bereskan." Aziz memperhatikan Nalendra yang sesekali menengok jam yang melingkar di tangannya.
"Terimakasih ya. Nanti aku traktir," ucap Nalendra senang.
Nalendra berangkat ke rumah Rania dari apartemennya, setelah membersihkan diri dan membawa beberapa baju ganti. "Kali aja besok harus menginap lagi," pikirnya penuh harap.
***
Nalendra tersenyum senang, tentu saja dia membawa banyak makanan karena perintah Rania. Nalendra senang, merasa dirinya dibutuhkan oleh Rania.
Di lain tempat, Rania sedang melihat bagaimana kedekatan anaknya dengan Nalendra. Dia melihat betapa senangnya Dareen begitu Nalendra datang dan membawa banyak makanan kesukaannya.
Rania memutuskan membiarkan Nalendra dekat dengan anaknya. Membiarkan semuanya berjalan sesuai kehendak-Nya. Dia harus mulai berbenah diri, menata hati dan pikirannya untuk Dareen, anaknya.
"Biarkan saja, mungkin Nalendra memang tulus menyayangi Dareen," pikirnya.
Dia meminta Nalendra menginap, bukan tanpa tujuan. Dia ingin agar hati dan pikirannya tidak lagi kesal pada seseorang yang berniat baik. Lagian mungkin kemarin bapaknya atau Dareen yang meminta Nalendra menginap.
"Teh, udah makan?" tanya Bu Darmawan yang melihat dari tadi menantunya asik dengan ponselnya.
"Belum, nanti sebentar lagi. Ibu mau makan?" Rania balik bertanya.
"Ibu 'kan tadi udah makan," sahutnya tertawa kecil.
Rania tersenyum, bagaimana dia lupa bahwa tadi dialah yang menyuapinya makan. "Rania kupasin apel ya buat ibu," ujarnya langsung berdiri dari sofa dan mendekat ke brangkar Sang Ibu mertua.
"Teh, maafin ibu ya. Ibu ngerepotin teteh terus," ucap Bu Darmawan sendu.
"Jangan seperti itu, Bu. Ibu juga ibuku 'kan," jawab Rania.
"Tapi sekarang aa 'kan udah ...." Bu Darmawan tidak melanjutkan lagi ucapannya. Matanya terlihat berkaca-kaca.
"Dia memang sudah tidak ada di dekat kita, tapi itu tidak akan mengubah apapun Bu. Ibu tetap mertuaku, nenek dari Dareen." Rania menghentikan mengupas apelnya. "Sehatlah Bu, Aa Ergha pasti sedih kalau tahu ibu sakit. Tersenyumlah agar aa juga tambah bahagia di sana, bukankah kalau kita sehat, kita jadi bisa lebih berbuat banyak mendoakan aa di sana," tuturnya.
"Ibu udah sehat ko. Ibu pengen cepet pulang, ga betah di sini lama-lama."
Rania tertawa kecil, "Ga 'kan ada yang betah di rumah sakit lama-lama, Bu."
Bu Darmawan mulai mengobrol banyak malam itu dengan Rania. Hatinya sangat bersyukur Allah menjadikan Rania sebagai menantunya. Rania tetaplah menantunya, menantunya yang sangat berharga.
Hampir satu Minggu Bu Darmawan dirawat di rumah sakit. Selama itu pula Rania menemaninya merawatnya dengan sabar. Kini dia sudah pulih dan sudah diizinkan pulang ke rumah dengan catatan harus minum obatnya tepat waktu dan rajin cek up kembali untuk melihat perkembangan kesehatannya.
Malam pertama Rania di rumah setelah beberapa malam menghabiskannya di rumah sakit.
"Dareen, makannya yang benar 'Nak!" seru Rania melihat anaknya hanya makan beberapa suap saja, itupun suapan kecil.
"Dareen ga suka makan itu, Bunda!" Dareen menunjuk sayur kacang buatan Rania.
"Kacang-kacangan bagus buat pertumbuhan, Sayang," jawab Rania. "Mirip sekali Ergha, ga suka makan sayur kacang!" gerutunya dalam hati.
"Pak, kayanya kita harus mulai mulai mindahin beberapa barang ke Bandung," ujar Rania pada pak Idris.
"Mindahin barang mah mending sekalian, sekali angkut biar ga buang-buang uang dan tenaga," jawabnya.
"Maksud Rania, Selasa nanti Zyan ke sini. Rania mau nyuruh dia bawain sebagian baju-baju Rania sama Dareen ke Bandung."
"Emang udah mulai di beresin?"
"Baru baju Ergha yang di pack, baju dia ternyata banyak nyampe 2 koper!"
"Nanti besok kita mulai beresin yang lain, Dareen sebentar lagi selesai semesteran 'kan. Waktunya tepat untuk pindahan rumah dan sekolah," ucap Pak Idris yang mulai lelah bolak-balik Bandung-Bekasi.
"Teteh udah mulai ngelamar kerja belum?"
"Belum, tapi waktu 100 harian kemarin sempet ngobrol sama temen mama. Beliau mengizinkan Rania ngajar di sana. Ya, mudah-mudahan dilancarkan semuanya," ujar Rania penuh harap.
Rania harus segera move on dari kehidupannya yang dulu. Dia harus segera menabung untuk sekolah Dareen, walaupun sebenarnya dia punya asuransi pendidikan sampai Dareen lulus kuliah. Namun, tetap saja biaya tak terduga selalu ada.