
Nalendra menghabiskan Sabtu pagi dengan menggoda Sang istri. Dia mengikuti Rania kemanapun dia pergi, sampai Sang istri geram.
Rania mengetok kepala Nalendra dengan spatula karena terkejut. "Duduklah di sana!" seru Rania. "Aku lagi masak, nanti kalau kecipratan minyak atau malah tumpah, bahaya bukan!"
"Iya," jawabnya cemberut sambil memegang dahi yang kena spatula. "Aku harus keramas, sepertinya minyaknya kena rambutku," rengeknya.
"Makanya jangan kaya gitu lagi, Sini aku lihat!"
Rania tertawa saat melihat rambut Nalendra yang terkena sedikit minyak, untunglah minyaknya yang berada di spatula tidak panas. Pagi itu mereka melewatinya dengan bergelak tawa.
Setelah shalat Dzuhur, mereka pun berangkat pulang ke Bandung. Nalendra mengusap pipi Rania yang tertidur di mobil. Perjalanan Jakarta Bandung menghabiskan waktu tiga sampai empat jam, bisa lebih kalau terjadi kemacetan di beberapa ruas tol.
"Sayang, bangun. Sudah sampai," ujar Nalendra membelai mesra pipi Rania yang kemerahan.
Rania membuka mata perlahan. "Di mana ini?" tanyanya sembari meregangkan otot badan karena tertidur di kursi penumpang.
"Pegel ya?"
"Sedikit," jawab Rania. "Ini di mana?" Rania memperhatikan sekeliling.
"Ayo, beli oleh-oleh dulu buat Bapak sama Mama!"
Mereka pun membeli buah tangan untuk orangtua Rania. Namun, ketika mereka sampai di rumah, Pak Idris dan Bu Sekar tidak berada di rumah, mereka menyusul Dareen ke Garut ke rumah Abah Danu.
"Tau gini, ga usah pulang. Kita di Jakarta aja," gerutu Rania begitu tahu orangtuanya tidak di rumah.
"Ga usah marah, biarkan saja. Mereka juga ingin berlibur!" kata Nalendra menghibur Rania. "Lagi pula berdua di rumah aja lebih seru," lanjutnya mengedipkan mata menggoda Sang istri.
"Ndra, mau ramen?" tanya Rania. "Atau aku buatkan mie telor?"
Nalendra tersenyum menghampiri Rania. Tangannya mulai mengelus lembut pipi istrinya. "Kamu menggodaku?"
"Aku cuma nawarin makan!" elak Rania.
"Kalau aku mau lebih dari mie telor, bagaimana?"
Rania berbalik sambil menggeliat mengangkat tangannya. "Ah, badanku pegal-pegal. Cape banget ya!" serunya berlalu meninggalkan Nalendra yang tertawa.
**
Rania sampai di galeri Andriana hampir pukul 11 siang. Dia telat datang ara-gara Nalendra yang terus saja mengukungnya di tempat tidur.
"Hai, maaf saya telat," ujarnya pada Adriana.
"Ga apa-apa. Mari, duduk Teh," ucapnya lalu menyuruh beberapa karyawannya menyediakan teh manis hangat dan cemilan untuk tamu.
"Jadi, konsep apa yang kamu inginkan?" tanya Adriana to the point.
"Yang sederhana aja, lagi pula ini hanya ijab kabul KUA." terang Rania. "Mungkin nanti kalau resepsi. tapi itu nanti, runding dulu sama Nalendranya!"
"Nah, tuh nongol orangnya!" Adrian menunjuk ke arah pintu ruangan tempat mereka duduk. Nalendra membawa cup berisi minuman dingin.
Nalendra meletakan beberapa cup yang dia tenteng di meja. Dia duduk di samping Rania yang sedang melihat-lihat majalah gaun pengantin.
"Apa kabar?" sapa Nalendra.
"Alhamdulillah, baik. Aku masih ga nyangka kamu yang telepon kemarin!" ucap Adriana pada Nalendra.
"Di suruh, noh!" jawab Nalendra menunjuk dengan memeicingkan matanya.
"Habisnya, kamu tuh kalau ditanya pasti jawab terserah. Ya udah aku kasih aja nomormu, nyuruh dia yang telepon!" sergah Rania.
"Iya, maaf. I love you," ucap Nalendra membelai kepala Rania yang tertutup hijab.
"Ndra, mau warna apa? putih, pink, tosca, biru, hitam?" tanya Rania.
"Kamu suka warna apa? aku ngikut aja," jawab Nalendra.
Rania menarik napas pelan. "Dri, sebaiknya putih aja kali ya, kalau buat ijab kalau enggak mungkin abu. Aku mau lihat kebaya yang terbarunya boleh," pinta Rania.
"Tentu. Ayo!" ajak Adriani beranjak ke ruangan sebelah. Rania turut mengikutinya.
Adriani membawa Rania ke sebuah ruangan tempat kebaya ataupun gaun pengantin. "Ini ready to wear," ujar Adriani menunjuk kebaya dan gaun yang di pajang di manekin. "Aku juga punya beberapa koleksi couture." lanjut Adriani berjalan ke ruangan yang lain.
Dalam istilah fashion, ready to wear merupakan sebutan untuk busana yang dirancang menggunakan standar pengukuran umum, sehingga bisa disesuaikan dengan bentuk tubuh tanpa harus melakukan pengukuran lagi. Hal inilah yang membuat busana Ready to Wear bisa diproduksi secara cepat dan massal.
Couture atau Haute Couture merujuk pada rancangan busana dengan kualitas terbaik, mulai dari konsep, bahan, hingga setiap detail desainnya. Tidak seperti Ready to Wear yang diproduksi massal, Couture dibuat khusus secara handmade sehingga waktu pembuatan satu rancangan busana ini pun memakan waktu yang cukup lama, selain itu sifat busana ini juga eksklusif sehingga akan berbeda hasilnya antara busana satu dengan lainnya, inilah juga yang membuat Couture bukan termasuk busana Ready to Wear.
Kebaya yang menjadi koleksi Adriani lebih dari belasan model kebaya. Mulai dari kebaya model train yang menjuntai dilengkapi dengan veil, kebaya cheongsam berbagai warna dengan mote merata, dipadukan hijab dengan kombinasi payet bunga 3D dan veil warna senada. kebaya model cape ber-lace warna silver ini tampak elegan berpadu jarik warna cokelat, dengan tiara dan veil.
Rania tampak terpukau melihat manekin yang berjejer dalam balutan kebaya berbagai model dan warna.
"Soo, aku tidak tau harus memilih yang mana."
"Bagaiman kalau kita fitting sekalian ya, kamu pasti dapet," ujar Adriani.
Adriani adalah teman sekelas Rania di SMA. Mereka cukup dekat ketika itu, hingga perkuliahan yang berbeda tempat. Namun, mereka terkadang bertemu di acara reuni sekolah, itu pun jika Rania hadir, lebih seringnya Rania tidak datang karena kesibukannya.
Rania berjalan melihat-lihat kebaya yang terpajang di sana. Matanya tertuju pada satu kebaya putih dengan train yang menjuntai.
"Aku mau coba ini," ucapnya.
Rania mengenakan kebayanya dibantu Adriani dan beberapa karyawan di sana. "Coba kamu keluar, perlihatkan ke Nalendra."
"Malu kali Dri," tolak Rania.
"Kenapa harus malu, nanti juga dia liat. Mungkin dia bisa ngasih masukan untukmu memilih kebaya!"
Rania pun menuruti saran dari temannya itu. Dia keluar dan berdiri di depan Nalendra.
"Ndra, gimana?" tanya Rania sedikit merentangkan tangan.
Nalendra terpaku melihat Rania. Dia pun berdiri menghampirinya. "Aku suka, kamu sangat cantik," pujinya. "Bajuku yang mana, aku juga harus fitting bukan?" Nalendra menoleh ke arah Adriani.
"Ada, ayo aku tunjukan!"
Nalendra dan Rania baru pulang beberapa jam kemudian. Mereka lama mengobrol dengan Adrian dan juga suaminya. Lama tidak berjumpa, membuat banyak sekali yang mereka ceritakan.
**
Pak Darmawan tengah duduk di teras lantai atas, memandangi awan yang berarak di langit. Sesekali dia menyeruput kopi buatan istrinya.
"Jangan melamun!" seru Bu Darmawan yang baru datang dan ikut serta duduk mengambil angin sore.
"Bu, Rania mau menikah Sabtu depan. Kita gimana, Bu?" tanya Pak Darmawan sendu.
"Gimana apanya, Pak?"
"Bagaimana jika mereka tidak memperbolehkan kita bertemu Dareen?"
"Bapak ini, Tidak mungkin mereka begitu. Rania pasti mengizinkan!"
"Bu, rasanya Bapak belum rela Rania nikah lagi!"