Yes, It'S U

Yes, It'S U
Bab 153



Nalendra membawa Rania berkeliling Bandung dan menuju ke arah Lembang. Kini mereka berada di pinggir jalan, perkebunan sayuran terbentang dihadapan mereka.


Lelaki tampan itu memegang tangan sang istri dan menepuk-nepuk pelan punggung tangannya sambil tersenyum. "Rasanya aku jatuh cinta lagi denganmu," ucap Nalendra.


Rania berbalik, tersenyum. "Kenapa, emang sebelumnya cintamu sudah hilang?"


"Bukan, bukan hilang. Rasanya bertambah lebih banyak, banyak, dan banyak lagi!"


"Gombal banget!"


"Tadi aku menyusulmu ke rumah Liana!"


Rania tertegun menatap wajah lelaki yang sedang tersenyum manis. Dia segera mengalihkan pandangan ke arah bentangan perkebunan, "Maaf," ucapnya setengah menunduk. "Maaf, aku tidak meminta izin padamu terlebih dulu."


Nalendra merangkul pundak Rania, semburat kesedihan terlihat jelas di wajah itu. "Kenapa?"


"Entahlah, aku hanya ...." Rania melirik Nalendra dengan mata yang berembun. "Aku tidak tahu bagaimana hubungan kami ke depannya. Hatiku merasa lega, tapi juga sakit!"


Nalendra menghela napas, dia mengusap punggung Rania pelan. "Aku mengerti, aku senang kamu berbicara dengannya dan menyelesaikan masalah, walaupun mungkin entah kapan benar-benar selesainya. Kita semua tahu kalian sahabat dekat, tetapi bukan berarti dia bisa berbuat seenaknya terhadap keluargamu, Anak dan suamimu. Aku dan keluarga sejak awal mendiamkan masalah ini bukan karena kami tidak mampu berbicara dengannya, tetapi karena dia adalah sahabatmu. Kami pikir akan lebih baik jika kamu, kalian yang berbicara berdua menyelesaikan semuanya."


"Sayang, jangan sedih terlalu lama. Kamu sudah berbicara dengan Liana adalah hal baik yang seharusnya dilakukan. Tidak akan ada yang menyalahkanmu jika hubungan kalian ke depannya menjadi renggang dan bukankah memang sudah renggang sejak dahulu, aku mendengarnya dari beberapa teman. Tidak seharusnya dia berlaku seperti itu, mendekati laki-laki yang sudah menjadi suami temannya."


"Ndra, aku tahu Liana menyukaimu sejak lama," ucap Rania pelan.


"Aku juga tahu dia menyukaiku, tetapi Allah-lah yang menetapkan hatiku padamu, Allah-lah yang menjadikan kita berjodoh." Nalendra menatap manik mata Rania lekat. mencoba mendalami apa yang dipikirkan istrinya.


"Ndra, apa kamu tahu apa yang menjadi penyebab dia marah padaku?" tanya Rania, rasa sesal tersirat dalam matanya yang berembun. "Itu karena aku tidak menepati janjiku. Dahulu, aku pernah berjanji tidak akan menyukaimu, tetapi nyatanya aku malah menjadi istrimu. Aku menyesal bukan karena menjadi istrimu, tetapi menyesal karena aku pernah berjanji untuk sesuatu yang akhirnya tidak bisa aku tepati." Rania menundukkan kepalanya. "Harusnya aku tidak pernah berjanji seperti itu, janji yang saat aku ucapkan pun aku telah melanggarnya."


Nalendra berbalik menatap Rania yang masih menunduk.


"Ya, aku menyukaimu sejak dulu, sejak aku SMA. Aku kira aku menyukaimu hanya karena wajahmu yang mirip dengannya, tapi aku pikir aku benar-benar menyukaimu karena ... entahlah, aku pun ga tau kenapa aku menyukaimu," ucap Rania menyunggingkan sedikit senyum.


Nalendra membalikan tubuh Rania menghadap padanya. Mata cokelat itu begitu indah, ada rasa sesal, sedih, dan kelegaan bercampur di sana. Lelaki tampan itu pun mengusap pipi yang bersemu merah.


"Kalau sedang tidak dipinggir jalan, aku ingin sekali memelukmu," ucapnya tersenyum. "Aku senang sekali akhirnya bisa bersamamu. Aku tahu kamu mungkin bosan mendengarnya, tetapi aku benar-benar senang akhirnya berjodoh denganmu."


Rania tersenyum lemah, dia berusaha menahan air mata yang sejak tadi ingin keluar.


"Aku memang masih tampan dan terlihat muda sampai kamu terpana seperti itu memandangku!"


Wajah Rania semakin bersemu mendengar perkataan lelaki tampan itu.


"Ayo pulang, kasian baby Ara ditinggal." Rania berusaha memalingkan wajahnya, jantungnya masih saja berdebar ketika Nalendra berkata seperti itu. Padahal mereka telah menikah lebih dari dua tahun.


Nalendra tertawa terkekeh, "Besok saja kita pulang. Lagian ibu menyuruh kita menghabiskan waktu berdua, Mereka akan dengan senang hati menjaga baby Ara dan Dareen."


Matahari sudah mulai condong ke barat. Sepasang suami istri itu sibuk memilih pakaian yang di pajang di salah satu pusat perbelanjaan besar daerah Cihampelas, Bandung.


Benar kata orang, kalau istri sedih, murung, suasana hatinya akan lebih cepat berubah bahagia kalau diajak ke Mall. gerutu Nalendra dalam hati.


Sedari tadi, Nalendra menemani Rania berjalan memilih pakaian untuk baby Ara dan Dareen. Mereka sengaja kembali ke kota untuk membeli perlengkapan untuk mereka menginap semalam. Namun, sepertinya Rania lupa niat awal mereka ke sana, dia lebih tertarik memilih pakaian untuk anak-anaknya dibanding memilih pakaian untuk dia dan suaminya.


Setelah shalat asar, pasangan itu pun pergi ke villa yang telah Nalendra pesan secara online. Villa kecil dengan pemandangan perkebunan sayuran di bawahnya.


Malam itu, mereka habiskan dengan bercerita tentang cinta mereka yang penuh kesalahan pahaman di awal perjalanan. Dalam sebuah pernikahan, komunikasi adalah suatu hal yang harus selalu dijaga agar memperkecil resiko kesalahpahaman.


Kini Allah telah menyatukan mereka dalam ikatan pernikahan. Kini mereka tahu, jika cinta mereka tidaklah bertepuk sebelah tangan sejak awal, hanya saja takdir yang membuat mereka berpisah di awal.


Nalendra dan Rania bersepakat jika nanti mereka harus bercerita mengenai apapun. Mereka juga bersepakat tidak akan lagi menjauh dari masalah. Mereka akan menghadapi masalah apapun dan mencari solusinya bersama-sama.


Rania memantapkan diri untuk menjauh dari Liana. Mereka memang bersahabat sejak kecil, tetapi hubungan persahabatan mereka telah berubah menjadi hubungan yang tidak sehat bagi keduanya. Menjauh adalah hal yang tepat agar pikiran lebih sehat.


**


Beberapa tahun telah berlalu, Rania mendapat kabar mengejutkan pagi itu. Bu Sekar memberitahunya jika Liana akan menikah Minggu depan dengan seorang pria yang dijodohkan oleh keluarganya.


Rania turut senang mendengar kabar tersebut, tetapi dia telah memutuskan tidak akan menghadiri pernikahan sahabat kecilnya itu. Dia tidak ingin cerita kelam antara mereka terbuka lagi. Dia mendoakan agar sahabat kecilnya mendapat jodoh yang terbaik.


Nalendra yang mendengar kabar tersebut pun ikut senang, "Alhamdulillah, Allah tahu yang terbaik untuk ummatnya. Allah selalu memberikan waktu yang terbaik untuk kita."


Nalendra bersyukur, wanita yang menjadi cinta pertamanya kini menjadi istri dan ibu dari anak-anaknya. Wanita yang dahulu sudah dia relakan untuk menjadi istri sahabatnya, Ergha. Namun, siapa sangka pada akhirnya Allah mentakdirkan wanita itu menjadi istrinya.


Walaupun pada awalnya, sang ibu menentang. Namun, Allah-lah yang Maha pembolak-balik hati seseorang. Jika Allah sudah berkehendak, tidak ada makhluk yang bisa merubah apa yang telah Dia tetapkan atau takdirkan untuknya.