
Sejak tahu Nalendra dan Rania telah menikah, Liana selalu memantau media sosial milik mereka. Mencari tahu di mana mereka berada dan apa yang sedang mereka lakukan. Namun, apa yang Liana lakukan selalu membuahkan nihil karena Rania memang jarang sekali meng-upload kegiatannya.
Beberapa Minggu berlalu, Liana melihat album foto yang dia simpan di hardisk laptop. Dia banyak menyimpan foto Nalendra di sana. Bahkan tiket menonton, makanan dan minuman yang dia santap pun diabadikannya.
Kemudian, dia meng-upload salah satu fotonya tersebut ke media sosial miliknya. Di bawah foto tersebut dia menyematkan caption "Aku merindukanmu, cepatlah pulang".
Dalam beberapa jam saja banyak yang mengomentari foto tersebut, kebanyakan dari mereka adalah teman yang satu kantor dengannya.
"Siapa tuh?"
"Wah, udah mulai go publik, nih!"
"Inikah Si Boss itu?"
Berbeda dengan teman SMA, mereka merasa miris melihat Liana secara terang-terangan meng-upload foto. Mereka yakin itu adalah Nalendra. Mereka juga sudah mendengar kabar jika Nalendra kini sudah menikah, hanya saja mereka tidak mengetahui pasti siapa istrinya. Mereka lebih memilih mendoakan Liana segera mendapatkan jodoh yang terbaik.
Liana tersenyum melihat komentar dari teman-temannya. Dia memang bercerita pada teman sekantornya, jika dia sudah mempunyai tambatan hati. Dia juga mengatakan jika kekasihnya adalah seorang pemimpin di perusahan cabang di Jakarta.
Teman-teman Nalendra pun banyak yang melihat postingan Liana tersebut. Mereka segera memberitahu Nalendra tentang hal itu lewat pesan grup tongkrongan. Namun, Nalendra hanya terlihat membaca pesan aduan mereka saja, dia sama sekali tidak berkomentar apapun tentang hal itu.
"Ziz, apa yang akan kamu lakukan jika teman dekat istrimu menyukaimu?"
"Senang, bersyukur."
"Apa maksudmu dengan senang dan bersyukur!" Nalendra mengernyitkan dahi. Apa dia selingkuh dengan teman istrinya? pikir Nalendra.
"Ya, senang aja. Kalau teman istrinya menyukai kita itu akan menjadi nilai plus di mata istri."
"Apa!"
"Bukankah, kamu juga senang jika istrimu disukai oleh teman-temanmu. Sama hal nya dengan istri kita, mereka akan senang jika kita juga akrab dengan temannya."
"Sepertinya aku yang salah bertanya!" seru Nalendra. "Maksudku, apa yang kamu lakukan jika teman dekat istrimu menyukaimu, mencintaimu sebagai seorang wanita pada laki-laki?"
"Apa ada teman istri Bapak yang seperti itu?" Aziz bertanya balik.
"Jawab saja pertanyaanku!"
"Aku belum pernah mengalami hal itu. Namun, kalaupun aku mengalaminya mungkin aku akan bilang jujur pada istriku tentang temannya itu. Setidaknya, dia tidak akan ada salah paham jika temannya berkata yang tidak-tidak tentangku!"
"Jujur ya, tapi bagaimana jika istrimu sudah tau. Apa yang akan kamu lakukan?"
"Ya, tetep bilang. Aku tak ingin ada kesalahpahaman, biasanya sebagian besar kesalahpahaman karena kita laki-laki yang menganggap hal itu sepele. Beda dengan wanita, hal kecil aja bisa menjadi besar jika kitanya kurang mengerti!"
"Begitu ya?"
"Tentu, kalau istriku pasti akan menungguku bicara, menjelaskan tentang hal itu!"
"Bagaimana kamu tahu jika mereka menunggu kita berbicara menjelaskan semua yang bahkan aku saja tidak tahu apa yang harus aku jelaskan padanya!"
"Biasanya istriku akan diam, tak terlalu banyak bicara. Bisa dikatakan dia sedang dalam mode silent seperti singa yang menunggu mangsanya," ujar Aziz bergidik ngeri.
"Tapi Rania seperti biasa. Dia tidak diam dan ya seperti biasa saja."
"Apa ada yang berubah dari sikapnya. Tidak mungkin seorang wanita diam saja kalau ada wanita lain yang ingin merebut suaminya!"
Nalendra mengerutkan dahi, mengingat kembali sikap Rania selama ini. Tidak ada yang berubah, dia tetap tersenyum, bercerita, tertawa, memasakan makanan enak untuknya dan tambah romantis.
Romantis, kejutan? Nalendra sedikit tersentak mengingat Rania beberapa kali memberikan kejutan untuknya sepulang kerja.
"Sepertinya dia biasa saja, hanya saja belakangan dia sering memberi kejutan. Seperti makan malam romantis."
Nalendra pun menceritakan tentang Rania yang menyiapkan makan malam romantis dengan lilin, bunga, steak seperti di restoran-restoran ternama. Namun, dia tidak menceritakan tentang istrinya yang memakai gaun malam, biarlah hanya dia yang tahu hal itu.
"Ya, mungkin itu cara istri Bapak mengungkapkan kekhawatirannya. Dia memastikan bahwa dirinya, satu-satunya wanita yang ada di hidup Bapak, layak berada di samping Bapak!" Aziz menatap Nalendra lekat. "Bersyukurlah istri Bapak seperti itu. Itu cara yang sangat elegan menurutku, menjaga suaminya dari pelakor dengan cara kejutan yang Bapak katakan barusan. Bukankah dengan begitu Bapak jadi selalu ingat dan rindu dengannya?"
Nalendra tersenyum. Ya, itu membuatku tambah mencintainya dan selalu merindukannya. batin Nalendra.
"Makasi ya, Ziz."
Malam harinya, saat pillow talk Nalendra bercerita tentang chat dari teman-temannya.
"Hari ini, Faqih dan Indro mengirimiku pesan. Mereka juga berbicara di pesan grup tentang hal yang sama."
"Ehm, lalu?"
Nalendra mulai tegang, jantungnya berdegup kencang mendengar Rania hanya berkata seperti itu. Apa aku teruskan atau jangan ya? pikirnya.
"Lalu?" Rania mengulang pertanyaannya.
"Ya, ehm ...." Nalendra terdiam. "Me-mereka bilang Liana memposting beberapa fotoku. Aku ga tau yang mana karena aku belum lihat dan sejujurnya tidak berencana melihatnya juga."
"Lalu?"
"Ehm, lalu apa?" tanya Nalendra yang mulai kebingungan harus berkata apa.
"Lalu bagaimana perasaanmu?"
"Tentu saja risih!" jawab Nalendra dengan cepat.
Rania pun sedikit tersenyum. "Jika risih, selesaikanlah."
"Bukankah dulu kita udah bicara dengannya, tapi sepertinya tidak mempan!"
Rania menghembuskan napas kasar. "Biarkan saja, nanti juga kalau dia udah bosan akan berhenti. Lagian ga perlu terlalu dipikirkan kalau hal seperti itu. Ya, memang benar dia temanku, sahabatku dan mungkin dia yang menurutnya terlebih dahulu suka denganmu. Lalu kenapa? bukankah saat ini aku yang menjadi istri sahmu!" ungkap Rania dengan ketus. "Kalau kamu terpancing hanya karena postingan begitu, berarti kamu mengakui jika dahulu sempat suka dengannya!"
Nalendra menatap Rania yang menurutnya sedang mengeluarkan unek-unek tentang temannya itu. Akhirnya dia sedikit tahu tentang bagaimana perasaan istrinya saat ini.
Aziz benar, mungkin kejutan-kejutan yang Rania berikan adalah cara dia untuk semakin mengikatku, memastikan agar aku akan selalu berada di sisinya. batin Nalendra tersenyum bahagia.
"Bagaimana jika aku meng-upload foto kita di media sosial milikku agar semua orang tahu kalau aku sudah menikah?"
"Mungkin orang yang tidak tahu tentang postingan Liana itu akan ikut senang, bahagia melihatmu kini sudah mempunyai istri dan anak. Tapi bagi orang yang tahu Liana, mungkin tanggapannya akan berbeda. Mungkin mereka akan berpikir jika kamu sedang membalas postingan Liana. Sudahlah, biarkan saja jangan ikut-ikutan posting seperti itu. Aku percaya padamu, aku tidak terlalu peduli dengan Liana yang memposting foto-fotomu!"
"Benarkah? aku takut kamu kesal."
"Awalnya, iya. Bukan kesal, tapi lebih ke kasian, ngerasa bersalah. Tapi saat tau dia membuat rumor ga jelas dan memposting foto-foto itu, aku jadi berpikir mungkin dia bukannya ga mau menerima pernikahanku, hanya saja sepertinya dia tidak mau kalah dariku." Rania tahu bagaimana sifat temannya itu, sejak kecil dia memang tidak mau kalah apalagi darinya.
"Apa ini bukan pertama kalinya kalian bertengkar?"
"Ya, terkadang kami memang berbeda pendapat. Tapi ini pertama kalinya kami bertengkar gara-gara sesuatu yang ga jelas!"
Nalendra tersenyum, dia mengambil tangan Rania dan menggenggamnya. Dia tahu Rania kesal, dia tahu Rania sedih, dia juga tahu Rania bukan seorang yang akan membalas perbuatan temannya. Dia sangat bersyukur akan itu.
*****
Hai, terima kasih telah setia menunggu up dariku. Sambil menunggu, yuk mampir baca novelku yang sudah end.