Yes, It'S U

Yes, It'S U
Bab 13



Rania berangkat ke Bandung dua hari sebelum acara 40 harian Alm. suaminya. Keluarga Ergha setuju jika acara 40 harian di adakan di Bandung saja. Mereka berpikir itu lebih baik untuk Rania dan Dareen terutama untuk menjaga perasaan Rania.


Hari ini dia berjanji akan membawa Dareen berjalan-jalan, tetapi segera dilarang oleh Bu Sekar.


"Ga boleh atuh teh, apanan teteh masih dalam masa Iddah. Harusnya mah teteh ga boleh keluar rumah," ujar Bu Sekar.


"Rania kan hanya jalan-jalan, Mah. Ngajak Dareen main, bukan mau ngelakuin hal yang enggak-enggak," terangnya.


"Mama tau teteh cuma mau jalan-jalan aja, tapi 'kan teteh juga harus tau kalo emang perempuan yang sedang dalam masa Iddah lebih bagus diam di rumah," ungkap mamanya. "masa Iddah itu untuk melindungi perempuan agar terjaga kehormatannya, melindunginya dari fitnah," lanjutnya.


"Bukannya kemarin teteh keluar terus, waktu ngurus-ngurus dokumen," bantah Rania.


"Ya karna teteh keluarnya buat ngurus-ngurus dokumen penting yang harus teteh urusi. Bukan untuk main, lagian kemarin 'kan teteh keluarnya juga ada orangtua yang nganter," kata Bu Sekar yang merasa sedang menjelaskan pada muridnya saja.


"Bolehkah Rania keluar dianter Zyan?" tanyanya lagi merengut.


"Emang teteh mau diantar kemana? kalo buat jalan-jalan mah, ya ga boleh atuh teh. Kalo teteh mau beli sesuatu tinggal bilang, nanti dibeliin."


"Sabar aja, teteh kan udah ngelewatin sebulan, berarti tinggal 3 bulan 10 hari lagi," ujar mamanya.


"Kenapa harus 3 bulan 10 hari lagi, bukannya tinggal 2 bulan lagi?"


"Kan masa Iddah itu 4 bulan 10 hari."


"Lama banget," ucap Rania cemberut membayangkan betapa akan bosannya dia berada di rumah selama itu.


"Bolehkah teteh ngelewati masa Iddah di sini aja?"


"Di rumah teteh aja, jauh lebih baik. Nanti bapak yang temenin!" kata Bu Sekar lagi yang level kesalnya sudah mulai mencapai ubun-ubun, karena Rania bertanya terus seperti anak kecil saja.


"Kenapa ga bisa di sini aja, mah. Ini mama ga marah karena Rania di sini sekarang," rengeknya seperti anak kecil.


"Aduh si teteh mah, dibilangin nanya terus. Teteh kesini kan buat acara tahlilan, itu juga di temenin pulang perginya, ga sendirian ga berdua aja sama Dareen."


Rania menghela nafas, "Kalau saja ada mesin waktu." pikirnya.


"Tah, makam aa mau pake tembok atau keramik?" tanya pak Idris yang baru saja datang entah dari mana bersama Dareen.


"Pakai rumput Jepang aja atau rumput swiss, pak. Jangan pake tembok atau keramik, kemaren bapaknya Ergha yang minta begitu," ucap Rania.


Pak Darmawan memang berpesan kepada Rania agar makan anak laki-lakinya tidak di tembok atau dipasangkan keramik. Dia berpesan agar menggunakan batu kecil-kecil saja. Namun, Rania sepertinya lebih menyukai rumput dari pada batu, rumput lebih enak dipandang.


"Baiklah, kalau begitu nanti kita cari rumput ke Lembang saja."


"Rania boleh ikut?" tanyanya bersemangat, dia merasa jenuh dan butuh hiburan.


"Nanti ajak Rania, Pak. Kasian dia ngerengek dari tadi minta jalan-jalan," Sindir Bu Sekar terkekeh.


"Apaan sih mama ini."


"Dareen sudah jalan-jalan sama Abah, ya 'kan bah?" ujarnya tersenyum.


"Iya, bunda belum" jawab Rania cemberut.


Bu Sekar tertawa, dia merasa mempunyai anak kecil lagi selain Dareen, yaitu Rania.


***


Nalendra berjalan mondar-mandir di ruangannya. Dia merasa kesal dengan jadwalnya yang harus bertolak luar kota untuk meninjau proyek yang dia kerjakan bersama perusahaan pusat. Dia merasa kesal karena dia yang telah mengatur jadwalnya beberapa bulan lalu dan tidak bisa diubah.


"Kenapa waktunya bisa barengan dengan acara Rania," gerutunya.


Beberapa kali dia memanggil Aziz dan meminta dia untuk mengundur jadwalnya sehari, tetapi tetap saja tidak bisa.


"Kenapa ga bisa diundur? cobalah kamu undur. Aku ada acara di hari itu. Apa ga bisa kita undur sehari saja, aku bisa berangkat malam setelah acara itu," pintanya.


"Maaf, Pak." hanya itu yang bisa Aziz katakan. Ini sudah yang kesekian kalinya dia dipanggil hanya untuk membahas jadwal.


"Maaf, tapi bapak sendiri yang membuat jadwalnya," jawab Aziz.


"Apa dia sudah hilang ingatan, amnesia?" pikir Aziz.


Nalendra menjambak sedikit rambutnya Karen kesal. "Benarkah dia yang membuat jadwal itu, bodohnya!" gerutunya dalam hati.


"Apa aku harus telepon Rania, meminta dia mengundurkan jadwalnya seminggu," pikirnya.


"Ah, bodohnya. Bagaimana mungkin dia akan setuju."


"Haruskah pura-pura sakit. Kalau sakit pasti akan dibawa ke rumah sakit oleh ibuku," ujarnya lagi bermonolog.


"Aku merindukannya ...," gumam Nalendra yang sudah duduk dan melihat pemandangan keluar jendela ruangannya. "Aku sungguh merindukannya."


Nalendra tersenyum teringat saat Dareen berlari ke arahnya. Dia terus memanggilnya Om, "Om," gumamnya tersenyum.


Tok, tok, tok ...


Terd ngar suara ketuka pintu, Aziz datang menghampirinya.


"Maaf pak, sebaiknya kita berangkat sekarang," ujar Aziz.


Percuma saja dia memohon padanya untuk memundurkan jadwal keberangkatan mereka. Dia tidak akan bisa melakukannya. Proyek yang sedang dia kerjakan adalah proyek besar bersama perusahaan pusat, banyak yang berharap proyek ini sukses besar.


Nalendra berdiri membenarkan dasinya dan berjalan keluar. Wajahnya tampak dingin sedingin es, siapapun yang melihatnya akan merasa membeku.


Aziz menarik nafas berat, "Ternyata benar, karakter seseorang tidak bisa berubah dalam beberapa hari. Dia kembali ke mode es nya," gumam Aziz dalam hati.


"Pak, bolehkah saya memberi saran?" tanyanya ragu-ragu.


Mereka sedang berada di dalam mobil menuju Bandara internasional Soekarno-Hatta.


Nalendra menatap Aziz dengan tatapan tajam. "Katakanlah," ucapnya.


Aziz menelan ludah, "Ah, kenapa aku bertanya seperti itu. Kalau salah bisa-bisa aku akan ditendangnya," pikirnya.


"Hey, kau mau bilang apa?" tanya Nalendra.


"Ehm, i-tu," lama dia terdiam setelahnya.


"Ziz," panggil Nalendra.


"I-iya Pak."


"Apa acara yang ingin bapak hadiri itu berhubungan dengan perempuan yang bapak ceritakan terakhir kali itu," tanyanya gugup.


"Iya, lusa acara 40 harian temanku, suaminya." Nalendra melihat keluar jendela.


"Apa bapak sudah menghubunginya, untuk minta maaf karena tidak bisa datang?" tanyanya lagi.


"Apa aku harus melakukannya?" tanya Nalendra yang sudah tak bersemangat.


"Tentu saja, tentu saja bapa harus menghubunginya, memberitahunya."


"Aku tidak punya no telepon nya," ujanlrnya lagi.


"Kenapa tidak bapa hubungi no teman bapak aja. Bukankah ponselnya pasti dia yang simpan," ujar Aziz lagi.


"Kau benar juga, tapi bagaimana jika ponselnya rusak dan tak bisa dihubungi." Nampak jelas kekhawatiran di wajahnya Nalendra membuat Aziz ingin tertawa lepas dan menyeuntilnya gemass.


"Apa sejak kecelakaan itu tidak ada status atau pesan wa dari no nya?"


Nalendra berusaha mengingatnya. Kalau tidak salah yang dia ingat, pemberitahuan di grup nongkrongnya dari no Ergha. Indro juga saat itu pernah menghubungi no Ergha.


"Aku rasa pernah ...."