Yes, It'S U

Yes, It'S U
Bab 15



"Maaf ...," ujar Nalendra, suaranya terdengar lemah dan merasa bersalah.


"Maaf, kenapa kamu meminta maaf?" Rania bertanya balik.


"Maaf, maaf kalau aku tidak bisa menghadiri acara 40 harian Ergha. Aku sedang di luar kota dan pekerjaan di sini tidak bisa ditinggalkan," tuturnya sendu.


"Aku kira kenapa, ga apa-apa santai saja. Ga usah terlalu dipikirkan," jawab Rania.


"Tapi ...."


"Tapi, apa?" tanya Rania lagi.


"Tapi aku tidak bisa melihatmu," batinnya.


"Tapi apa?" Rania mengulang kembali pertanyaannya. Ini adalah obrolan pertama terpanjang antara Rania dan Nalendra.


"Tapi aku sudah janji pada Dareen akan datang kembali," jawabnya.


Rania ingin tertawa, tetapi berusaha menahannya. "Dareen ga apa-apa ko 'Ndra, nyante aja."


"Apa Dareen masih suka nanyain Ergha?" tanyanya pelan.


Rania tertegun, segera ditepisnya perasaan sakit itu. "Terkadang, terkadang dia nanyain ayahnya, memang butuh waktu buat dia paham, bener-bener paham dengan semuanya," ungkap Rania.


"Maaf, aku ga bermaksud membuatmu sedih," ucap Nalendra.


"Ga apa-apa, aku baik-baik aja," ujarnya. "harus baik-baik aja," batinnya.


"Bolehkah aku main, maksudku bolehkah aku kapan-kapan main ke sana bertemu Dareen?" tanyanya beralasan.


"Main kemana?" tanya Rania.


"Main ke rumah, mengajak Dareen main," ujarnya.


"Maaf, kalau kamu bertemu Dareen sendirian sepertinya tidak bisa, tapi kalau banyakan kayanya boleh," jawab Rania.


"Kenapa?"


"Maaf, aku masih dalam masa Iddah dan Dareen tentu saja dia akan berada bersamaku. Rasanya tidak enak jika kamu datang sendiri, maaf ... bukan berarti menolak hanya saja nanti takut terjadi fitnah," tegas Rania.


"Oh, iya ... aku lupa. Maaf," ucapnya.


Mereka terdiam cukup lama menyelami pikiran masing-masing.


"Kalau begitu salam buat keluargamu di sana. Sekali lagi maaf, aku ga bisa datang. Aku harus kembali bekerja," ujarnya sendu.


"Baiklah."


"Assalamu'alaikum, baik-baik ya," pamit Nalendra.


"Ya, wa'alaikumsalam," jawab Rania lalu memutus panggilannya.


"Baik-baik? dia lucu sekali. Astaghfirullah," ucapnya merasa bersalah.


***


Rania bersyukur banyak sekali yang menghadiri tahlilan 40 harian Ergha, dengan begitu banyak pula yang mendoakan suaminya.


Seperti biasa Dareen sangat senang jika banyak orang di rumah, Dia tidak senang diam, selalu bolak-balik antara duduk bersama Om-nya Zyan dan pak Idris, Membuat pak Darmawan sedikit cemburu karena Dareen tidak mau bersamanya. Bukan tanpa alasan Dareen tidak begitu dekat dengan kakeknya yang satu ini, mereka tidak pernah akur ketika bertemu dalam waktu lama.


Sejak Ergha masih hidup pun, sengaja mereka sering berkunjung ke rumah orangtua Ergha karena jarak dengan rumahnya dekat dan alasan utamanya untuk mendekatkan Dareen dengan kakek nenek dari pihak ayahnya.


Namun, selalu saja ada pertengkaran. Bahkan hal sepele pun pak Darmawan selalu menghardik Dareen dengan suaranya yang keras, hingga dia menangis karena ketakutan. Pernah sekali, Dareen sedang asik menonton kartun di ruang keluarga, chanelnya langsung pak Darmawan pindahkan dan Dareen pun menangis. Ketika tahu anaknya menangis, Ergha mengendong Dareen dan mengajaknya menonton di dapur. Tak berapa lama pak Darmawan mengikuti mereka ke sana dan lagi-lagi dia memindahkan Chanel tv-nya membuat Dareen kembali menangis.


Itulah sebabnya Dareen kurang begitu dekat dengan keluarga dari ayahnya.


Rania selalu merasa tidak enak hati jika Dareen tidak mau dekat dengan keluarga Ergha, dia takut mereka mengira jika dirinya yang mengajari Dareen untuk menjauh. Padahal Dareen sendirilah yang tidak mau dekat dengan mereka.


Acara tahlilan selesai pukul 8. Banyak yang langsung pulang setelah acara, ada juga yang masih tinggal di sana termasuk teman tongkrongan Ergha.


Dareen langsung menghampiri mereka, seperti kebingungan mencari seseorang.


"Hei, ganteng. Sini duduk sama Om," sapa Faqih.


"Ehm ...." Dareen menggelengkan kepalanya lalu berbalik berjalan ke arah Zyan.


Tak berselang lama, dia menghampiri mereka lagi.


"Ada apa ganteng?" tanya Faqih lagi.


"Nyari Om Nalendra ya?" tanya Imam.


Dareen tersenyum lalu menghampiri imam. "Om nya mana?" tanya Dareen sambil memainkan baju kokonya.


"Om nya ga bisa dateng, lagi kerja." Imam memegang kedua tangan Dareen.


Dareen menggelengkan kepalanya lalu kembali dan duduk di pangkuan Zyan dengan wajah kecewa.


"Ternyata Nalendra punya daya tarik ya buat anak kecil," celetuk Imam.


"Ya, dia memang gampang dekat sama anak-anak. Anakku aja kalau dia main ke rumah ... beuhhh, lengket kaya dia yang bapanya," ujar Rezky.


"Sama, anakku juga sama. Padahal anakku cewe tapi begitu liat dia bisa langsung akrab."


"Bagus dong, normal berarti anakmu. Langsung tau yang jomblo siapa. Ga kebayang kalau beneran Nalendra berjodoh sama anakmu," ejek Rezky.


"Enak aja lu kalau ngomong. Anakku masih TK kali, masa iya tar ma Nalendra yang udah bengotan," sergah Yudhi membuat semua temannya tertawa. Mereka memang tidak mengenal tempat kalau sudah bercanda.


Malam semakin larut, orang-orang sudah kembali ke peraduannya. Namun, tidak dengan Rania, dia masih menemani Dareen yang tidak mau tertidur juga.


"Tidurlah, 'Nak. Ini udah malem, bunda juga udah ngantuk," bujuk Rania.


"Dareen belum ngantuk, bunda," sahutnya.


"Dareen 'kan ga tidur siang juga tadi, masa belum ngantuk."


"Bunda, ini jam berapa?" tanyanya kemudian.


"Ini udah jam 10 lebih." Rania menunjuk jam yang bertengger di dinding kamarnya.


"Bunda, tadi aku kan jajan ke warung sama Om Zyan terus ada yang ngasih aku biskuit," ujarnya memulai cerita.


"Biskuit, siapa?" tanya Rania.


"Ga tau, aku ga kenal," jawabnya polos.


"Terus biskuitnya dimakan ga sama Dareen?"


"Dimakan berdua sama Om," jawabnya.


"Oh, sama Om Zyan juga dikasih?"


"Iya, tadi 'kan aku udah bilang sama Om Zyan." Rania mengusap rambut Dareen lembut.


"Terus, Dareen udah bilang makasi belum sama ibu-ibu nya?"


"Udah, Om Zyan yang bilang," ujarnya.


"Jadi Om Zyan aja yang bilang, Dareen ga bilang?" tanyanya lagi.


"Enggak," jawabnya lagi tanpa rasa bersalah.


"Lain kali kalau dikasih sama orang lain jangan lupa bilang makasi." ujar Rania.


"Bunda, ko Om ga dateng ya, om yang lain dateng, tapi Om ko ga dateng?"


"Om siapa, yang mana?" Rania mengernyitkan dahinya tidak mengerti dengan pertanyaan Sang anak.


"Om 'Ndra, Bunda," terangnya.


Rania terkejut Dareen menanyakan Nalendra, sudah hampir dua Minggu ini dia tidak menanyakannya. Rania mengira Dareen sudah lupa tentang Nalendra.


"Om nya mungkin lagi sibuk," jawab Rania.


"Kata Om yang itu Om nya lagi kerja jauh," ungkap Dareen terdengar seburat kecewa pada suaranya.


"Emang Dareen mau ketemu sama Om nya?" tanya Rania.


"Boleh bunda?" tanyanya antusias.


"Bunda nanya, nanya aja Sayang," kata Rania.


"Ga boleh ya bunda." wajahnya langsung cemberut.


"Kenapa Dareen mau ketemu sama Om nya?" tanya Rania lagi, berusaha mengerti dengan yang sedang anaknya pikirkan.


"Aku mau cerita, kalau aku udah bisa sepeda roda dua. terus juga waktu di sekolah aku dikasih bintang sama Bu guru," tuturnya.


"Kenapa ga cerita ke bunda aja."


"Bunda 'kan udah aku ceritain yang bintang."


"Yang sepeda belum!"


"Bunda 'kan udah tau!" seru Dareen.


Malam itu Dareen banyak bercerita tentang berbagai macam hal terutama tentang Nalendra. Bagi Dareen Nalendra adalah orang yang menyayanginya karena telah membelikannya sepeda juga mainan. Namun, bagi Rania Nalendra adalah laki-laki yang harus segera dijauhi sebelum semua terlambat.