Yes, It'S U

Yes, It'S U
Bab 24



Pantai sudah mulai penuh oleh pengunjung. Rania masih mencari keberadaan anak dan adiknya hingga tiba-tiba dia melihat sosok Dareen sedang bermain air laut bersama seseorang yang mulai dia kenal.


Sosok yang berbadan tinggi, menggunakan t-shirt berwarna abu dan celana pendek selutut berwarna beige. "Nalendra," gumam Rania terpaku di tempatnya duduk. Rania menyipitkan matanya mencoba melihat lebih jelas lagi. "Ya, benar. itu Nalendra," pikirnya.


"Pak, adakah yang mau Bapak jelaskan?" tanya Rania sambil menunjuk ke arah pantai, tepatnya ke arah Dareen dan sosok Nalendra berada.


Bu Sekar dan Pak Idris melihat ke arah yang dituju telunjuk anaknya. Bu Sekar memandang ke arah suaminya meminta penjelasan.


"Oh, Minggu lalu Nalendra telepon Bapak. Dia meminta izin untuk mengajak Dareen jalan-jalan, tapi sama Bapak di tolak. Bapak bilang nanti saja Sabtu depan, ya Sabtu ini. Bapak cerita kalau kita mau jalan-jalan keluar," ungkap pak Idris santai.


"Jadi Bapak ngasih tau dia kita mau jalan ke sini?" Pak Idris mengangguk.


"Kenapa Bapak ngasih tau dia!" Rania mengerucutkan bibirnya merajuk.


"Ya ga apa-apa atuh. Biar sekalian Weh ada yang jagain Dareen. Lagian tuh lihat, Dareen juga senang." Pak Idris mencoba menjelaskan dari dudut pandangnya.


Zyan datang dengan handuk di bahunya. Dia baru selesai membersihkan diri dan langsung duduk di samping Rania yang sedang cemberut kesal.


"Kenapa?" tanyanya datar.


"Tau tuh Bapak!" jawabnya.


"Kenapa kamu ninggalin Dareen sendirian?" Rania memukul bahu adiknya.


"Aww, sakit tau." Zyan mengusap bahunya. "Dareen ga sendiri, dia sama Kak Nalendra," lanjutnya tanpa merasa bersalah.


"Ayo, bawa Dareen balik." Rania merajuk seperti anak kecil.


"Ya biarkan saja dulu, lagian Dareen nya juga seneng ga nangis. Nanti aja kalau mau duhur, baru bawa mandikan," jawab Pak Idris.


"Benar kata Bapak, biarkan saja dulu. Kalau dibawa sekarang nanti Nalendranya yang merasa ga enak, lagian Bapak juga yang ngasih tau dia, ga bilang-bilang dulu!" ujar Bu Sekar.


"Iya, Bapak minta maaf kalau gitu. Bapak yang salah, lain kali Bapak akan minta izin Teteh dulu kalau mau ngajak Nalendra."


Suara adzan Dzuhur terdengar dari Musala, Rania dan Bu Sekar segera membereskan barang-barang yang berceceran. Setelah shalat mereka berencana ke SeaWorld.


"Biar Bapak yang mandikan Dareen," ujar Pak Idris meminta baju ganti Dareen dan kresek untuk pakaian kotornya.


Rania menyerahkan totebag berisi baju dan peralatan mandi Dareen pada Pak Idris. Dia kembali membantu Bu Sekar membereskan plastik cemilan yang tersisa ke dalam totebag.


Rania dan Bu Sekar menenteng totebag-totebag tadi untuk dimasukan ke dalam bagasi mobil, agar nanti setelah shalat bisa langsung pergi ke tempat wisata yang lain.


Setelah selesai shalat mereka berkumpul di dekat mushalla. Di sana sudah ada Dareen yang seperti biasa berada dalam gendongan Nalendra, Pak Idris juga Zyan.


"Ayo," ajak Zyan.


"Bunda, boleh aku ikut Om," ujar Dareen meminta izin pada Rania.


"Ya, enggak dong Sayang. Ayo sama bunda aja," jawab Rania.


"Biar sama Abah aja ikut Nalendra ya," pinta Pak Idris tersenyum, tetapi membuat Rania menggertakan giginya kesal.


"Udah ayo, biarin aja. Ada Bapak ini," timpal Zyan yang tahu jika Rania kesal.


"Ayo ah, panas nih," ajak Bu Sekar menggandeng tangan Rania agar cepat jalan.


Akhirnya mereka hanya bertiga di dalam mobil karena Dareen dan Pak Idris ikut mobil Nalendra.


"Kenapa harus pisah berangkatnya!" gerutu Rania yang masih merasa kesal anaknya lebih memilih bersama Nalendra dibanding dirinya.


"Emang boleh kalau kak Nalendra ikut mobil kita atau kita ikut mobil dia?" tanya Zyan dengan nada menyindir.


"Kenapa juga dia harus ikut," gerutunya lagi.


"Nah itu, makanya pisah juga. Kalau dibolehin mah pasti kita bareng-bareng perginya," jawab Zyan.


"Ih, bukan bawel. Cuma meluruskan," ujarnya.


Zyan memarkirkan mobil di dekat mobil Nalendra. Dareen sudah keluar dari mobil dan berlarian kecil di sekitar Pak Idris dan Nalendra yang sedang asik mengobrol. Entah apa yang sedang mereka obrolkan, tetapi begitu terlihat serius.


Rania dan Bu Sekar keluar mobil menghampiri mereka.


"Hey, anak bunda. Sini peluk Bunda," pinta Rania merentangkan tangannya.


Dareen berlari ke arah Rania dan memeluk juga menciumnya.


"Bunda kangen Dareen." Rania menepuk-nepuk punggung anaknya.


"Bunda, nanti belikan aku ice cream ya?" pintanya.


"Iya, besok Bunda belikan," jawab Rania.


"Ko besok. Aku mau nya sekarang," rengeknya.


"Nanti kalau ketemu yang jual ice cream, Bunda belikan," ucap Rania membelai rambut Dareen.


"Om," panggil Dareen pada Zyan.


"Apa?"


"Om, ayo kita liat ikan. Om bilang kemarin mau liat ikan," ajak Dareen.


"Nanti makan dulu, Om lapar," sahut Zyan sambil menempelkan tangannya di perut.


Mereka pun makan di salah satu tempat makan yang terkenal dengan menu ayam dan burger nya. Nalendra yang memesankan makanan bersama Dareen juga Zyan. Tentu saja, Nalendra yang bayar tagihan makannya.


Dareen duduk diantara Rania dan Nalendra karena dia ingin duduk di dekat Nalendra sedangkan Rania yang menyuapi Dareen makan.


Mereka makan sambil mengobrol berbagai macam hal, tentang pekerjaan Nalendra, kuliah Zyan, kesukaan Dareen.


Kini mereka telah berada di SeaWorld. Dareen berlarian melihat ikan besar yang berada di atas kepalanya.


"Lihat itu, Bunda." tunjuknya ketika ada ikan pari yang berenang melewati mereka.


"Dareen senang?" tanya Bu Sekar.


"Dareen senang banget bangetan, Ibu," ujarnya tersenyum lebar dengan kedua tangan yang di angkat ke atas.


Beberapa menit kemudian, Dareen terlihat terdiam sambil memandang seorang anak yang didudukan di pundak ayahnya sambil tertawa.


Rania yang melihatnya pun merasakan sakit seperti ada yang tiba-tiba menguris hatinya.


"Ayo," tiba-tiba Nalendra mengangkat Dareen ke atas dan mendudukkannya di pundak.


"Owhhh ... Om," teriaknya tertawa.


Pak Idris dan Bu Sekar pun ikut senang melihat kegembiraan yang Dareen rasakan. Mereka tidak mempersalahkan Nalendra yang mulai mendekati Dareen hanya karena kasian ataupun karena ingin mendekati Rania. Untuk sekarang mereka hanya ingin melihat cucunya bahagia, agar dia tidak merasakan kesedihan karena merasa bahwa ayahnya tiba-tiba saja menghilang.


Sepanjang menyusuri terowongan kaca SeaWorld, Dareen berada di pundak Nalendra.


"Terimakasih," ucap Rania pada Nalendra begitu Dareen turun dari pundaknya. Itu kata pertama yang diucapkan Rania padanya hari ini. Nalendra mengangguk sambil tersenyum.


"Nak Nalendra kami akan menginap di penginapan sekitar sini, 'Nak Nalendra mau pulang atau mau ikut menginap bersama kami?" tanya pak Idris.


"Kalau dibolehkan ikut, saya mau ikut. Saya bosan kalau di rumah sendirian," ucapnya.


"Tentu saja boleh, ayo," ajak Pak Idris.


Rania langsung melirik tajam ke arah Bu Sekar.