Yes, It'S U

Yes, It'S U
Bab 65



Mereka berjalan masuk ke dalam kawasan wisata, tiga tiket yang tadi telah dibeli oleh Nalendra ditukar dengan tiga cup susu segar dengan berbagai rasa.


"Ayo, duduk dulu di sana!" ajak Rania. Dia melihat Sang anak masih belum bangun betul dari tidurnya.


"Rania, Rania 'kan?" tanya seorang pria muda yang sebaya dengannya.


Nalendra langsung berbalik, menatap tajam pria muda yang memanggil Rania. Nalendra mengalihkan tatapan pada Rania, dilihatnya Rania juga sepertinya tidak mengenal pria muda itu.


"Iya, betul. Saya Rania, maaf siapa ya?" tanyanya berusaha sopan.


"Aku Revy, aku satu angkatan denganmu," ujarnya.


Rania nampak menaikan alisnya, mencoba mengingat.


"Oh, maafkan aku. Iya aku mulai ingat, maaf," ucap Rania. "Dulu kamu tidak berjambang, makanya aku ga ingat," ujar Rania beralasan.


Pria muda itu tertawa sambil meraba jambang tipis yang memenuhi dagunya. "Apa kabar?" tanya Revy.


"Alhamdulillah, baik. Bagaimana denganmu?" Rania bertanya balik.


"Aku baik juga. Udah lama, dari tadi aku merhatiin kamu, berasa kenal ... aku ingat-ingat, kamu ternyata." Revy memandang takjub pada wanita di depannya, wajahnya terlihat masih sama seperti ketika kuliah dulu. "Itu, keluargamu?" tanyanya ragu, melihat Nalendra menggendong seorang anak dan memandangnya tajam.


"Ah, ini ...."


"Halo, Nalendra," ujar Nalendra mengenalkan diri.


"Revy," jawab Revy menangkupkan kedua tangan di dada sebagai ganti berjabat tangan. Dia tahu Nalendra sedang menggendong, akan ribet kalau mengulurkan tangan padanya, walaupun bisa.


"Papah ...," panggil seorang anak perempuan yang usianya tidak seberapa jauh dengan Dareen.


"Udah?" tanya Revy pada anak perempuan tadi, di belakangnya seorang wanita mengikuti dengan tersenyum manis.


Raut wajah Nalendra langsung berubah dari yang tadi menatap Revy dengan tajam menjadi tersenyum.


"Udah," jawab anak perempuan itu.


"Kenalin, ini teman kuliahku. Dia Rania dan itu suaminya," ujarnya mengenalkan Rania pada wanita yang sekarang berada di sampingnya. "Rania, ini istriku. Imelda."


"Halo, Rania," ujar Rania sambil mengulurkan tangan walaupun dia masih tersentak kaget karena Revy mengenalkan Nalendra sebagai suaminya. Berbeda dengan Nalendra yang tersenyum bahagia.


"Imelda," jawabnya menyambut hangat uluran tangan Rania.


"Kalau begitu, kami duluan ya." Rania tersenyum berpamitan pada temannya, dia tidak ingin berbohong untuk statusnya.


Dareen sudah mau berjalan sendiri. Dia begitu senang Bundanya berjalan-jalan, biasanya dia hanya pergi berdua saja dengan Nalendra dan kalaupun ditemani bukan oleh Rania, tetapi oleh Pak Idris atau Zyan.


Mereka berkeliling dari bangunan-bangunan ala Eropa, taman bunga, rumah Hobbit dan berakhir di Mini Zoo Farmhouse.


Dareen sangat antusias ketika memberi makan domba-domba, awalnya dia tidak mau karena takut. Namun, Nalendra mendampinginya hingga dia berani memberi pakan wortel sendiri.


"Kamu hebat, Sayang." Rania mencium Dareen.


"Ayo ke mesjid, ini udah masuk waktu Dzuhur!" ajak Nalendra.


Rania menuruti Nalendra keluar dari kawasan wisata menuju tempat parkir. Mereka akan mencari mesjid di luar kawasan sekalian menuju tempat wisata yang lain.


Mereka dengan cepat menemukan mesjid yang tidak terlalu jauh dari Farmhouse. Nalendra dan Dareen segera melaksanakan shalat Dzuhur, sedangkan Rania menunggu di teras mesjid karena dia sedang berhalangan.


"Bunda," panggil Dareen yang baru saja keluar dari pintu mesjid.


"Anak bunda udah shalatnya?" Rania merentangkan tangan agar Dareen masuk ke dalam pelukannya.


"Aku tadi banyak ngemil, jadi belum kerasa lapar," jawab Rania. "Kamu lapar ga?" tanya Rania pada Dareen.


"Aku ingat masih ada ayam di mobil. Aku mau makan ayam yang dikasih Nenek," jawab Dareen.


Rania memandang Nalendra. "Apa kamu lapar?"


"Sedikit, Kita kemana lagi ya. Ayo sekalian cari makan," ujar Nalendra menuntun Dareen kembali ke mobil.


Sepanjang perjalanan Dareen tak henti-hentinya bernyanyi, Hingga Nalendra mematikan radio yang sedang dinyalakan.


Lebih baik dengerin Dareen saja. batinnya.


"Lagi apa?" tanya Nalendra pada Rania yang sejak tadi asik menatap dan menscroll layar ponselnya.


"Ehm, Lagi nyari tempat seru. Kita ke Floating Market aja yuk!" ajak Rania. "Kayanya tempatnya seru. Katanya di sana ada kota mini berbagai negara. Boleh?"


"Oke, kita ke sana. Di mana alamatnya?" tanya Nalendra.


Rania segera beralih ke map dan menyodorkan ponselnya ke Nalendra untuk petunjuk jalan ke tempat wisata. Tiba di sana, seperti biasa Dareen dan Rania menunggu Nalendra membeli tiket masuk.


"Ayo!" ajak Nalendra segera menggendong Dareen.


Hari Minggu banyak orang yang berlibur, baik lokal maupun dari berbagai penjuru daerah di Indonesia. Floating market cukup padat hari itu, hingga Dareen harus di gendong oleh Nalendra. Rania sendiri berada di samping Nalendra, memegang sedikit samping baju Nalendra seperti mencubit.


"Kamu mau makan dulu?" tanya Rania mengingat tadi Nalendra bilang kalau dia sedikit lapar.


"Iya," ujarnya sambil mengangguk.


"Ayo kita ke sana!" Rania menggenggam tangan kiri Nalendra dan menariknya ke arah tempat kuliner terapung.


Floating Market memberikan pengalaman wisata kuliner yang berbeda. Pengunjung bisa membeli makanan dan minuman dari penjual yang berada di atas perahu kayu, kemudian menikmatinya di pinggir danau dengan latar pemandangan Gunung Tangkuban Perahu.


Floating Market menyediakan makanan ringan dan makanan berat yang beragam, seperti jagung bakar, sate karmel, tahu susu khas Lembang, tahu gejrot, colenak surabi, hingga dim sum. Harga makanan dan minuman yang dijual di Floating Market Lembang cukup terjangkau. Namun, di tempat wisata ini, kamu diharuskan untuk menggunakan koin sebagai alat transaksi. Kamu dapat menemukan beberapa spot untuk menukarkan koin. Koin Floating Market ini tersedia mulai dari pecahan Rp50.000.


Rania segera menukarkan uang beberapa ratus ribu dengan koin. Jika sudah ditukar, koin tersebut tidak bisa dikembalikan lagi walaupun masih utuh atau tidak digunakan sama sekali. Pilihannya hanya dihabiskan, atau di simpan untuk kunjungan wisata dilain waktu. Jadi, sebaiknya lebih baik menukarkan uang secukupnya saja.


Rania mulai berjalan menyusuri pinggiran danau tempat para pedagang menjajakan kuliner mereka. Dari satu warung ke warung yang lainnya.


"Ndra, lihat ada sate kelinci," Ujar Rania berbisik sambil terkekeh. "Kamu mau?"


"Enggak," jawab Nalendra sambil bergidik.


"Jadi, kamu mau makan apa?"


"Beli sate kambing aja," ujar Nalendra. Rania segera menghampiri warung sate yang Nalendra tunjukan, dia pun membayar dengan menggunakan koin tadi.


"Tunggulah di sana!" Rania menunjuk tempat duduk yang telah disediakan. Rania membeli beberapa cemilan juga, seperti surabi, dimsum dan jamur krispi.


Mereka menikmati makanan sambil menikmati pemandangan sekitar. Setelah selesai berkuliner, mereka pun melanjutkan ke Kota Mini.


Di Floating Market juga terdapat wahana baru, yaitu Kota Mini. Miniatur kota ini dilengkapi bangunan dan suasana khas Eropa, mulai dari rumah, sekolah, hingga rumah sakit.


Di kota mini ini, Dareen dapat belajar mengenal dan menambah wawasan tentang beberapa profesi tertentu seperti polisi, pemilik salon, pembuat kue dan masih banyak lagi.


Kota Mini selain menawarkan sebuah tempat wisata yang sangat menarik dan unik, juga merupakan suatu kawasan yang tempatnya berada di kawasan dataran tinggi pegunungan. Pemandangan alamnya sangat indah, asri serta udaranya yang berhawa sejuk.


"Dareen, Jangan lari!"