Yes, It'S U

Yes, It'S U
Bab 109



Pagi yang cerah, Nalendra sudah selesai memasukan koper ke dalam bagasi mobil, tak lama mereka pun berangkat. Dua sejoli itu saling tersenyum melempar canda sepanjang perjalanan ke rumah orangtua Rania.


"Bunda ko lama sih!" seru Dareen begitu Rania keluar dari mobil.


"Dareen nunggu bunda?"


"Iyalah!" jawabnya sembari berkaca pinggang memandang Rania.


"Maaf, Jagoan. Tadi sedikit macet di jalan." Nalendra segera mengangkat Dareen dan menggendongnya.


Pagi itu, mereka berjalan kaki berziarah ke makam Ergha yang tak jauh dari rumah orangtua Rania. Sepulang berziarah, tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang melihat mereka penuh dengan kekecewaan dan amarah.


Nalendra memangku Dareen berjalan di sebelah Rania, sedangkan Pak Idris berjalan di depan mereka bersama Bu Sekar. Mereka asik mengobrol, bercanda dengan Dareen yang ingin segera berangkat ke Garut.


"Dari mana, Bu?" tanya seorang wanita paruh baya pada Bu Sekar.


"Eh, dari makam, Mak. Damang?" Bu Sekar bertanya balik pada wanita paruh baya tadi. Mereka semua bersalaman dengannya.


"Alhamdulillah. Tos ziarah? Emak mah nanti sorean, nunggu A Cepi hela," ujarnya. Wanita paruh baya tadi adalah Mak Ijah, Beliau istri dari salah satu yang dituakan di sana.


Pandangannya beralih ke Rania dan Nalendra. "Oh, ieu suamina Si Teteh teh?" tanyanya sambil tersenyum.


"Muhun," jawab Rania.


"Nya, Semoga sakinah mawadah warahmah nya Teh. Meni ageung milik Si Teteh," ujarnya tersenyum.


"Aamiin, haturnuhun piduanya, Mak. Mangga (permisi), Mak," ucap Bu Sekar.


Mereka beberapa kali berpapasan dengan warga sekitar dan berbincang dengan mereka.


"Rania duluan ya," ujar Rania pada Bu Sekar dan Pak Idris yang masih asik berbincang dengan Pak ustadz.


Mereka dikejutkan oleh seseorang yang telah menunggu di depan pagar rumah orangtua Rania. Liana berdiri di sana, senyum yang dipaksakan menghiasi wajahnya.


"Hai, Ran, Ndra," sapa Liana.


"Oh, hai juga," jawab Rania lirih.


Rania melangkah ragu, dia tahu cepat atau lambat hal ini akan terjadi. "A-ayo masuk."


Nalendra menggenggam tangan Rania dan melangkah masuk ke dalam halaman rumah. Sesampainya di teras, dia menurunkan Dareen dan mengajaknya masuk ke dalam. Dia ingin membiarkan istrinya mengobrol dengan Liana, tentu di juga memperhatikan dan mendengarkan mereka dari balik jendela rumah.


"Udah sehat?" tanya Rania, dia ingat kemarin Liana masih terbaring lemas di tempat tidur.


"Alhamdulillah, udah mendingan. Aku bosan di rumah, jadi jalan-jalan aja sekalian ngejemur badan," ungkapnya, Rania mengangguk. "Kenapa kamu merahasiakan pernikahan kalian dariku?" tanyanya to the point.


"Maaf, aku tidak bermaksud menyembunyikannya. Aku ingin memberitahumu, tapi ...." Rania tidak melanjutkan lagi perkataannya, dia terdiam.


Liana tersenyum kecut menatap Rania yang menunduk. "Sejak kapan kalian mulai berhubungan serius?" tanya Liana. "Aku kira kamu masih bersedih karena kehilangan suamimu. Syukurlah kamu cepat move on nya!" Perkataan yang biasa, tetapi bagai anak panah yang menghujam ke dalam dada Rania.


Wajah Rania bersemu merah, rasanya sakit sekali. Namun, dia tetap tersenyum pada sahabatnya itu. Dia tahu, memang dia yang salah.


"Ga usah minta maaf kali. Kamu ga salah apapun, justru aku yang harus minta maaf. Aku kepedean banget ya deketin Nalendra, nanyain suamimu," ujarnya tertawa sinis.


Nalendra yang sedari tadi hanya mendengarkan mereka dari dalam pun, akhirnya keluar. Dia menghampiri Rania dan bersimpuh di hadapannya. "Angkatlah wajahmu, kamu sama sekali tidak salah apapun!" Nalendra mengelus pipi Rania, membuat Liana membuang muka karena kesal.


"Na', sepertinya aku yang salah karena dulu aku mendekatimu hanya untuk niatan mendekati Rania. Aku minta maaf untuk itu." Nalendra menatap Liana. "Seharusnya aku tidak melakukannya hingga membuatmu salah paham," ucap Nalendra penuh penyesalan.


"Aku yakin kamu masih ingat kalau aku pernah bilang akan menunggumu. Bahkan sampai saat ini aku masih menunggumu!" ujar Liana memelas menatap Nalendra.


"Bukankah aku sudah jawab hal itu. Bukankah dulu aku sudah bilang agar jangan menungguku karena aku menyukai wanita lain!"


Liana terdiam, "Kenapa harus Rania, apa yang kurang dariku?" tanya Liana, matanya mulai berkaca. "Kenapa kamu lebih memilihnya yang sudah janda beranak satu ketimbang aku yang masih gadis!"


"Liana!" seru Nalendra berusaha menahan kesal. "Tolong, jangan pernah berkata seperti itu lagi. Aku mencintainya dulu, sekarang dan sampai kapanpun aku akan tetap mencintainya. Dia istriku dan ibu dari anakku!"


"Anak? Dareen bukan anakmu!"


Rania meneteskan air mata. Dia begitu shock, sahabatnya bisa berkata kasar seperti itu di hadapannya langsung. Padahal, dia tahu Liana seorang gadis yang cukup lembut walaupun agak tomboi.


"Maafkan aku," ucap Rania lirih. Nalendra menatap wajah Sang istri, menggenggam erat kedua tangan Rania. Tangannya mulai menyeka air mata yang keluar dari sudut mata Rania.


"Pulanglah, sepertinya pikiranmu belum tenang dan butuh banyak istirahat! masih ada yang harus kami kerjakan!" Nalendra berdiri, dia membopong tubuh Rania agar dia juga berdiri lalu merangkul pundak Rania untuk masuk ke dalam rumah.


Liana tersenyum kecut, dia berdiri melangkah keluar dari rumah orangtua Rania. Dia juga berpapasan dengan Pak Idris dan Bu Sekar tak jauh dari pagar rumah mereka.


"Eh ada Liana, udah sehat?" tanya Bu Sekar. Namun, Liana tidak menjawabnya. Dia terus melangkah tanpa melihat orang-orang yang bertanya ataupun berpapasan dengannya.


Begitu sampai di rumahnya, Liana masuk ke kamar dan membanting pintunya dengan keras. Bu Ratna yang sedang di dapur pun langsung berlari ke arah kamar Liana yang sudah tertutup. Dia mencoba membuka pintu kamar, tetapi pintu itu terkunci.


"Na, ko dikunci? buka pintunya," ujar Bu Ratna menggedor pintu tersebut.


Suara barang jatuh dan pecah mulai terdengar diantara Isak tangis Liana dari dalam kamar. Bu Ratna semakin kuat menggedor pintu kamar Liana.


"Kenapa, ayo buka!"


"Buka pintunya, Sayang!"


**


Sepanjang perjalanan ke Garut, Rania terdiam. Dia hanya bersuara ketika ditanya saja. Dia juga memalingkan wajahnya ke arah jendela, melihat pohon-pohon yang seperti berlarian mengejar mereka di pinggir jalan.


Dareen sudah tertidur pulas di jok belakang. Nalendra melirik Rania yang masih asik dengan pikirannya.


"Sayang, jangan terlalu dipikirkan. Toh, kamu benaran ga salah ko. Aku kan udah bilang kalau aku yang menyukaimu duluan."


"Aku tahu," jawab Rania lirih. "Ndra, terima kasih sudah menyayangi aku dan Dareen, terima kasih kamu sudah menjadi ayah yang sangat baik buat Dareen meskipun dia bukan anak kandungmu."


"Sayang, Dareen adalah anakku dan selamanya akan menjadi anakku, anak sulungku. Ga usah dipikirkan perkataan Liana!"


"Iya, aku hanya ingin berterima kasih aja padamu." Rania kembali mengalihkan pandangannya ke jendela samping. "Ndra, aku ngantuk. Aku mau tidur sebentar."