Yes, It'S U

Yes, It'S U
Bab 99



Nalendra terkenal dengan sikapnya yang kaku terhadap wanita. Teman-teman SMA pun sudah mengetahui hal itu, mereka tidak pernah melihat atau mendengar dia berhubungan dengan seorang wanita.


Namun, hari ini teman-teman SMA-nya menyadari ada yang berbeda dari Nalendra. Kini di jari manisnya nya tersemat cincin berwarna silver. Mereka juga menyadari sikap Nalendra yang sejak dia datang selalu tersenyum pada Rania.


Liana pun memperhatikannya. Memperhatikan bagaimana kedekatannya dengan Rania dan pandangannya tertuju pada cincin yang tersemat di jari manis tangan kanan Nalendra.


"Ndra, aku kira kamu ga akan datang. Tahu gitu tadi aku minta kamu jemput," ujar Liana pada Nalendra. Liana berani berkata seperti itu karena wali kelas mereka sudah pulang, Beliau berkata jika suaminya sudah menunggu di parkiran.


Rania hanya menunduk, asik memakan makanannya. Dia tahu jika Liana menyukai Nalendra, tetapi dia tidak menyesali telah menerima Nalendra. Dia hanya harus mencari waktu yang tepat untuk memberitahu Liana soal pernikahannya dengan Nalendra.


"Aku kira kamu masih di Luar negeri. Kemarin bilang pulang Minggu depan," timpal Rezky.


"Luar negeri?" lirih Liana.


"Tadinya memang seperti itu, ada sesuatu yang harus aku selesaikan." Nalendra melirik Rania.


Apa aku harus menanyakan padanya atau nanti saja. pikirnya melihat cincin tersebut.


"Ndra ...," Belum sempat dia melanjutkan perkataannya, Retno sudah memotongnya.


"Nalendra itu cincin tunangan atau cincin nikah?" tanya Retno menunjuk cincin yang tersemat di jarinya.


"Ehm, ini ...." Nalendra tersenyum sembari mengangkat tangannya memperlihatkan cincin tersebut.


"Mungkin dua-duanya. Bisa disebut cincin tunangan, bisa juga cincin kawin," kata Nalendra terkekeh mengingat bagaimana acara pertunangannya berubah menjadi acara pernikahannya, walaupun saat itu hanya secara agama saja.


"Ko lu gitu! ga bilang-bilang, ga undang kita?" tanya Kevin.


"Nanti pasti aku undang, siapkan saja hadiah yang terbaik buatku!"


Syukurlah, dia belum nikah. batin Liana tersenyum senang.


"Riana diem mulu dari tadi?" tanya Habib. "Ngobrol dong, Sayang. Makanya sini pindah lagi, deket aku aja." Habib masih ingin mengganggu Nalendra yang sudah berani menikah diam-diam dengan Rania.


"Lagi makan, ga boleh banyak bicara nanti tersedak!" jawab Riana sambil terus menyuapkan makanan ke mulutnya.


"Riana, kaya kelaperan. Emang yang lagi ga puasa mah suka ngerasa lebih kelaperan dibanding yang puasa ya," ujar Dini.


"Iya, emang bener begitu. Dia kelaperan pe ikan Nalendra aja dia embat!" Retno tertawa melihat Rania yang dengan santai makan ikan milik Nalendra.


"Ikannya banyak, aku pikir ga akan habis kalau dimakan sendiri. Jadi aku bantu ngabisin." Rania dengan santai menyuapkan kembali potongan ikan ke dalam mulutnya.


"Iya, ga apa-apa. Nalendra orangnya baik ko, ayo abisin aja. Apa sih yang enggak buat Rania." Habib kembali tersenyum sembari melirik Nalendra yang di sampingnya.


Sampai acara selesai, Habib terus menggoda Nalendra dan Rania.


Pukul delapan, Rania meminta izin pamit pada teman-temannya. "Maaf, aku duluan ya. Kasian anakku nunggu, dia aku titip di mertuaku," ujar Rania beralasan. "Liana, aku pulang duluan ya."


"Kamu naik apa?"


"Gampang, ada ojek online," jawab Rania membuat Habib tersedak dan tertawa.


Semua orang melihat Habib yang tertawa terbahak, mereka tidak mengerti apa yang sedang Habib tertawakan.


"Napa, Bib?" tanya Dini. "Ngagetin aja!"


"Enggak, Rania mau aku antar? aku mau ko jadi ojekmu."


"Ga usah, ga apa-apa. Aku duluan ya," ujar Rania. "Assalamu'alaikum." Rania beranjak dari tempat duduknya, Dia berbalik, melangkah tanpa melirik Nalendra sedikit pun.


"Rezky, Ayo. Katanya mau ke rumah Nalendra!" Habib melirik Rezky. Dia tidak mau menyia-nyiakan waktu untuk mengganggu Nalendra dan Rania. Rasanya dia belum puas menggoda mereka.


Rezky yang kurang paham maksud Habib, hanya mengangguk.


"Bib, aku ikut!" Ujar Liana.


"Jangan, ini urusan laki-laki. Cewek ga boleh ikut!" Habib segera menggusur Rezky ke luar dari restoran.


Di parkiran, Nalendra mencari Riana dan tersenyum melihat istrinya menunggu di dekat barrier gate keluar. Dia segera menghampiri Rania


"Ayo!" Nalendra menggenggam tangan Rania dan mengajaknya ke arah parkiran motor.


"Kamu bawa motor?" tanya Rania yang dijawab anggukan Nalendra.


Di parkiran motor sudah ada Habib Putra dan Rezky. Mereka cekikikan melihat Nalendra dan Rania berpegangan tangan.


"Mereka udah aku kasih tahu," ujar Nalendra melirik Rania.


"Pantesan aja Rania ga mau dianter sama aku, toh yang jadi ojegnya juga Nalendra ternyata!" sindir Habib.


"Maaf ya," ucap Rania tersenyum.


"Rania, kamu buat aku patah hati!"


"Patah hati, patah hati. Bini lu mau lu kemanain!" sergah Nalendra.


"Dih, Nalendra galak amat. Dia akan selalu ada di sini, kalau Rania mau aku buatkan satu ruang lagi di sini," ujarnya membuat Rania terkekeh. Rezky yang sedari tadi berdiri di sana hanya memperhatikan mereka.


"Duluan ya," ujar Rania, mengambil helm yang diberikan Nalendra kepadanya.


Setelah Rania naik ke motornya, Nalendra menarik tangan Rania agar berpegangan padanya. Nalendra tersenyum penuh kemenangan pada Habib dan Rezky, sebelum dia melajukan motornya.


Rania memegang pinggang Nalendra. Tidak! lebih tepatnya memeluk erat Nalendra. Dia menyenderkan kepalanya di bahu Nalendra. "Kita mau kemana?" tanya Rania saat menyadari mereka tidak melewati jalanan ke arah rumahnya.


Nalendra tidak menjawab pertanyaan Rania. Dia terus melajukan motornya dan masuk ke sebuah Mall di daerah Cihampelas, Bandung.


"Apa kamu masih lapar?" tanya Rania setelah turun dari motor dan memberikan helmnya pada Nalendra.


"Tidak, aku ingin kencan dengan istriku. Aku merindukanmu," ujarnya tersenyum memandang Rania.


"Dareen bagaimana?" tanya Rania, Nalendra tidak menjawab, dia malah mengeluarkan ponsel dan menyerahkannya pada Rania.


Rania melihat pesan di ponsel Nalendra. Pesan dari Bu Shafira yang menyuruhnya mengajak Rania jalan-jalan dan bahkan beliau juga menyarankan agar mereka tidak pulang ke rumah.


"Jangan pulang ke rumah?" Rania mengernyitkan dahinya membaca pesan dari ibu mertuanya. Dia memandang Nalendra lekat.


"Ibu ingin kita menghabiskan malam di luar. Jalan-jalan, menginap di hotel. Beliau mengerti anaknya baru pulang dan merindukan istrinya." Nalendra tersenyum menggoda Rania yang mulai merona. "Ayo!"


Mereka berjalan bergandengan tangan. Mereka berjalan ke arah bioskop yang berada di lantai dua.


Nalendra memilih film yang akan mereka tonton, film action yang dia pilih. Rania hanya menurut saja, toh dia juga menyukai film bergenre tersebut apalagi produksi MCU.


Nalendra sengaja memilih tempat duduk di barisan ke tiga dari atas, agar lebih nyaman ketika menonton. "Aku mau air mineral aja," ujar Rania memberikan cup minuman pada Nalendra. "Tadi aku sudah minum yang manis. Ga baik banyak minum-minuman manis!" lanjutnya.


"Ga usah minum yang manis, kamu udah manis banget ko!" ujar seorang pria yang baru saja melewati mereka dan duduk di samping Rania.