Yes, It'S U

Yes, It'S U
Bab 27 Foto pertama



"Kayanya dia udah lupa sama bundanya," ejek Zyan yang melihat Rania tertegun dengan sikap Dareen.


"Sembarangan aja Lo kalau ngomong!" ujar Rania melirik adiknya tajam.


"Dih, taringnya keluar," ejek Zyan.


Nalendra duduk di dekat Pak Idris melihat Dareen dan Rania bermain air.


"Haturnuhun A Nalendra udah jagain Dareen dan Rania," ucap Bu Sekar.


Nalendra langsung berbalik melihat Bu Sekar. "Ehm, iya?" Nalendra bingung harus menjawab apa, "kenapa mamanya tiba-tiba berterimakasih padaku?" pikirnya.


"Terimakasih karena kemarin bantu jagain Dareen dan hari ini nemenin Rania juga Zyan. Jujur saja, ga pernah terbayang oleh kami kalau putri kami akan mengalami hal seperti ini di usia yang masih muda juga anak mereka masih sangat kecil."


"Sebenarnya ini bukan hanya liburan buat Rania agar dia bisa sedikit melupakan kesedihannya, tapi ini juga liburan bagi kami sekeluarga. Bahkan sampai sekarang kami masih terkadang sulit percaya, jika hal putri kami sudah menjanda diusia mudanya. Kami masih merasa gugup, sedih, khawatir, melihat putri kami. Tentu saja kami mencoba menutupinya di depan Rania. Kami mencoba tetap baik-baik saja di depannya agar dia cepat pulih, perasaannya yang halus cepat pulih juga."


"Terimakasih sudah datang menemani kami. menemani kami melewati masa-masa sekarang ini yang memang sulit dicerna. Kami berusaha buat ikhlas dan memang harus ikhlas," tutur Pak Idris, Bu Sekar menyeka air matanya.


Nalendra terdiam mendengar semua penuturan Pak Idris. Dia tidak tahu bagaimana menjelaskan perasaannya saat ini. Dia merasa ikut sedih ketika tahu suami Rania yang juga sahabatnya meninggal dalam sebuah kecelakaan. Dia sedih melihat wanita yang disukainya menangis pilu. Namun, dia juga tidak bisa membantah jika dirinya merasa senang, karena kini Rania tidak bersuami lagi dan dia mempunyai kesempatan untuk mendekati, menjadikannya istri. Tidak mungkin bukan dia bercerita seperti itu pada keluarga 'calonnya'.


"Kami selalu mengajarkannya cara menyayangi seseorang agar banyak orang yang sayang kepadanya, tetapi kami pun masih harus belajar bagaimana cara ikhlas melepaskan orang yang kita sayang." Bu Sekar Kemabli menyeka air matanya yang menggenang di pelupuk mata.


"Pak, sebenarnya ...," Nalendra terdiam, "apa baik jika dia menyampaikannya sekarang", pikirnya.


"Ya, kenapa?" tanya Pak Idris.


"Tidak, tidak apa-apa," jawab Nalendra tersenyum.


Matahari sudah di ujung, langit jingga memantul berkilauan di air laut yang jernih membuat takjub siapapun yang memandangnya.


"Ayo, sebaiknya kita bergegas. Sudah masuk waktu magrib." Pak Idris berdiri memanggil anak-anaknya dan cucu kesayangannya.


"Aku lelah sekali," ujar Zyan memutar kepalanya agar tidak terlalu pegal.


"Ayo, jagoan Om gendong," ajak Nalendra mengulurkan tangan kanannya yang langsung disambut Dareen.


"Kamu ga cape?" tanya Rania.


"Enggak, tadi aku udah istirahat lumayan lama." Nalendra senang Rania bertanya keadaannya.


***


Sudah beberapa hari sejak dia berlibur dengan Rania dan keluarganya. Sejak itu pula Nalendra sudah merindukan Rania dan Dareen kembali. Rasanya dua hari tidaklah cukup, dia ingin bisa terus melihat mereka, setiap hari.


Nalendra menandai bingkai foto yang baru kemarin dia pajang di meja kerjanya. Dareen yang sedang duduk di pundaknya, Rania yang berada di sampingnya. Dalam foto tersebut memang tidak terlihat wajah mereka karena Zyan mengambilnya dari belakang ketika mereka sedang berjalan. Namun, Nalendra tahu itu adalah foto mereka, foto pertama yang dia cetak dan dia pajang dan dia berharap akan ada foto-foto yang lain yang menemaninya.


Zyan banyak mengirim foto pada Nalendra, dan hampir semua foto tersebut memperlihatkan Nalendra yang sedang memandang Rania.


"Dia pasti tahu, aku menyukai Tetehnya," gumam Nalendra. "Dia pasti akan setuju jika aku bersama Rania, buktinya dia mengirim banyak foto kami. Dia tidak mungkin mengirim banyak foto-foto itu kalau dia tidak setuju, bukan?" pikir Nalendra sambil mengetuk-ngetuk pulpen ke dahinya.


Suara ponsel membuyarkan lamunannya. Nalendra segera mengambil ponsel yang dia simpan di meja kerjanya.


Nalendra tersenyum setelah membuka pesan yang dia dapat. "Dia mengirimkan lagi." Zyan mengirimkan sebuah video kurang dari semenit, video Rania sedang mengomel pagi-pagi.


Pagi yang indah dengan omelan yang panjang. Begitulah isi pesan dibawah video tadi.


Sabar aja. Nalendra membalas pesan Zyan.


Nalendra asik bertukar pesan dengan Zyan, tanpa sadar telah ada Aziz yang memperhatikannya.


"Maaf, Pak." ujar Aziz, tetapi Nalendra tetap fokus pada ponselnya. "Pak," panggil Aziz lagi. Dia menarik nafas kesal.


Nalendra memandang Aziz dengan sorot mata tajamnya membuat siapapun akan menciut.


"Maaf, Pak," ucap Aziz menunduk.


"Ada apa? ko kamu ada di sini?" tanya Nalendra pada Aziz yang masih menunduk.


"Ziz?"


"Iya, Pak?" jawab Aziz.


"Ko kamu ada di sini, sejak kapan?" tanyanya.


"Bukannya tadi bapak nyuruh saya ke sini," jawab Aziz.


"Benarkah?" mengernyitkan dahi. Nalendra mulai berpikir tentang tujuannya memanggil Aziz yang dia lupakan.


"Kamu boleh pergi, nanti aku panggil lagi jika perlu sesuatu," titah Nalendra tersenyum.


"Baik, Pak," ucap Aziz berbalik keluar dari ruangan Nalendra. "Senyum sih, tapi tetap menyebalkan!" batinnya.


Nalendra kembali dengan ponselnya, asik sekali mengobrol dengan Zyan walaupun hanya lewat pesan. Dia jadi tahu sedikit tentang Rania yang akan mengomel panjang lebar jika sesuatu tidak sesuai dengan keinginannya. Zyan juga bercerita kalau tetehnya ini mengomeli semua orang sepanjang perjalanan pulang dari liburan kemarin.


Nalendra merasa tidak enak saat tahu Rania kesal karena keberadaannya kemarin, tetapi Zyan langsung menepisnya. Zyan berkata jika Tetehnya bukan tidak menyukai hanya menghindari perasaannya saja.


Kini dia memandang dokumen yang menumpuk di meja kerjanya. "Bukankah tadi aku sudah memanggil Aziz, ko dia belum datang," pikirnya. Lalu memanggil kembali asistennya itu.


"Iya, ada apa Pak?" tanya Aziz begitu sampai di ruangan Nalendra lagi.


"Aku menunggumu sejak tadi, apa aku harus memanggilmu beberapa kali baru dateng!" seru Nalendra.


"Maaf, Pak," jawab Aziz yang ingin sekali menyuruhnya melihat cctv agar atasannya ini tahu kalau dia tadi sudah datang.


"Laporan proyek yang di Kalimantan, tolong kamu selesaikan. Aku menunggu hasilnya sore ini juga," ujar Nalendra membuat Aziz tersenyum menggemeretukan gigi kuat menahan kesal.


"Baik, Pak." Aziz mengambil dokumen-dokumen yang berada di meja nalendra dan segera membawanya keluar dari sana sebelum dia menambah pekerjaan lagi buatnya.


"Okay, mari kita selesaikan," gumamnya melihat beberapa email yang masuk.


Nalendra lebih bersemangat bekerja, apalagi setelah Pak Idris berkata "Liburan mungkin sudah selesai, tetapi itu bukanlah menjadi akhir kita bertemu." Sinyal restu sudah Pak Idris keluarkan.


"Rania, aku tidak akan melepaskanmu lagi," gumamnya dalam hati.


***


"Teh, biar Bapak aja yang jemput ya," kata Pak Idris.


"Iya, hati-hati," jawab Rania yang masih bergulat dengan pisau dan bahan makanan yang akan dia pasak.


Hari ini Rania membersihkan kebunnya di depan hingga lupa waktu. Dia juga belum memasak buat makan siang.


drrrt ... drrttt ...


Suara getaran ponsel terdengar, Rania segera mencuci tangannya dan mengambil ponsel yang dia simpan di meja dapur.


Rania memandang layar di ponselnya, Nama adik iparnya terpampang di sana.


"Ada apa dia meneleponku?" pikirnya.