
Rania meninggalkan Liana sendirian di halaman rumah orangtua Nalendra. Menurutnya tidak ada yang harus dia dengarkan lagi, jika yang diobrolkan masih seputar kecintaannya pada Nalendra.
Wanita mana yang ingin mendengar wanita lain mengakui secara terang-terangan akan mencintai suaminya dan siap menunggu. Tentu mereka tidak ingin mendengarnya, bukan?
Begitupun dengan Rania, dia merasa jika Liana sudah terlalu melampaui batas. Bahkan sampai tidak menggunakan akal sehatnya karena terlalu terobsesi dengan Nalendra.
Teman-teman Nalendra pun masih duduk tak jauh dari tempat duduk Liana berada. Mereka berbisik-bisik tentangnya yang ditinggal oleh Rania.
"Aku ga percaya dia bisa segitu terobsesinya dengan Nalendra!" ujar Reno. "Aku kira itu hanya ada di sinetron yang Si mama tonton aja. Apa dia terlalu banyak nonton drama?"
"Aku kira dulu Nalendra suka sama dia. Ternyata dia ngedeketin Rania lewat Liana. Aku sih kasian ma dia, tapi juga ngeri liat dia begitu!" timpal Indro.
"Ya, ga mungkin juga ngedeketin Liana lewat Ergha!" sergah Faqih sambil tertawa.
"Iya itu dia, makanya aku kasian liatnya. Dia di PHP Nalendra jadi begitu!"
"Ah, itu cerita lama. Lagian juga udah lama ga denger Nalendra jalan lagi sama dia sejak Rania nikah ma Ergha!" tegas Reno.
"Emang bener-bener si Nalendra. Nyimpen cintanya rapet banget!" ketus Indro. "Nyampe belasan taun. Kalau aku, udahlah nikah sama yang lain!"
"Jodoh 'Ndro, karena takdir jodoh dia Rania jadi ga bisa ke yang lain."
"Bener juga, takdir ya!"
"Aku samperin dah. Kasian dia sendiri!" Faqih beranjak dari tempat duduknya. Melangkah mantap menghampiri Liana yang masih duduk termenung sendiri, entah apa yang dia tunggu.
"Hai, Na'. Apa kabar?" sapa Faqih, duduk di samping Liana.
"Hai juga." Liana melirik Faqih sekilas. "Nalendra belum keluar lagi ya, aku ingin cepat pulang. Dasar Nalendra, padahal tadi dia yang maksa aku buat datang!" ketusnya.
Faqih hanya tersenyum mendengar perkataan Liana. Apa dia sedang mendrama? tanyanya dalam hati.
"Oh, begitu. Tunggu aja, bentar lagi juga keluar. Barusan dia dipanggil ibunya masuk!" tukas Faqih beralasan, dia ga mungkin bercerita jika Nalendra sedang mengejar istrinya yang cemberut.
"Aku kira dia lagi berantem sama Rania. Ya, Rania memang kadang seperti anak kecil, walaupun sudah punya anak. Dia sedikit manja."
"Oh, begitu." seperti tadi, dia hanya tersenyum. Harusnya tadi diam saja di sana! gerutu Faqih dalam hati. "Itu Nalendra keluar, panggil aja kalau emang perlu ma dia!" Faqih mencoba mencari celah buat pergi dari sana.
"Dia ga akan mendekatiku. Rania pasti melarangnya!" ungkap Liana melihat Nalendra duduk diantara teman-temannya.
"Ga usah!"
"Lah, terus kalau ga di panggil, dia ga akan ke sini-sini!" ujar Faqih. "Atau kamu mau ke sana nyamperin dia?"
"Malulah!"
"Ko malu, sebagian besar juga kan teman SMA kamu juga!"
Nih orang, dia bilang malu. Tapi sendirinya bikin malu! pikir Faqih, menyunggingkan senyum.
"Kalau gitu, aku ke sana." Faqih segera beranjak dari sana. Rasanya dia sudah tak mau mendengar semua kebohongan yang Liana utarakan lagi.
"Bro, Liana nungguin kamu tuh!" Faqih setengah berbisik.
"Enggak, ngapain?" tolak Nalendra.
"Katanya kamu yang nyuruh dia ke sini!"
"Apaan, enggak! Ngapain aku nyuruh dia ke sini, bisa ga dikasih pintu aku samma Rania. Lagian aku ga punya nomornya, aku delete trus nomor dia juga aku blokir!"
"Ih, ngerinya Aa nyampe maen blokir!" seru Reno terkekeh.
"Samperin aja, kasian dia nungguin!" saran Bachtiar.
"Jangan, kalau ketauan Rania kasian dia. Ingat Rania lagi hamil, sebisa mungkin jaga perasaannya!" tukas Indro.
"Aku juga males ke sananya!" timpal Nalendra. "Rania juga kayanya lagi kesal!"
"Kesal kenapa?"
"Ga tau, ga ngerti. Katanya dia pengen istirahat, malah nyuruh aku ke sini!"
"Balik lagi Sono, peluk, jangan ditinggal. Kalau lagi hamil biasanya begitu. Istriku juga dulu gitu, kalau lagi hamil dia diem di kamar, ga mau di temenin. Tapi pas aku keluar ga nemenin, eh malah makin marah!" ungkap Indro.
"Udah sono, temenin dulu Riana. Biarin aja Liana mah, dia mah ga jelas!"