
"Oh, Nalendra ikut juga?" tanya pak Darmawan yang baru melihat Nalendra duduk bersama Zyan dan Dareen.
Nalendra mengangguk sambil tersenyum memeluk Dareen yang duduk di pangkuannya.
Pak Darmawan tersenyum kecut, rasa kesal mulai menyelimuti ketika melihat Sang cucu seakan tidak menghiraukan keberadaannya.
"Maaf, saya permisi sebentar," Ucap Pak Darmawan, Dia berdiri berjalan ke dapur menghampiri istrinya. Dia mengambil segelas air yang telah berada di sana sebelumnya, meminum air tersebut hingga tandas berharap rasa kesal yang dia rasakan segera hilang. Dia harus terlihat berwibawa di hadapan besannya.
"Kenapa?" bisik Sang istri.
"Entahlah, aku selalu merasa kesal kalau melihat Nalendra!" Kata Pak Darmawan berusaha jujur dengan Sang istri.
"Aku tahu, duduklah dahulu. Kalau masih marah, ambillah wudhu. Mungkin kamu marah karena melihat Dareen dekat dengannya dan tidak mau bersamamu. Ingatlah, Dareen memang dari dulu seperti itu kan?"
"Iya, aku tahu. tapi kenapa dia harus dengan Nalendra, dia orang asing!" sergahnya setengah berbisik.
"Pak, Dareen kehilangan sosok ayah diusianya yang masih kecil, saat dia sangat membutuhkannya. Mungkin dia menemukan sosok itu di Nalendra."
"Bagaimana jika Rania menikah dengan Nalendra?"
"Walaupun Rania menikah dengan Nalendra atau dengan pria lain, siapapun itu jangan khawatir! Jangan khawatir dia lupa pada Ergha, dia tidak akan pernah lupa karena Ergha ayah kandungnya." Bu Darmawan meyakinkan suaminya. "Apa Bapak tidak tahu atau lupa bagaimana menantu kita? Dia bukan seorang yang akan langsung menghapus Ergha dari hidupnya. Apalagi mereka telah mempunyai Dareen. Ibu yakin Rania akan selalu mengingatkan Dareen, bagaimana sosok ayah kandungnya!"
"Mungkin Ibu benar," jawab Pak Darmawan pelan.
"Ibu justru bersyukur jika Rania menikah dengan Nalendra. Dia adalah sahabat Ergha, dia tahu bagaimana Ergha, dia juga pasti tidak bercerita yang baik-baik tentang Ergha," ujarnya mengelus wajah Sang suami.
"Bu," panggilnya dengan suara parau.
"Ibu mengerti bagaimana perasaan Bapak, Kita memang harus lebih ikhlas lagi melepas Ergha. Sekarang kita punya Dareen, Cobalah untuk lebih mengerti Dareen."
Pak Darmawan mengangguk, Dia bersyukur mempunyai seorang istri seperti Bu Darmawan. Mereka memang memiliki banyak sekali perbedaan terutama dalam sifat. Bu Darmawan seorang yang lemah lembut, tidak mudah marah berbanding terbalik dengan Sang suami yang keras dan mudah marah jika sesuatu tidak sesuai dengan ekspektasinya.
"Duduklah dulu di sini, ibu mau keluar mengantar jamuan. Jangan lama-lama marahnya, tidak bagus untuk kesehatanmu."
Pak Darmawan menyunggingkan senyum. Bukan salah siapapun jika Nalendra masuk dalam kehidupan menantunya. Itu adalah takdir yang telah Allah gariskan. Benar kata istrinya, mungkin selama ini dia yang belum ikhlas melepas Sang anak kembali ke pangkuan Sang Pencipta.
"Dareen sudah bisa mandi sendiri?" tanya Bu Darmawan. "Hebat cucu Oma, sini cium Oma dulu." Bu Darmawan mencium Dareen yang sedang berada di pangkuannya.
Pak Darmawan yang melihatnya menghampiri mereka, "Kakek juga mau dicium, Dareen kangen ga sama kakek?"
Dareen merentangkan tangan agar pak Darmawan mendekat padanya. Dia mencium pipi Sang Kakek, "Kakek yang sehat jangan sakit aja. Kalau sehat, nanti bisa ke Bandung jenguk aku!" ucapnya.
Rania memberitahu Dareen seminggu yang lalu jika kakeknya, Pak Darmawan sedang sakit. Rania juga selalu mengingatkan Dareen untuk mendoakan Sang kakek agar segera sembuh dan dapat bermain ke Bandung.
"Dareen tau kakek kemarin sakit?"
"Taulah, 'kan bunda ngasih tau. Dareen doain kakek biar cepat sembuh."
Pak Darmawan tidak dapat menahan rasa harunya, dia memeluk Dareen dan sedikit meteskam air mata haru. Ya, sekarang mereka mempunyai Dareen sebagai pengganti Ergha. pikirnya.
Keluarga Pak Idris pamit pulang setelah shalat asar. Mereka harus kembali ke rumah Rania yang sedang di bersihkan oleh para tukang.
**
"Teh, jam berapa teman Teteh mau ke sini," tanya pak Idris yang mulai lelah menunggu.
"Boleh Bapak pulang duluan?" tanya Pak Idris.
"Nanti, aku gimana?"
"Ada Apa Nalendra yang nemenin." Zyan menjawab pertanyaan Sang Kakak.
"Bapak mau ada janji nanti malam, Kalau pulang lebih lama lagi nanti Bapak telat banget datengnya," terang pak Idris.
"Bapak pulang diantar Nalendra aja, Zyan biar nemenin Rania di sini," pintanya.
"Tidak bisa, aku harus ke kosan temen nanti malam!" tolak Zyan.
Rania melirik Nalendra yang sedang bermain bersama Dareen dan Bu Sekar. Dia pun mengiyakan permintaan Pak Idris.
"Baiklah, hati-hati di jalan ya," jawab Rania dengan murung.
"Jangan kaya gitu, bapak akan temenin Teteh kalau belum punya janji mah, tapi bapak udah punya janji dari dua Minggu yang lalu," kata pak Idris.
Kini tinggallah Rania dan Nalendra, hanya berdua karena Dareen ikut pulang bersama Pak Idris dan Bu Sekar. Diam-diam Pak Idris menjanjikan mainan yang cucunya inginkan. Pak Idris sengaja memberi ruang berdua untuk anaknya, dia percaya Rania dan Nalendra tidak akan berbuat hal yang dapat merugikan semua orang.
Pak Idris tanpa sengaja mendengar percakapan antara Nalendra dan pak Darmawan di dapur. Dia mendengar saat Nalendra meminta restu pada Pak Darmawan untuk melamar Rania, menjadikan Rania istrinya.
Rania dan Nalendra duduk di teras rumah beralaskan karpet yang sengaja Pak Idris bawa dari rumah tadi pagi. Di hadapannya bermacam-macam cemilan dan air mineral menemani mereka.
Sebuah motor masuk ke dalam halaman rumah Rania dan parkir di sana. Pengendara motor tersebut turun dan membuka helmnya.
"Itu mereka," gumam Rania melambaikan tangan pada Nalendra.
"Assalamu'alaikum," ujar seorang perempuan tersenyum hangat pada Rania dan Nalendra. "Maaf, terlambat."
"Iya, lambat banget. Tadinya aku mau pulang aja!" ujar Rania mengerucutkan bibirnya.
"Hey, maaf." ucap wanita itu lagi.
"Ayo duduk, maaf cuma di karpet." Rania terkekeh.
"Tidak apa-apa," jawab seorang laki-laki yang bersama dengan wanita tadi. Dia duduk di sebelah Nalendra setelah dipersilahkan untuk bangun oleh Rania.
"Silahkan diminum." Rania menyodorkan dua botol minum air mineral. "Apa mau langsung lihat-lihat ke dalam?"
"Ga usah, aku udah tahu denah rumahmu?" jawab wanita tadi.
Rania tertawa, wanita itu adalah teman kuliah Rania, Alice. Dia beberapa kali pernah berkunjung ke rumah Rania ketika dia masih tinggal di sana. Dia juga pernah menemani Rania ketika Ergha harus kerja ke luar kota beberapa hari.
"Aku ga bisa lama, harus ke rumah mertuaku," jawabnya sambil melirik laki-laki di sebelahnya.
"Oh, ya udah. Ini kuncinya." Rania mengambil kunci cadangan rumahnya yang dia simpan di tas. "Kapan kamu pindahan?"
"Mungkin hari Rabu, aku libur hari itu."
"Ok, aku ga bisa datang ke acara pindahanmu. Ga apa-apa 'kan?" ujar Rania.
"Ga masalah, aku tahu kamu ngajar lagi. Jangan lupa kasih undang-undang aja nanti," ujarnya sambil melirik Nalendra.