Yes, It'S U

Yes, It'S U
Bab 68



"Maaf, Pak. Sepertinya kita tidak bisa pulang ke Jakarta besok, kantor pusat meminta Anda menghadiri konferensi lusa," ujar Aziz memperlihatkan email masuk di tabletnya. "Mereka sudah memberitahu Anda lewat email, sepertinya Anda belum melihatnya. Mereka meminta saya mengkonfirmasi kedatangan Anda."


"Benarkah? tadi aku sudah melihat email, tapi tidak ada undangan yang masuk." Nalendra segera meraih ponsel dan mengecek email yang masuk. " Ah, sepertinya aku yang melewatkannya. Kalau begitu ubah jadwal penerbangan kita dan jadwal yang lain sampai hari Jumat nanti."


Nalendra telah seminggu berada di Singapore, mengurus beberapa proyek. Dia juga harus menghadiri beberapa meeting dengan klien.


"Kapan aku bisa berlibur?" gumam Nalendra. Sudah tiga Minggu terlewat sejak berjalan-jalan dengan Rania dan Dareen.


Seminggu di Jakarta, seminggu kemudian Kalimantan dan Bali, seminggu ini di Singapore dan hingga beberapa hari kemudian pun masih di sini. gerutu Nalendra dalam hati.


"Ada waktu 20 menit," gumam Nalendra melihat jam di tangannya.


Dia pun segera menghubungi Rania. Dia begitu rindu dengan Dareen, anak kecil itu selalu sukses membuat lelahnya hilang.


"Assalamu'alaikum," suara Rania terdengar pelan seperti berbisik.


"Wa'alaikumsalam, kamu lagi apa, ko suaranya kecil?" tanya Nalendra.


"Aku lagi di sekolah. Rapat kerja, nanti aku hubungi balik kalau sudah di rumah. Assalamu'alaikum!" Rania memutuskan sambungan telepon sepihak.


"Halo, Rania, Ran ...," panggil Nalendra. Dia melihat ponselnya, panggilan telah terputus. "Dasar Rania. Apa dia tidak rindu padaku?" gumamnya menghela napas.


Rania memang belum memberi jawaban lamaran Nalendra, tetapi dia masih bisa dihubungi oleh Nalendra, masih membalas semua pesan yang Nalendra kirim, meskipun balasannya bisa sampai beberapa jam kemudian.


Dua Minggu lagi masuk bulan Ramadhan, Nalendra harus mendapatkan kepastian sebelum itu. Kalau tidak, mungkin dia harus menuruti keinginan Bu Shafira bertemu dengan beberapa anak dari temannya.


Dia sudah sangat bersyukur terlepas dari wanita muda yang terakhir kali dikenalkan Ibunya, Shareen anak dari Bu Marta. Dia bertemu dengan Shareen beberapa hari setelah kembali ke Jakarta. Shareen adalah wanita yang pernah mengajaknya kenalan dulu.


Dia memang gadis yang cantik, tetapi ada suatu hal yang membuat Nalendra bersyukur tidak jadi dijodohkan dengannya. Ketika dia bertemu di acara bersama ibunya, Shareen berhijab. Sedangkan ketika bertemu lagi di Jakarta dia tidak menggunakan hijab. Pantas saja Nalendra tidak mengenalinya ketika di acara tersebut.


Ini bukan tentang berhijab atau tidak berhijab karena itu suatu pilihan. Yang Nalendra tidak suka karena dia tampak anggun ketika berada dekat orangtuanya. Namun, terlepas dari pengawasan orangtua, sikapnya begitu bar-bar.


"Maaf, Pak. Sudah waktunya," ajak Aziz yang sedari tadi melihatnya termenung. "Apa ada sesuatu yang Anda butuhkan?"


"Tidak, tidak ada," jawab Nalendra.


Aziz sudah menjadi asisten Nalendra selama hampir dua tahun. Mereka bisa menghabiskan waktu bersama lebih dari 10 jam sehari. Terkadang weekend pun Aziz harus lembur menemani Nalendra bekerja. Dia tahu bagaimana sifat atasannya ini.


Mereka begitu dekat, sudah seperti sahabat. Mungkin karena banyaknya waktu yang mereka habiskan bersama. Namun, mereka juga seorang yang sangat profesional, Ketika bekerja Aziz berbicara formal pada Nalendra, tetapi mereka akan saling melempar candaan ketika diluar jam kerja.


Nalendra pergi meeting bersama Aziz di sebuah restoran mewah di Singapore. Seharusnya ini menjadi meeting terakhir yang mereka lakukan di sini dan pulang kembali ke Indonesia. Namun, undangan mendadak dari seorang investor besar harus Nalendra hadiri esok lusa. Itulah yang membuatnya sedikit badmood.


Tiga jam lebih meeting digelar. Semua presentasi berjalan dengan lancar. Nalendra mendapatkan proyek besar dari seorang pengusaha terkenal.


"Ziz, besok Lu mau ke mana?" tanya Nalendra, mereka telah berada di lift yang akan membawa mereka ke kamar, tempat mereka menginap selama bertugas di Singapore.


"Mungkin nyari oleh-oleh untuk istri dan anakku," jawab Aziz.


"Bukannya kemarin sore Lu udah beli oleh-oleh buat mereka?"


"Maksud Lu dapet punggung?" tanya Nalendra yang belum mengerti istilah kehidupan setelah menikah.


"Ya, harusnya kita balik hari ini ke Jakarta. Tapi nyatanya harus nambah dua hari. Gue harus ngasih tahu istri gue dong dan tentunya sogokan juga biar dia enggak marah nanti, enggak cemberut," jelas Aziz.


"Kenapa istri Lu marah, ini kan tugas dari kantor."


"Emang susah ngejelasin ama yang belum kawin," gumamnya menghela napas.


"Apa Lu bilang?"


"Lebih baik Lu cepet nikah, biar ngerti yang gue maksud barusan!"


"Dasar Lu, nyuruh-nyuruh nikah. Emang gampang, kaya beli permen di warung!" Nalendra menghela napas kasar. "Kemarin aku ngajak nikah Rania." Nalendra mulai bercerita.


"Lu ngajak nikah siapa?" tanya Aziz terkejut.


"Rania!" jawab Nalendra.


Mereka sudah keluar dari lift, berjalan menyusuri lorong.


"Ada apa, kenapa Lu ngekor di belakang gue?" tanya Aziz begitu melihat Nalendra berada di belakangnya ketika dia hendak membuka pintu kamar.


"Gue mau cerita, tadi kan belum selesai ceritanya!" jawab Nalendra polos. "Banyak yang gue mau tanyakan!"


Aziz pun mengalah, dia tidak mungkin menolak Nalendra. Walaupun mereka sudah berada di luar jam kerja, tetapi Nalendra tetap masih atasannya. Akan sangat berbahaya dan bisa mengancam keselamatan perekonomian jika dia menolak Nalendra.


Nalendra duduk di sofa kamar Aziz. Kamar Aziz tidak jauh berbeda dengan kamar Nalendra. Mereka berada di kamar sweet yang menyediakan ruang tamu, ruang makan, kamar tidur besar, dan fasilitas bintang lima lainnya.


Aziz mengambilkan beberapa kaleng minuman bersoda dan jus untuk Nalendra. Dia juga membawakan cemilan yang sudah tersedia di kulkas kamarnya.


"Jadi, lu mau cerita apaan?" tanya Aziz sambil melepaskan dasi dan menyimpannya di saku kemeja.


"Gue mengajak Rania menikah ketika kami pulang dari jalan-jalan terakhir kali," jawab Nalendra.


"Terus?"


"Dia malah tertawa terbahak, dan bertanya apa Gue sakit atau sedang kecapean!" ujar Nalendra dengan raut wajah yang bingung.


"Lu ngajak nikahnya di tempat liburan atau di rumahnya atau di mana?"


"Di jalan, di mobil," jawab Nalendra polos.


Aziz tertawa terbahak, tetapi begitu melihat tatapan Nalendra, tawanya langsung berhenti. "Lu harusnya kalau mau ngajak nikah anak orang buat yang romatis. Setidaknya di tempat yang bagus jangan di jalan," ujar aziz sambil menahan tawa. "Rania memang janda, tapi dia juga masih muda. Lu harus ngelamar dia dengan bener, yang berkelas, sopan, jangan ujug-ujug ngajak nikah aja!"


"Gue juga kemaren begitu karena dia nyuruh gue buat agak ngejauh dari Dareen." sergah Nalendra. "Gue juga maunya ngajak dia nikah dengan romantis, tapi karena dia bilang begitu, gue panik. Ya, gue ajak nikah aja sekalian!"