
Rania merasa bahagia Nalendra menyempatkan pulang, walaupun tidak memberitahunya terlebih dahulu. Andai bukan sedang berkumpul dengan teman-temannya, tentu Rania akan berhambur memeluk Nalendra.
Nalendra sengaja meletakan tangannya di belakang Rania, seperti sedang menopang tubuh dengan tangan. Dia berbalik dan berbisik, "Aku merindukanmu."
Rania hanya bisa tersenyum tanpa menoleh ke arah Nalendra, wajahnya merona. Dia menurunkan tangan kirinya dan mencubit pinggang Nalendra.
"Awww," ujar Nalendra refleks memegang pinggang yang dicubit istrinya.
"Kenapa?" tanya Rania polos, tanpa merasa bersalah.
"Enggak apa-apa, sepertinya ada semut menggigitku." menyudutkan pandangan pada Rania.
"Ayo solat dulu!" ajak Habib Putra. "Makannya nanti aja abis solat biar ga keburu-buru!"
Nalendra mengeluarkan ponselnya dan menyimpannya di pangkuan Rania. "Solat dulu," bisiknya. Dia berdiri dan mengikuti teman-temannya ke musholla yang berada di dalam restoran.
"Mau kemana?" Tanya Dini, melihat Rania beranjak dari tempat duduknya.
"Ke depan sebentar," jawab Rania.
"Jangan lama, ya. Aku sendiri nih!" Dini sama seperti Rania, sedang mendapat libur puasa karena menstruasi.
Rania berjalan ke arah meja waiters. Dia memesan makanan tambahan untuk Nalendra. Dia memesan makanan yang bisa cepat tersaji agar dapat makan bersama-sama dengan yang lain.
"Rania, berarti sekarang kamu tinggal di Bandung lagi?" tanya Dini memulai percakapan.
Rania mengangguk, "Iya, di rumah Mama lagi."
"Terus, rumahmu yang di Bekasi kosong atau dijual?"
"Dikontrakkan, sebelum puasa kemarin Alhamdulillah ada yang ngontrak. Kamu ke sini sendiri, aku ga liat anakmu?" tanya Rania.
"Iya, anak-anak sama bapaknya. Aku suruh ke rumah neneknya aja. Suka ribet kalau bawa anak ke acara kaya gini!" ujar Dini terkekeh.
Rania tersenyum, dia setuju dengan yang dikatakan Dini. Kita tidak akan terlalu menikmati acara reuni, ketika kita membawa serta anak, apalagi anak yang masih balita. Perhatian kita tentu hanya untuk menjaga anak. Itu menjadi salah satu alasan setelah menikah dan mempunyai anak, Rania tidak pernah datang ke acara reuni.
"Hei, bro. Aku kira ga akan datang!" Rezky menepuk bahu Nalendra yang sedang mencuci tangan di toilet pria, di sana juga ada Habib Putra dan beberapa teman lain sedang mengantri.
"Tadinya begitu. Aku baru nyampe rumah tadi setengah 5 sore," jawab Nalendra melihat Rezky lewat pantulan cermin di depannya.
"Bro, kamu udah nikah?" tanya Habib menunjuk cincin yang tersemat di jari manis Nalendra.
Nalendra tersenyum, mengangkat tangan melihat cincin tersebut.
"Yang bener!" Rezky terkejut. "Ko ga bilang-bilang sih, Bro?"
"Mendadak." ujar Nalendra pelan.
"Mendadak gimana, lu hamilin anak orang?" tanya Rezky dengan suara cukup keras hingga semua yang berada di sana berbalik ke arah mereka.
"Enak aja lu kalau ngomong. Enggaklah!" sergah Nalendra. "Pengen cepet-cepet aja, mumpung dia nerima aku, ya aku pikir nikah aja sekalian. Sebelum dia berubah pikiran."
"Ah, becanda kamu ya!" Habib menepuk lengan Nalendra. "Kalau pengantin baru, ga mungkin dia ada di sini. Istrinya juga masa ga dibawa!"
"Ada ko, sini aku bisikin!" Nalendra menyuruh mereka mendekat.
"Gue nikah sama Rania," bisik Nalendra.
"Yang bener lu?" Habib memundurkan badannya, tersentak dengan perkataan Nalendra.
Lain halnya dengan Rezky, dia hanya mengerut memandang Nalendra. "Serius?"
Nalendra mengangguk, "Ya, tolong rahasiakan dulu, terutama dari Liana. Rania belum memberitahunya bahwa akulah suaminya. Kalian tahukan mereka teman kecil," pinta Nalendra.
"Hai, Ran. Kamu makin cantik aja," ujar Habib langsung duduk di sebelah Rania.
"Terima kasih," ucap Rania tersenyum.
Nalendra menghela napas, Harusnya aku tidak bercerita pada mereka. pikirnya. Dia mulai sadar jika temannya pasti akan menjahilinya karena merahasiakan pernikahannya dengan Rania.
"Bib, geser Bib!" ujar Nalendra menepuk bahu Habib yang masih duduk dekat Rania.
"Udah duduk situ aja, dari awal dateng juga aku duduk dekat Rania. Iya 'kan Rania?" Habib semakin melancarkan aksinya dengan mengedip-ngedipkan mata ke arah Rania.
"Maaf, aku mau ke belakang dulu," ujar Rania terkekeh melihat Nalendra cemberut.
"Udah kamu situ aja, katanya mau duduk deket Bu Kartika. Aku mau duduk deket Rania mumpung dia ada, jarang-jarang dia ikut reuni!" Habib semakin memanas-manasi Nalendra.
"Mari kita berdoa dulu sebelum makan," ucap Bu Kartika dan semua yang hadir turut berdoa menundukkan kepala.
"Ndra, udah pesan belum? Punyaku kebanyakan nih," kata Liana.
Nalendra baru tersadar belum memesan makanan.
"Maaf, ini atas nama Nalendra," kata seorang waiters membawakan makanan berupa nasi dan ikan gurame asam manis. "Ini sudah lengkap ya, Mas," lanjutnya lagi melihat resi pembayaran dan mencoretnya.
"Iya, terima kasih." ucap Nalendra.
"Aku kira kamu belum pesan." Liana terlihat cemberut.
Emang aku belum pesan. Istriku yang pesankan. batin Nalendra senang.
Rania datang dan mendekat ke tempat Bu Kartika. "Ndra, boleh aku duduk di sini?" tanyanya. Nalendra langsung tersenyum senang. "Terima kasih, maaf boleh ambilkan makananku." Rania menunjuk ke makanan yang berada dekat Habib.
"Rania, ko kamu ga setia sama aku, malah pindah ke sana. Ah, Rania duduk sini aja deket aku," Ujar Habib merengek melirik Nalendra yang menegakan badannya, seakan dia ingin menunjukan siapa yang menang.
"Udah, aku sini aja, pengen deket Ibu," ujar Rania tertawa kecil. Semua yang memperhatikan tingkah Habib ikut menertawakannya.
Mereka kembali menikmati makanan masing-masing, diselingi berbagai macam obrolan.
Nalendra memberikan beberapa potong ikan ke piring Rania dan mengambil Tahu dari piring Sang istri lalu memakannya. Beberapa orang yang melihat sikap Nalendra tersebut mengkode teman yang lain agar melihat Nalendra dan Rania yang bagai sepasang kekasih, saling berbagi makanan. Nalendra juga tanpa sadar beberapa kali menyeruput milkshake milik Rania.
Habib berdehem lumayan keras membuat Nalendra meliriknya. "Baca pesanku!" bisiknya.
Nalendra meraba kantong celananya dan teringat jika ponselnya ada pada Rania. "Ponselku mana?" bisik Nalendra.
Rania merogoh tas di depannya dan memberikan ponsel pada Nalendra.
Nalendra menyuapkan makanan ke mulutnya sambil membaca pesan Habib dan tersedak.
"Pelan-pelan makannya, minumlah," Rania memberikan botol air mineral pada Nalendra.
Nalendra berbalik memandang Habib tajam. Pandangannya seakan meminta penjelasan tentang pesan yang dia kirim.
Kalau boleh jujur, Nalendra ingin sekali memberitahu semua orang jika dia sudah menikah dengan Rania. Namun, dia juga harus menghormati keputusan Rania untuk merahasiakannya dahulu, terutama dari Liana, sahabatnya.
Tanpa Nalendra sadari, sedari tadi Liana memperhatikannya. Memperhatikan bagaimana kedekatannya dengan Rania dan pandangannya tertuju pada cincin yang tersemat di jari manis tangan kanan Nalendra.
Apa aku harus menanyakan padanya atau nanti saja. pikirnya melihat cincin tersebut.
"Ndra ...,"
"Nalendra itu cincin tunangan atau cincin nikah?" tanya Retno menunjuk cincin yang tersemat di jarinya.