
Rasa lelah Nalendra seketika hilang melihat Rania berada di Apartemennya, memberi kejutan. Wangi tubuh Rania yang baru saja mandi menyeruak, membuatnya ingin berlama-lama dekat Sang istri.
Nalendra menarik tangan Rania hingga dia terjatuh ke dalam dekapannya. Wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. Nalendra tersenyum lalu mencium sekilas bibir Rania.
Dia sangat cantik. Mata cokelatnya sungguh indah. batin Nalendra.
Rania memandang mata Nalendra lekat, hingga bayangannya terpantul di sana. Mata cokelatnya turun melihat bibir Sang suami, bibir itu berwarna merah walaupun tanpa pewarna buatan, tipis, sangat menggoda. Rania menghela napas untuk meredam rasa gugup dan debaran jantung yang kian menderu.
"Ndra," Rania berusaha bangkit.
Nalendra tersenyum, dia memegang pinggang Rania yang berusaha berdiri. Tangan Nalendra turun ke paha Rania membenarkan posisinya agar duduk di pangkuannya. Dia tahu jika Rania menyadari sesuatu yang mengeras di bawah sana. Wajahnya yang bersemu menambah gejolak dalam diri Nalendra.
Dia bertambah cantik jika malu seperti itu, pikir Nalendra melihat Rania menunduk.
Tangan Nalendra menelusup ke dalam tengkuk Rania dan menariknya. Dia mencium Sang istri dengan lembut tidak seperti yang pertama hanya sebatas kecupan. Lama mereka saling bertaut mesra hingga terenggah kehabisan oksigen. Napas mereka terasa panas. Bathrobe yang dikenakan Rania pun mulai melorot dari bahunya yang putih.
"Bolehkah?" tanya Nalendra, Rania hanya mengangguk sambil tertunduk malu.
Nalendra tersenyum, tangannya mulai menyibakan bathrobe yang menutupi bahu Rania. Ciumannya sudah turun ke dagu Rania, menyusuri setiap jengkal leher Sang istri hingga napasnya sedikit terengah.
Bunyi keroncongan perut menghentikan ciumannya. "Ehm, maaf," ucap Rania mengatupkan bibir menahan senyum karena malu. "Aku lapar, aku belum makan dari siang!"
"Maafkan aku, aku lupa. Harusnya aku mengajakmu makan dahulu," ujar Nalendra merasa bersalah membuat istrinya kelaparan. "Aku belum belanja, kita makan di luar. Bolehkah aku mandi dulu?" tanyanya. Dia merasa badannya panas, setidaknya dia harus mendinginkan badan, terutama pikirannya.
"Tidak apa-apa," jawab Rania. Ingin sekali dia memberitahu Nalendra jika dia ingin melanjutkan dahulu apa yang sedang mereka kerjakan. Namun, perutnya tidak bisa diajak kompromi dan tentu Nalendra pasti akan lebih memilih makan dahulu.
Rania turun dari pangkuan Nalendra dengan napas yang belum stabil. "Aku tunggu di luar," ujarnya sambil membawa baju yang tadi belum sempat dia kenakan.
"Pakailah bajumu di sini, aku sudah melihat sebagian tubuhmu," bisik Nalendra di telinga Rania.
"Dasar mesum!" gumam Rania.
"Mesum ke istri sendiri tidak masalah," ujarnya terkekeh melihat wajah Rania yang semakin merona.
Nalendra membuka bajunya di hadapan Rania. Lengan yang berotot, badan sixpack nya membuat Rania tidak mengedipkan matanya.
"Apa aku membuatmu sangat terpesona, hingga memandangku seperti itu?"
"Iya. Eh, apa?" ucap Rania yang menyadari dia salah berbicara.
Nalendra tertawa terbahak. "Ini milikmu, semua yang ada padaku adalah milikmu," ucap Nalendra mengambil tangan Rania dan menempelkannya di dadanya.
"Cepatlah mandi!" seru Rania memalingkan wajahnya.
Nalendra masuk ke dalam bilik shower dengan hanya menggunakan ****** *****. Bilik shower itu terbuat dari kaca tebal sehingga semua kegiatan bisa terlihat dari luar. Ketika Nalendra membuka dalaman pun terlihat jelas oleh Rania.
"Dia sungguh berani sekali!" ungkap Rania menggelengkan kepalanya. Rania segera keluar dari walk-in closet setelah mengenakan pakaiannya.
"Hanya ada mie instan, tidak ada telur ataupun sayuran!" gumamnya. Dia mengambil beberapa cemilan yang dia bawa sebagai bekal di jalan dan memakannya sambil menonton tv.
"Mau makan di luar atau kita pesan saja?" Nalendra duduk di samping Rania.
"Belanja jam segini ada ga?" tanya Rania. "Biar sekalian buat masak besok pagi."
"Ini udah jam 9 lebih, aku belum pernah belanja kebutuhan dapur jam segini. Besok aja kita belanjanya, sekarang pesan aja ya," ujar Nalendra, mengelus rambut Rania. "Atau kita keluar cari makan aja. Yuk!"
**
Rania pun setuju untuk mencari makan ke luar. "Mau makan apa, nasi atau perdagingan, perayaman, seafood atau apa?" tanya Nalendra sambil mengemudi.
"Apa aja terserah kamu?"
"Ehm, mau seafood?" tanya Nalendra.
"Ayam mau?"
"Yang lain aja, kalau ayam nanti kamu ga makan!"
"Mau makan makanan Korea ga? di sini banyak yang enak," tanya Nalendra lagi mulai bingung dengan kata terserah menurut Rania.
"Daging sapi ya atau ramen?" tanya Rania. "Nanti aku tambah gemuk!"
"Jadi, mau makan apa?"
"Ada yang lain ga?"
"Banyak, tinggal pilih aja. Kamu mau makan apa?"
"Terserah kamu deh mau makan apa!" ketus Rania.
Apa aku salah bicara ya? tanya Nalendra dalam hati.
Mereka akhirnya berhenti salah satu Mall di Jakarta Selatan. Nalendra mengajak Rania makan di sebuah tempat makan yang menyajikan makanan Korea. Nalendra tidak melepas genggaman tangannya sampai mereka duduk.
"Pesanlah, aku ikut pesananmu," ujar Nalendra menghindari kata terserah dari Rania.
"Kita makan BBQ aja, kamu makan daging sapi 'kan?"
Nalendra tersenyum sambil mengangguk. Tadi aja bilang takut gemuk! batin Nalendra.
**
Rania terbangun, mendapati Nalendra tidak ada di sampingnya. Apa dia ke toilet? pikirnya.
Sepuluh menit telah berlalu, tetapi Nalendra tak kunjung datang. Dia pun bangun mencari suaminya.
"Aku kira di toilet, kemana dia?" tanyanya bermonolog, ketika tidak menemukan Nalendra di toilet.
Rania keluar kamar tidur, dia berjalan ke living room. "Apa dia kerja?" Rania melihat cahaya terang dari laptop di kegelapan.
"Kenapa ga dinyalakan lampunya?" tanya Rania menyalakan lampu.
"Kamu bangun? tidurlah, ini udah larut." Nalendra berbalik ke arah Rania. "Sebentar lagi aku menyusul. Masih ada yang harus aku kerjakan, sedikit lagi." Nalendra kembali fokus ke layar laptopnya. Dia duduk beralaskan karpet.
Rania ikut duduk di sampingnya, tangannya memeluk pinggang Nalendra dari samping dengan kepala di senderkan ke pundak Nalendra.
Nalendra tersenyum, dia mengusap kepala Rania. "Kamu pasti kecapean, tidurlah!"
"Aku akan menemanimu di sini," ucap Rania. "Aku akan tidur di atas." Rania beralih ke sofa yang menjadi sandaran Nalendra. Dia tertidur di sana, diselimuti oleh Nalendra.
Rania terbangun kembali pukul tiga dini hari menyadari telah berada di tempat tidur dengan Nalendra di sampingnya. Dia memandang Nalendra yang masih tertidur nyenyak. Jarinya mulai menjelajah wajah Sang suami.
"Alisnya tebal sekali," ujar Rania merabanya dengan ujung jemari. "Hidungnya juga mancung."
Kenapa aku baru menyadarinya sekarang. pikir Rania.
Telunjuknya turun ke bibir Nalendra, dirabanya pelan. Rania tersenyum, wajahnya tiba-tiba merona ingat ciuman panasnya di walk-in closet semalam. Ciuman yang dia pikir akan berlanjut, tetapi tidak karena mereka cukup kelelahan. Rania memberanikan diri mengecup bibir Nalendra. "Nyenyak sekali tidurmu!" ujar Rania gemas.
Rania hendak turun dari tempat tidur ketika tangannya ditarik oleh Nalendra. "Kenapa?"
"Temani aku tidur sebentar lagi," pinta Nalendra.
"Aku kira kamu masih tidur!"
"Tadi iya, sebelum ada yang diam-diam menciumku," ujar Nalendra dengan mata yang masih menutup.