
"Aku mau air mineral aja," ujar Rania memberikan cup minuman pada Nalendra. "Tadi aku sudah minum yang manis. Ga baik banyak minum-minuman manis!" lanjutnya.
"Ga usah minum yang manis, kamu udah manis banget ko!" ujar seorang pria yang baru saja melewati mereka dan duduk di samping Rania.
Rania dan Nalendra menoleh pada pria yang duduk di sebelah Rania. "Ko, ada kamu?" tanya Rania.
Pria tersebut hanya cengengesan bersama temannya. Nalendra menghela napas, dia ingat jika tadi dia mengobrol dengan mereka, bertanya tentang cara menghabiskan waktu berdua bersama istri. Mereka menyarankan agar dia mengajak Rania menonton. Nalendra pun ingat, dia memesan tiket bioskop secara online di dekat mereka.
"Ganggu aja!" seru Nalendra geram.
"Anggap aja kebetulan, ga usah hiraukan kita di sini." Habib tertawa mengejek.
Pria itu adalah Habib Putra dan Rezky. Mereka sengaja langsung ikut memesan tiket nonton ketika tahu Nalendra akan mengajak Rania. Mereka juga sengaja memilih kursi di dekat Rania.
Ini baru permulaan, ujar habib dalam hati.
"Lu ga dicari istri, Bib!" tanya Nalendra lirih karena mereka sudah berada di dalam ruangan bioskop dan film akan segera diputar.
"Istriku 'kan di Semarang. Aku pulang sini cuma buat reuni aja!" jawab santai.
"Rezky, ko lu juga ikutan!"
"Acara kaya gini ga mungkin aku lewatin gitu aja!" ucap Rezky terkekeh, dia merasa kesal pada Nalendra karena tidak memberitahu dia tentang pernikahannya.
"Mau tuker tempat?" bisik Rania pada Nalendra. Nalendra tersenyum, lalu beranjak dari tempat duduknya untuk bertukar tempat dengan Rania.
"Mau kemana?" tanya Habib melihat Rania beranjak dari tempat duduk. "Ah, Rania ninggalin mulu!" rengeknya.
Film telah diputar, semua orang yang berada di sana menontonnya dengan serius, kecuali Nalendra yang beberapa kali mengerjapkan mata karena ngantuk.
"Kamu baik-baik saja?" bisik Rania dan dijawab anggukan. Rania mengusap pipi kanan Nalendra dan menyenderkan kepala suaminya di bahunya. "Tidurlah," ucapnya sembari menepuk pipi Nalendra pelan.
Hampir pukul 12 tengah malam ketika mereka keluar dari ruang bioskop. Nalendra menggandeng istrinya mesra, diikuti oleh Habib dan Rezky.
"Sayang, mau keliling Bandung?" tanya Nalendra sambil menguap.
"Pulang aja. Dari tadi nguap, ko mau ngajak keliling Bandung!" tolak Rania.
"Maaf, dari pagi aku banyak berlari mengejar pesawat terus kereta juga," ungkap Nalendra.
"Kasian banget. Makanya, ayo pulang aja!"
"Kalian mau pulang? ini malem Minggu lho!"
"Iya, kasian dia kecapean." Rania mengusap Nalendra lembut, membuat Habib Putra dan Rezky merindukan istri mereka.
"Oke, kalau begitu sampai ketemu lagi," ujar Rezky menyunggingkan senyum.
Sampai bertemu, sebentar lagi. Pesta belum selesai kawan! ucapnya dalam hati.
"Apa kamu kuat bawa motor? kalau enggak, biar aku saja yang bawa," ujar Rania.
"Emang kamu bisa bawa motor kaya gini?" tanya Nalendra penasaran karena motor yang dia pakai motor gede.
"Enggak!" jawab Rania tersenyum.
"Biar aku saja yang bawa. Aku kuat ko, lagian tadi aku tidur." Nalendra memberikan senyuman untuk istrinya, dia merasa Rania bertambah cantik.
Rania terkekeh, dia ingat jika Nalendra tidak menonton film tersebut. Dia tertidur pulas di pundaknya.
"Padahal tadinya aku ingin mengajakmu keliling atau menginap di hotel aja," ujar Nalendra.
"Apa? maaf tidak terlalu terdengar," kata Rania sedikit berteriak karena suaranya berbaur dengan angin malam jalanan.
"Pegang stang yang bener!" teriak rania karena Nalendra memegang tangan Rania dengan tangan kirinya sebentar.
"Istriku sangat menggemaskan," gumam Nalendra mempercepat laju motornya.
Mereka melewati ruang tamu yang sudah gelap, dimatikan lampunya. Rania melihat pintu kamar Dareen yang sudah tertutup di sebelah kamar orangtua Nalendra.
"Aku mau liat Dareen dulu," ujar Rania meminta izin pada Nalendra.
Mereka pun masuk ke dalam kamar Dareen yang gelap dan menyalakan lampu. Nampak Dareen telah terlelap tidur, selimutnya sebagian menggantung di ranjang.
Rania menghampiri anaknya, menyelimutinya lagi. Dia mencium kedua pipi dan kening Dareen. "Bunda sayang Dareen," ucapnya di telinga Sang anak sambil membelai rambutnya lembut. Nalendra mengikuti apa yang Rania lakukan.
Rania kembali mematikan lampu kamar Dareen dan menutup pintunya pelan.
"Kenapa?" tanya Rania melihat Nalendra tersenyum menggoda di hadapannya.
"Enggak kenapa-kenapa," jawabnya, menarik tangan Rania.
Mereka melihat lampu ruangan depan kamar Nalendra terang, "Apa ibu lupa mematikan lampu?" tanya Nalendra lirih.
Terdengar suara beberapa orang mengobrol. Nalendra mengernyitkan dahinya, terbersit perkataan Rezky ketika mereka berpisah tadi. Perasaannya berubah menjadi tidak karuan.
Tidak mungkin mereka melakukan hal konyol seperti itu! pikirnya.
"Ndra, apa ada temen-temen Alaric?" tanya Rania, tetapi ketika melihat pintu kamarnya tertutup dan tidak nampak tanda-tanda ada penghuninya.
"Sepertinya aku tahu suara apa itu," ujar Nalendra menghela napas.
Suaranya obrolan terdengar lebih jelas lagi ketika mereka sudah berada di depan pintu kamar Nalendra. "Ternyata benar dugaanku!" gerutu Nalendra menghela napas kasar. "Maaf ya, Sayang," ucapnya pada Rania, lalu memeluknya.
"Kenapa?" tanya Rania yang belum mengerti sepenuhnya.
"Teman-teman menyebalkanku pada datang. Mungkin mereka sedang main game di dalam!" ucap Nalendra lirih, memberitahu Rania.
"Kenapa mereka bisa masuk kamar kita?" tanya Rania pelan. Dia tidak mengerti kenapa teman-temannya berani masuk kamar Nalendra tanpa seizinnya. Apalagi sekarang dia telah beristri.
"Mereka sudah terbiasa keluar masuk kamarku. Mereka juga sepertinya sengaja datang malem ini mengganggu kita!" ujar Nalendra. "Pantas saja tadi Ibu menyuruh kita menginap di hotel!"
Nalendra mbuka pintu kamarnya pelan. Nampaklah teman-temannya tersenyum ke arahnya.
"Hai, Bro!" sapa Indro melambaikan tangan tanpa rasa bersalah, lalu kembali fokus ke layar monitor di depannya.
Nalendra masuk ke dalam diikuti Rania, tangannya masih menggenggam tangan istrinya itu. "Kalian lagi ngapain di sini?"
"Ngapain lagi, Bro. Kita kangen kamu!" jawab Reno.
"Eh, ada Rania. Maaf ya, kita numpang main game. Udah lama ga main ke sini," ujar Geo.
"Bro, apa kalian sengaja ke sini malam ini?" tanya Nalendra masih mematung di tempatnya berdiri dan memegang tangan Rania yang juga tersenyum karena tingkah konyol teman-temannya Nalendra.
"Tentu aja kita sengaja berkumpul malem ini untuk menyambut teman kami yang baru pulang dari luar negeri!"
"Benarkah hanya itu?" tanya Nalendra bergidik ngeri membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Rania pasti sudah ngantuk ya, maaf ya malam ini Nalendranya kami pinjam dulu." ucap Indro tersenyum.
"Oh, iya. Sebaiknya aku istirahat, udah malem juga ya." Rania melihat jam digital diatas nakas, sudah menunjukan hampir pukul satu dini hari.
"Ndra!" Rania menarik tangan suaminya keluar kamar. Dia harus mengatakan sesuatu.
"Ndra, aku tidur di kamar Dareen, ya." ujarnya. "Maaf ya," ucapnya mengecup pipi Nalendra, Rania sudah tidak memperdulikan lagi teman-teman Nalendra yang memandang mereka dari kamar.
Nalendra sedikit terkejut karena Rania mengecupnya, padahal pintu kamarnya terbuka dan temannya tentu melihat apa yang baru saja Rania lakukan.
"Kenapa? aku hanya sedikit merasa kesal saja!" ucap Rania mengerucutkan bibirnya.
"Tidak apa-apa, aku senang," jawab Nalendra. "Maaf ya," lanjutnya.
"Buat a ...."Rania tidak bisa melanjutkan ucapannya, Nalendra membungkam bibir Rania dengan bibirnya.