
Nalendra, Abah Danu dan orangtua Rania kembali ke rumah orangtua Nalendra. Mereka memutuskan tidak akan memberitahu kejadian sebenarnya pada Rania, untuk menjaga pikiran dan kesehatannya.
"Apa semua baik-baik saja?" tanya Rania begitu melihat Nalendra datang.
"Iya, Alhamdulillah sudah selesai," jawab Nalendra berusaha tersenyum walaupun hatinya masih bersedih karena merasa bersalah.
"Syukurlah," ucap Rania.
"A, ayo geura (cepat) beberes. Kita ke hotel sekarang!" Bu Shafira mengingatkan semua yang berada di sana untuk segera bersiap ke hotel tempat acara resepsi diadakan esok harinya.
Ketika kita mengadakan sebuah acara resepsi di hotel atau tempat penginapan. Kita akan disediakan beberapa kamar hotel untuk menginap sebelum dan sesudah acara.
Malam ini, Dareen satu kamar dengan Bu Sekar dan Pak Idris. Mereka ingin melepas rindu sejenak karena akan ditinggal kembali setelah semua acara selesai.
Acara resepsi pernikahan Rania dan Nalendra, dijadwalkan akan diadakan siang hari. Namun, sejak subuh keluarga Nalendra dan Rania sudah berkumpul di hotel menyiapkan segala sesuatunya. MUA pun telah datang sejak pagi untuk merias Rania dan yang lainnya.
"Sepertinya aku jatuh cinta lagi padamu," ucap Nalendra melihat sang istri dalam balutan ballgown. Rania tidak terlihat seperti sedang hamil 4 bulan.
Rania tersenyum. "Dasar, pagi-pagi udah ngegombal aja!" jawab Rania ketus. "Ingat ada Dareen." Dareen yang memperhatikan bundanya mengomel hanya cekikikan menertawakan Nalendra.
"Ga apa-apa, biar dia jadi laki-laki romantis sepertiku!"
Rania mengerlingkan matanya. Romantis katanya! gerutu Rania dalam hati.
Empat orang dari tim wedding organizer berada di sana menemani pengantin dan menunggu waktu kapan mereka harus turun ke tempat acara. Teman-teman Nalendra sudah berada di ballroom, terlihat dari foto-foto yang mereka kirim lewat pesan grup.
Tak berapa lama kemudian, salah seorang dari WO memberi kode pada semua anggotanya untuk menyiapkan Rania dan Nalendra. Mereka akan membawa pengantin tersebut ke tempat acara berlangsung.
Rania melingkarkan tangannya di lengan nalendra. Rasanya gugup sekali seakan ini pertama kali mereka bergandengan tangan di depan orang lain.
"Apa kamu gugup?" tanya Nalendra yang memperhatikan istrinya menghela napas beberapa kali.
"Ya, sedikit," jawab Rania tersenyum malu.
Sebelum masuk ballroom, pihak WO merapikan pakaian kedua pengantin tersebut. Nalendra memegang tangan Rania yang melingkar di lengannya. "Aku mencintaimu."
Rania melirik Nalendra dan tersenyum mendengar suaminya menyatakan cinta.
Ketika Rania dan Nalendra memasuki ballroom, semua yang hadir di sana sangat terpesona oleh kecantikan Rania. Wajahnya sangat cantik terlebih dia juga sedang hamil. Benar kata orang, wanita akan jauh lebih cantik dan bersinar ketika dia sedang hamil.
Para tamu undangan yang terdiri dari banyak kalangan berbeda profesi, begitu antusias mengambil gambar Rania dan Nalendra. Menurut mereka, Rania dan Nalendra merupakan pasangan yang sangat cocok sekali.
Sementara itu, di rumah keluarga Liana. Bu Ratna sedang berdiskusi dengan anak sulungnya tentang Liana. Hari Senin nanti, dia akan menemui psikiater bersama Bu Sekar. Mereka tak ingin menunggu lebih lama lagi, bagaimana pun mereka harus segera mendapatkan solusi tentang sikap Liana yang berubah.
"Biar Amih dan Bu Sekar dulu yang bertemu psikiater. Liana tidak apa-apa ga ikut juga," ucap Bu Ratna, dia mengingat bagaimana Liana menolak untuk pergi ke psikiater. Dia selalu tetap bersikukuh jika dia masih waras, tidak gila dan dia juga berkata jika dia tidak berbohong soal Nalendra yang memang mencintainya.