Yes, It'S U

Yes, It'S U
Bab 38



Begitu tiba di stasiun, Rania langsung ke tempat boarding pass dan masuk ke dalam kereta yang akan membawanya pulang. Hanya dua jam waktu yang diperlukan untuknya tiba di stasiun Bekasi kota.


"Sudah lewat magrib," ujarnya melihat jam yang bertengger di salah satu sudut stasiun.


Rania berjalan arah lift dan pintu keluar dengan tangan kiri mendorong koper kecilnya dan tangan kanan memegang ponsel memesan ojeg online.


"Rania," Suara seorang pria terdengar begitu lantang di keramaian pintu keluar stasiun.


Rania berbalik, menyipitkan matanya melihat siapa yang telah memanggilnya barusan. "Hallo, Sayang." Rania berlari ke arah Dareen yang tak henti melambaikan tangannya.


"Ayo!" ajak pak Idris. Pria yang memanggil Rania adalah pak Idris, bapaknya.


"Dareen terus merengek ingin menjemputmu saat tahu kamu akan naik kereta ke sini," terang pak Idris.


"Kayanya anak bunda ini bukan mau jemput bunda, tapi mau lihat kereta 'kan ya ..., ayo ngaku!" Rani tersenyum menggelitik badan anaknya.


"Iya, Dareen suka banget-bangetan!" ungkapnya.


***


Hari Kamis kemarin Dareen telah menerima raport TK nya. Gurunya begitu sedih dan akan merasa kehilangan begitu tahu Dareen akan pindah ke bandung, dia termasuk murid yang sangat cerdas dan kreatif. Namun, apa boleh buat mereka memang harus pindah ke Bandung.


"Teh, jadi pindahannya di percepat aja ya," ujar pak Idris yang sudah tidak sabar ingin segera pulang kampung.


"Iya, Teteh juga sudah bilang ke orangtua Ergha kalau pindahannya jadi hari Rabu aja." tuturnya.


"Teh coba tanya-tanya sewa truk besar atau kontainer kecil buat pindahan di sini di mana, kayanya barang Teteh ga akan cukup kalau dibawa truk kecil mah." pak Idris memandang berkeliling ruangan, perabot rumah tangga anaknya ternyata banyak.


"Iya pak, nanti aku tanyain di grup warga sini," jawab Rania.


"Teh, Nalendra mau main ke sini nanti sorean katanya," ujar pak Idris, bukan untuk meminta izin hanya memberitahu Sang anak.


"Iya," jawab Rania. "Lumayan ada yang bantu ngepack barang." batin Rania.


"Bunda, keretaan aku yang besar mana?" Dareen berlari kearahnya yang sedang memasukan gelas dan piring juga hiasan kaca ke boks kontainer.


"Udah di Bandung, Sayang. 'Kan kata Dareen itu harus dibawa duluan oleh Om Zyan biar ga ketinggalan."


"Jadi aku harus main apa dong?" tanyanya.


"Main yang ada saja, Lego 'kan masih ada, kereta kecil dan mobilan juga masih ada. Mainan besar sudah semua dibawa Om," terangnya.


"Ga jadi mainnya. Aku mau main sama Abah aja!" ujarnya dengan kecewa.


Beberapa boks berisi gelas, piring dan hiasan kaca yang dia simpan di bupet, telah masuk ke dalam beberapa boks kontainer berukuran sedang. Rania menumpuknya di sudut ruang tv. Kini dia beralih ke lemari depan ruang tamu, menenteng boks kardus untuk dia isi dengan foto-foto yang terpajang di sana.


Foto pernikahannya dengan Ergha yang terpampang di dinding, dengan ukuran lumayan besar berusaha dia turunkan. Namun, sia-sia saja, foto itu sangat susah diturunkan.


"Butuh bantuan?" tanya seorang pria yang baru saja datang. Rania berbalik ke arah sumber suara.


"Kapan datang?" tanya Rania turun dari kursi.


"Sekitar 10 menit yang lalu," ujarnya. "Aku bermain bersama Dareen di depan dan ada bapakmu juga di sana. Aku masuk mau ikut ke toilet, aku juga tadi sudah memberi salam padamu." Nalendra mendekati Rania.


"Ya, bisa dimengerti. Kamu memang sedang fokus menurunkan itu." Nalendra tersenyum. "Aku ikut ke toilet dulu, Foto besarnya biar nanti aku yang bantu menurunkannya. Itu pasti berat sekali," ujarnya tanpa maksud apapun, tetapi perkataannya sedikit menguris hati Rania, Foto pernikahannya akan diturunkan oleh Nalendra, rasanya seperti Rania telah berkhianat pada Ergha.


Nalendra membantu Rania menurunkan foto berukuran besar itu. "Mau diletakan di mana?" tanya nalendra pada Rania yang terus memandangi foto pernikahannya dengan Ergha.


"Taro di sana saja." Rania menunjuk ke sudut dekat kursi. "Senderkan saja di sana."


Rania mulai memasukan foto-foto yang tadi dia turunkan ke dalam boks kardus, Nalendra membantunya. "Ini Dareen bayi?" Nalendra memegang foto bayi yang sedang tertidur menghisap jempolnya.


"Terima kasih, akhirnya selesai juga. Tinggal foto di kamar Dareen," ungkap Rania.


"Mau dibantu?" tanyanya lagi.


"Tidak, itu biar nanti saja."


Nalendra mengangguk dan pamit keluar rumah bermain bola kembali dengan Dareen.


Rania keluar rumah setelah membersihkan diri, wajahnya terlihat segar kembali walaupun tanpa polesan. Dia menghampiri pak Idris yang sedang duduk, melihat Nalendra dan Dareen bermain lempar bola.


"Pak, aku sudah tanya tentang kontainer kecil buat pindahan. Mereka sudah setuju dan Rabu pagi akan bantu kita pindahan," ujar Rania sambil melihat bunga mawar merah yang baru saja bermekaran.


"Teh, jangan terlalu kecil ya biar sekali jalan."


"Iya, tadi juga mereka nanya barang-barang yang mau dibawa. Mereka juga nanya soal jumlah dan ukuran semua barangnya. Mereka juga sudah ngerti kali pak, 'kan kita pake jasa profesional buat pindahan."


"Syukurlah, takutnya harus beberapa kali angkut. 'kan membuang waktu dan tenaga."


Rania melihat Dareen yang tertawa terbahak bersama Nalendra, entah apa yang mereka tertawakan. Namun, melihat dari raut wajah keduanya menggambarkan jika mereka sangat bahagia.


"Sabtu terakhir ditemani Nalendra," gumamnya dalam hati. Sabtu depan tidak akan lagi ada Nalendra yang menemani Dareen karena mereka sudah pindah ke Bandung. "Jakarta- Bekasi bisa ditempuh hanya dengan satu jam perjalanan lewat tol jika lancar, tetapi Jakarta-Bandung ... Ah, pasti males banget kalau harus pulang pergi!" pikir Rania.


"Tinggal apa saja yang belum di pack?"


"Barang-barang di dapur yang masih dipakai, baju Rania sama Dareen juga belum. Mungkin besok Rania mau beresin kamar Dareen dulu aja."


"Teh, ibu sama bapak A Ergha jadi nganterin Teteh pindahan?"


"Kayanya jadi, mungkin mereka juga nginep beberapa hari di Bandung. Kasian kalau harus pulang pergi."


"Sepertinya ada yang aku lupakan, tapi apa ya?" Rania memejamkan matanya memikirkan sesuatu yang penting tapi dia lupa akan hal itu.


"Teh kalau barang-barang yang bisa muat ke mobil mah kita cicil aja ya, tapi kalau ditinggal gimana kalau ada yang nyuri atau kita nyuruh Zyan ke sini bawa mobil buat bantu angkut." Pak Idris masih memikirkan tentang barang-barang Rania yang akan diangkut nanti.


"Oh iya, Rania baru ingat!" ujarnya tersentak kaget. "Pak, cctv kita cabut aja atau biarkan aja?" tanyanya.


"Cctv apa Teh?" pak Idris terkejut dan bertanya balik. Rania menunjuk ke arah sudut atas carport nya, tempat cctv bertengger di sana.


Rania berdiri berjalan menghampiri Nalendra, "Cctv yang di atas sana lebih baik di cabut atau biarkan saja?"


"Cctv, emang ada cctv?" Nalendra sangat terkejut begitu melihat cctv yang ditunjukan Rania.