
Hari Jumat setelah seminggu kepulangan mereka ke Indonesia, Rania mengajak Nalendra pulang ke Bandung. Dia merasa tidak enak belum mengunjungi orangtua mereka setelah bepergian jauh.
"Aku takut kamu kecapean di jalan. Biar kita telepon mereka saja ngasih tau sudah di Jakarta dan minta mereka ke sini," ujar Nalendra.
"Ayolah, Ndra. Ga sopan tau, kita dah pulang dari Singapore tapi belum berkunjung. Jangankan berkunjung, ngasih tau aja belum. Kamu bilang mau ngajak ke sana Minggu ini, katanya mau buat kejutan. Tapi sekarang bilang telepon aja nyuruh mereka ke sini!" sergah Rania.
"Aku benar-benar takut kamu kecapean!" Sejak tahu Rania hamil, Nalendra menjadi sangat posesif. Bahkan untuk belanja sayuran saja, Rania harus belanja lewat online.
"Aku udah masuk trimester ke dua. Kata dokter pun aman!" sergah Rania yang mulai kesal dengan Nalendra.
"Ya udah, kalau begitu kita naik kereta saja. pakai mobil nanti kejebak macet, nanti malah bosan dan kecapean!"
Rania menghela napas kasar. "Kita harus bawa oleh-oleh buat mereka. Emang kamu mau nenteng banyak barang naik kereta?"
"Oleh-olehnya bisa dipaketkan. Kemarin ke sini aja, sebagian dipaketkan."
"Bawa mobil saja!" seru Rania ketus. "Kita bawa mobil saja dan aku tidak mau ada penolakan lagi!" ujar Rania penuh penekanan.
"Tapi, Yang. Aku takut kamu kecapean."
"Lama-lama aku kecapean kalau berdebat terus denganmu. Cape hati, tau ga!"
Nalendra menghampiri sang istri, menarik Rania yang cemberut masuk ke dalam dekapannya. "Maafkan aku. Aku selalu ketakutan jika ingat saat kamu masuk rumah sakit."
Sore harinya, setelah Nalendra pulang kerja dan mandi, mereka berangkat pulang kampung. Rania terlihat berseri-seri karena akan bertemu dengan keluarganya setelah sekian lama. Dareen pun demikian, dia begitu senang karena Nalendra menjanjikan akan mengajaknya berenang di sana.
Sepanjang perjalanan, Dareen bernyanyi bermacam-macam lagu anak diselingi dengan menonton beberapa film kartun. Dua kali mereka berhenti di rest area untuk menunaikan kewajibannya pada Sang Khalik.
Rania dan Nalendra tiba pukul 8 lebih, mereka pulang ke rumah orangtua Nalendra terlebih dahulu. Nalendra menggendong Dareen yang telah tertidur.
"Assalamu'alaikum," ucap Rania memberi salam sambil mengetuk pintu rumah Nalendra.
Tak berselang lama, pintu tersebut dibukakan oleh Bu Shafira yang langsung tersenyum dan memanggil suaminya. "Wa'alaikumsalam, Ayah, Yah, cepat sini. Tebak siapa yang pulang?" teriaknya. "Kapan pulang? ko ga bilang-bilang. Ayo cepat masuk, di luar dingin!"
Rania tersenyum mendapat sambutan hangat dari ibu mertuanya. Sedangkan Nalendra, langsung bergegas membawa Dareen ke kamar di sebelah kamar orangtuanya.
"Duduklah, pasti cape. Ibu bawakan minum dulu." Bu Shafira segera masuk ke dalam mengambilkan minuman untuk sang menantu.
"Teteh, kapan pulang dari Singapore?" Pak Sulaiman menghampiri Rania yang duduk di ruang tamu sambil emnselonjorkan kakinya karena pegal.
"Pulang Minggu kemarin."
"Ko ga bilang kalau udah pulang? Kalau Si Kakak mah udah biasa ga bilang-bilang!"
"Katanya ga usah bilang biar ngasih kejutan," jawab Rania menutupi kesalahan Nalendra.
"Ayah kira masih di Singapore. Terakhir telepon katanya awal bulan baru pulang!"
"Iya, tadinya emang mau awal bulan. Tapi kerjaannya udah selesai, jadi ya mending pulang aja." jawab Nalendra yang baru saja selesai menidurkan Dareen dan bergabung duduk dengan mereka.
"Dareen tidur?" tanya pak Sulaiman.
"Iya, kecapean kayanya. Sepanjang jalan dia nyanyi ga berhenti-henti, cape terus tidur!" ungkap Nalendra.
"Nih Ibu buatkan susu cokelat hangat. Ayo diminum," ujar Bu Shafira meletakan nampan yang berisi beberapa gelas susu cokelat di meja. "Gimana keadaannya, masih mual muntah?" tanya Bu Shafira, terdengar nada khawatir dari suaranya.
Nalendra beranjak dari duduknya dan pamit mengambil koper dan bawaan lainnya di mobil. Pak Sulaiman pun keluar menyusul sang anak.
"Teteh tinggal di sini dulu aja ya, jangan ikut ke Jakarta lagi. Ibu ga tega bayangin Teteh sibuk sendirian ngurusin kakak dengan Dareen. Kalau di sini kan, ada Ibu yang bantuin."
"Haturnuhun, tapi kasian Dareen kalau di sini lama. Dia baru masuk sekolah lagi, Kasian juga ke Nalendra ga ada temenny, pasti kesepian dia nanti."
"Ah, Si Kakak mah biarin aja, dia udah biasa. sebelum nikah juga tinggal sendiri."
"Bedalah, Bu. Tenang aja, Rania ga akan kecapean, ada Kakak yang ngurus kerjaan rumah. Makan juga tinggal pesan online saja!" sergah Nalendra yang tidak rela jika mereka tinggal terpisah lagi.
Hampir satu jam mereka mengobrol di sana. Nalendra juga memberikan oleh-oleh untuk orangtuanya. Orangtua Nalendra senang dengan perubahan yang terjadi pada anak sulung mereka. Biasanya Nalendra jarang sekali membelikan oleh-oleh untuk mereka, jangankan oleh-oleh, pulang saja paling cepat sebulan sekali!
"Kami ke kamar dulu ya," ujar Nalendra pamit pada orangtuanya. Dia ingin segera merebahkan diri di tempat tidur, terlebih dia merasa kasian melihat Rania yang kelelahan.
Sabtu pagi yang dingin, tidak menyurutkan semangat Dareen mengajak Rania dan Nalendra untuk berenang. Namun, Rania menolak ajakan anak semata wayangnya tersebut dengan dalih mereka harus ke rumah orangtuanya terlebih dahulu.
"Nanti pulang dari rumah Abah kita berenang ya. Daddy kan udah janji kemarin sama aku!" rengek Dareen.
"Iya, nanti sore kita berenang."
"Kenapa ga besok saja sama kakek. Kakek juga mau ikut berenang."
Rania melirik Nalendra, memberi kode padanya agar menyetujui usulan Pak Sulaiman. "Ya udah, nanti siang kita pergi ke Lembang atau ke Ciwidey atau kemana pun. Kita berenang dan menginap, gimana?" Nalendra memberi usul pada Rania yang dibalas anggukan olehnya. Dareen pun berjingkrak senang mendengar mereka akan menginap di penginapan.
Rania segera bersiap untuk pergi ke rumah orangtuanya. Tak sabar rasanya akan bertemu dengan mereka. Raut senang terpancar di wajahnya.
Orangtua Rania pun sama dengan orangtua Nalendra. Mereka terkejut melihat anak dan mantu juga cucunya tiba-tiba sudah berada di depan rumah merek.
"Kapan pulang? ko ga ngabarin!" tanya Pak Idris yang mematikan keran sehabis menyiram tanaman.
"Minggu kemarin. Dareen mau ngasih kejutan katanya buat Abah!" jawab Rania. "Mama mana?"
"Ada, di dalem. Tadi mah lagi nyuci piring."
Rania mengangguk, dia segera masuk ke dalam rumah meninggalkan suami dan anaknya yang masih bercengkrama dengan Pak Idris. Dia begitu merindukan mamanya.
"Mah, mah!" panggil Rania.
Bu Sekar setengah berlari keluar dari dapur melihat Rania dan tersenyum. "Pantesan asa denger suara Teteh. Naha ga ngasih tau dulu. Mama kira masih di Singapore!"
"Udah pulang dari Minggu kemarin, Soalnya Nalendra juga kan harus ngerjain kerjaan yang di Jakarta. Tadinya emang Rania mau di sana dulu, tapi ga enak, jauh ...!"
"Kumaha kabarna, masih mual?"
"Udah enggak, udah mendingan (baikan)."
"Udah cek up ke dokter lagi?"
"Udah waktu Selasa kemarin. Kata dokter sehat."
"Oh, Alhamdulillah kalau gitu mah." jawab Bu Sekar. "Jadi Dareen nanti sekolah di mana, di sini lagi atau di Jakarta?