
"Ndra, bisakah kamu jangan terlalu sering menemui Dareen?"
Nalendra langsung berbalik pada Rania. Dia terkejut, tidak menyangka akan mendengar kalimat itu dari wanita yang disukainya itu. Untunglah mereka masih terjebak macet, kalau tidak mungkin akan terjadi kecelakaan.
"Kenapa tiba-tiba kamu bilang seperti itu?" tanya Nalendra. Dia melihat dan memastikan Dareen masih tertidur nyenyak di belakang.
"Aku takut Dareen akan terluka, jika nanti kamu tiba-tiba berhenti mengunjunginya," ujar Rania.
Bukan, bukan Dareen! Aku yang takut, takut berharap lebih padamu! batin Rania.
Rania menyadari jika dirinya mulai nyaman dengan Nalendra, mulai senang ketika dia datang mengajak jalan-jalan, senang melihatnya bermain bersama Dareen, senang dengan senyumannya, senang dengan semua yang Nalendra lakukan untuknya.
"Ketakutanmu itu tidak akan pernah terjadi Rania. Selama aku masih hidup, akan aku usahakan selalu berada di sisinya. Insyaallah," jawab Nalendra penuh penekanan.
"Jangan pernah berkata seperti itu. Kita tidak pernah tau apa yang akan terjadi ke depannya!"
"Apa kamu masih tidak percaya padaku. Kita sudah membahas ini dulu, Rania. Sudah hampir setahun aku menemani, bermain bersama Dareen," ujar Nalendra yang mulai kesal.
"Ndra, aku sangat berterima kasih padamu atas semua yang sudah kamu lakukan untuk anakku, Dareen. Aku merasa seperti sedang berkhianat pada Ergha!" seru Rania, dadanya serasa sesak.
"Itu hanya pemikiranmu saja! Dengarkan aku baik-baik, kamu tidak pernah berkhianat pada Ergha, Ergha sudah meninggal dan kalian berpisah karena sudah takdir. Kamu juga sudah melewati masa iddahmu," jawab Nalendra setengah berbisik, tetapi setiap katanya penuh penekanan. "Sebenarnya, apa yang kamu takutkan?"
Rania terdiam sejenak mendengar pertanyaan dari Nalendra.
Apa yang aku takutkan, apa aku takut jatuh cinta padanya? tanya rania dalam hati dan terkejut karenanya.
Rania mengalihkan pandangan keluar jendela samping. Pikirannya terus berkecamuk, memikirkan bagaimana perasaannya terhadap orang yang sedang berada di sampingnya saat ini.
"Bagaimana dengan wanita yang sedang kamu dekati, apa dia juga akan mengizinkanmu bertemu dengan Dareen?" Suara Rania terdengar parau, menahan sesak yang menyeruak di dada.
"Menikahlah denganku, jadilah istriku," Nalendra memarkirkan mobilnya di parkiran minimarket terdekat. Dia tidak mungkin terus berdebat dengan Rania sambil berkendara, itu akan sangat membahayakan.
Rania membulatkan matanya, menatap netra Nalendra, menelisik bagaimana raut wajah orang yang sedang melamarnya. "Apa kamu sakit?"
"Aku sehat, sangat sehat!" jawab Nalendra yang masih menatap Rania.
Mereka saling bersitatap dengan pikiran masing-masing.
Apa dia sudah gila, mengajakku menikah! pikir Rania.
Matanya sungguh indah, bisakah aku terus menatapnya seperti ini setiap hari? pikir Nalendra.
"Apa kamu sedang mencoba bercanda denganku?" tanya Rania dengan raut antara bingung dan kesal.
"Aku tidak bercanda denganmu, aku serius mengajakmu menikah. Apa kamu mau menikah denganku?"
Rania tertawa terbahak mendengar Nalendra mengulangi pertanyaannya, lalu menghela napas. Sedangkan Nalendra dibuat kebingungan karena melihat Rania yang menertawainya.
"Ayo, pulang. Sepertinya kamu kecapean!" ujar Rania yang masih terkekeh.
Kenapa dia tertawa. gumam Nalendra dalam hati.
Dia melirik Rania yang masih sesekali tersenyum atau berdehem untuk menyamarkan tertawanya.
Mereka tiba di rumah orangtua Rania tepat pukul 7 malam. Sepanjang sisa perjalanan pulang tadi, tidak ada yang mengeluarkan sepatah katapun.
"Akhirnya kalian pulang juga," gumam pak Idris begitu melihat mobil Nalendra masuk ke pekarangannya.
"Assalamu'alaikum," ucap Nalendra segera menghampiri Pak Idris. "Maaf, saya telat mengantarkan mereka pulang," ucap Nalendra, menyesal karena tidak bisa menepati janji pulang sore.
"Ga apa-apa, Bapak tahu pasti macet banget," jawab Pak Idris. "Yang penting kalian selamat sampe di rumah."
Nalendra kembali ke mobil, mengeluarkan tas dan totebag berisi pernak-pernik juga oleh-oleh buat Pak Idris dan keluarga.
"Assalamu'alaikum, Abah. Aku pulang," ujar Dareen yang dituntun Rania. Bocah kecil itu tersenyum lebar sambil melambaikan tangan ke arah Sang Kakek.
"Cucu Abah baru pulang. Dari mana, lama banget Abah tungguin?" tanya Pak Idris berjongkok mensejajarkan diri dengan Dareen.
"Aku tadi liat burung, ngasih makan domba, terus makan, ada kereta kecil juga. Bagus banget lho, Bah!" Dareen bercerita dengan riang.
"Om, nanti kalau ke sana lagi ajak Abah ya. Katanya Abah mau liat kereta," kata Dareen pada Nalendra.
"Iya, Jagoan. Pak, saya langsung pamit ya." Nalendra menghampiri Pak Idris yang sedang mengobrol dengan Dareen.
"Kenapa buru-buru?" tanya Pak Idris.
"Saya mau langsung balik ke Jakarta," jawabnya.
"Eh, Aa mau kemana? ini minum dulu," Bu Sekar membawa nampan berisi dua cangkir teh. Untuk Nalendra dan Pak Idris.
"Iya, Bu. Makasi," Nalendra masuk ke dalam rumah karena merasa tak enak dengan Bu Sekar, dia pun duduk dan segera menyeruput teh hangatnya.
"Aa mau langsung ke Jakarta, ga cape?"
"Enggak, Bu. Saya besok harus kerja, jadi harus pulang sekarang. Kalau besok, nanti saya ga bisa istirahat dulu," terang Nalendra.
"Mana Teteh?" tanya Pak Idris pada Sang istri.
"Tadi langsung masuk kamar, kayanya lagi mandi," bisik Bu Sekar. "Mama liat dulu." Bu Sekar berdiri, berjalan ke arah kamar Rania.
"Pak, tadi saya udah minta Rania menjadi istri saya, cuma ko dia malah ketawa. Dia pikir saya sedang bercanda," ungkap Nalendra berharap Pak Idris dapat menjelaskan tentang sikap anaknya yang membingungkan.
"Ketawa? ah, 'Nak Nalendra bercanda kali ya. Masa tertawa, nanti bapak coba tanyakan,"
"Saya harus bagaimana? tadinya saya tidak akan memintanya hari ini. Tapi Rania meminta saya untuk jangan sering dateng, makanya saya langsung memintanya jadi istri saya," ungkap Nalendra.
"Mungkin Rania mengira 'Nak Nalendra lagi bercanda. Apa dia sudah memberi jawaban?"
"Belum, dia hanya tertawa. Malah bertanya apa saya kecapean atau sakit!"
"Biarkan saja dulu kalau begitu. Biarkan dia memikirkan semuanya dahulu."
"Baiklah kalau begitu," jawab Nalendra. Dia melihat jam melalui ponselnya. "Sebaiknya saya berangkat sekarang," pamitnya kemudian.
"Sebentar, saya panggil dulu mama Rania. Mungkin Rania lagi di kamar mandi." Pak Idris segera berdiri memanggil Sang istri dan cucunya.
Mereka bertiga dengan Dareen yang di gendong Pak Idris keluar menemui Nalendra.
"Om, nanti kapan libur lagi?" tanya Dareen.
"Nanti Om kasih tau," jawab Nalendra mengambil Dareen dari gendongan Pak Idris.
"Jangan lama-lama. Om, aku mau ke tempat yang tadi ada keretanya lagi."
"Siap, Nanti kita ke sana lagi. Nanti Om akan telepon Dareen secepatnya kalau Om libur. Ok, Jagoan!"
Pak Idris dan Bu Sekar melihat kedekatan antara Nalendra dan Dareen, bukanlah kedekatan yang biasa. Namun, seperti kedekatan antara anak dan ayahnya.
Rania keluar dari dalam rumah ketika Nalendra menurunkan Dareen. "Jadi bawa mobil atau naik kereta?"
Nalendra melihat Rania dan tersenyum. Akhirnya dia keluar, pikir Nalendra.
"Nanti aku kasih tau, kalau lelah mungkin naik kereta, tapi kalau ga lelah langsung bawa mobil aja."
"Naik kereta aja! mau aku pesankan grab dari sini? tanya Rania.
"Tidak usah, biar nanti aku titipkan di Stasiun."
"Takut di utak-atik ya sama aku mobilnya?"
"Enggak, bukan begitu. Kamu boleh memakainya kalau mau," Kata Nalendra.
"Bawa aja, hati-hati." Rania melambaikan tangan pada Nalendra. "Aku masuk dulu."
"Iya," jawab Nalendra. "Pak, Bu. Saya pamit ya, assalamu'alaikum," ucap Nalendra.