
Nalendra seperti seorang ayah yang dengan setia menunggu mereka dekat wahana poci. Dia banyak mengambil gambar dengan kamera maupun ponselnya.
"Kurang kelihatan," gumam Nalendra melihat hasil jepretannya.
"Kemana?" tanya Nalendra yang melihat Dareen setengah menggusur tangan Rania hingga dia harus berlari kecil yang baru saja keluar dari wahana poci.
"Dareen pengen naik lagi," jawab Rania.
Nalendra menghentikan langkah Dareen. "Dareen mau naik lagi?" tanyanya, dibalas anggukan.
"Dareen boleh naik lagi, tapi jalan saja pegang tangan bundanya jangan kuat-kuat 'kan bunda perempuan. Kasian," ucap Nalendra.
Dareen terdiam, "Tapi pocinya udah jalan Om," ujarnya menunjuk ke arah wahana.
"Ya ga apa-apa, itu kan giliran yang antri tadi. Kalau Dareen mau lagi juga Dareen harus antri lagi kaya tadi nunggu giliran." Dareen mengangguk.
"Nah, gitu dong. Ayo naik sama Om, Om juga mau naik poci." Nalendra mengulurkan tangannya untuk dipegang Dareen.
Begitu turun dari poci, Zyan telah ada di sana menunggu mereka.
"Lama amat, aku kira udah selese dari tadi!" serunya.
"Dareen pengen naik lagi," jawab Rania.
"Coba telepon mama, lagi di mana gitu!" ujar Rania, mengkhawatirkan orangtuanya tanpa pengawasan.
"Ada di tempat makan, tadi mama udah telepon."
"Ya udah kita ke sana," ajak Rania yang sudah mulai lelah mengejar Dareen.
***
"Udah, ayo main aja sana. Biar Dareen sama Bapak dan Mama aja," kata Bu Sekar. Dia merasa tidak tega melihat Rania mengurus anaknya sendiri tanpa seorang suami di sampingnya.
"Dareen tuh aktif lho anaknya. Nanti malah Bapak sama Mama yang kecapean ngejar-ngejar dia, tadi aja aku di tarik-tarik tanganku," ucap Rania merasa tidak enak menitipkan anak pada orangtuanya.
"Wah ... Teteh kayanya nyepelein Mama ini mah," jawab Bu Sekar. "Mama masih muda lho Teh, Bapak juga masih kuat ikut maraton. Iya kan, Pak?"
"Bukan gitu, Rania takut nanti Bapak sama Mama kecapean terus sakit."
"Udah sana, liat Nalendra nyampe mukanya merah nahan tawa." Bu Sekar menunjuk ke arah Nalendra dengan matanya.
"Dareen tunggu sama Ibu dan Abah ya di sini. Mau 'kan?" tanya Zyan yang sudah tidak sabar ingin segera menjelajah menaiki wahana yang sudah di list di pikirannya.
"Dareen sama Ibu aja ya, bunda mau ada perlu dulu sama Om Zyan dan Om Nalendra," bujuk Bu Sekar.
"Bunda mau kemana?" Dareen menatap lekat ke arah bundanya.
"Bunda ga akan kemana-mana ko," sahut Rania membelai pipi anaknya yang chubi.
"Bunda mau naik yang kereta tinggi-tinggi itu ya?" tanyanya tersenyum. Namun, pertanyaan itu membuat wajah Rania memerah, rasanya seperti ketahuan berbohong.
"Tinggi kaya gimana?" tanya Pak Idris.
"Dulu aku pernah nungguin Bunda sama Ayah. Bunda naik kereta yang meluncur tinggi itu Abah," ungkapnya mengadu.
"Dareen ditinggal bunda?" tanya pak Idris.
"Iya, Abah. Sama ayah," jawabnya mengadu dengan wajah menggemaskan.
"Kasian sekali cucu Abah," kata pak Idris.
"Kata ayah biarkan bundanya main. Biar bunda bahagia."
"Ayah bilang begitu?" tanya pak Idris lagi. Dareen mengangguk.
Bu Sekar dan pak Idris menatap Rania lekat. Rania tersenyum serba salah.
"Saat itu kan beda. Dulu kan ada Ergha yang jagain," ungkapnya pelan. Rasa sakit itu kembali datang tanpa diundang.
"Biar aku yang jaga Dareen." Nalendra menawarkan diri.
"Ga usah, temani saja Rania dan Zyan. Mereka suka kebablasan kalau dibiarkan berkeliaran sendirian," kata Bu Sekar.
"Iya da, kita apa. Berkeliaran katanya!" Zyan menggerutu pada mamanya.
"Udah sana, ayo." pak Idris mengibas-ngibaskan telapak tangannya agar mereka segera pergi. "Titip Rania dan Zyan ya 'Nak Nalendra," pinta pak Idris.
"Ayo, kak." Zyan menarik lengan Nalendra. "Biarin aja yang ga mau ikut mah. Lagian kita udah dapat izin dari Bapak ini 'kan," lanjutnya. Zyan tahu Rania pasti akan ikut dengannya. Dia sangat hafal sifat Tetehnya itu.
"Kalau gitu, Pak, Bu. Saya permisi dulu sama Zyan," pamit Nalendra merasa tidak enak hati meninggalkan Dareen.
Nalendra dan Zyan melangkah hendak keluar restoran.
"Satu, dua, tiga, empat ...." Nalendra yang tidak mengerti mengernyitkan dahi mendengar Zyan berhitung sambil melangkah.
"Tujuh, de ...." Mereka berhenti melangkah mendengar suara Rania.
"Tunggu!" seru Rania.
Zyan tersenyum. "Tuh 'kan bener dia ikut," ucapnya pada Nalendra yang mengangguk-angguk. Sekarang dia mengerti kenapa Zyan tadi berhitung.
"Mau ikut aja banyak dramanya," ejek Zyan begitu Rania bergabung dengan mereka.
"Awww! sakit tau!" seru Zyan setengah berteriak karena dipukul Rania.
"Bawel banget, ayo!" Rania tersenyum menggandeng tangan adeknya.
Hari ini Nalendra tahu sifat Rania yang lain. Dia seorang yang senang memukul adik satu-satunya. "Dia sangat menggemaskan jika malu," batinnya.
Nalendra menemani kakak beradik itu bermain berbagai wahana ekstrim.
"Ooooo ... tidak, aku tidak akan ikut naik itu," tolak Nalendra yang dipaksa Zyan untuk ikut naik turbo drop.
"Ayolah, Teh Rania pengen naik katanya. Ayo temenin," paksa Zyan.
"Tidak, aku tidak akan ikut. Aku nunggu di sini saja," tolaknya lagi.
"Ya udah, ayo kita naik yang lain aja. Kasian dia ketakutan," sindir Rania.
"Badannya tidak sesuai dengan sifatnya, dasar penakut!" pikir Rania.
Mereka pun beralih wahana, ke wahana paralayang, wave swinger, kora-kora, Arum jeram dan tidak lengkap rasanya jika tidak naik rollercoaster.
Nalendra sangat senang sekali bisa bermain bersama Rania. Dia berharap waktu bisa terhenti, agar kesenangan hari ini bisa dia rasakan terus.
"Kak 'Ndra," panggil Zyan.
"Ya."
"Boleh pinjam ponselmu?" pintanya.
Nalendra mengeluarkan ponselnya dari kantong celana dan memberikannya pada Zyan.
"Aku ga bisa membukanya," ujar Zyan menyodorkan ponselnya agar Nalendra menyalakan ponsel tersebut.
"Maaf, aku lupa," jawabnya, mengaktifkan ponselnya dengan sidik jari.
"Ini," ucap Zyan memberikan lagi ponsel Nalendra.
Nalendra mengambil ponselnya sembari mengerutkan keningnya. "Udah?" tanyanya.
"Udah, menghubungi ponselku. Aku juga sudah menyimpan nomorku di ponsel kakak," jawabnya. "Nanti aku kirim foto-fotonya, Kakak pasti suka."
Zyan tahu jika Nalendra menyukai kakaknya, Rania. Zyan mengetahuinya dari semua sikap yang Nalendra tunjukan, dia selalu memperhatikan Rania. Namun, dia juga tahu jika rasa sayang Nalendra pada Dareen tulus bukan karena dia anak dari Rania.
"Kalau dia memang menyukainya. Ya, biarkan saja, toh kakaknya sekarang seorang yang single walaupun punya Dareen. Dia juga masih muda, dia berhak mendapatkan kebahagiaan lagi," pikir Zyan.
Sehabis shalat asar, Rania menghubungi orangtuanya menanyakan Dareen.
"Mama bilang lagi main pasir di pantai," ujarnya memberitahu Zyan.
"Serlock aja biar gampang," ujar Zyan meminta kakaknya mengirim pesan lagi pada orangtua mereka agar mengirim lokasi di mana mereka berada.
"Ayo," ajak Rania.
"Om ...." Dareen berteriak girang melihat Nalendra dari kejauhan. Dia berlari menghampiri mereka.
"Jangan lari, nanti jatoh," ucap Nalendra cemas, tetapi tidak didengar Dareen karena dia tetap berlari.
Dareen memeluk kaki Nalendra. "Hallo jagoan," sapa Nalendra mengangkat Dareen tinggi hingga dia berteriak tertawa terbahak.
"Om, ko lama sih?" tanyanya.
"Kayanya dia udah lupa sama bundanya," ejek Zyan yang melihat Rania tertegun dengan sikap Dareen.