Yes, It'S U

Yes, It'S U
Bab 51



Mereka sampai di salah satu tempat renang air panas, di Garut. Hawa sejuk pegunungan membuat Dareen sedikit kedinginan karena terbiasa dengan suhu Bekasi yang panas.


"Pakai sweater, Mana tas Dareen?" tanya Bu Shafira. "Biar nenek ambilkan sweaternya."


"Ayo, masuk," ajak Nalendra sambil membagikan tiket pada Pak Sulaiman dan Bu Shafira.


Dareen berjalan dengan Bu Shafira di depan di ikuti oleh Pak Sulaiman dan Nalendra yang membawa tas dan totebag.


"Ibu ini banyak banget bawaannya. Kenapa harus bawa makanan dari rumah. 'Kan bisa beli di sini," gerutu Nalendra yang hampir kewalahan membawa barang.


"Ayo, Dareen. Jangan dengerin Om Nalendra yang ngomel. Nenek buatkan makanan buat Dareen, Om Nalendra ga usah dikasih!" ujar Bu Shafira menuntun Dareen seperti sedang pamer ke semua orang yang berada di sana, pamer jika dia punya cucu baru.


Keluarga Nalendra menempati satu gazebo yang cukup luas, tak jauh dari kolam renang. Di sana terdapat beberapa kolam renang dengan ukuran yang berbeda pun kedalaman yang berbeda pula. Di sana juga terdapat wahana seluncuran dari ketinggian beberapa 15 meter hingga 20 meter. Terdapat juga kolam dengan kedalaman kurang dari betis orang dewasa beserta perosotan dan wahana yang cocok untuk usia balita.


Dareen telah berganti baju dengan baju renang, begitu pun dengan Nalendra. Dia berganti dengan t-shirt hijau lumut dan celana renang di atas lutut. Badannya yang berotot seperti seorang atlet membuatnya menjadi pusat perhatian terutama kaum wanita.


"Ayo, jagoan kita berenang!" serunya mengangkat Dareen tinggi-tinggi hingga dia tertawa terbahak.


"Kaka, jangan diangkat tinggi-tinggi. Nanti jatoh!" kata Bu Shafira setengah berteriak. "Dareen, sini, Sayang. Makan dulu, Nenek suapi."


Dareen memandang Nalendra lekat, bibirnya mulai cemberut. Dia ingin langsung berenang.


"Kaka, ajak Dareen makan dulu. Dia belum makan, nanti kalau masuk angin gimana?"


"Dareen udah makan tadi sama bunda," jawabnya pelan.


"Dia udah makan katanya, Bu." Nalendra berjongkok mensejajarkan tinggi dengan Dareen.


"Nenek udah buatin ayam krispi. Dareen suka ayam krispi atau ayam goreng?" tanya Bu shafira lagi tanpa memperdulikan perkataan Nalendra.


Dareen berjalan menghampiri Bu Shafira lalu duduk di dekatnya. "Aku mau ayam krispi, Nek," ujarnya dengan suara yang sangat menggemaskan.


Bu Shafira dengan senang hati, segera mengeluarkan semua kotak makan yang dia bawa dan membukanya. "Makanlah."


Dareen menatap semua kotak makan yang sudah dibukakan Bu shafira.


"Dareen mau makan nasi?"


"Enggak, Nek. Bolehkah aku makan ayam krispi aja?" tanyanya menunjuk ayam krispi yang bertumpuk di kotak makan.


"Tentu, tentu Sayang." Bu Shafira langsung menyodorkan kotak makan berisi ayam tersebut pada Dareen.


"Eh, Kak." Bu Shafira memanggil Nalendra dengan berbisik. "Coba lihat deh perempuan di gazebo sebelah, dari tadi ngelirik sini mulu. Ngelirikin Kaka kali," ujarnya terkekeh.


"Ih, males banget!" jawab Nalendra.


"Cantik lho Kak, coba deh liat," titah Bu Shafira menepuk paha Nalendra.


Pak Sulaiman hanya menggelengkan kepalanya. Ternyata dia belum nyadar kalau nalendara udah suka sama perempuan lain. batin Pak Sulaiman.


"Udah belum makannya, Jagoan?" tanya Nalendra yang ingin sekali segera menjauh dari ibunya yang selalu menawarkan wanita.


"Nek, nanti aku makan lagi. Dareen mau renang dulu," pamitnya meletakan ayam krispi yang baru dia makan setengahnya. "Om, ayo!"


Nalendra segera menggendong Dareen, menciuminya. Dia lewat ke gazebo yang tadi di sebutkan oleh Bu Shafira. Bukan untuk mencari perhatian dari wanita yang melirik dia, tetapi untuk menunjukan kalau dia sudah ada yang punya.


"Anak Daddy jago banget sih makannya!" ujar Nalendra mencubit pelan hidung Dareen dan sedikit mengeraskan suara agar terdengar oleh orang di sekitar, terlebih oleh wanita tadi.


"Apa kau mau naik itu?" Nalendra menunjukan seluncuran yang tinggi di depan sana. Dareen mengangguk.


"Siap?" tanya Nalendra.


"Ayo, Om!" Dareen berteriak kencang ketika ban yang mereka naiki mulai meluncur dari atas.


Bbyuurrrr ...!


Nalendra dengan cepat mengangkat tubuh Dareen agar tidak tenggelam ke dalam air. Dareen tertawa terbahak, dia sama sekali tidak takut.


"Om, lagi," teriak Dareen kesenangan.


"Ayo coba yang sana, nanti kita seluncur ke sini kalau bunda ikut. Dareen harus ajak bunda ikut biar gantian kita nanti berseluncur," ujar Nalendra merayu Dareen.


Nalendra kembali ke gazebo dengan Dareen untuk beristirahat. Pak Sulaiman sudah siap dengan baju renangnya hendak membawa Dareen main.


"Dareen, ayo sama Kakek. Dari tadi Kakek nunggu Dareen, lama banget ga balik-balik!" ujarnya dengan wajah cemberut.


"Aku tadi main perosotan dari yang tinggi di sana sama Om. Seru!" Dareen asik bercerita kepada Pak Sulaiman dan Bu Shafira.


Nalendra melihat ponselnya. Ada pesan dari Rania yang menanyakan Dareen.


"Dareen, ayo sini. Kita telepon dulu bunda," ajak Nalendra dan mendudukkan Dareen di pangkuannya.


"Assalamu'alaikum," ujar Rania. Terlihat Rania sedang berada diantara tumpukan baju, dia memang sedang membereskan baju-baju Dareen.


"Wa'alaikumsalam, Bunda," ujar Nalendra dan Dareen, membuat Bu Shafira dan Pak Sulaiman menoleh menatap Nalendra.


"Ayo sapa bundanya," titah Nalendra pada Dareen tanpa mengetahui Bu Shafira sedang memandang tajam ke arah dia.


"Dareen renang?" tanya Rania dari seberang telepon.


"Bunda, aku seneng banget-bangetan. Tadi aku naik perosotan yang tinggi banget sama Om," Dareen mulai menceritakan semua yang dia lakukan bersama Nalendra kepada Rania.


Cukup lama mereka berbicara lewat video call. Kini Bu Shafira melihat Si anak sulung sedang jatuh cinta, tetapi kenapa harus pada Rania yang sudah menjadi janda.


Bukankah wajah Nalendra juga cukup tampan, dengan tubuh tinggi menjulang dan badan bagai atlet. Dia juga menjadi salah seorang pemimpin cabang di perusahaan. Apa tidak ada gadis yang menyukainya? kenapa harus Rania? gerutu Bu Shafira dalam hati.


"Yah, lihat anak kita!" kata Bu Shafira mulai mengerutkan dahinya.


"Ada apa, Bu?"


"Yah, ko rasanya cara Nalendra bicara dengan Rania berbeda ya."


"Berbeda gimana, Bu?" Pak Sulaiman balik bertanya.


"Ya beda, Yah. Coba deh perhatiin anaknya! ko dia kaya yang lagi telepon istri bukan teman!" gerutu Bu Shafira dengan suara setengah berbisik, dia tidak mau ada yang mendengar pembicaraannya.


"Ya, karena dia menemani Dareen telepon mamanya, Bu!"


"Tadi pagi juga gitu. Tatapan Nalendra pada Rania itu berbeda, Yah!" Bu Shafira terus menggerutu.


"Kalau ibu penasaran, tanyain aja langsung."


"Habis mereka teleponan, bawa Dareen main dulu. Ibu harus nanyain secepatnya pada Nalendra!" titah Bu Shafira.


Pak Sulaiman pun menuruti kemauan Sang istri. Dia juga penasaran tentang perasaan Nalendra terhadap Rania.


"Dareen main sama Kakek, yuk?" ajaknya