Yes, It'S U

Yes, It'S U
Bab 61



"Kakak, apa Kakak yakin dengan niat mau meminang Rania?" tanya Pak Sulaiman memastikan. "Apa Kakak udah siap dengan semua yang akan terjadi kalau Kakak menjadi suami Rania? bukan hanya menjadi seorang suami, tapi Kakak juga langsung menjadi ayah bagi Dareen. Kakak harus siap ngelindungi Rania dan Dareen, bukan hanya melindungi dari orang jahat tapi juga yang terutama melindungi dari seluruh keluarga yang jika mereka berbicara tidak baik tentang Rania ataupun Dareen. Biasanya yang paling menyakitkan itu datang dari ujaran pihak terdekat yaitu keluarga. Kakak harus siap!"


"Aku siap, Ayah. Aku sudah menunggu Rania belasan tahun. Aku tidak mungkin melepas satu kesempatan lagi." Nalendra memandang Sang Ayah dengan mata berkaca-kaca.


"Apa Kakak yakin itu bukan karena nafsu Kakak?"


"Aku sudah beberapa kali istikharah, tapi perasaan Kakak masih sama bahkan lebih dari sebelumnya."


"Ayo, kita lamar Rania. Jangan ditunda lagi!"


"Tapi, aku belum berbicara apapun dengan Rania," ungkap Nalendra. "Rania belum tahu kalau aku menyukainya lebih dari seorang teman."


Pak Sulaiman kembali menghela napas, ternyata anak sulungnya bukan seorang yang berani ketika mendekati wanita. Terbukti selama belasan tahun ini, dia menyimpan perasaannya begitu lama.


"Ayah akan berbicara dengan Pak Idris dahulu. Ya, Ayah harus berbicara dengan bapaknya Rania terlebih dahulu," kata Pak Sulaiman yakin.


"Kak, usahakan Minggu ini berbicaralah meminta restu pada orangtua almarhum Ergha. Memang belum setahun Ergha meninggal, tapi Rania sudah selesai masa Iddah nya. Setelah meminta restu dari orangtua almarhum, baru kita akan bertanya pada Rania. Soal kapan waktu menikahnya, itu bisa kita bicarakan nanti. Yang penting Kakak sudah dapet restu dahulu."


"Bagaimana dengan Ibu?" tanya Nalendra sendu.


"Biar nanti Ayah yang bicara dengan Ibu. Jangan terlalu dipikirkan, rezeki, jodoh, ataupun kematian adalah rahasia Allah. Kalau memang Kakak berjodoh dengan Rania, tentu Ibu juga harus menerimanya dengan senang."


"Aku akan menunggu Ibu memberiku restu dahulu," jawab Nalendra. Dia tahu betul, betapa dahsyatnya doa dan restu seorang ibu untuk anaknya. Dia tidak mau gegabah, apalagi ini menentukan kehidupannya di kemudian hari.


"Baiklah, jika itu keputusanmu, tetapi menurut ayah lebih baik Kakak berbicara dahulu dengan mertua Rania sambil menunggu restu dari Ibumu." Pak Sulaiman tahu bagaimana sifat anak sulungnya dan merasa bangga pada Nalendra.


Malam telah larut, dua orang yang berbeda usia itu masuk ke dalam rumah untuk beristirahat. Melepas segala kekhawatiran yang seharian ini menggelitik hati dan pikiran mereka.


Keesokan paginya, Nalendra telah bersiap untuk pulang kembali ke Jakarta. Dia melihat Sang ibu sibuk di dapur, membuat sarapan untuk seluruh keluarga.


"Hai, Kak. Apa kabar?" Nalendra terkejut mendengar suara dari seorang yang amat dikenal dan dirindukannya.


"Hei, kamu pulang, kapan? ko aku ga tau," tanya nalendra dengan cepat.


"Tadi malam. Semalam Ayah bilang Kakak baru masuk kamar," jawabnya santai.


"Bagaimana kuliahmu, lancar?"


"Aku di rumah sekarang, lagi melarikan diri dari itu semua. Jangan tanya tentang kuliahku, biarkan aku menikmati hari Mingguku!" jawab laki-laki muda itu.


Dia adalah Alaric, putra kedua Pak Sulaiman dan Bu Shafira. Usianya berbeda 10 tahun dari Sang Kakak, Nalendra. Dia sedang menempuh kuliah tingkat dua di sebuah universitas ternama di Bandung. Walaupun jarak antara rumah dan kampus tidak lebih dari satu jam berkendara, dia lebih memilih untuk ngekost.


"Baiklah, baiklah ...," Nalendra mengangkat tangannya tertawa.


"Kuliahku lancar, tenang saja," ujarnya berbangga diri.


Nalendra tersenyum, sudah lama dia tidak melihat Sang adik. Terkadang Nalendra memang pulang ke Bandung atau mampir pulang ke rumah orangtuanya, ketika ada tugas di Bandung. Namun, Sang adik tidak selalu kebetulan sedang berada di rumah.


"Apa Kakak mau berangkat sekarang? ini masih jam 8 pagi," tanya Alaric.


"Kerjaan kantor?" tanya Alaric.


"Bukan," jawab Nalendra singkat.


"Aku kira kerjaan kantor!"


Nalendra terdiam, melihat adiknya asik memakan kue yang berada di hadapan mereka. "Enakkah?" tanya Nalendra melihat cara makan Sang adik yang terlihat sangat menikmatinya.


"Tentu saja, cobalah!" Alaric mendorong sedikit piring yang berisi cupcake ke depan Nalendra.


Nalendra pun segera mengambil satu dan mencobanya. Rasanya seperti biasa, enak. Kue buatan Bu Shafira memang sangat enak, tetapi Nalendra kurang menyukai makanan yang terlalu manis berbeda dengan Sang adik yang sangat menyukainya.


Kakak beradik itu mempunyai kesukaan makanan yang berbeda. Itulah sebabnya Bu Shafira selalu membuat ataupun membeli cemilan dalam dua rasa yang berbeda, manis dan gurih.


"Kak, tolong bawa sup dan yang lainnya ke meja!" titah Bu Shafira sedikit berteriak dari depan kompor. Dia masih memasak satu macam menu lagi, padahal sudah ada beberapa menu yang dia pasak.


Nalendra segera pergi menghampiri Sang Ibu dan melaksanakan perintah Bu Shafira.


"Banyak banget menunya," ujar Nalendra yang sedang membawa ikan saos asam manis ke meja makan.


Telah ada semangkuk besar sup tulang iga, sambel goreng kentang, ayam goreng lengkuas, ayam goreng tepung, Ikan saos asam manis di meja makan. Bu Shafira sedang memasak satu menu lagi, yaitu telur balado.


"Bu, apa akan ada tamu datang ke rumah?" tanya Nalendra lagi.


"Ga ada, hari ini ada Alaric, jadi Ibu masak banyak. Lihatlah adikmu, sangat kurus seperti yang belum makan sebulan," ujar Bu Shafira.


Nalendra pun mengernyitkan dahinya langsung memandang Alaric. Tubuh Alaric lebih berisi dibanding Nalendra.


Kurus dari mana! gerutunya dalam hati.


"Panggil Ayah, ayo kita sarapan dulu. Udah siang banget ini belum pada sarapan," kata Bu Shafiraelihat jam yang bertengger di dinding sudah menunjukan pukul 8 lewat 10 menit.


Mereka pun mulai sarapan dengan Hidmat. "Ayo makan yang banyak, Ibu ga mau melihat kamu kurusan kaya gini," ucap Bu Shafira pada Alaric. Dia hanya tersenyum mendengar Omelan Sang Ibu. Sedangkan Nalendra tersedak menahan tawa.


"Maaf," ucap Nalendra yang ingin sekali berkata pada ibunya kalau Alaric sama sekali tidak kurus.


"Iri aja lu!" gumam Alaric melihat Nalendra tersedak.


Setelah selesai makan dan membantu Bu Shafira membereskan bekas makan, Nalendra segera naik ke kamar untuk mengambil tas dan yang lainnya. Lalu menghampiri keluarganya yang sedang berkumpul di teras depan melihat Pak Sulaiman memotong daun-daun yang sudah mulai mengering dari perdu tanamannya.


"Bu, aku berangkat sekarang ya!" Nalendra pamit pada Bu Shafira.


Bu Shafira melihat bawaan Sang anak. "Ayo ikut Ibu ke dalam!" pintanya seraya berlalu ke dalam ruang makan yang telah mereka bereskan tadi.


"Ada apa, Bu?" jantung Nalendra tiba-tiba berdetak cukup cepat.


Apa aku akan diomelinya lagi? batin Nalendra.