
"Dia benar-benar sangat meresahkan!" ketus Bu Shafira. "Ibu tidak mengerti, kenapa bisa dia menjadi seperti itu, Kak. Itu bukan cinta lagi, kalau dia memang cinta harusnya dia sadar dan membiarkan Kakak dan Teh Rania hidup tenang. Ko ini malah buat rusuh di hajatan orang!"
"Sebaiknya Mama hubungi mamanya. Kita harus segera menyelesaikan masalah ini. Bapak khawatir jika dibiarkan saja akan berbahaya." Pak Idris meminta Bu Sekar menghubungi Bu Ratna.
Bu Sekar pun meminta izin pada semua yang berada di sana untuk menghubungi orangtua Liana dahulu. Setidaknya Liana harus bersama dengan keluarganya ketika mereka berbicara agar tidak terjadi kesalahpahaman antara banyak keluarga, begitu pikirnya.
"Apa dari dulu dia seperti itu?" tanya pak Sulaiman pada Nalendra dan Rania.
"Tidak, seingat Teteh dia tidak seperti itu. Teteh juga jarang sekali bertemu karena tinggal jauh dan saat pulang pun jarang bertemu."
Nalendra tidak menjawab, dia hanya terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu. Rania paham apa yang dirasakan suaminya, dia tahu jika Nalendra merasa sedikit bersalah.
"Saya sudah menghubungi mamanya dan dia setuju untuk bertemu ikut bermusyawarah. Saya juga meminta beliau datang dengan Kakaknya, setidaknya ada laki-laki dari pihaknya yang ikut," ucap Bu Sekar. "Saya rasa kita harus menentukan dimana tempat yang nyaman untuk mengobrol hal ini. Tidak mungkin di sini atau di rumah kami ataupun di rumah Liana."
"Sebaiknya kita mengobrol di tempat makan saja agar lebih bebas dan tidak kebablasan. Biar Abah yang ikut serta dari pihak Nalendra, di sini sedang ada hajatan tentu para tamu dan keluarga lain akan curiga jika semuanya pergi. Kamu dan Shafira di sini saja, Teh Rania juga sebaiknya di sini saja."
"Iya, Teteh harus di sini. Biar Nalendra saja yang ikut, Teteh juga lagi hamil. Ga usah khawatir, semua akan baik-baik saja, insyaallah," timpal pak Idris.
"Iya." Rania mengangguk, dia juga enggan untuk bertemu Liana lagi. Rasanya mungkin dia tidak akan kuat jika terus berdebat dengan teman kecilnya itu.
Bu Sekar keluar dengan pak Idris terlebih dahulu.
"Na' mau pulang bareng?" tanya Bu Sekar, dia duduk kembali di sebelah Liana yang masih berada di sana.
"Nanti saja. Aku nunggu dulu Nalendra, takutnya dia nyariin terus nyuruh ke sini lagi!"
"Tapi A Nalendra nya juga lagi sibuk kayanya ga bisa keluar."
"Ga apa-apa, Bu. Aku tunggu aja!"
Bu Sekar menghela napas, ternyata ini lebih sulit dari yang dia pikirkan. Pak Idris pun kembali ke dalam memanggil Nalendra, membujuknya agar dia mau mengajak Liana pergi bersamanya. Akhirnya Nalendra pun setuju, lalu mengajak Liana mengobrol di luar, tidak di rumah keluarga Nalendra.
Mereka pun berangkat dengan menggunakan satu mobil. Nalendra yang bertugas untuk menyetir dan Abah Danu yang duduk di sampingnya. Liana duduk di barisan kedua bersama Bu Sekar, walaupun dia memaksa untuk duduk di depan, tetapi di cegah oleh semua dengan alasan Abah Danu lebih sepuh dari semuanya. Pak Idris berada di barisan ke tiga, duduk sendiri.
Hampir satu jam kemudian, mereka tiba di sebuah restoran sunda. Nalendra menyewa meeting room agar mereka dapat berbincang dengan tenang, tidak terganggu oleh pelanggan lain.
Liana sempat tidak mau masuk ke dalam restoran karena bukan hanya berdua saja dengan Nalendra. Namun, Nalendra berusaha membujuknya agar dia juga masuk ke dalam. Nalendra juga memberitahunya jika Ibunya dan saudaranya akan datang.
"Mamaku mau ke sini? ko kamu ga bilang dulu sama aku!" ucap Liana mengernyitkan dahi.
"Tadi Mama Sekar yang telepon. Aku kan ga tau nomor mamamu!" jawab Nalendra.
"Emang kalian mau ngapain manggil mamaku ke sini?"
"Mau silaturahmi aja!" ucap Nalendra sekenanya.
"Ibu sama Bapak ikut?" tanya Liana pada Bu Sekar dan Pak Idris.
"Kan mereka ga bawa mobil," ucap Nalendra.
Suara ponsel Bu Sekar berbunyi. Dia meminta izin ke depan untuk menjemput orangtua Liana. Mereka juga berpikir sebaiknya Bu Sekar lah yang menjemput, bukan Liana. Mereka takut Liana malah kabur dari sana.
Di lobi restoran telah ada Bu Ratna dengan kakak Liana dan istrinya. Bu Sekar menghampiri mereka.
"Assalamu'alaikum, Bu. Maaf meminta kalian datang. Ayo, mereka sudah menunggu di dalam. Liana pun juga ada di dalam!"
"Sebenarnya ada apa, Bu. Rasanya saya gugup sekali ketika mendapat telepon dari ibu."
"Ayo, Bu. Sebaiknya nanti kita bicarakan di dalam saja. Takutnya saya salah bicara karena memang ga tau awalnya seperti apa."