
Nalendra berencana pulang cepat hari ini. Dia sangat bersemangat ingin segera memberitahu Rania, tentang reservasi hotel yang telah dia lakukan. Tak sabar rasanya menikmati waktu berdua dengan istrinya tersebut. Dareen? tentu saja dia ikut, tetapi Dareen itu tipe anak yang on time waktu tidur, dia tidak akan menggangu acaranya.
Nanti saja aku katakan ketika Dareen sudah tidur. Biar ini akan menjadi kejutan yang menyenangkan untuk anak itu. Bukankah kalau anak senang, ibunya juga akan ikut senang! pikir Nalendra.
Setelah selesai makan malam, Nalendra menonton tv bersama Rania. Mereka berbincang tentang banyak hal yang dilakukan seharian ini.
"Ada yang harus aku bicarakan."
"Apa?" tanya Nalendra mengernyitkan dahi melihat ekspresi Rania yang serius.
"Tadi aku menghubungi mama," ucap Rania. "Sebentar lagi satu tahu Ergha meninggal. Aku meminta Mama mengadakan tahlilan satu tahun untuknya." Rania memandang Nalendra, dia berpikir harus segera memberitahu Nalendra tentang hal ini. Bagaimana pun juga dia harus bercerita pada suaminya tentang hal tersebut.
"Kapan acaranya?"
"Hari Minggu atau Senin besok."
Nalendra tersentak kaget mendengarnya. Bagaimana mungkin dia bisa lupa tentang hari Ergha meninggal dan malah membuat reservasi di tanggal itu.
Apa aku juga harus bilang sudah reservasi hotel ditanggal itu. Nanti Rania pasti menganggapku tidak sopan! batin Nalendra.
"Baiklah, Sabtu nanti kita pulang dulu." Nalendra yakin jika secara tidak langsung, Rania mengajaknya pulang.
"Tidak, kata mama tidak usah. Biar mama dan bapak aja yang mengurus semuanya."
"Apa tidak apa-apa kalau kita tidak pulang?"
"Tentu, aku sudah mengobrol dengan mama. Beliau bilang tidak masalah kalau kita tidak pulang, bukan menghindar tapi emang jaraknya yang sangat jauh dan kamu juga lagi sibuk bekerja di sini."
Nalendra terdiam, dia berpikir kalau mertuanya sangat pengertian. Namun, dia juga harus memperhatikan tanggapan orangtua Ergha.
"Bagaimana dengan orangtua Ergha. Aku rasa mereka menginginkanmu hadir."
"Bapak nanti yang akan bicara dengan mereka. Beliau yakin, mereka pun akan mengerti."
Harus reservasi ulang deh! batinnya.
"Kenapa, dari tadi sepertinya kamu melamun?"
"Tidak, hanya berpikir harus pulang atau jangan. Tapi kalau kamu mau pulang juga, kita bisa pulang Sabtu ini dan balik di hari Minggu malam atau Senin pagi.
"Apa ga cape? bukankah kamu bilang dulu badanmu lemes ketika mengejar waktu reuni!"
"Ya, memang itu resikonya. Mungkin orangtuamu juga memikirkannya, kalau pulang pergi seperti itu kasian Dareen."
"Iya, kemaren aja butuh beberapa hari dia fit lagi."
"Jadi fix ya ga kan pulang?" tanya Nalendra memastikan, Rania pun mengangguk.
Nalendra menarik Rania ke dalam dekapannya. Dia mengelus lembut rambut hitam panjang Rania yang tergerai. Dia merasa harus bersyukur ke pada Allah yang menyaksikannya bersama Rania. Walaupun dia tahu, jika bukan karena Ergha meninggal, dia tidak akan mungkin bersama Rania sekarang.
Siapa yang tau akan takdir Allah esok hari, bukan?
Dia tidak pernah mendoakan temannya mendapat hal buruk, apalagi kecelakaan. Dia selalu berdoa agar Rania maupun dirinya mendapatkan yang terbaik menurut-Nya.
Keesokan paginya di rumah keluarga Rania. Seperti hari yang lain, dia menyiapkan sarapan untuk suami dan anaknya, Zyan, sebelum dia berangkat ke sekolah.
"Pak, kumaha udah di telepon Pak Darmawan?"
"Belum, Mah. Apa Bapak ke Bekasi aja gitu ya ngobrolin ya biar enak?"
"Nya enggak atuh, Mah. Dianter Zyan, Bapak ga sanggup kalau PP jauh mah!"
"Ya kalau mau ke Bekasi, hari ini aja atuh. Kan' waktunya juga beberapa hari lagi, udah mepet!" ujar Bu Sekar. "Tanyain, takutnya mereka mau ngadain tahlilan di sana, kita ga usah ngadain di sini. Nanti kita ikutan ke sana aja. Pastiin mau kapan ke Bekasinya, terus jangan lupa bilang sama Zyan."
"Iya. Mah, kalau mereka nanyain Teh Rania, kumaha. Bapak harus jawab gimana?"
"Ya jujur aja, Teh Rania kemarin telepongutu ke sini nanyain tahlilan satu tahun A Ergha meninggal. Jangan lupa, bilang juga kalau Teh Rania lagi di Singapore. Bukan ga mau pulang buat ikut tahlilan, tapi kasian kalau cuma semalem, kasian Dareen takut kecapean gitu!"
"Iya"
"Inget, bilangnya kasian Dareen. Biar gimana pun kalau kita bilang cucunya mungkin akan lebih ngerti. Iya kan, Pak?" Pak Idris hanya mengangguk-angguk tanda mengerti.
"Jangan terlalu siang berangkatnya, bisi macet. Tau sendiri tol ka jakartakeun mah macet wae!" lanjut Bu Sekar.
Hari sudah mau beranjak siang. Namun, matahari nampak malu-malu bersembunyi dibalik awan. Pak Idris diantar Zyan membelah jalanan tol Bandung-Jakarta, hendak ke rumah orangtua almarhum Ergha.
"Assalamu'alaikum," sapa Pak Idris begitu melihat Pak Darmawan sedang berjalan pulang dari masjid.
"Wa'alaikumsalam," jawabnya.
Pak Idris keluar dari mobil menyapa besannya di pinggir jalan. Mereka berdua berjalan melanjutkan perjalanan ke rumah Pak Darmawan yang tinggal beberapa langkah lagi, sedang Zyan berlalu membawa mobilnya terlebih dahulu.
"Sudah solat?" tanya Pak Darmawan.
"Belum, saya ikut solat di rumah saja."
Zyan sudah berada di dalam rumah ketika mereka sampai. Setelah pak Idris menunaikan kewajiban pada Sang Khalik, dia pun mengutarakan maksud kedatangannya hari itu.
"Pak, kemarin Teteh telepon saya, mengingatkan untuk ngadain tahlilan satu tahun almarhum Aa Ergha."
"Iya, tidak terasa sudah satu tahun lagi. Seminggu yang lalu juga Teteh telepon ke sini, katanya Dareen kangen. Apa mereka masih di Singapore?"
"Iya, masih. Jadi bagaimana soal acara tahlilan itu?" tanya pak Idris lagi. "Teteh sih nyuruhnya di Bandung saja, tapi ya saya juga harus minta izin sama Bapak dulu. Takutnya Bapak di sini juga mau ngadain jadi biar sekalian saja di satu tempat."
"Bagaimana menurut Ibu?" tanya Pak Darmawan pada istrinya.
"Ibu gimana Bapak saja. Tapi kalau di sini mungkin nanti kita panggil saudara buat bantuin di sini."
Pak Idris mengernyitkan dahi, lalu tersenyum. "Bagaimana kalau di Bandung saja? toh makam Aa nya juga kan di Bandung. Biar nanti sekalian Ibu sama Bapak bisa ziarah juga ke makamnya. Teh Rania juga mintanya di Bandung saja."
"Apa nanti Teteh bakalan pulang?" tanya Bu Darmawan. "Apa A Nalendra tahu Teteh minta ngadain acara tahlilan."
"Kemarin, Teteh pengen pulang, tapi kata Mamanya ga usah. Bukan apa-apa, kasian Dareen kalau cuma sebentar di sini, apanan jauh. Kemarin juga sampai di Singapore katanya Dareen sempet demam kecapean," jawab Pak Idris. "Soal A Nalendra mah, sudah pasti tau. Kalau kita minta mereka pulang juga, pasti langsung pulang. Tapi kan itu tadi, kasian Dareennya."
"Iya, kalau gitu, kalau tidak merepotkan ya saya setuju di Bandung aja, Pak." Pak Darmawan terlihat sendu, menghela napas. Dia merasa sangat rindu pada anak lelakinya yang telah tiada, dia juga merindukan cucunya yang kini jauh di negeri orang dibawa merantau oleh ayah sambungnya.
"Kami sama sekali tidak merasa direpotkan. Justru kami senang bisa bersilaturahmi dengan Bapak dan keluarga nantinya. Kalau begitu, sesuai tanggalnya kita akan mengadakan tahlilan hari Sabtu besok."
"Iya, paling kami akan datang di Jumat sore. Saya berangkat dari sini setelah jumatan saja."
**
Di tempat yang berbeda, seorang wanita tengah asik meng-upload foto-foto seorang laki-laki ke media sosialnya. Foto-foto yang dia upload adalah foto beberapa tahun silam, terlihat dari tanggal dan jam saat pengambilan yang tertera di sudut bawah foto.
Di bawah foto tersebut dia menyematkan caption "Aku merindukanmu".