Yes, It'S U

Yes, It'S U
Bab 69



"Lu ngajak nikahnya di tempat liburan atau di rumahnya atau di mana?"


"Di jalan, di mobil," jawab Nalendra polos.


Aziz tertawa terbahak, tetapi begitu melihat tatapan Nalendra tawanya langsung berhenti. "Lu harusnya kalau mau ngajak nikah anak orang buat yang romatis, setidaknya di tempat yang bagus jangan di jalan," ujar aziz sambil menahan tawa. "Rania memang janda, tapi dia juga masih muda. Lu harus ngelamar dengan bener yang berkelas, sopan, jangan ujug-ujug ngajak nikah aja!"


"Gue juga kemaren begitu karena dia nyuruh gue buat agak ngejauh dari Dareen." sergah Nalendra. "Gue juga maunya ngajak dia nikah dengan romantis, tapi karena dia bilang begitu, gue panik. Ya, gue ajak nikah aja sekalian!"


Aziz menghela napas, ingin rasanya dia menertawakan sahabat sekaligus atasannya itu. "Lu nanya ga kenapa dia mau lu ngajauh?"


"Dia bilang, dia mengkhawatirkan Dareen. Dia takut anaknya sedih jika nanti gue ga bisa lagi meluangkan waktu buat Dareen," jawab Nalendra.


"Pemikiran yang bagus," ujar Aziz.


"Maksudnya?"


"Ya, pemikiran dia bagus. Mending berhenti sekarang dari pada nanti lu ngasih harapan lebih buat anaknya. Apalagi yang gue denger dan gue liat waktu dia sama lu. Dia udah nganggap lu lebih dari seorang teman ayahnya, mungkin dalam lubuk hatinya, dia menemukan sosok ayah dalam diri lu!"


Nalendra mencoba mencerna apa yang Aziz katakan. "Tapi kenapa dia malah tertawa saat gue ajak nikah?"


"Mungkin dia ngira lu becanda. Dia juga mungkin berpikir ga mungkin lu ngajak dia nikah, dia kan janda sedang lu masih bujangan, belum pernah nikah," terang Aziz mengambil cokelat dan memakannya.


"Terus gue harus gimana? apa gue harus telepon dia duluan ngejelasin kalau gue ngajak dia nikah tuh beneran ga lagi becanda?" tanya Nalendra yang mulai frustasi. "Mungkin ga sih kalau dia lagi sebenarnya lagi mikirin ajakan gue buat nikah, bisa jadi begitu kan?" tanya Nalendra meyakinkan diri jika pemikiran Aziz bisa aja salah.


"Lamar lagi aja yang bener kalo penasaran!" ujar Aziz memberi saran pada Nalendra.


"Iya, tapi sebelum itu gue harus minta restu dulu ke mertua dia. Abah gue, ayah gue juga bilang gitu. Nyuruh gue minta restu mereka," ungkap nalendra sendu.


"Kenapa?"


"Mereka bilang mertua Rania juga orangtua Rania sekarang. Apalagi Rania janda bukan karna cerai tapi emang karena suaminya meninggal. Katanya gue harus ngejaga Rania dari prasangka keluarga almarhum suaminya." Nalendra menghela napas. "Mungkin karena belum setaun kali ya."


"Kenapa Lu enggak nunggu aja setahun atau dua tahun lagi gitu?" tanya Aziz santai.


"Umur Ziz, ingat umur gue udah berapa. Orangtua gue udah ngomong mulu, tiap telepon, pulang pasti aja bahasannya nyuruh gue nikah. Kemaren aja gue abis dikenalin ma anak temen nyokap!"


"Zaman sekarang banyak ko yang umur 40 masih single," sergah Aziz.


"Mungkin mereka beda pemikirannya. Yang jelas gue takut Rania diambil orang!"


Nalendra terus bercerita dan meminta pendapat dari Aziz, asistennya. Aziz pun dengan senang hati memberi saran-saran tentang bagaimana menaklukan seorang wanita. Walaupun terkadang saran yang diberikan membuat Nalendra menaikan alisnya, tetapi tetap dia dengarkan.


**


Rania baru saja pulang dari sekolah. Sudah dua Minggu dia mulai mengajar kembali. Sekolah tempat dia mengajar merupakan sekolah fullday.


"Bunda," panggil Dareen menghampiri Rania yang baru saja duduk di sofa ruang tamu, melepas letih.


"Halo, Sayang. Dareen udah mandi?" tanya Rania.


"Udah, tadi aku mandi sendiri," ujar Dareen bercerita.


"Mandi sendiri, kenapa?"


"Aku 'kan udah gede, udah mau masuk SD bentar lagi," jawab Dareen.


"SD, iya nanti tahun depan masuk SD nya," jawab Rania tertawa. "Dareen bisa mandi sendiri?" tanya Rania lagi merasa tidak percaya.


"Bisa, Abah ajarin tadi," jawab Dareen.


"Bunda mau mandi dulu ya. Nanti bunda temenin Dareen main," ujar Rania.


Sebenarnya jika boleh memilih, dia tidak ingin meninggalkan Dareen sendirian dari pagi hingga sore hanya untuk bekerja. Walaupun memang kenyataannya tidak sendirian, tetapi ada Pak Idris. Namun, rasa bersalah meninggalkan anak, yang dia rasakan sangatlah besar.


Sesuai janjinya dengan Sang anak, Rania menemani Dareen setelah selesai membersihkan diri. Mereka bermain Lego di teras rumah. Angin sore berhembus lembut, Daun yang kering mulai berjatuhan ke sembarang tempat.


"Bunda, Om udah telepon bunda belum?" tanya Dareen.


"Tadi siang telepon waktu bunda di sekolah." Rania tahu Om yang Dareen tanyakan bukanlah Zyan, tetapi Nalendra.


"Bilang ga kapan liburnya?"


"Enggak, Om belum bilang. Tapi tadi dia nanyain Dareen," ujar Rania.


"Bunda kangen ga sama Om, aku kangen pengen jalan-jalan lagi." Dareen menatap Rania lembut.


"Sabar ya, Sayang. Nanti kita jalan-jalan lagi, Dareen mau jalan sama bunda berdua atau kita ajak Abah sama Ibu nanti Sabtu?" Rania mengusap pipi chubi Dareen lembut.


"Kemana?" tanya Dareen.


"ke mana ya, Dareen mau makan atau jalan-jalan ke mesjid agung?" tanya Rania. Dia melihat Dareen terdiam. "Kita ke mesjid agung aja ya, di sana kan Deket tempat makan juga. Mau?" tanya Rania mempersempit pilihan.


"Mesjid agung itu di mana?"


"Mesjid agung, kita dulu pernah ke sana dengan ibu, yang Dareen berfoto sama superhero itu!" jawab Rania.


"Mau, mau bunda ... aku mau ke sana. Besok ya!" ujarnya riang.


"Sabtu, Sayangku. Hari Sabtu aja, besok kan bunda sama ibu harus ke sekolah, Dareen juga sekolah," kata Rania.


"Yaahhh, Sabtu kan masih lama. Hari ini Kamis, Jumat, Sabtu!" gerutu Dareen.


"Enggak lama, cuma terhalang satu hari aja ko," kata Rania, merayu Sang anak.


Suara adzan magrib mulai terdengar sayup-sayup di kejauhan.


"Dareen, ayo masuk. Siap-siap ke mesjid," kata Pak Idris yang sengaja keluar rumah menyuruh anak dan cucunya masuk ke rumah.


Dareen segera berdiri mengikuti Sang Kakek masuk, sedangkan Rania membereskan Lego yang bercecer di lantai.


Pulang dari mesjid dan makan malam, Dareen membawa buku bergambar dan kotak krayon dari kamarnya ke ruang keluarga. Di sana juga telah ada Rania yang sedang bergelut dengan beberapa buku paket, kertas dan laptop.


Rania menemani Sang anak mewarnai sambil menyiapkan bahan pembelajaran untuk besok. Bukan! Dareenlah yang menemani Rania mengerjakan tugasnya!


Pak Idris dan Bu Sekar pun berada di sana. Bu Sekar seperti Rania sedang bergelut dengan laptopnya, Pak Idris membaca buku tentang agama. Namun sesekali dia ikut mewarnai bersama Sang cucu.


"Bah, nanti Sabtu kita ke mesjid!" kata Dareen.


"Sabtu? tiap waktu shalat juga kita ke mesjid!" jawab pak Idris yang belum mengerti maksud Dareen.


"Bukan mesjid yang di sini, yang di sana itu lho Abah. Masa Abah ga tau sih!" ujar Dareen. "Bunda Sabtu kita ke mesjid kan, kata bunda tadi gitu."


"Iya, mesjid agung," jawab Rania masih menatap layar laptopnya.


"Tuh, mesjid agung, Abah." Dareen mengerlingkan matanya ke arah Pak Idris.


"Abah kira mesjid dekat rumah!"


"Di sini ga ada superhero ya. Kalau di mesjid sana ada superheronya," sergah Dareen. "Bunda," panggilnya.


"Apa Sayang?"


"Coba telepon Om, dia mau ikut ga ke mesjid agung!"