Yes, It'S U

Yes, It'S U
Bab 6 Kapan Ayah Pulang?



"'Ndra, aku cuma mau ngasih tau. Ada gosip jika deasy memusuhi Rania gara-gara dia nyangka Rania suka sama kamu," bisik Rezky, tetapi bisikannya bisa terdengar oleh orang di belakangmu.


"Rania apa?" Suara gadis terdengar nyaring membekukan darah mereka.


Nalendra dan Rezky langsung berbalik. keduanya hanya berusaha tersenyum, walaupun susah.


"Eh, Liana tadi aku cariin ga nemu-nemu. Ternyata ketemu di sini," ujar Rezky mencoba mengalihkan pembicaraan, menyembunyikan rasa gugupnya.


Liana seorang yang tomboi, lebih galak dari pada laki-laki. Dia berteman dengan siapapun, tetapi kebanyakan dengan laki-laki. Sahabat karibnya adalah Habib Putra.


"Rania kenapa?" Liana mengulang pertanyaannya.


"Ga kenapa-kenapa," jawab Rezky menggelengkan kepalanya, tersenyum ngeri melihat wajah Liana yang menurutnya seperti gunung akan meletus.


"Awas Lo klo bohong!" gertaknya.


"Marah Mulu nih anak dari pagi." Habib Putra merangkul pundak Liana sambil menjitak kepalanya.


"Eh, Ontaa!" seru Liana.


"Gini, mereka bilang kalo Deasy marah, salah faham ma Rania gara-gara dia nyangkanya Rania suka ama noh," tutur Habib Putra menunjuk Nalendra dengan mulutnya.


"Wwhhhhaaaatttt?"


"Emang kamu belum denger gosipnya ya?" tanya Rezky penasaran.


"Ga mungkinlah Rania suka ma dia," ucap Liana menunjuk Nalendra yang diam mendengarkan. "orang dia dah punya cowok kali."


Nalendra tersentak kaget mendengar penuturan Liana.


"Masa sih?" celetuk Nalendra yang tidak percaya dengan perkataan Liana. Dia tidak pernah melihat Rania bersama dengan seorang laki-laki, kecuali saat di rumah sakit dulu diantar oleh saudara Liana. Dia juga tidak pernah melihat Rania dijemput laki-laki muda.


"Ya, aku juga denger katanya Rania sempat menunjukan foto cowoknya ke daesy buat nyelesaiin salah fahamnya," kata Habib Putra.


"Katanya cowoknya mirip kamu lho 'Ndra, iya kan 'Na?" lanjut Habib Putra.


Liana mengangguk pelan," Iya, makanya dulu dia pernah tanya soal dia ma aku."


"Ayo, Ky," ajak Nalendra pada Rezky. Dia tidak ingin mendengar lebih soal Rania dan pacarnya.


**Flashback off**


"Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Maaf Ergha ... Aku akan menjadikan Rania istriku," ucap Nalendra bermonolog.


Nalendra memandang ke luar jendela besar, "Cerah sekali hari ini."


"Ah iya, aku lupa bilang sama Aziz akan mengambil cuti lusa." Nalendra mengangkat gagang telepon hendak memanggil asistennya.


Aziz dengan sigap langsung mendatangi ruangan Nalendra.


"Tolong kosongkan jadwalku lusa ya. Aku pulang ke Bandung, ada acara," ucap Nalendra.


"Baik, Pak," jawabnya.


"Acara lagi, nambah lagi kerjaan gue!" gerutu Aziz dalam hati.


"Acara keluarga, pak?" lanjut Aziz penasaran.


"Belum, belum menjadi acara keluarga. Hanya acara pribadi," terang Nalendra.


"Oh, baik Pak. Kalau tidak ada lagi, saya permisi," pamitnya meninggalkan ruangan Nalendra.


Sepeninggal Aziz, Nalendra masih tersenyum-senyum sendiri mengingat perkataannya tadi, "Ya, belum menjadi keluarga, sebentar lagi," ujarnya terkekeh.


Nalendra segera memeriksa beberapa dokumen di laptopnya, beberapa kali memanggil Aziz dan sempat menghadiri meeting di luar saat makan siang. Dia kembali ke ruangannya sesudah shalat asar.


drrrtttt ... drrrtttt ...


Ponselnya bergetar di meja. Dilihat nama ibunya terpampang di layar ponsel. Segera dia angkat teleponnya.


"Assalamu'alaikum," salamnya.


"Wa'alaikumsalam," jawab ibunya di seberang telepon.


"Ada apa, Bu," tanya Nalendra.


"Hanya ingin mendengar suara kakak saja. Ibu kesepian di sini, adekmu sudah berangkat ke kosan nya lagi," ungkap Bu Shafira.


"Ya, suruh balik lagi aja Bu. Suruh dia pulang pergi aja ga usah ngekos, dulu juga aku begitu waktu kuliah. Aku kan ga ngekos," jawab Nalendra.


"Ih, kamu tuh. Pokonya Ibu kesepian, Kak!" seru Bu Shafira.


"Nanti, besok malam Kakak pulang."


"Kakak ada acara di hari rabunya. Jadi, kakak pulang Selasa malam," jawab Nalendra.


"Acara kantor?" tanya Bu Shafira lagi, penasaran.


"Bukan, acara 7 harian temen Kakak itu lho Bu yang meninggal Kamis kemarin," terangnya.


"Emang ga apa-apa ninggalin kantor buat hadirin acara 7 harian aja?" selidik Bu Shafira.


"Ya, ga apa-apa. Itu penting Bu, biar nanti kalo kakak meninggal kan banyak orang juga yang doain kakak," jawabnya dengan polos.


"Husss, kamu ini ngomong kemana aja! sergah Bu Shafira.


"Memang begitu, Bu."


"Sudah, ibu mau nonton lagi aja. Ngobrol sama kamu malah ngobrolin mati," ucapnya kesal. "sudah ya, assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam," balas Nalendra melihat layar ponselnya ternyata sudah diputuskan sepihak oleh ibunya.


Nalendra mengetuk-ngetukan ponselnya ke meja, berpikir bagaimana cara agar nanti mamanya mau menerima Rania. Dia menghela nafas pelan, "Dapet Rania-nya aja belum," gumamnya tersenyum kecut.


***


"Bunda, kapan ayah pulang?" tanya Dareen tiba-tiba.


"Dareen kangen ayah?" tanya Rania.


Dareen mengangguk, "Bunda, ayo telepon ayah. Aku mau ngasih tau kalo aku udah punya sepeda baru, jadi ayah ga usah beliin aku sepeda lagi."


Rania menatap nanar anak semata wayangnya, "Ternyata dia belum mengerti," gumamnya dalam hati.


"Sayang, nanti agak sore kita jenguk ayah yuk. Nanti abis shalat asar ya sama Abah juga," ajak Rania berusaha menahan tangisnya.


"Emang ayah sakit, Bunda?"


"Ah, enggak. Ayah ga sakit, kalo Dareen rindu ayah nanti kita ke sana," terangnya. Dareen mengangguk lagi.


"Dareen rindu ayah ya?" tanya Bu Sekar menghampiri mereka yang sedang duduk di ruang keluarga.


"Iya," jawabnya singkat.


"Dareen mau ketemu ayah?" tanyanya lagi. Dareen hanya mengangguk pelan.


"Coba cerita ke ibu, emang Dareen mau ngapain setelah ketemu ayah nanti?"


"Dareen mau bilang sama ayah ga usah beliin aku sepeda, aku 'kan udah punya. Jadi, ayah beliin aku sepatu roda aja," ujarnya dengan gaya bicara khas anak-anak seusianya.


Bu Sekar tertawa mendengar perkataan cucunya. "Oh, jadi Dareen mau sepatu roda juga. Kalo dibeliin Abah mau ga?"


"Kenapa Dareen mau sepatu roda juga, bukannya sepeda juga belum bisa yang roda dua?" potong Rania.


"Kemaren kakak Amira pake sepatu roda warna biru, Bunda. Jadi Dareen juga mau," sahutnya dengan wajah memelas membuatnya tambah gemas saja.


"Nanti bunda beliin kalo Dareen udah bisa sepeda roda duanya. Satu-satu, Sayang."


"Dareen mau dibeliin ayah aja deh, bunda ga usah beliin," rajuknya.


Rania sadar jika perkataannya tadi mungkin menyinggung perasaan anaknya. Dia segera memeluk anak semata wayangnya.


"Sayangku, bunda sayang Dareen. Nanti akan bunda atau ibu atau Abah beliin kalo udah waktunya, Oke." Rania membelai kepala Dareen lembut.


"Ibu mau dipeluk juga dong sama Dareen."


"Ehm," ucapnya sambil menggeleng dan mengeratkan pelukannya pada Rania.


Siang itu Rania dan Bu Sekar dibuat tertawa terbahak oleh Dareen. Dia memang anak yang sangat lucu, entah dari siapa dia belajar menghibur orang. Namun, Bu Sekar sangat bersyukur karena Dareenlah yang bisa membuat Rania tertawa terbahak.


"Apa ih ketawa-ketawa, ga ngajak-ngajak Om," Zyan bergabung duduk dengan mereka di ruang keluarga. Dia mendekati Bu Sekar dan merebahkan dirinya di pangkuan ibunya.


"Ih, Om 'kan udh gede," ejek Dareen tertawa.


"Biarin aja, mau ikutan sini. Tuh masih ada satu lagi," ucapnya menunjuk pangkuan Bu Sekar yang masih kosong.


Dareen setengah berlari ke arah mereka dan ikut merebahkan diri di pangkuan Bu Sekar.


"Bunda di mana?" ujar Rania dengan wajah memelas.


"Sini, Bunda." Dareen melambaikan tangannya mengajak Rania dan memintanya merebahkan diri di pahanya yang kecil.


"Ih, Dareen cakep banget sih cucu ibu ini ...." Bu Sekar tertawa kecil sambil mencubit gemas pipi Dareen.


"Abah ...!"