
Waktu terus berjalan, bahkan ketika kau ingin menghentikannya, tidak jarang juga kita menjadi takut karenanya.
Dua bulan berlalu begitu saja. Selama itu pula telah tiga atau empat kali Nalendra mengajak Dareen bermain keluar hanya berdua saja, tentu dengan izin Rania.
"Jeng, jadi pindahan?" tanya Melda, usianya tidak jauh berbeda dengan Rania.
"Iya, insyaallah," jawab Rania sambil memilih sayuran.
"Dareen juga pindah dong sekolahnya?" tanyanya lagi.
"Iya, masa aku tinggal sendiri di sini," canda Rania sambil tertawa.
"Ko ga di sini aja sih, Jeng? Nanti tuh rumah gimana?"
"Ya paling aku kontrakin. Lagian lebih baik pulang ke sana, di sana ada keluargaku yang jagain Dareen kalau di sini ga ada yang jagain!"
"Emang Situ mau kerja lagi?" tanya Bu Permata.
"Iya, Bu. Sekarang 'kan aku single Mom, jadi harus kerja buat Dareen nanti," jawab Rania sendu.
"Si Teteh moga lancar semuanya, yang sabar nya geulis." Bu permata mengelus lengan Rania lembut. Dia tahu bagaimana rasanya ditinggal suami.
Bu permata seorang janda beranak empat, tiga anaknya telah beranjak dewasa bahkan ada yang sudah berkeluarga, tinggal di bungsu yang masih berkuliah. Sehari-hari dia berjualan membuka toko sayur dekat rumah Rania, dari sanalah dia bisa menghidupi dan membiayai pendidikan anak-anaknya.
"Teteh mah masih muda, masih panjang penghidupannya. Ibu juga dulu nyampe sekarang bisa, masa teteh enggak! iya 'kan?" ujarnya tersenyum hangat.
"Iya, Bu," jawab Rania senang. "Ini Bu, jadi berapa semuanya?" tanya Rania menyodorkan sayuran yang dia pilih tadi.
Bu Permata pun menghitungnya, "34 ribu," ujarnya menyerahkan belanjaan Rania.
"Ini, Bu. Pas ya, makasi," ujarnya langsung pergi dari sana karena dia melihat Bu Herman datang. "Alhamdulillah, dah selese. Kalau enggak bisa-bisa aku ga pulang-pulang ditahan di sana ditanya-tanya!" pikir Rania.
Rumah terlihat sepi tanpa Dareen. Hari ini dia di ajak jalan oleh Nalendra sedari pagi. Nalendra meminta izin mengajak Dareen ke Ragunan.
"Sepi sekali," ujarnya begitu membuka pintu rumah. Dilihatnya kamar pak Idris yang sudah beberapa hari ini ditinggal penghuninya pulang ke Bandung.
Rania membereskan sayuran yang dia beli, memasukannya ke dalam kulkas. "Nanti aja masaknya," pikir Rania.
Dia pun merebahkan diri di kasur lantai depan tv, memeriksa sosial media miliknya, menggulir layar ponsel sampai merasa bosan.
Rania mengambil beberapa buku dan berjalan keluar rumah. "Membaca sambil menikmati teh hangat dan beberapa kue, kayanya menyenangkan," gumamnya berbalik ke dalam membuat secangkir teh dan mengambil beberapa toples biskuit.
Kini dia telah duduk di pelataran rumah. Memandang jalanan yang sepi, hanya beberapa kendaraan dan orang yang berlalu lalang. Rania tersenyum ketika melihat sekumpulan gadis SMA tertawa riang bersenda gurau dengan temannya tengah lewat depan rumah. "Mungkin dulu aku pun seperti itu," ungkapnya.
Kenangan tentang masa SMA pun terbayang di depan matanya. Rania baru beberapa bulan menjadi siswa kelas XII, satu kelas dengan teman masa kecilnya, Liana. Mereka tidak menjadi teman sebangku karena Rania sebangku dengan Eri sedangkan Liana dengan Habib Putra.
"Aku cape banget," ujar Habib Putra.
"Eh, Onta!" seru Liana. "Kerjain dulu tuh tugasnya, bentar lagi habis nih jam-nya!" ujar Liana yang melihat teman sebangkunya tertunduk di mejanya.
Baru masuk semester awal saja mereka sudah dibebani berbagai tugas sekolah. "Hari-hari yang sibuk," ujar Kevin. "Rasanya pengen cepat liburan semester lagi."
"Syukuri aja dulu. Semester ini masih sibuk tugas, semester depan sudah sibuk ujian," ucap Rangga menghela napas, Dia murid paling pintar di kelas XII. Namun, juga murid paling dihindari (kalau bisa) karena sifatnya yang rese.
"Kau benar. Hari ini Jumat ya, main yuk kemana gitu," ajak Rezky tanpa menoleh karena membaca komik, dia telah selesai mengerjakan tugasnya. "Oh iya, 'Ndra di rumahmu ga ada siapa-siapa 'kan?" tanyanya.
"Kenapa?"
"Ngeliwet yuk!"
"Emang ada yang bisa masaknya?"
"Tenang aja," kata Rezky memandang para gadis yang sedang mengobrol.
"Liana, ngeliwet di rumah Nalendra abis jumatan ya. Jangan lupa ajak yang bisa masak." Liana mengernyitkan dahinya.
"Siapa yang bisa masak?" pikir Liana karena dia sendiri pun tidak pernah memasak selain memasak mie dan telor.
Liana memandang Nena dan Eri lalu menghampiri mereka, "Hei, ngeliwet di rumah Nalendra abis jumatan. Bisa ngeliwet kan?" tanyanya ragu.
"Oklah, nanti yang lain jumatan kita belanja sayur." Nena mengangguk setuju.
"Rania, ikut ya. Ngeliwet di rumah Nalendra nanti abis jumatan, Eri juga ikut sama Nena." Liana tersenyum manis membujuk Rania agar ikut bergabung.
"Ok," jawab Riana sambil melirik Nalendra yang sedari tadi memandangnya.
"Cieee," ujar Rezky menyenggol lengan Nalendra. Dia tahu jika teman sebangkunya ini menyukai Rania.
"Shuut!" Nalendra menempelkan telunjuknya ke bibirnya, terkadang Rezky sangat menyebalkan pikir Nalendra.
Sepulang sekolah mereka berkumpul di tempat parkir sekolah mengatur rencana. "Jumatan nya dekat rumah aja, lagian rumahnya juga dekat mesjid ko!" kata Rezky yang berpikir lebih menghemat waktu.
"Onta, kamu ga ada acara ekskul?" tanya Liana.
"Enggaklah, kan udah kelas XII udah bebas. Paling nanti hari Minggu liat yang anak-anak baru," jawabnya.
"Ayo urunan-urunan!" seru Kevin yang sudah tidak sabar ingin segera pergi dari sekolah.
"Aku ga tau tukang sayur sebelah mana," ungkap Nalendra.
"Trus gimana dong, kita beli sayurannya di mana?" tanya Nena terkejut.
"Udah, gini aja. Beli sayurnya dekat sini aja, aku suka lewat kios sayur kalau ke sekolah. Deket ko dari sini," ujar Kevin.
"Bro, anterin beli sayurlah ya. Siapa aja yang mau ikut beli, dibonceng Habib sama aku." Kevin menepuk helm miliknya.
"Aku aja lah," jawab Nena. "Dini, ayo temenin!"
"Yang lain tunggu di rumah Nalendra. Jalan kaki aja Deket ko, dia juga tiap hari jalan kaki tuh!" tunjuk habib pada Nalendra yang sedang asik melihat komik. "Woy, baca Mulu!" Habib menepuk baju Nalendra lumayan kenceng.
"Aawww, apaan sih Bib!" Nalendra memegang bahu yang di tepuk Habib.
"Tuh 'kan, ini nih ... kalau udah baca komik aja lupa semua. Ayo, cepet keburu jumatan nih!" ujar Habib nampak kesal dengan kelakuan Nalendra.
"Ya, ayo!" jawab Nalendra.
"Bawa motorku ya, aku mau nganter ke warung dulu pake motor Si Dini aja," pinta Kevin.
"Napa ga pake motormu aja sih?" tanya Dini.
"Ngapain pake motor sendiri-sendiri, udah aku bonceng kamu, Nena dibonceng Habib. Ga usah bawa motor sendiri-sendiri, Ga lagu konvoi juga!" jawabnya.
"Cepet woyy!" teriak Habib yang sudah berada di motornya bersama Nena.
"Onta, aku sama siapa?" tanya Liana.
"Tuh sama Rezky, dia sendirian belum ada yang naik," jawab Habib menunjuk Rezky yang tertawa memperhatikan Dini dan Kevin berebut siapa yang bawa motor.
"Dasar, anak TK!" ucap Rezky. "Ayo, 'Na aku boncengin kemana pun kamu mau."
"Gombal banget, jadi orang!"
"Kurang satu ya motornya?" Habib mulai berpikir bagaimana cara agar semua berangkat bareng, tidak ada yang jalan ataupun tidak harus bolak-balik menjemput temannya.
"Aku sama siapa?" ujar Rania yang masih berdiri sendiri sedang teman-temannya sudah naik ke motor.
"Kamu sama Nalendra aja, pake motorku tuh. 'Ndra cepetan tuh sama Rania!" seru Kevin yang melihat Nalendra masih asik membaca komiknya.
"Apa?" tanyanya.
"Ni yang punya rumah nyante amat! cepetan nih udah pada siap. Bawa nih motorku!" ujar Kevin kesal sambil melemparkan kunci motor ke arah Nalendra.
"Rania, sama Nalendra ya. Kalau dia masih baca komik tipuk aja kepalanya biar sadar!" sindir Rezky tertawa.
Rania tersenyum melangkah ragu menghampiri Nalendra yang sudah naik ke motornya Kevin. "Ayo!" ajaknya dengan raut wajah yang sulit diartikan.