
Nalendra terkejut dengan kecupan yang diberikan Rania di pipinya, tetapi dia juga merasa senang. Dia tahu Rania merasa kesal dengan kehadiran teman-temannya yang sengaja datang untuk mengganggu mereka.
"Maaf ya," ucap Nalendra merasa bersalah pada istrinya.
"Buat a ...."Rania tidak bisa melanjutkan ucapannya, Nalendra membungkam bibir Rania dengan bibirnya. Nalendra sudah tidak mau memperdulikan lagi keadaan sekitar. Dia tidak peduli dengan teman-temannya yang melongo melihat mereka berciuman dari dalam kamar. Dia ingin teman-temannya sadar, kalau mereka telah menganggu waktu mereka yang sangat berharga.
Tidak tahukah kalian, butuh banyak perjuangan untukku bertemu istriku! gerutu Nalendra dalam hati.
Rania menunduk malu, wajahnya merona merah ketika Nalendra melepas tautannya. Nalendra menempelkan dahinya di dahi Rania. "Tidurlah di kamar Alaric," ujar Nalendra. "Ayo!"
Nalendra memegang tangan Rania, mengajaknya ke kamar Alaric yang tak jauh dari kamar Nalendra. Kamar itu sengaja tidak di kunci agar bisa dibersihkan, walaupun sedang tidak ditempati. Alaric akan kesal jika kamarnya tidak dibersihkan.
Nalendra menyalakan lampu, kamar itu sangat bersih dan wangi tidak seperti kamar seorang lelaki muda yang selalu berantakan. Interior yang digunakan pun dia yang memilih dan mengaturnya sendiri. Nuansa abu dan putih bercampur mesra di sana. Rania tersenyum saat melihat tall shelves yang memajang metal figure dan model kit.
Mungkin nanti Dareen pun akan seperti ini. pikir Rania tersenyum.
Nalendra menutup pintu kamar Alaric setelah dia membawakan pakaian Rania. Dia ingin sekali tidur bersama Sang istri, tetapi Rania menyarankan agar dia menemani teman-temannya.
Nalendra berganti baju dengan t-shirt dan celana model sport shorts. Dia merebahkan diri di tempat tidur, badannya terasa sangat lelah.
"Bro, ga mau ikut main?" tanya Bachtiar.
"Enggak, gue mau tidur!" ujar Nalendra. "Lu jauh-jauh dari Purwakarta, ngapain ada di sini?"
"Eh, Bro. Hari ini aku ke sini buatmu. Tadi magrib Rezky ngasih tau, klo lu ada di Bandung. Ini rasa sayangku sama Lu, Bro. Padahal aku dah janji mau jalan sama istri dan anakku!"
Setelah Nalendra bercerita jika dia telah menikah dengan Rania, Rezky langsung mengirim pesan pada teman-temannya. Dia memberitahu mereka tentang Nalendra dan Rania. Tentu saja, semua temannya terkejut dan langsung berkumpul di rumah Nalendra.
"Jadi ga enak aku sama istrimu," ujar Nalendra sedikit merasa bersalah, tetapi tetap saja dia masih merasa kesal karena mereka mengganggu acara malamnya.
"Makanya, Bro. Ayo jangan tidur, kita main game!" Bachtiar sedikit memaksa Nalendra. "Mengenang masa muda!"
"Bro, aku seneng kalian ke sini. Tapi juga lain kali, kasih kabar dulu. Sekarang aku udah punya istri. Kasian dia tidur sendirian, padahal kita udah beberapa Minggu tidak bertemu!" keluh Nalendra.
"Bro, Rania tuh baik. Aku percaya dia ga kesal, ga akan marah juga."
Mereka sudah tahu Rania seperti apa. Dahulu saat masih bersama Ergha, dia selalu mengizinkan Ergha ikut berkumpul, menginap di rumah nalendra. Mereka berpikir jika sekarang pun Rania akan melakukan hal yang sama.
Nalendra juga lebih menyadari tentang perasaan Rania. Mungkin dahulu juga dia merasa kesal, hanya saja dia memendamnya.
**
Rania memberanikan diri masuk ke dalam kamar Nalendra, dia harus membangunkan suaminya karena sudah lebih dari pukul 10 pagi. Nalendra dan teman-temannya tidur Kembali setelah shalat subuh.
Nalendra tidur di tempat tidur bersama Indro dan Geo. Dia berada di ujung dekat bedside table.
"Ndra, bangun!" lirihnya sambil menggoyangkan lengan Nalendra.
"Jam berapa ini?" tanya Nalendra saat berusaha membuka matanya.
"Pukul 10. Bangunlah, udah siang. Tadi Aziz menghubungi ponselmu.
"Aku tidak mengangkat teleponnya," jawab Rania.
"Kenapa?"
"Hanya tidak terbiasa aja. Mungkin lain kali klo ada telepon lagi akan aku angkat setelah mendapat izin darimu!" ujar Rania. "Bangunlah, Ini udah siang, mandi agar badan dan pikiranmu segar!" Ranai melihat Nalendra masih memejamkan matanya.
Rania kembali menepuk lengan Nalendra dan mengusap pipinya. Nalendra berusaha bangun dan duduk di tempat tidur dengan mata sedikit terpejam. Matanya perih ketika dibukakan.
"Haruskah aku cium dahulu, baru akan bangun?" tanya Rania lirih.
Nalendra tersenyum, dia menginginkannya. Namun, dia tidak mau di depan teman-temannya.
***
Nalendra telah mandi dan berganti pakaian. Dia menghampiri Dareen yang sedang menonton sambil meringkuk di sofa.
"Hai, jagoan!" sapa Nalendra, dia duduk di sebelah Dareen, mengangkat kepalanya untuk ditidurkan di pahanya. "Kenapa lemes banget?"
"Aku puasa, aku ngantuk!" jawabnya.
"Semangat dong. Nanti Daddy belikan sesuatu untuk Dareen kalau puasanya penuh," ujar Nalendra memberi semangat pada Putranya.
"Bener ya, janji. Awas kalau bohong!" jawab Dareen. "Daddy, aku pengen jalan-jalan. tapi aku mau tidur dulu. Aku cape banget, semalam aku ke mesjid sama Kakek sampai malam-malam. Jadi aku kecapean!"
"Sampai malam-malam, Dareen tidur jam berapa?"
Dareen menggedikkan bahunya, "Ga tau, aku ga ingat. Kayanya aku ketiduran di mesjid. Nanti aku mau ikut lagi sama kakek kalau bukaan di mesjid lagi!"
Nalendra mengelus rambut Dareen lembut, sampai dia tertidur di pangkuannya. "Ternyata beneran ngantuk!" ucap Nalendra ketika menyadari Dareen sudah tertidur pulas. Dia segera mengangkat Sang anak, memindahkan ke dalam kamarnya.
"Mana Dareen?" tanya Bu Shafira ketika melihat Nalendra keluar dari kamar cucunya dan menutup pintu pelan.
"Tidur, katanya di kecapean!" jawab Nalendra.
"Pastilah, semalem dia lari-lari dengan cucu Pak ustad dan anak Pak Hendrik. Mereka pada tertidur saat teraweh, lucu banget berjejer. Mungkin mereka mengira lagi kemping," ujar Bu Shafira menertawakan tingkah Dareen.
"Semalem, saat pulang teraweh, teman-temanmu datang. Mereka sudah menunggu di luar gerbang. Makanya Ibu ngirim pesan agar kalian menginap di luar!"
"Rania tidak mau menginap di luar, dia ngajak pulang," jawab Nalendra.
"Mungkin karena tidak enak, dia sedang menstruasi." timpal Bu Shafira terkekeh. "Kakak, kapan ke Singapore lagi?"
"Mungkin nanti malam, liat dulu jadwal pesawat. Kayanya, aku naik pesawat dari Husein aja biar cepet, ga cape di jalan." Nalendra mengurut tengkuknya, dia merasa lelah.
"Kak, Ibu udah nanya sama Rania. Katanya dia tidak pakai KB, dia juga cerita tidak akan ber-KB. Kakak harus semangat, jaga kesehatan biar bibitnya juga sehat!" ucap Bu Shafira pelan, tetapi membuat Sang anak meliriknya tajam.
Bu Shafira menepuk keras lengan Nalendra. "Ga usah ngeliat kaya gitu, kalau kakak sehat, bibitnya juga sehat. Jadi prosesnya juga insyaallah ga lama. Ibu ga sabar nambah cucu!" lanjutnya terkekeh.
"Bu, apa aku lebaran di Singapore aja gitu ya?" Tanya Nalendra.