
Mereka berdua terdiam cukup lama, menyelami pikiran masing-masing. Langit lembayung sudah terlihat, sebentar lagi waktu magrib tiba. Lampu-lampu di rumah seberang pun sudah mulai dihidupkan pemiliknya.
"Rania," panggil Nalendra pelan, dia memandang lurus ke depan seperti ada yang menarik di sana. "Bolehkah aku menginap malam ini di rumahmu?" tanyanya lagi beralih memandang wajah Rania yang juga memandangnya karena terkejut.
"Malam ini?" Rania balik bertanya.
"Iya malam ini." Nalendra mengangguk.
"Kenapa kamu ingin menginap di sini?" Rania mengernyitkan dahinya, tidak pernah terlintas dibenaknya Nalendra akan menanyakan hal seperti itu.
Adzan magrib berkumandang ketika pak Idris dan Dareen tiba di rumah. "Bunda, ayo cepat udah Adzan. Aku mau shalat!"
Rania berdiri dan masuk ke rumah tanpa menunggu jawaban dari Nalendra. "Menginap saat aku ada di rumah? apa dia sudah mulai gila!" batin Rania.
"Ayo, shalat dulu!" ajak pak Idris yang melihat Nalendra masih termenung duduk di pelataran. "Nak?" pak Idris menepuk pelan bahu Nalendra.
"Iya, Pak?"
"Ga baik melamun saat magrib. Ayo kita ke mesjid!" ajaknya lagi menuntun Dareen yang sudah siap dengan stelan kokonya.
Nalendra mengusap wajahnya kasar, lalu mengikuti pak Idris ke mesjid. Sepanjang jalan menuju mesjid dia masih memikirkan bagaimana tanggapan Rania tentangnya. "Seharusnya aku tidak bertanya seperti itu padanya. Dia pasti berpikiran kalau aku sudah gila. Bagaimana ini ... bagaimana jika dia tambah tidak menyukaiku?" pikir Nalendra cemas.
Pulang dari mesjid, Nalendra mengobrol santai dengan pak Idris di pelataran rumah. Teh hangat dan beberapa toples cemilan menemani mereka. Rania belum juga menampakan diri sejak masuk ke dalam untuk shalat magrib. Dareen membawa boks mainannya keluar dan menumpahkannya di teras hingga berantakan memenuhi hampir seluruh lantai.
Sampai adzan isya terdengar pun Rania tetap tidak keluar dari rumah, membuat hujan badai di hati Nalendra. Dia pun memutuskan akan pulang setelah shalat isya. Namun, diluar dugaannya satu poci kaca berukuran sedang yang berisi susu jahe berada di meja. Wanginya semerbak tercium memenuhi udara malam yang mulai dingin.
"Teh Rania yang bikin," ujar pak Idris mempersilahkan Nalendra mencicipi susu jahenya. "Tadi siang saya memintanya membuatkan susu jahe, eh ... ternyata dibuatkan juga." Pak Idris tertawa kecil.
"Pak, makan dulu." Rania berdiri di ambang pintu rumah. "Ayo, makan dulu mumpung masih anget!" ajaknya lagi.
"Mari 'Nak Nalendra kita makan dulu," ajak pak Idris. Dareen telah masuk sedari tadi pulang shalat.
Inilah pertama kali Nalendra makan malam di rumah Rania dengan makanan yang di masak oleh Rania sendiri. Biasanya mereka makan malam di luar dan ketika Rania tidak di rumah, mereka akan membelinya diluar.
Di atas meja makan sudah terdapat berbagai macam makanan, sayur sop, beberapa ikan gurame goreng, prekedel, pepes tahu, lalapan dan sambel uleknya tak lupa sebakul nasi.
Nalendra duduk di samping pak Idris, sedang Rania duduk di seberang pak Idris. Rania mengisi piring pak Idris dengan nasi, dia juga mengisi piring Dareen.
"Silahkan, maaf hanya ada ini," ujarnya, mempersilahkan Nalendra makan.
"Terimakasih," ucap Nalendra. "Ternyata dari tadi dia masak di dalam. Pantesan ga keluar-keluar!" gumamnya dalam hati. Hatinya mulai menghangat tidak seperti sebelumnya hampir membeku.
Nalendra menyukai masakan Rania. Seingatnya dulu Rania tidak pandai memasak seperti teman-temannya saat SMA. Ternyata dia banyak belajar, tumbuh menjadi istri idaman. Batin Nalendra bangga.
"Ayo, nambah lagi makannya!" Pak Idris menggeserkan piring berisi perkedel ke depan Nalendra.
"Iya, pak. Makasi," ucapnya tersipu.
"Bunda aku mau lagi itunya." Dareen menunjuk piring berisi perkedel di depan Nalendra. Rania mengambil beberapa dan menaruhnya di piring Dareen.
"Makan sayurnya, Sayang," titah Rania melihat kol dan brokoli disingkirkan Dareen ke tepi piring.
"Aku cuma suka wortel aja," ungkapnya menyuapkan perkedel ke mulutnya. Nalendra tersenyum melihat cara Rania membujuk Dareen agar makan sayur yang lain selain wortel, tetapi sia-sia saja. Dareen tetap tidak mau memakannya.
"Biar aku saja." Rania merasa tidak enak ketika Nalendra ingin membantunya membereskan bekas makan mereka. "Ga apa-apa, biar aku saja," ulangnya.
"Sudah mulai dingin," ujarnya melihat Nalendra keluar dan duduk di tempat semula.
"Malam ini tidak terlalu panas seperti kemarin," ujar Nalendra membuka percakapan dengan pak Idris. "Kemarin tuh rasanya gerah."
"Iya, malam ini agak sejuk udaranya. Mungkin karena anginnya kenceng dari tadi siang."
"Om," Dareen keluar membawa piala berukuran setengah dari tinggi badannya.
"Apa ini?"
"Aku juara om, 'kan aku pintar," ungkapnya membanggakan diri. Nalendra mengacak rambut Dareen gemas.
"Wah, selamat ya. Dareen hebat bisa dapet piala, Om ikut bangga sama Dareen." Nalendra tersenyum memegang piala. "Lomba mewarnai ya, emang kemarin Dareen menggambar apa?"
"Mewarnai celengan dari tanah." Dareen berlari ke dalam rumah dan kembali membawa celengan berbentuk kodok yang terbuat dari tanah liat.
"Bagus nya. Om juga mau dapet piala."
"Nanti kalau ada lomba lagi, aku ajak om ya," ujarnya.
"Bener ya, awas kalau lupa ga ajak om!" seru Nalendra. "Ayo simpan lagi piala sama celengannya, takut rusak."
Dareen pun masuk kembali ke dalam dan tidak keluar lagi karena sudah waktunya dia tidur.
"Pak, saya pamit pulang ya. Udah malem," ujar Nalendra.
"Oh iya, padahal ini malem Minggu. Udah nanti aja pulangnya atau nginep aja. Malam Minggu besok kita udah ga di sini lagi." pak Idris senang ada Nalendra, ada teman ngobrol.
"Hahaha, nanti aja nginepnya lain waktu." Nalendra tersenyum tak enak rasanya kalau harus menginap, terutama karena Rania juga belum memberi jawaban saat dia bertanya tadi sore.
"Mungkin besok saya belum bisa ke sini buat bantu-bantu. Nanti hari Rabu insyaallah saya ke sini lagi buat bantu pindahan."
"Tidak usah, saya jadi ga enak nanti apa-apa ngerepotin 'Nak Nalendra. Hari Rabu 'kan hari kerja, ga usah dipikirkan, ada jasa profesional yang bantu pindahan." ungkapnya.
"Ga apa-apa ko Pak, ga ngerepotin. Saya senang."
"Ya udah pak, saya pamit ya." Nalendra berdiri dan mencium tangan pak Idris.
"Katanya mau nginep?" tanya Rania melihat Nalendra sudah berjalan mendekati mobilnya.
Nalendra menoleh ke arah Rania dan tersenyum. "Lain kali saja, lain kali insyaallah aku menginap."
"Minggu depan kita udah ga di sini lagi lho," ujarnya, senang rasanya mengganggu Nalendra, melihatnya salah tingkah.
"Teh, Bapak ke air dulu ya. Nak, bapak ke dalam ya mau ke toilet." pamitnya lalu cepat-cepat masuk ke dalam rumah. Rania memandang bapaknya yang telah masuk. "Pasti hanya akal-akalan bapak saja, dasar!" pikir Rania menghela napas sebal.
Rania mendekati Nalendra yang sedang membukakan pagar. "Yakin ga mau nginep?" Nalendra sampai terkejut melihat ada Rania di belakangnya.
"Astaghfirullah, aku kira siapa!"
"Emang wajahku kaya hantu ya, nyampe kaget segitunya!" Rania cemberut.
Nalendra mendekati Rania, dia memegang pipi Rania dengan kedua tangannya. "Kamu cantik ko, kalau bisa aku ingin melihat wajahmu yang menggemaskan ini setiap hari."