Yes, It'S U

Yes, It'S U
Bab 72



"Apa kamu merasa ga nyaman bersamaku?" tanya Nalendra.


"Bukan seperti itu. Hanya ... sebenarnya aku merasa tidak enak padamu. Kenapa kamu malah pulang ke rumahku bukan ke rumah orangtuamu?"


"Karena aku merindukanmu, aku sangat merindukanmu," jawab Nalendra sambil melirik Rania yang tertegun mendengar penuturannya.


"Apa?" Rania membulatkan matanya. "Harusnya kamu lebih merindukan orangtuamu dibanding kami," ujar Rania.


"Aku juga merindukan mereka. Ayolah, nanti juga aku pulang ke rumah orangtuaku. Aku akan beberapa hari berada di Bandung. Selama di Bandung aku juga bisa melihat mereka, tapi aku belum tentu bisa melihatmu dan Dareen," bisik Nalendra, dia tidak mau sampai Dareen mendengar perdebatan mereka.


Mereka tiba di rumah Rania di Bekasi lebih dulu dibanding Zyan.


"Ah, itu mereka," Ujar Rania melihat bus mini dengan banner cleaning servis.


"Kamu memanggil jasa, bukan kita yang akan membersihkan rumahnya?" tanya Nalendra.


"Ehm, kamu mau membersihkan rumah yang sudah tidak ditinggali sebulan?" tanya Rania mengernyitkan dahi. "Kalau aku enggak mau!"


"Ah, syukurlah. Aku juga enggak mau!" jawab Nalendra. "Kalau begitu, aku bisa tidur di mobil," gumamnya.


"Tidurlah, aku tau kamu cape. Pasti ngantuk banget, terlihat jelas dari matamu," kata Rania memandang Nalendra, kasian.


Nalendra tersenyum. "Senangnya diperhatikan olehmu," ujar Nalendra penuh percaya diri.


Rania mengerlingkan mata, melirik pria yang sedang berdiri di sampingnya itu. "Kamu sungguh pede sekali. Itu bukan bentuk perhatian, tapi aku merasa kasian melihat wajahmu yang lelah!"


"Tetap saja, kamu merhatiin aku," jawab Nalendra tersenyum.


Seorang petugas cleaning servis menghampiri Rania dan Nalendra. "Maaf, Bu. Saya Neo yang ditugaskan dari PT. CS. Apa kita bisa mulai sekarang?" ujarnya.


"Oh, iya Pak. Mari," Rania mempersilahkan para tukang untuk segera menyelesaikan tugas mereka mengingat hari sudah siang.


Matahari lumayan terik hari ini, Dareen tidak mau keluar dari mobil. Dia merasa kepanasaran di luar, mungkin sudah mulai terbiasa dengan udara sejuk di Bandung. Setidaknya walaupun panas, tidak sepanas di Bekasi.


Nalendra menemani Rania melihat pekerja yang mulai membersihkan rumahnya. Dia tidak mungkin meninggalkan Rania sendirian, memantau para pekerja. Zaman sekarang, harus lebih berhati-hati dengan orang asing. Bukan berarti suuzan, hanya harus lebih waspada.


"Teh, mana Dareen?" tanya Pak Idris yang baru datang.


"Ada di mobil, dia enggak mau keluar. Gerah katanya!" ujar Rania mengadu.


Pak Idris tertawa. "Dasar, padahal bulan lalu dia masih tinggal di sini. Baru sebulan udah bilang Bekasi panas," jawab Pak Idris.


"Kalau gitu, aku ke mobil ya." Nalendra meminta izin pada Rania.


"Ke mobil lah, istirahat."


"Pak, Bu. Saya istirahat dulu," ucap Nalendra pada Pak Idris dan Bu Sekar.


"Silahkan 'Nak," jawab Pak Idris ramah.


Nalendra kembali ke dalam mobil untuk beristirahat. Dia juga meminta izin pada Dareen untuk tidur di sampingnya. Dareen mengangguk setuju, dia memeluk Nalendra yang telah berbaring, menepuk-nepuk dadanya agar cepat tertidur.


"Teh, yang mau orang yang mau ngontrak rumah, kapan datang?" tanya Bu Sekar.


"Nanti sorean, kenapa?"


"Apa kita ke rumah Pak Darmawan dulu gitu?" tanya Bu Sekar lagi. "Ini lama ga bersihinnya? kalau lama kita tinggal aja, atau suruh Zyan nemenin di sini."


"Kita liat abis duzur aja. Tanggung, bentar lagi duhur. Zyan sama Nalendra juga baru tidur, kasian pusing kalau dibangunkan sekarang," jawab Pak Idris.


Dari luar terdengar suara wanita memanggil Rania. Rania pun keluar melihat sumber suara tersebut. "Eh, ibu. Ada apa?" tanya Rania melihat Bu Pertama.


"Enggak apa-apa, Ibu liat ada banyak orang di sini. Makanya ke sini ngeliat, Alhamdulillah ternyata Teteh dateng," ungkapnya.


"Teteh mau pindah ke sini lagi?" tanyanya antusias.


"Oh, bukan. Alhamdulillah, ada yang mau ngontrak Bu. Makanya dibersihkan dulu," jawab Rania.


"Teh, tadi ibu liat si Aa yang ganteng lagi. Dia juga ikut ya?" tanya Bu Pertama mulai menyelidiki.


"Aa ganteng, siapa Bu?"


"Yang dulu suka dateng ke rumah waktu Teteh di sini. Kata Teteh dulu, dia saudaranya Aa Ergha," jawabnya.


"Saudara Ergha?" rania mengernyitkan dahi berpikir siapa yang dimaksud oleh Bu Permata.


"Itu, tadi dia masuk mobil itu," ujar Bu Permata menunjuk mobil warna hitam doff.


"Nalendra, iya dia ikut," jawab Rania, berharap Bu Pertama cepat pergi. "Oh, iya. Ibu apa kabar, maaf jadi lupa nanya kabar." Rania segera mengalihkan pembicaraan.


"Alhamdulillah, baik, Teh. Yang ngontrak, kapan mulai tinggal di sini?"


"Nanti sore katanya, Bu. Cuma untuk kapan tinggalnya, saya kurang tau. Tenang saja, dia masih teman saya ko, Bu."


"Oh, jadi yang mau ngontrak rumah, temen Teteh ya. Syukurlah, kalau Teteh sudah kenal," jawab Bu Permata.


"Teh, udah Adan. Abah ke mesjid dulu," ucap Pak Idris, dia berjalan ke arah mobilnya untuk membangunkan Zyan. "Teh jangan lupa." Pak Idris menunjuk ke mobil Nalendra.


"Kalau gitu, ibu permisi dulu ya. Ada yang beli," ujarnya bergegas pulang ketika ada yang berteriak memanggilnya dari warung.


Rania mengangguk, lalu segera membangunkan Nalendra. Dareen sudah terlebih dahulu pergi ke mesjid bersama Pak Idris.


"Iya, aku bangun." Nalendra membuka mata dan berusaha duduk untuk menghilangkan kantuk. "Dareen?"


"Udah duluan sama Bapak," jawab Rania. "Bangunlah, shalat dulu. Habis shalat mungkin kita akan ke rumah orangtua Ergha."


Sebenarnya, Nalendra agak malas ikut ke rumah orangtua Ergha. Namun, apa boleh buat dia harus tetap ikut. Dia tidak punya alasan untuk tidak ikut.


Pak Darmawan baru saja selesai makan siang ketika keluarga Pak Idris sampai di sana. Rania membukakan gerbang rumah yang tidak digembok.


"Assalamu'alaikum," ucapnya mengetuk pintu rumah yang tertutup.


"Wa'alaikumsalam, Teteh. Ko ga bilang-bilang mau ke sini." Bu Darmawan begitu senang melihat Rania yang tiba-tiba muncul di balik pintu rumahnya.


"Iya, Bu. Sekalian bersihin rumah, ada yang mau ngontrak. Minggu kemarin Rania sudah bilang ke Ibu," jawab Rania.


"Oh, iya. Lupa, harap maklum udah tua," ucap Bu Darmawan terkekeh. "Mana Dareen?" Bu Darmawan langsung keluar rumah mendengar beberapa suara termasuk suara Sang cucu kesayangan.


"Cucu Oma," panggil Bu Darmawan ketika melihat Dareen dituntun Nalendra. "Oma kangen!"


Dareen melihat Nalendra dan berlari ke arah Bu Darmawan setelah mendapat anggukan. Mereka saling berpelukan, Bu Darmawan membelai rambut Dareen lembut.


Benar-benar mirip ayahnya, gumam Bu Darmawan dalam hati.


"Mari masuk, Pak, Bu." Bu Darmawan mempersilahkan mereka masuk. "Saya panggil dulu bapaknya, barusan baru saja naik," ujarnya berlalu memanggil Sang suami.


Tidak berapa lama, Pak Darmawan keluar menyapa keluarga Pak Idris. "Apa kabar, Pak?" tanya pak Idris pada Pak Darmawan.


"Alhamdulillah, baik. Ibunya juga kemarin ngajak main ke sana, eh ternyata keduluan Bapak yang main ke sini," ujar Pak Darmawan tersenyum.


"Maaf, saya malah mengganggu waktu istirahatnya ya?"


"Enggak ko. Saya baru saja makan siang, baru naik ke kamar. Istri saya datang ngasih tau kalau Dareen datang katanya. Saya tidak sedang istirahat," jawab pak Darmawan.


"Oh, Nalendra ikut juga?" tanya pak Darmawan yang baru melihat Nalendra duduk bersama Zyan dan Dareen.