
Rania terbaring lemah di tempat tidur. Sudah dua hari ini, dia merasa pusing dan tidak bertenaga. Nalendra pun mengambil cuti karena tidak tega meninggalkannya sendirian di apartemen. Dareen berangkat ke sekolah dan akan pulang lewat tengah hari.
"Kita ke dokter ya." Nalendra berusaha membujuk Rania.
"Maaf, ya. Sebentar lagi sembuh ko, aku hanya butuh istirahat saja."
Nalendra ikut berbaring di samping Rania dan memeluknya. "Ayo, kita ke dokter. Aku sangat khawatir melihatmu seperti ini!"
Rania tersenyum lemah, dia memegang tangan Nalendra yang berada di atas perutnya. "Aku baik-baik saja, hanya butuh istirahat."
Rania pernah mengalami hal ini, ketika dia terlalu kelelahan dan stress karena ditinggal Ergha meninggal. Perbedaannya, saat itu dia mengalami demam tinggi, sedangkan sekarang tidak, badan hanya lebih hangat sedikit dari biasa!
Mungkin aku kelelahan dan stress karena Liana! pikirnya.
"Baiklah, setelah itu kamu harus makan. Makanan apapun yang kamu inginkan akan aku belikan. Maaf, tidak semua menu dapat ku buat."
"Benarkah?"
"Iya, katakan saja kamu mau makan apa. Nanti akan aku buatkan, tetapi jika aku tidak bisa membuatnya akan aku belikan."
"Aku ingin makan sup iga."
"Sup iga?" Nalendra mengernyitkan dahi, memikirkan di mana dia harus membeli sup tersebut. "Selain sup iga, makanan apa lagi yang ingin kamu makan?"
"Tidak ada! Aku ingin sup iga, sepertinya enak dan hangat. Apalagi sup buatan Mama, aku ingin sup buatan mamaku!" Rania sedikit merengek.
"Iya, nanti kalau kita pulang, aku akan meminta Mama Sekar membuatkan sup iga untukmu. Sekarang beli yang ada di sini saja ya. Tenang saja makanan di sini juga enak-enak ko."
"Aku lelah, aku ingin tidur!" ketus Rania.
"Mau aku buatkan jus?"
Ehm, kenapa dia tiba-tiba seperti itu? apa ada yang salah dengan ucapanku? batin Nalendra.
"Ya udah, beristirahatlah. Hari ini aku akan menemanimu 24 jam!" ujar Nalendra.
Setelah Rania tertidur, Nalendra segera keluar dari kamar mereka. Dia akan membuat sup seperti yang Rania inginkan.
Hampir dua jam kemudian, sup buatan Nalendra sudah jadi. Dia membawa semangkok sup ke dalam kamar untuk Rania.
"Ayo, makanlah!" Nalendra menyimpan nampan berisi semangkok sup tersebut di meja dekat tempat tidur.
Rania baru saja membuka matanya, badannya masih terasa lemah. Nalendra membenarkan posisi bantal Rania agar dia bisa duduk bersandar pada tumpukan bantal.
Nalendra dengan telaten menyuapi Nalendra. Namun, baru saja beberapa suap, Rania sudah berhenti. Dia setengah berlari ke arah kamar mandi.
Nalendra membantu Rania, memapahnya kembali ke tempat tidur.
"Ayo, kita ke dokter!" ajak Nalendra.
"Nanti saja pulang Dareen. Kasian dia kalau pulang tidak ada yang menjemputnya di bawah."
"Baiklah, kita tunggu Dareen. Pokonya hari ini, aku akan membawamu periksa ke dokter. Aku sangat khawatir melihatmu lemas seperti ini, apalagi ditambah muntah."
Rania tersenyum lemah, dia sangat bersyukur ada Nalendra di sampingnya.
Nalendra menyuapi Rania sedikit demi sedikit bubur yang dia pesan online sebelumnya. Tiap kali satu atau dua suap, Nalendra akan berhenti menyuapkan bubur ke Rania, beberapa menit kemudian dia kembali menyuapinya. Kalau tidak seperti itu, Rania akan kembali memuntahkan makanan yang sudah dia makan.
Wajah Rania memucat, wajah yang kelelahan karena terus memuntahkan makanan, membuat Nalendra semakin khawatir.
"Ayo, ke rumah sakit sekarang, Dareen biar Aziz yang akan menjemputnya!"