Yes, It'S U

Yes, It'S U
Bab 140



Liana masih berada di rumah keluarga Nalendra, meskipun Rania tidak menemuinya kembali. Begitu pun dengan Nalendra dan teman-temannya, tidak ada yang berani menghampiri dia. Nalendra menyusul Rania ke dalam, sedangkan teman-temannya pulang ke rumah masing-masing.


"Liana ada di sini?" Pak Idris yang baru saja datang menyapa Liana.


Bu Sekar pun duduk di sebelah Liana. "Udah lama? udah ketemu Rania?" tanyanya bertubi-tubi.


"Sudah, tadi."


"Ayo atuh ke dalem! Atau lagi nunggu seseorang?"


"Saya lagi nunggu Nalendra, Bu. Dia yang meminta saya ke sini, tadi Rania ke dalam buat manggil Nalendra. Mungkin sebentar lagi dia datang."


"Oh, begitu. Kalau gitu ibu ke dalam dulu ya." Bu Sekar menghela napas, dia tidak mungkin melanjutkan obrolan dengan Liana. Dia tidak ingin tensi darahnya naik gara-gara hal yang belum jelas.


Bu Sekar masuk ke dalam rumah, Pak Idris telah terlebih dahulu masuk. Dia melihat sang suami sedang asik mengobrol dengan pak Sulaiman, Abah Danu, dan beberapa keluarga yang lain. Bu Sekar segera menghampiri Bu Shafira untuk menyapa besannya itu.


"Rania mana ya, Bu?" tanya Bu Sekar. Dia ingin segera memberitahu soal Liana dan maksud perkataannya.


"Teteh lagi istirahat. Tadi dia kelihatan lelah, jadi saya suruh ke kamar buat istirahat. Kasian dari semalem kurang tidur." jawab Bu Shafira.


Bu Sekar mengangguk, "Kalau begitu, saya izin ke kamarnya dulu, Bu."


"Silakan, Bu."


Bu Sekar sudah tau letak kamar Nalendra dan Rania. Dia bergegas berjalan menuju kamar sang anak. Dia pun mengetuk pintu kamar terlebih dahulu.


"Ya, sebentar." suara nalendra terdengar dari dalam kamar. "Eh, Mama udah dateng."


"Rania mana?"


"Ada, dia lagi rebahan. Katanya sedikit lelah." Nalendra membukakan pintu kamarnya, mempersilakan Bu Sekar untuk masuk ke dalam.


"Teh, sehat?"


Rania melihat Mamanya berjalan mendekat, dia pun bangun dan duduk menyender di kepala tempat tidur. "Mah."


"Lemes banget ga?"


Nalendra duduk di sofa tak jauh dari tempat tidur. Dia memperhatikan wanita dua generasi itu berbincang.


"Mama lihat Liana di bawah!"


"Dia masih ada di sana?" tanya Rania tersentak. Dia mengira jika Liana sudah pulang setelah ditinggal pergi olehnya tadi.


"Masih, katanya lagi nunggu Aa.


"Nunggu aku?" Nalendra juga tak kalah terkejut. "Mau apa katanya?"


"Yeh ari Aa, kata Liana Aa yang nyuruh dia ke sini!"


"Aku ga nyuruh dia ke sini, Mah. Beneran!"


"Liana juga bilang katanya Teteh masuk ke dalem buat manggil Aa. Tapi ga dateng-dateng!" terang Bu Sekar. "Sebaiknya Aa sama Teteh sediain waktu ngobrol dengan Liana. Nanti biar ditemani Bapak sama Mama atau Ibu. Nanti, Mama telepon Bu Ratna biar ikut ngedamping Liana biar ga merasa dikroyok."


"Buat apa?" tanya Rania. Dia merasa lelah kalau harus berbicara lagi pada Liana.


"Mama ga tau ada masalah apa antara kalian. Tapi ini harus segera diakhiri, Teh. Mama ga mau dia berbicara yang ga jelas lagi soal kalian!"


"Baiklah, biar saya yang berbicara nanti dengnnya. Tentu saya akan mengajak bapak dengan ayah buat menemani saya. Sepertinya, dia memang salah paham dengan sikap saya. Walaupun dari dulu saya sudah berbicara jelas dengannya."


"Iya, A. Bukan apa-apa, cuma Mama tuh kasian liat dia. Rasanya melas banget gitu A!"


"Maafkan saya, Mah. Gara-gara saya, Mama sama bapak terutama Rania harus menghadapi hal yang ga jelas model begini!"


"Ga apa-apa. Mama sama bapak tahu Aa dan Teteh seperti apa. Kami tahu Aa tidak pernah berhubungan lebih dari teman dengan Liana!"


Hampir satu jam kemudian, Nalendra keluar dari rumah setelah bermusyawarah terlebih dahulu dengan Pak Idris dan ayahnya juga Abah Danu. Mereka sepakat akan berbicara hari ini dengan Liana, lebih cepat lebih baik. Bu Ratna pun telah di hubungi oleh Bu Sekar dan menyetujui bertemu di luar.


Bu Sekar membujuk Liana untuk ikut dengannya. Namun, seperti membujuk anak kecil, sangat sulit sekali. Akhirnya Nalendra pun menghampiri Liana dan mengajaknya mengobrol di luar, tidak di rumah keluarga Nalendra.


"Tentu, ayo. Aku menunggumu dari tadi, aku kira kamu tidak akan keluar gegara Rania melarangmu!" ungkap Liana. Wajahnya berseri, seperti anak kecil yang mendapat apa yang dia inginkan.