Yes, It'S U

Yes, It'S U
Bab 74



"Maaf aku tidak bisa datang ke acara pindahanmu. tidak apa-apa 'kan?" ujar Rania.


"Enggak masalah, aku tahu kamu ngajar lagi. Jangan lupa undang-undang aja nanti," ujarnya sambil melirik Nalendra.


"Undang-undang apaan coba!" gerutu Rania. Alice tertawa melihat raut wajah Rania. Dia bersyukur Rania bisa segera move on.


Rania melihat Alice pergi bersama Sang suami menaiki motor. Mereka sangat romantis, Alice memeluk erat suaminya.


"Mereka romantis ya?" ujar Rania meminta persetujuan Nalendra.


"Kamu mau seperti itu? nanti aku akan bawa motor kalau ke rumahmu." jawab Nalendra.


"Buat apa?"


"Buat kita jalan, kali aja kamu mau boncengan sama aku," ujar Nalendra terkekeh.


"Motor?" Rania mengernyitkan dahi menatap Nalendra. "Nanti masuk angin baru tau rasa!" Nalendra tertawa mendengar perkataan Rania. "Jangan tertawa, ayo cepat bereskan. Kita harus pulang!" Rania segera menepis bayangan dia berada di belakang Nalendra menaiki motor.


"Rania, apa tidak sebaiknya kita shalat dulu di sini?"


"Nanti aja sekalian di mesjid pinggir jalan. Aku tau ada masjid sebelum masuk tol. Masjidnya sangat nyaman," jawab Rania.


Mereka pun berangkat menuju masjid tersebut. Ketika mereka sampai, para jamaah shalat magrib sudah selesai. Mesjid itu sangat besar. Di sana tersedia tempat parkir yang luas, mungkin karena di pinggir jalan. Pohon palem tertanam dan ditata di beberapa sudut mesjid. Bunga-bunga dengan berbagai warna juga menghiasi halamannya.


Rania duduk di teras masjid menunggu Nalendra yang masih berada di dalam. Udara sejuk dari angin yang bertiup mesra membuatnya beberapakali menguap. Rania menelengkupkan kepalanya di atas lutut berbantalkan kedua tangan.


"Ngantuk?" tanya Nalendra yang duduk di sampingnya. Jarak duduk mereka hanya beberapa senti saja.


Rania menengadah, melihat Nalendra yang sedang tersenyum menatapnya. "Sedikit," jawabnya singkat.


"Kita istirahat sebentar di sini," ucap Nalendra yang dibalas anggukan oleh Rania.


Bukan tanpa sebab Rania menyetujuinya. Dia tahu Nalendra pasti merasa lelah setelah perjalanannya, dia juga hanya tidur tidak lebih dari dua jam tadi siang. Memang dia bisa saja menggantikan Nalendra mengemudi, tetapi entah kenapa Rania merasa tubuhnya agak lelah dan enggan untuk mengemudi.


Mereka berpindah ke dalam mobil karena di luar banyak nyamuk yang beterbangan. Selain itu, banyak orang yang datang untuk beribadah.


"Ndra, boleh aku tanya sesuatu?" tanya Rania setelah duduk dan menyamankan diri di dalam mobil.


"Apa?"


"Kamu pernah bilang kalau kamu belum pernah pacaran, tapi tiba-tiba aku ingat kalau aku pernah dengar dulu, teman-temanmu pernah bilang jika kamu menyimpan foto seorang gadis di dompetmu. Apa kalian LDR sepertiku dulu dan merahasiakan hubungan kalian?"


Nalendra menatap mata cokelat Rania, mata yang selalu dia rindukan. Dia mengeluarkan dompetnya dari kantong, membukanya dan mengambil selembar foto yang terselip di sana.


"Ini," ujar Nalendra memberikan selembar foto tersebut pada Rania.


"Ini, wajahnya tidak terlihat. Kenapa menyimpan foto kaya gini?" tanya Rania menatap Nalendra lekat. Dalam foto tersebut terlihat seorang gadis berhijab hitam sedang berdiri, Foto tersebut diambil dari belakang tubuh gadis itu.


"Iya, ini fotomu," ujarnya.


"Apa? kapan, di mana?" tanya Rania yang merasa jika gadis dalam foto tersebut bukanlah dirinya.


Nalendra mengambil satu lembar lagi foto di dalam dompetnya. Foto seorang gadis dengan background yang sama, tetapi kali ini terlihat wajahnya yang sedang tertawa bersama teman-temannya.


Rania membandingkan foto tersebut. Ya, foto dirinya dengan menggunakan pakaian dan hijab yang sama.


"Di mana ini?" tanya Rania yang tidak mengingat background dalam foto tersebut.


"Di pantai Parangtritis."


"Parangtritis ya. Benarkah, itu kan udah lama sekali. Kelas XI SMA?" Rania tersentak menatap Nalendra lekat.


Nalendra mengangguk pelan. "Iya, udah lama banget ya!" jawab Nalendra tersenyum.


"Kenapa kamu menyimpannya?"


"Entahlah, Terkadang aku berniat mengeluarkannya dari dompetku. Tapi selalu saja lupa. Ketika aku mengganti dompet, entah kenapa foto itu selalu aku selipkan kembali di dompet baruku," ungkapnya.


Rania tersenyum, hatinya menghangat mendengar penuturan Nalendra. Dia masih tidak percaya, bagaimana mungkin Nalendra menyimpan fotonya selama itu.


"Aku hanya menyimpan foto yang itu," jawab Nalendra menunjuk foto seorang gadis yang diambil dari belakang tubuhnya.


"Lalu, ini?" Rania mengacungkan selembar foto dirinya bersama teman-temannya.


"Itu baru beberapa bulan yang lalu aku selipkan."


"Kenapa kamu ga pernah mengungkapkan perasaanmu?" tanya Rania.


"Bukannya aku mengungkapkan perasaanku beberapa Minggu yang lalu?" tanya Nalendra mengernyitkan dahi. Apa dia lupa? pikir Nalendra.


"Bukan, maksudku kenapa kamu ga bilang dari dulu?"


"Mana aku berani! Bukankah saat SMA kamu sudah punya pacar. Udah pasti aku di tolak seperti yang lain," sergah Nalendra.


Rania mengatupkan bibirnya menahan tawa. Dia menghembuskan napas pelan.


Ya Allah, dia lucu sekali. Nyampe segitunya perasaannya padaku! gumam Rania dalam hati.


"Terus saat aku putus? kata Ergha dia cerita semua sama kalian, tentang aku yang nangis-nangis!" Sebenarnya Rania cukup kesal saat tahu Ergha menceritakan tentang dirinya yang meneleponnya sambil menangis karena putus dari Nata.


"Saat itu perasaanku campur aduk antara kasian dan senang. Kasian karena kamu pasti sedih, senang karena akhirnya kamu putus dan yang lebih senang lagi saat tahu kamu sering misscall aku," tutur Nalendra.


"Bukan aku yang misscall!"


"Aku tahu, tapi aku senang dapat nomor teleponmu."


"Kamu ga pernah menghubungiku?" tanya Rania dengan cepat.


"Aku ingin menghubungimu, tapi Ergha bilang jika dia suka sama kamu. Jadi aku urungkan niatku lagi," jawab Nalendra.


Tanpa sadar Rania mengelus kepala Nalendra pelan. Dia langsung menarik tangannya begitu dia sadar dan menunduk malu.


Ya, Allah. Apa yang aku lakukan! pikirnya.


"Rania, kamu belum memberiku jawaban tentang pernyataanku beberapa Minggu lalu?" tanya Nalendra memandang Rania yang masih menunduk. "Sebenarnya aku bisa memberimu waktu sebanyak waktu yang kamu butuhkan untuk memikirkannya."


"Lalu, kenapa kamu menanyakannya sekarang?


"Orangtuaku hanya memberi waktu sampai sebelum puasa," jawab Nalendra.


"Ndra, aku janda lho punya anak juga. Apa keluargamu tidak keberatan dengan itu semua?"


"Orangtuaku tidak akan keberatan dengan pilihanku. Aku yang akan menjalani rumah tangga bersamamu. Mereka sudah tahu jika aku menyukaimu," tutur Nalendra.


"Ndra, bukankah masih ada satu Minggu lagi sebelum puasa?" tanya Rania. "Ndra, kenapa aku harus menjawab pertanyaanmu?" keluh Rania yang tiba-tiba merasa kesal.


Nalendra terdiam, dia menatap Rania dengan sejuta ekspresi hingga sulit mengartikannya. Rasa sesak tiba-tiba memenuhi dadanya.


Apa itu artinya dia menolakku? tanyanya dalam hati.


Cukup lama mereka terdiam tidak berkata-kata.


"Kenapa kamu diam saja?" tanya Rania memecah kesunyian dalam mobil karena di luar benar-benar tidak sunyi, banyak suara kendaraan berlalu lalang.


"Aku ga tau harus berkata apa," ujarnya. "Aku janji akan ada buat Dareen. Kalau ada sesuatu kamu bisa menghubungiku, kapan saja," jawabnya.


"Maksudmu?" tanya Rania yang tidak mengerti perkataan Nalendra.


"Ya ga apa-apa. Aku tau kamu menolakku 'kan?"


"Aku ga bilang gitu!" jawab Rania.


"Bukannya tadi kamu bilang, kamu ga mau menjawab pertanyaan ku?"


"Kenapa aku harus menjawab pertanyaan kaya gitu. Bukankah kita bukan anak sekolah atau kuliahan lagi yang harus menjawab iya atau tidak. Kalau aku menolakmu, aku ga akan mau semobil denganmu, aku pasti menolak pergi denganmu dan menjauh darimu!" jawab Rania kesal. Dia menarik napas pelan meredam rasa kesal dalam hatinya.