
Rania kembali memutar video dari jam 7 malam, 8 malam dan jam 9 malam mencari tahu kapan dia datang ke rumah.
"Apa aku harus bertanya pada Bapak?" tanyanya dalam hati. "Biarkan sajalah, nanti aku juga yang disangka negatif mulu!" gerutu Rania melempar sembarang ponselnya ke tempat tidur.
Rania membuka lemarinya, dilihat tumpukan baju Ergha yang masih tersusun rapi di sana. Dia menatapnya lama tumpukan itu, mencoba melawan rasa sedih yang tiba-tiba hinggap di pikirannya. Rania segera mengambil koper besar yang tersimpan rapi berdiri di sudut kamar dekat lemari yang lain.
Koper besar itu dibukanya perlahan, ada rasa segan terselip di hati. Namun, dia bertekad akan menyelesaikannya hari ini, membereskan semua baju-baju Ergha.
Tumpukan pertama telah diambilnya, satu persatu dia masukan ke dalam koper besar. Air mata mulai mengalir ke pipi, Tak ada gunanya terus bersedih memikirkan matahari yang tentu akan tenggelam di sore hari bukan? Itulah kalimat yang membuatnya kuat menahan godaan kenangan yang datang.
Kini lemari itu kosong, tumpukan kaos t-shirt dan celana juga belasan kemeja dan baju batik yang tergantung telah berpindah tempat. Rania mendorong dua koper besar ke tempatnya semula, beberapa totebag dia masukan kembali ke lemari kosong tadi.
"Ayo selesaikan!" melihat ke arah meja kamar mandi.
Rania mengambil totebag kosong kembali, mulai mengisinya dengan sikat gigi, sampo, sabun, deodorant, lotion dan peralatan cukur milik Ergha. Kini hanya ada milik Rania yang mengisi rak mandi dan meja riasnya. Dia menyimpan totebag itu di lemari tadi bersama totebag yang lain.
"Bunda, lama banget mandinya," ujar Dareen ketika melihat Rania keluar dari kamarnya.
"Bunda ketiduran, maaf ya," jawabnya. "Dareen lagi main apa?"
"Bunda ayo main Legoan!" ajak Dareen langsung berdiri mengambil boks berisi Lego tanpa menunggu jawaban dari Rania.
"Abah mana?" tanya Rania.
"Tadi ke kamarnya, mungkin tidur," jawab Dareen menunjuk ke arah kamar pak Idris.
"Dareen tadi pagi sarapan apa?" tanya Rania lagi mulai memancing obrolan.
"Ehm, Bunda bantuin aku. Ini berat banget sih!" Dareen mendorong boks Lego. Rania berdiri dan membantunya menarik boks Lego tersebut.
"Sini aja ya." Dareen langsung menumpahkan isi boks tersebut hingga berserakan di atas karpet.
"Mau buat apa?"
"Bunda buatin aku pesawat," pintanya.
"Oke," jawab Rania. "Sayang, bunda agak lemes. Tadi pagi bunda cuma sarapan roti aja sedikit. Dareen keliatan ga cape padahal baru pulang sejam yang lalu dari sekolah. Dareen tadi pagi sarapan apa sih?" tanyanya berusaha memancing kembali obrolan dengan Sang anak.
"Dareen makan nasi goreng aja," jawabnya.
"Pantesan Dareen ga lemes, makan nasi goreng sih ya. nasi goreng buatan Abah pasti enak ya? Bunda mau," ujar Rania.
"Iya emang enak, Dareen tadi nambah lho bunda," ucapnya tersenyum.
"Ah, bunda ga kebagian deh."
"Tinggal buat lagi!"
"Iya, besok bunda mau minta Abah buatin nasi goreng yang kaya Dareen makan tadi pagi." mulai kesal karena Dareen tidak bercerita tentang Nalendra.
"Dareen," kata Rania. "Kemarin jadi telepon Om Nalendra?" tanyanya mulai memancing kembali.
Dareen hanya mengangguk, dia terlalu sibuk menyusun legonya.
"Dareen cerita apa aja?"
"Apa ya, lupa," jawabnya singkat. "Bunda, ini aku buat gedung. Bagus enggak?" tanyanya.
"Bagus," jawab Rania singkat. "Nanti malam bunda mau nemenin Oma lagi ya. Oma masih sakit," ujar Rania meminta izin pada anaknya.
"Ya udah," jawabnya singkat.
"Dareen ga marah?"
"Enggak, aku 'kan udah besar bunda," jawab Dareen masih mengutak-atik legonya.
Rania tertidur di karpet depan tv karena kesal Dareen tidak mau bercerita tentang Nalendra yang menginap di rumahnya, sementara Dareen masih bermain dengan mainannya di samping Rania.
"Bunda tidur?" tanya pak Idris yang baru keluar kamarnya.
Dareen melirik ke arah Rania kemudian mengangguk. "Abah, kata bunda nanti malam mau nemenin Oma lagi. Dareen sama Abah lagi," ujarnya sendu.
"Iya, Dareen sama Abah dulu ya. Kasian Oma ga ada yang jagain."
"Abah, telepon Om lagi ya," ujar Dareen, matanya berbinar senang.
Pak Idris langsung mengangkat jari telunjuknya dan menempelkannya di mulut. "Shuutttt." ujar pak Idris pelan sambil melihat ke arah Rania. "Jangan keras-keras nanti bunda dengar," bisiknya.
"Hampir saja," gumamnya.
"Dareen, bunda berangkat ya." Rania menenteng travel bag kecil berisi baju ganti dan totebag berisi makan malamnya.
Dareen berlari ke arah Rania dan memeluk kakinya. "Bunda jangan lupa besok jemput aku ya," pintanya.
"Iya, insyaallah bunda jemput, tapi kalau bunda ga bisa Dareen dijemput Abah. ga apa-apa 'kan?"
Dareen mengangguk dan merentangkan tangannya minta digendong. "Uuhhhh, anak bunda manja banget, udah besar masih pengen digendong!"
Dareen tersenyum, dia mencium pipi Rania kiri dan kanan lalu memeluknya. "Bunda sayang Dareen," ucap Rania balas memeluk Sang anak.
"Dareen juga sayang bunda."
"Hati-hati di jalannya," ucap pak Idris pada anak perempuannya. "Ingat, jangan kebut-kebutan. Santai saja." Pak Idris mengingatkan.
Hari menjelang malam, suara adzan magrib sebentar lagi berkumandang. Pak Idris sudah memberi tahu Nalendra jika Rania sudah pergi lagi ke rumah sakit untuk menemani Ibu mertuanya. Pak Idris juga sudah meminta Nalendra menginap kembali, "Itu pun jika 'Nak Nalendra tidak sibuk," ujarnya ketika di telepon.
"Tentu, saya akan datang," ucapnya penuh kepastian.
Benar saja pukul 7 lebih, Nalendra sudah berada di depan rumah Rania. Dia segera membuka pagar sendiri karena sengaja tidak di kunci oleh pak Idris agar Nalendra dapat langsung masuk tanpa harus membunyikan bel terlebih dahulu.
Dareen langsung ke luar rumah menyambut kedatangan Nalendra begitu mendengar suara pagar dibuka dan suara mobil masuk. "Om!" teriaknya.
Nalendra membuka pintu dan menenteng beberapa kantong makanan juga tas gendongnya. Namun, ada yang berbeda kali ini, dia datang dengan pakaian rumahan t-shirt dan celana training tidak dengan stelan kemejanya.
"Halo jagoan!" seru Nalendra, jagoan adalah panggilan sayangnya pada Dareen dan sepertinya dia menyukainya.
"Sini, aku bawakan," ujar Dareen.
"Bener mau bawain?" tanya Nalendra menyodorkan kantong yang menurutnya paling ringan.
"Ini ga berat." Dareen menimang kantong yang telah dia pegang dengan tangannya.
"Ayo masuk, anginnya lumayan kenceng nanti masuk angin lagi!" ajak Nalendra.
"Oh, sudah datang," kata pak Idris menghampiri mereka yang duduk lesehan di depan tv.
Dareen membuka satu persatu kantong belanjaan yang dibawa Nalendra. Sekantong penuh cemilan yang dia beli di minimarket depan dia tumpahkan hingga berserakan. "Banyak banget, makasi Om," ujarnya begitu melihat beberapa bungkus biskuit yang dia suka.
"Ini buat Abah," ujarnya menyodorkan kantong yang berisi kue kering juga donat dan tentu saja martabak.
"Om bawa ini juga?" tanyanya melihat kantong dengan tulisan salah satu tempat makan Jepang yang terkenal.
"Dareen belum makan 'kan?" Nalendra segera mengeluarkan semua kotak nasi dari kantong tersebut.
"Wah, ada mainannya."
"Banyak banget makanannya," ucap pak Idris. "Makasi ya 'Nak. Kebetulan Rania ga masak, tadinya saya mau buat telor dadar buat makan malam."
Nalendra tersenyum senang, tentu saja dia membawa banyak makanan karena perintah seseorang.
Empat jam yang lalu, Nalendra masih berkutat dengan dokumen dan email yang masuk. Ponselnya beberapa kali bergetar pun tidak dia lihat, perhatiannya tetap pada layar laptopnya.
"Pak, telepon bapak dari tadi berbunyi. Mungkin ada sesuatu yang urgent." Aziz melihat ponsel Nalendra yang tergeletak di meja kerjanya. Saat itu dia sedang mengerjakan beberapa laporan akhir yang harus diselesaikan dan ditandatangani oleh Nalendra.
Nalendra melirik ponselnya, dia pun melanjutkan kembali pekerjaannya karena nomor Si penelepon tidak dia kenal. Setelah beberapa saat ada pesan masuk dan langsung Nalendra lihat.
Ini aku, Rania. maaf menganggu waktumu. kalau sempat tolong telepon balik secepatnya. terimakasih
Nalendra langsung berdiri begitu melihat isi pesan tersebut. Dia menatap Aziz dengan tatapan mengintimidasi seakan dia meminta penjelasan.
"Ziz, ini jam berapa?" tanyanya.
"J-jam tiga kurang sepuluh, Pak," jawabnya gugup.
"Tolong keluar sebentar, aku harus menghubungi seseorang!" suara Nalendra terdengar penuh penekanan.
Nalendra pun segera menelepon Rania. Setelah cukup lama hanya terdengar nada tunggu, dan ...
"Hallo," suara Rania terdengar sangat merdu dari seberang telepon.
"Iya assalamu'alaikum," Nalendra memberi salam.
"Wa'alaikumsalam, maaf mengganggu waktumu."
"Ga apa-apa, ada apa?" tanya Nalendra mulai gugup.
"Bisakah aku minta tolong?" tanya Rania.