Yes, It'S U

Yes, It'S U
Bab 56



"Boleh ya kalau Dareen ikut nginep aja, besok siang abis jumatan aku pulang. Lagian kalau habis magrib pulang, nyampe Bandung jam 10an mungkin."


"Tapi, Ndra ...." Rania terlihat setengah hati.


"Aku akan menjaganya, percayalah," ujar Nalendra meyakinkan Rania.


"Aku percaya Ndra, tapi bukan itu ...." Rania terlihat ingin mengatakan sesuatu.


"Terus kenapa?"


"Ndra, aku merasa sangat tidak enak hati sama orangtuamu. Aku takut mereka merasa terganggu, kau tau sendiri bagaimana aktifnya Dareen," tutur Rania.


"Ga apa-apa ko, Ibu senang Dareen ikut. Setidaknya Nalendra jadi gerak ga mager aja!" Bu Shafira menggeser Sang anak dan ikut ber-videocall.


Rania tampak terkejut melihat wajah Bu Shafira tiba-tiba ada dilayar ponselnya. "Ah, ehm ... Ibu, maaf Dareen pasti ngerepotin Ibu dan Bapak," ucap Rania yang bingung harus berkata apa.


"Kami senang ko. Jangan terlalu khawatir, Ibu yang akan bantu jaga Dareen," Ujar Bu Shafira.


"Terima kasih ya, Bu." ucap Rania.


Makan malam telah tiba, mereka makan lesehan di ruang tengah. Dareen disuapi oleh Bu Shafira. Dareen sudah beberapa menolaknya, tetapi Bu Shafira bersikeras ingin menyuapi dia.


Dareen makan dengan lahap, ikan goreng merupakan salah satu makanan favoritnya. Seperti Dareen, Nalendra juga menyukai ikan goreng. Dia makan dengan dibumbuhi kecap di atasnya.


"Masih tidak suka pedas?" sindir Abah Danu. Nalendra hanya tersenyum. "Belajarlah makan pedas, bagaimana jika istrimu nanti sangat menyukai makanan pedas. Masa iya nanti dia harus masak dua macam rasa, tidak pedas dan pedas."


Nalendra terdiam, dia mencoba mengambil timun dan mencolekan ke sambel buatan Bu Shafira. Begitu dia mengunyahnya, Nalendra langsung mengambil gelas minum dan meminum air tersebut sampai tandas.


Abah Danu tersenyum senang. "Persis kaya Abah dulu, Abah juga dulu ga suka pedes. Cuma emak suka pedes, jadi ya belajarlah makan pedes. Kasian kalo harus masak menu sama tapi dua kali kerja. Sebagai suami, harus belajar mengerti, paham, menghormati apa yang dilakukan seorang istri. Mungkin menurut kita laki-laki, memasak itu hal yang sepele, tetapi menurutnya itu hal yang bukan sepele karena mereka harus memikirkan apa yang akan dia pasak pagi, siang atau sore. Menu apa yang sesuai jika anggota keluarganya sedang sakit. Itu juga mereka pikirkan, jadi sebisa mungkin kita pun harus lebih menghargai mereka." tutur Abah Danu memberi nasehat untuk anak dan cucu. Bu Shafira hanya tersenyum-senyum senang mendengarnya.


Nalendra dan Pak Sulaiman hanya bisa menunduk, menyuapkan makan malam mereka sambil menyelami makna yang diucapkan oleh Abah Danu.


Setelah makan malam, Bu Shafira dibantu Nalendra membereskan semua tempat makan bekas makan mereka dan mencucinya.


"Dareen, ayo tidur sama Nenek!" ajak Bu Shafira lalu menuntunnya masuk ke kamar.


Nalendra ikut mengobrol dengan Pak Sulaiman dan Abah Danu di ruang depan. Banyak yang mereka obrolkan. Namun, tak berapa lama kemudian Pak Sulaiman izin beristirahat karena dia merasa lelah setelah seharian bermain dengan Dareen.


"Jadi, lagi ngambil cuti. Pantesan bisa main ke sini, biasanya juga kalau libur Sabtu Minggu jarang pisan ngunjungi Abah. Biasana cuma Bapak sama Ibu aja yang ke sini. Cutina nyampe kapan, Kak?" tanya Abah Danu.


"Senin besok juga masuk, Bah." Nalendra menyeruput teh hangat.


"Tadi Bapak cerita sama Abah, kalau ayah anak kecil tadi sudah meninggal. Bapak juga cerita sedikit kalau Kaka sering ngajak main Dareen. Kaka harus ingat, minta izin bukan hanya ke mama Dareen saja, tapi juga kalau bisa ke kakeknya atau neneknya. Biar ga jadi fitnah, apalagi mamanya janda. Tetangga mah lebih menyeramkan kalau sudah bicara, walaupun mereka hanya tau selewat tapi kalau sudah bicara kaya yang lebih tau dari kita yang ngalaminnya." Abah Danu mulai memberi wejangan untuk Sang cucu.


"Kaka suka sama mamanya Dareen?" tanya Abah Danu. Nalendra hanya tersenyum.


"Kalau suka segerakan, lamar ke keluarganya. Jangan lupa minta izin ke keluarga Alm. ayah Dareen. Minta restu mereka karena mereka juga orangtua mama Dareen. Suami itu ada istilah mantan, tapi mertua tidak ada istilah mantan mertua!"


Nalendra membayangkan bagaimana dia meminta izin pada Pak Darmawan. Kemarin aja hanya karena Dareen main bersama dia, Raut wajah Pak Darmawan terlihat kesal. Apalagi nanti kalau dia meminta izin untuk menikahi Rania dan menjadi ayah sambung Dareen. Bisa-bisa disuguhi golok.


"Ya, Nalendra juga pengennya cepat, tapi kayanya harus nunggu waktu dulu."


"Nunggu waktu kumaha, Kak?"


"Ya, nunggu waktu. Belum setahun suaminya meninggal, takutnya nanti dia jadi bahan gosip tetangga lagi. Kaka juga harus nunggu restu dari Ibu," ujarnya sendu.


"Jadi, Ibu belum ngasih restu? Abah kira udah." Abah Danu terperanjat. "Udah mungkin, Kak. Buktinya tadi Ibu bilang jika Dareen cucunya," lanjut Abah Danu.


"Iya, aku juga ga ngerti. Minta doanya saja, semoga dilancarkan semua urusanku." ucap Nalendra penuh harap.


"Tentu, Abah doakan Kakak, selalu Abah doakan. Kalau Abah lihat, Ibu suka dengan Dareen," ujar Abah Danu.


"Iya, aku rasa juga begitu, tapi ga tau kalau ke mamanya. Ga tau suka atau enggak!" Nalendra menghela napas. Udara dingin yang cukup menusuk hatinya, sedikit membekukan harapan yang dia punya. Rasa khawatir mulai merasuki pikiran Nalendra, mengingat Sabtu nanti Bu Shafira meminta dia menemani. "Pasti mau dikenalin ke anak teman!"


Hari sudah pagi, ayam berkokok sedari subuh, membangunkan manusia yang masih terlelap dalam buaian malam. Namun, udara sangat dingin sangat cocok untuk menarik selimut kembali.


Abah Danu sudah terbiasa bangun dini hari, kalau dalam bahasa Sunda disebut wanci Janari. Begitu pun dengan Pak Sulaiman dan Sang istri, mereka telah berada di dapur untuk menghangatkan badan di dekat perapian dan membuat teh manis hangat.


Nalendra masih terlelap dibalik selimut tebal bersama Dareen. Udara dingin dan selimut hangat memang perpaduan yang sangat cocok, membuat tidur lebih nyenyak.


Adzan subuh baru saja berkumandang. Pak Sulaiman membangunkan Si sulung untuk shalat berjamaah ke mesjid.


"Kak, Kaka ..., bangun udah subuh!" Pak Sulaiman menggoyangkan bahu Nalendra agar segera bangun, tetapi yang dibangunkan malah semakin mengeratkan selimutnya.


"Kakek," panggil Dareen yang sudah terbangun.


"Eh, Dareen bangun. Tidur lagi aja, masih malam!" Pak Sulaiman mengelus pipi Dareen lembut.


"Barusan udah adzan, aku mau shalat," jawab Dareen berusaha menyingkirkan selimut tebal agar leluasa bangun.


"Ga apa-apa, tidur lagi aja."


"Kata Bunda, Allah suka sama anak yang bangun subuh dan shalat subuh." Dareen berdiri di tempat tidur melewati Nalendra yang masih terlelap dan turun dari sana.


"Cucu Kakek," ucapnya menggendong Dareen membawanya keluar kamar.