
Kata orang, cinta bisa menyatukan dua orang yang saling bermusuhan, tetapi juga bisa menjauhkan dua orang yang saling mengasihi.
Liana berteman dengan Rania sejak mereka kecil karena rumah mereka yang masih satu RT. Mereka juga satu sekolah sejak SD hingga SMA. Rania dan Liana selalu saling membantu baik dalam pelajaran hingga urusan kekasih.
Liana terkadang bercerita tentang Nalendra yang menemaninya makan, menonton dan memberi oleh-oleh padanya saat Nalendra pulang dari liburan. Rania juga selalu memberitahu Liana semua tentang Nalendra yang dia dengar dari Ergha, suaminya. Rania memberitahu Liana tentang Nalendra karena dia tahu Liana menyukainya walaupun tidak memberitahunya secara langsung.
Namun, Kita tidak pernah tahu tentang perasaan seseorang. Seperti Liana yang berharap lebih dengan semua yang dilakukan Nalendra untuknya, tetapi nalendra melakukannya hanya karena Liana adalah sahabat Rania, wanita yang dicintainya.
Hari ini Liana mengambil cuti, padahal tinggal beberapa hari lagi ke libur hari raya. Dia duduk termenung memandang layar laptop di meja kerjanya.
"Ternyata wanita yang dia sukai itu Rania," ujar Liana tersenyum ketir.
Beberapa tahun yang lalu, Liana pernah menyatakan perasaannya pada Nalendra, tetapi Nalendra memberitahu Liana jika dia sedang menyukai seorang gadis. Liana tidak pernah menyangka jika gadis itu adalah Rania.
Liana ingat, selama Nalendra menemaninya jalan-jalan, dia tidak pernah menunjukan jika dia menyukai Rania. Memang, terkadang Nalendra memancingnya bercerita tentang Rania, tetapi hanya sekilas saja dan itu pun sangat jarang sekali.
Kini Liana berdiri di depan cermin, bukan cermin ajaib hanya cermin biasa. "Apa yang kurang dariku hingga dia lebih memilih janda dari pada aku yang masih gadis?"
Dia berbalik, menyamping kiri dan kanan memperhatikan tubuhnya. Dia juga menatap lekat wajah yang terpantul dalam cermin. Wajah yang masih terlihat memerah, mata yang bengkak karena menangis.
Liana merebahkan diri kembali di tempat tidur, dengan tubuh dan tangan yang terlentang. Dia menatap langit-langit kamar, "Apa karena aku terlalu baik hingga dia berani berbuat seperti itu padaku?"
"Kenapa dia melakukannya lagi padaku?" gumamnya.
Liana memejamkan mata mengingat kejadian belasan tahun yang lalu. Saat itu, dia dan Rania masih duduk di kelas tiga SMP. Dia menyukai seorang laki-laki yang satu kelas dengan Rania.
Setiap hari, Liana selalu menanyakan pada Rania tentang laki-laki tersebut. Namun, Rania sepertinya enggan bercerita. Rania selalu bilang agar dia tidak harus menyukai laki-laki itu. Bukan hanya karena laki-laki tersebut sudah mempunyai pacar, tetapi juga karena laki-laki itu suka bertindak kasar.
Seminggu kemudian, Liana melihat Rania sedang bersenda gurau dengan laki-laki tersebut. Memang saat itu mereka tidak berdua, ada beberapa teman laki dan perempuannya juga di sana. Namun, Rania terlihat sangat dekat dengannya.
Pulang sekolah, dia menanyakan hal itu pada Rania. Rania hanya berkata jika mereka sedang mengobrol layaknya teman satu kelas dan kebetulan mereka satu kelompok di salah satu mata pelajaran. Hingga suatu hari, ada rumor yang tersebar jika laki-laki yang disukainya menyatakan cinta pada Rania, walaupun rumor tersebut juga berkata Rania menolaknya.
Liana juga sempat menanyakan rumor tersebut, tetapi Rania hanya berkata jika itu hanya rumor tidak mendasar dan tidak pernah ada kejadian seperti itu.
"Apa dia juga akan berkata jika pernikahannya dengan Nalendra hanya rumor belaka!" gumam Liana, air mata mulai mengalir kembali dari sudut matanya yang tertutup.
**
Liana tersenyum bahagia, hari ini adalah hari pernikahannya. Dia melirik ke samping, sudah ada Nalendra di sana yang akan ber-ijab kabul dengan ayah Liana yang berada di depannya.
Liana sungguh cantik dengan berbalut kebaya putih dan ber-siger. Tercium harum semerbak dari untaian roncean bunga melati. Senyuman selalu terukir di wajahnya.
Nalendra berjabat tangan dengan ayah Liana untuk ber-ijab kabul. Semua berjalan lancar sampai Nalendra membacakan Kobul, "Saya terima nikahnya dan kawinnya Rania Syahmi binti Idris Princen dengan mas kawinnya yang tersebut, tunai."
Liana langsung berbalik memandang Nalendra. Ada yang aneh, Liana kini duduk di belakang diantara tamu yang hadir di sebuah pernikahan. Di depannya Nalendra sedang ber-ijab Kobul dengan ayah Rania. Tentu saja, yang duduk di samping Nalendra kini adalah Rania.
"Sah," kata para saksi menjawab ijab Kobul yang diutarakan ayah Rania dan Nalendra.
"Tidak, tidak mungkin ... ini tidak mungkin terjadi!" ucapnya menggeleng kepala memandang shock kedua sejoli di depannya yang sedang tersenyum, Nalendra mencium kening Rania. Mereka kini memandang ke arahnya, Rania tersenyum seakan sedang mengejeknya.
"Tidak!" Liana membuka matanya, napasnya tersengal seperti habis lari maraton. Keringat bercucur di dahinya.
"Hanya mimpi," lirihnya dengan napas yang masih tak beraturan. Kepala Liana terasa berat, mungkin karena menangis selama dua malam ditambah dengan mimpi barusan.
Malam harinya, Amih bersikeras membawa Liana ke rumah sakit. Bukan hanya wajah Liana yang terlihat pucat, tetapi badannya pun demam tinggi.
Kini dia tertidur setelah meminum obat yang diberikan perawat. Di tangannya terpasang infusan. Mata yang masih membengkak di wajahnya yang pucat, menambah rasa haru, kasian.
"Kunaon cenah, Mih?" tanya Agus, Kaka tertua Liana.
"Demam, Amih ge ga tau." Bu Ratna menghela napas, memandang wajah Liana.
"Kata dokter, apa?" tanya Agus lagi. Bu Ratna hanya menggelengkan kepalanya. "Kumaha kejadiannya, Naha tiba-tiba demam? kemarin ketemu baik-baik aja!"
"Duka atuh (tidak tahu), Tadi sore Amih ka kamarnya buat nanyain udah solat belum. Amih lihat lagi tidur tapi keringetan terus Oge pucat. Pas (ketika) Amih raba badannya panas, pake termometer ge 39°. Ya udah aja, Amih bawa ke rumah sakit!" ungkap Bu Ratna.
Agus mengangguk-anggukan kepalanya tanda mendengarkan. "Naha teu kerja?"
"Enggak, katanya ambil cuti mungkin udah kerasa ga enak badan," jawab Bu Ratna. Dia enggan memberitahu anak sulungnya jika Liana mengurung diri di kamar dari malam Minggu.
**
Di tempat lain, Rania berjalan-jalan dengan Dareen, di Mall yang masih satu kawasan dengan apartemen Nalendra. Dia menyusuri toko pakaian anak-anak.
Rania memilah-milah pakaian anak yang tergantung di rak display. Dia mengambil beberapa gantungan dan mencocokkannya di badan Dareen.
Dareen terlihat cemberut karena bosan. "Bunda udah selesai belum? aku cape!"
"Sebentar, Sayang. Maaf ya," jawabnya lalu menempatkan kembali gantungan di tempat semula dan memilih di rak display lain.
"Bunda," rengek Dareen.
Rania melihat Sang anak, lalu tersenyum. "Udah ngantuk, mau pulang?"
Dareen menggelengkan kepalanya. "Bunda, beliin aku es krim!"
"Ya udah, ayo!" Rania menuntun tangan Dareen.
Kurang dari seminggu lagi hari raya. Pusat perbelanjaan atau Mall, penuh oleh pengunjung yang ingin membeli pakaian dan yang lainnya untuk hari raya nanti.
Rania duduk di kursi, memandang Dareen yang menikmati setiap sendok yang dia masukan ke mulut kecilnya. "Enak?" Dareen mengangguk.
"Seneng?" Dareen juga menganggukan kepalanya sebagai jawaban.
"Bunda, ada telepon tuh!" ujar Dareen.
"Masa?" tanya Rania. Dia mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya. "Iya, ibu telepon!"
Rania segera mengangkat telepon dari Bu Sekar. "Apa, ko bisa. Kenapa?" tanya Rania terkejut.