
"Dareen, nangis kenapa?" Dareen hanya terdiam, tidak menjawab pertanyaan Nalendra.
"Aku ga nangis Om," jawabnya tersenyum. Nalendra mencium kepala Dareen.
Mereka pun duduk bersila di ruang tamu ruang Pak Idris. Seperti biasa Dareen duduk di pangkuan Nalendra.
Pihak keluarga Nalendra mengutarakan maksud kedatangan mereka ke sana dan diterima oleh keluarga Pak Idris.
Rania masih berada di dalam kamar ditemani sepupunya, Tami. Dia begitu gugup, padahal ini bukan yang pertama kali. Namun, rasa gugup tetap hinggap dihatinya.
"Dia udah dateng. Cakep banget lho, Kak," ujar Tami.
Rania hanya bisa tersenyum, dia menghela napas untuk menghalau rasa gugupnya.
Setengah jam berlalu, Bu Sekar masuk ke dalam kamar. Dia meminta Rania untuk keluar.
Keluarga Pak Sulaiman sedikit terkejut ketika melihat Rania dalam balutan kebaya tunik berwarna prusian blue dengan jarik batik salur warna senada. Bu Shafira tersenyum karena pakaian yang dia pilih untuk si sulung sangat serasi dengan pakaian yang dikenakan Rania. Ya, Nalendra memakai batik salur kombinasi prusian blue dan hitam.
Rania terlihat sangat cantik dengan riasan flawless. Nalendra memandangnya tanpa berkedip, membuat Rania menunduk malu.
Mereka bertukar cincin, senyuman terus menghiasi bibir dua sejoli ini.
Alhamdulillah, akhirnya. Jodoh memang tidak akan kemana. batin Nalendra.
Setelah selesai bertukar cincin, keluarga Pak Idris menjamu tamu dengan makan malam. Rania ditemani Zyan mengobrol dengan Nalendra dan Alaric di depan rumah.
Ponsel Nalendra bergetar, Aziz menghubunginya. Aziz tahu jika malam ini Nalendra akan melamar Rania bersama keluarganya. Nalendra memberitahunya karena Aziz yang mengurus semua jadwal dia.
"Aziz mau ke sini," ujarnya pada Rania.
"Siapa?"
"Asisten pribadiku. Dia sedang di jalan ke sini," jawab Nalendra sambil terus mengetikan pesan.
"Ndra, sebenarnya aku tidak memberitahu Liana soal pertunangan kita," lirih Rania.
Dia bilang kita, batin Nalendra.
"Iya, ga apa-apa. Suatu hari nanti juga dia akan tahu. Aku juga belum memberi tahu teman-temanku. Jujur saja, aku lupa. Baru ingat barusan!" ucap Nalendra tersenyum, senyuman selalu menghiasi wajahnya.
"Kalau bisa jangan memberitahu mereka dulu. Aku merasa tidak enak dengan Liana," terangnya.
"Halo, jagoan. Kenapa?" tanya Nalendra pada Dareen yang baru saja menghampiri mereka.
"Bunda," lirihnya langsung duduk di pangkuan Rania.
"Kenapa?" tanya Nalendra memandang Rania meminta penjelasan.
"Biasa," jawab Rania.
"Tadi Zyan juga bilang biasa. Aku ga ngerti!" ujar Nalendra mengernyitkan dahi.
Zyan tertawa, "Tadi siang dia nangis. Biasa, ada temennya yang agak begitulah," ujarnya.
"Begitulah apa?" Nalendra semakin bingung.
"Temennya ngejek Dareen, katanya ayahnya udah meninggal," jawab Zyan berbisik, takut terdengar Dareen, bisa nangis lagi nanti!
Nalendra menghela napas, "Rania, bisa kita bicara berdua," kata Nalendra dengan raut wajah serius.
"Mau apa?" jawab Rania refleks mengangkat tangannya ke dada dan menyampingkan badan.
"Kamu kenapa, aku ga akan ngapa-ngapain! cuma bicara aja," sergah Nalendra yang tahu maksud Rania bersikap begitu.
Rania tersenyum malu, apalagi ketika sadar Zyan menertawakan dia. "Apaan sih, ketawa!"
"Senangnya yang sedang jatuh cinta," seloroh Zyan diantara tawa.
"Sist, Aku mendukungmu apapun yang akan kamu lakukan padanya. Sampe sekarang aku masih serasa mimpi gunung esnya cair!" ujar Alaric tertawa. Alaric ikut senang dengan pertunangan Nalendra. Baginya ini sebuah keajaiban.
"Apaan sih lu!"
"Yuk, sini bentar." Nalendra mengajak Rania bergeser ke kursi sudut teras.
"Sini, duduklah," ujarnya lirih. "Aku mau minta izin, bolehkah Dareen memanggilku papah atau Daddy?" tanya Nalendra. "Aku tidak ingin Dareen sedih karena ditinggal ayahnya, bukankah nanti aku pun akan menjadi ayahnya? Aku merasa sedih melihat matanya sembab."
"Tentu, tapi tolong jangan paksa dia. Bicaralah baik-baik dulu dengannya, jelaskan dan buat dia mengerti," pinta Rania.
"Ehm, Rania. Sebentar, aku sepertinya punya ide yang lebih bagus. Aku ke dalam dulu!" Nalendra bergegas masuk ke rumah, meninggalkan Rania yang menatapnya bingung.
Di dalam rumah, Pak Idris asik mengobrol dengan Pak Sulaiman dan Abah Danu.
"Saya pernah mendengar daerah itu. Udara di sana pasti masih segar tidak seperti di sini, pesawahan juga masih bagus airnya. Kalau di sini sudah mulai berkurang, sumber air sudah banyak yang hilang karena pembangunan," keluh Pak Idris.
"Nanti kalau ke sana, kita makan dekat Balong (Empang). Tenang saja balongna bersih, airnya lumayan jernih," kata Abah Danu.
"Waktu kita ke sana dengan Dareen. Dia berenang di Empang, susah disuruh naik," timpal Pak Sulaiman.
"Anak itu emang begitu, Pak. Dia senengnya main di kolam, kalau saya ke sawah juga kadang dia ikut masuk ke petakan sawah."
"Maaf, Pak." ucap Nalendra yang tiba-tiba menghampiri mereka.
"Iya, ada apa 'Nak?"
"Ayah, Abah, Aku ingin menikahi Rania malam ini juga," ungkapnya tersenyum.
"Apa!" jawab mereka bertiga terkejut.
"Apa maksud Kaka?" tanya pak Sulaiman. Nalendra sungguh selalu mengejutkannya.
"Kakak ingin menikahi Rania. Bisakah, menikah secara agama dulu."
Abah Danu memandang Pak Sulaiman dan Pak Idris secara bergantian.
"Kenapa Nak Nalendra ingin menikahi Teh Rania malam ini?"
"Sa-saya tidak ingin timbul fitnah. Saya ingin segera menjadi suaminya yang sah. Kalau nikah secara resmi maksudku negara, nanti bisa Ayah dan Bapak atur. Saya takut lebih berdosa lagi," ungkapnya beralasan.
Pak Idris mengatupkan kedua bibirnya menahan tawa. Dia tidak menyangka jika calon mantunya ini begitu bucin pada putrinya.
"Tanyalah ke Ranianya dahulu. Dia mau atau tidak, kami akan mengikuti jika dia bersedia. 'Nak, nikah itu harus dipikirkan oleh yang akan menjalaninya. Saya tentu akan dengan senang hati mencarikan penghulu untuk anak kami, walaupun ini sudah malam," tegas pak Idris sedikit menyindir Nalendra karena terkadang pemikirannya sulit ditebak.
"Baiklah, akan saya panggil dulu Ranianya," kata Nalendra segera keluar memanggil Rania yang sedang bergurau dengan Zyan dan Dareen.
Rania dengan wajah kebingungan menghampiri bapaknya. "Ada apa, Pak?" tanyanya.
"Teh, Nalendra minta izin sama Bapak, katanya ingin nikahi Teteh malam ini. Apa Teteh mau nikah sama Nalendra sekarang?"
"Apa?" kata Rania setengah berteriak karena terkejut, membuat semua yang berada di ruangan itu berbalik padanya. Rania memandang Nalendra yang berada di sampingnya dengan tajam. "Sepertinya kamu kelelahan."
"Will you marry me?" lirihnya dengan penuh harap.
"Apa kamu gila!" bisik Rania memelototkan matanya ke arah Nalendra.
Rania tertawa lalu menghela napas. "Ndra, bisakah kamu tidak membuat kami terkejut seperti itu. Kita 'kan udah membicarakan ini," ujarnya.
"Kak, Nikah 'kan harus ada penghulunya. Ini udah malam dan apa Kakak sudah mempersiapkan mas kawinnya?" tanya Bu Shafira yang malu pada keluarga calon besannya, anaknya sungguh seperti anak kecil yang sedang merengek meminta permen.
Nalendra merengut, "Rania, maukah kamu menikah denganku malam ini?"
Rania tersenyum, "Ndra, kenapa kamu ingin menikahiku malam ini?"
"Aku takut lebih berdosa lagi, tiap bersamamu aku selalu ingin memegang tanganmu. Aku takut," ujarnya.
"Tapi ini udah malam, memangnya ada penghulu yang mau menikahkan kita? kenapa ga nanti saja harinya?"
Nalendra memandang ke arah Pak Idris, calon mertuanya.
"Apa Teteh bersedia menikah malam ini, walaupun baru secara agama dahulu?" tanya pak Idris menelisik Putri semata wayangnya.
"Kakak, tapi kita kan belum menyiapkan mas kawinnya!" ucap Bu Shafira.
Rania memegang cincin yang berada di jarinya. Dia tahu jika Nalendra serius dengan semua yang diucapkannya. Dia pun melepas cincin yang tadi disematkan oleh Nalendra dan memberikannya pada Nalendra.
"Apa maksudmu?" tanya Nalendra terkejut.