
Nalendra merasa tidak nyaman dengan kehadiran Liana yang menunggunya di warung Ceu Empon. Bukan karena dia merasa bersalah, hanya saja dia merasa kesal dengan sikap Liana yang selalu saja mencari kesempatan untuk mendekatinya, Walaupun dia tahu jika dirinya sudah beristri.
"Nalendra," panggil Liana begitu melihat Nalendra keluar dari dalam warung Ceu Empon. "Bisakah kita bicara sebentar, ada yang harus aku obrolkan," ucapnya dengan nada sedikit memelas.
"Maaf, Rania sedang menungguku di rumah. Permisi!" jawab Nalendra segera berlalu dari hadapan Liana tanpa menoleh lagi ke belakang.
"Ada perempuan kaya gitu!" gerutunya lirih.
"Kaya gimana A?" tanya pak Idris yang tahu Nalendra menghindari Liana.
"Ya gitu, kaya barusan. Aku tau dia temanku, tapi ya kalau memang perlu bicara kan' sebaiknya ke rumah saja. Kalau ngajak seperti barusan, nanti malah timbul fitnah." Nalendra merasa malu pada Pak Idris.
"Memang benar, harusnya seperti itu," jawab pak Idris sambil terus berjalan berdampingan dengan Sang mantu. Dareen dalam pangkuan Nalendra karena merengek pegal kaki.
"Kenapa?" Rania bertanya begitu melihat raut wajah Nalendra yang berbeda ketika dia berangkat tadi.
"Tidak apa-apa, hanya sedikit cape." Nalendra beralasan, dia tidak ingin membuat Rania ikut kesal.
"Anak bunda ko digendong, kenapa ga jalan sendiri?" tanya Rania lembut.
"Kakiku pegal, Bunda. Aku kecapean kayanya!" jawab Dareen membuat yang berada di sana tertawa.
"Cape, minumlah kalau cape!"
"Teh, mau ngadain empat bulanan di mana?" tanya Bu Sekar mengingat kehamilan Rania sebentar lagi empat bulan.
"Kayanya di rumah sana aja, di Ibu," jawab Rania. Ini adalah kehamilan cucu kandung pertama dari keluarga Nalendra. Dahulu saat hamil Dareen, Rania mengadakan syukuran empat bulan di rumah orangtuanya.
"Iya, nanti tentuin aja tanggalannya. Biar Mama ngatur jadwalnya dari awal." Jadwal kegiatan Bu Sekar sedang padat di sekolah. "Jadinya resepsi nikahannya kapan?"
"Kali sekarang, apa Teteh kuat?" timpal Bu Sekar.
"Kapan ya, nanti aku ngobrol dulu sama ibu," jawab Rania. "Kalau dibarengi sama acara empat bulanan, gimana?"
"Ya, kalau Teteh kuat ga jadi masalah. Tapi mungkin harus disiapin dari sekarang, kan kurang dari sebulan!"
"Kalau sekaliam acara aqiqah nanti gimana?"
"Kalau habis lahiran mending banyakin istirahat!" jawab Bu Sekar.
"Mama ikut aja atuh nanti sore kita jalan-jalan. Nanti Mama bisa ngobrol sama Ibu. Ya, biar cepat aja nentuinnya."
"Teteh mah sok (suka) ngedadak kalau apa-apa teh!" Rania hanya tersenyum mendengar omelan Bu Sekar. Salah satu hal yang Rania rindukan ketika berada jauh dari Sang mama adalah omelannya. "Kumaha (gimana), Pak. Mau ikut ga?" tanya Bu Sekar pada suaminya.
"Ayo, lumayan liburan!"
"Siapin atuh pakaiannya dari sekarang," pinta Bu Sekar kemudian. Pak Idris segera melaksanakan permintaan istrinya, menyiapkan semua kebutuhan yang akan mereka bawa nanti.
Selepas shalat Dzuhur, mereka pun berangkat ke rumah orangtua Nalendra untuk menjemput mereka. Pukul dua siang, mereka semua berangkat ke tempat wisata yang masih berada di daerah Bandung, tepatnya di Ciwidey.
Butuh dua jam perjalanan ke tempat wisata tersebut. Mereka akan menginap di sebuah resort di sana. Dengan suasana pemandangan yang asri dan udara yang masih terbilang bersih, sangat cocok sekali untuk melepas penat sejenak dari hiruk pikuk keramaian kota.
"Katanya mau berenang?" tanya Nalendra yang melihat Dareen meringkuk di sofa.
"Ga jadi, dingin!"