
Hari Jumat, semua orang yang berada di rumah Nalendra sibuk mempersiapkan jamuan untuk para tamu yang akan datang. Memang acara pernikahan tersebut digelar besok di salah satu hotel, tetapi sesuai kebiasaan setempat, sehari sebelum acara pun tamu sudah bisa datang terutama tetangga.
Tenda pernikahan sudah dipasang di halaman rumah orangtua Nalendra. Pun kursi untuk tamu duduk sudah tersusun di sana.
"Bu, akhirnya ngadain juga ngunduh mantu," ujar salah satu tetangga Bu Shafira. "Mantunya cantik."
"Iya, Bu. Maunya di awal mereka nikah, tapi kan nikahnya di bulan puasa. Beberapa hari setelah nikah, eh malah langsung terbang ke luar negeri, tugas kerja di sana," jawab Bu Shafira.
"Iya, Alhamdulillah syukuri saja. Apalagi si Teteh nya lagi hamil, langsung nambah cucunya."
Hampir semua tetangga orangtua Nalendra tahu jika Rania adalah seorang janda beranak satu. Namun, itu tidak menjadikan mereka sebagai bahan obrolan, karena mereka tahu Rania janda ditinggal meninggal suaminya.
"Iya, Alhamdulillah. Allah ngasih rezeki berlipat untuk kami."
Sementara Bu Shafira asik mengobrol dengan para tetangga yang datang. Rania sibuk mencari Nalendra yang entah berada di mana. Semua orang yang dia tanyai menjawab tidak melihat suaminya. Akhirnya dia duduk di kursi tamu di halaman rumah bersama anak-anak termasuk Dareen dengan perasaan sedikit kesal dan lelah.
"Dari mana?" tanya Rania begitu melihat Nalendra menghampirinya.
Nalendra yang melihat raut wajah lelah Rania langsung duduk di kursi samping sang istri. "Aku habis dari rumah bibi ngambil beberapa karpet sama Alaric."
"Ponsel kamu bunyi terus." Rania merogoh kantong bajunya dan menyerahkan ponsel pada Nalendra.
"Aziz?" tanyanya.
Rania menggelengkan kepalanya. "Bukan, ga tau siapa. Ga ada namanya!"
"Kenapa ga diangkat?"
"Aku ga berani, takutnya itu masalah kerjaan. Apalagi ga ada namanya!" ketus Rania. "Telepon balik aja!"
"Ga usah, kalau penting juga nanti dia telepon lagi!"
Nalendra menoleh ke arah pintu pagar rumah, terdengar riuh teman-temannya yang sedang berjalan sambil bercanda tawa. Dia melambaikan tangan ke arah mereka agar mereka tahu jika dia berada di sana bersama Rania.
"Hai, Bro!" ucap Faqih.
Mereka bersalaman dengan Nalendra dan Rania yang merasa enggan berdiri menyambut mereka.
"Aku ngucapin selamat lagi gitu?" tanya Bachtiar sambil terkekeh, diikuti tawa teman-temannya.
"Aamiin, makasi." Rania tersenyum mendapatkan doa dari teman-teman Nalendra.
"Trus doa buatku?" tanya Nalendra.
"Dia buat Rania juga kan imbas ke kamu, Bro!"
"Rania itu istrimu dan yang dikandungnya anakmu, berarti doa buatmu juga itu!" timpal yang lain.
"Foto yuk!" ajak Reno.
"Ayo, siapa yang motoin?"
"Groofie aja!" Indro mengeluarkan ponselnya dan memposisikan ponsel tersebut untuk berfoto dengan teman-temannya.
Mereka saling mendekat. Nalendra merangkul pundak Rania dengan erat, rasanya tak rela jika Rania berdekatan dengan pria lain, walaupun itu hanya karena berfoto bersama.
Indro dan yang lain beberapa kali mengambil foto groofie dengan gaya dan posisi yang berganti. Dareen pun tak ketinggalan, dia ikut serta berfoto bersama mereka.
"Jadi besok teh kumaha?" tanya Reno.
"Nya kumpul weh di rumahmu jam sepuluhan. Jangan terlalu siang!"
"Naha?"
"Apanan kita penerima tamu!" jawab Rezky tertawa.
"Oh, iya ya. Kita pagar bagusnya ya?"
"Bukan, pagar besi!" ketus Indro.
"Acaranya habis Dzuhur. Kalian Dateng sebelumnya, bisi weh mau di bendo." ucap Nalendra tertawa.
Bendo adalah istilah Sunda untuk kain penutup kepala yang biasa dipakai pengantin laki-laki maupun keluarga laki-laki dari pengantin. Di daerah lain, sebutan untuk bendo adalah blangkon jawa. Namun, sekarang para pengantin pria sunda lebih banyak menggunakan kopiah atau songkok.
"Nalendra!" panggil seorang wanita tak jauh dari mereka duduk.