
Bu Shafira bersenandung riang sambil memasukan pakaian ke dalam koper. Dia sangat bahagia mendengar kabar yang selama ini ditunggu-tunggu.
"Mau kemana?" tanya Pak Sulaiman yang melihat sang istri melipat pakaian yang berserakan di tempat tidur.
"Singapore dong, Yah!"
"Singapore, mau ngapain?"
"Nemenin mantu yang lagi mabok, ngidam!"
"Ngidam, Teh Rania hamil?" tanyanya tersentak.
"Iyalah. Ibu ga sabar jadinya, Ibu harap cucu Ibu perempuan."
"Alhamdulillah, laki atau perempuan sama saja. ko Ibu ga izin ayah dulu?"
"Ga usah izin juga pasti ayah izinkan. Kakak tadi telepon ibu, minta ibu ke sana sama Bu Sekar. Katanya Rania masuk rumah sakit gara-gara mual-mual parah."
"Teteh masuk rumah sakit? terus keadaannya gimana, Dareen sama siapa?"
"Katanya sih semua makanan ga masuk, muntah terus, makanya masuk rumah sakit juga. Kaya Ibu dulu pas hamil Si kakak, Yah. Ibu juga sama dulu tiap makan muntah terus!"
"Terus Dareen sama siapa?"
"Ya, ini makanya Ibu sama Bu Sekar disuruh ke sana nyusul. Dareen dititip Aziz, cuma kan' ga enak juga nitip Dareen ke orang lain. Lagian Aziz juga kan' pasti sibuk ngehandle kerjaan Si kakak!"
"Oh, jadi Ibu ke sana mau nemenin Dareen. Ayah ikut jangan?"
"Ga usah, sini aja!" jawab Bu Shafira. "Ibu di sana juga paling lama seminggu sampai Rania keluar rumah sakit."
"Padahal Ayah juga pengen ke Singapore. Ayah belum pernah ke sana!" rengek Pak Sulaiman, ditertawakan istrinya.
Sekitar pukul satu siang, Alaric dan Bu Shafira menjemput Zyan dan Bu Sekar. Dari sana mereka menuju Bandara internasional Soekarno-Hatta. Mereka akan mengejar penerbangan yang pukul 7 malam. Tiket sudah Nalendra pesankan dan dikirim ke email Alaric.
Kini Bu Shafira dan Bu Sekar sudah duduk manis di kursi pesawat, yang akan membawa mereka ke Singapore. Mereka tampak lelah setelah berlari menuju tempat boarding.
Hampir pukul 10 malam, mereka sudah landing di bandara Changi airport, Singapore. Sudah ada Aziz yang menunggu mereka di sana sambil menggendong Dareen yang berusaha membuka matanya lebar-lebar.
"Ibu, Nenek," seru Dareen begitu melihat Bu Sekar dan Bu Shafira. Dia berlari ke arah mereka.
Dareen memeluk kedua wanita paruh baya tersebut dengan erat. "Ayo!"
Aziz mendorong troli yang berisi koper mereka, sedangkan Bu Sekar dan Bu Shafira menuntun sang cucu kesayangan mereka menuju ke arah parkiran.
"Dareen udah makan?" tanya Bu Sekar.
"Udah, tadi aku makan sama Om," jawabnya dengan polos. "Daddy lagi di rumah sakit, bunda sakit."
"Iya, Ibu tau. Dareen harus baik-baik, jangan sedih. Doakan bunda cepat sembuh."
"Iya. Kata Daddy, aku mau punya adik, tapi masih di dalam perut bunda. Jadi bunda harus nginap dulu di rumah sakit, buat di periksa dokter biar bunda sama adik bayinya sehat."
Malam itu, Dareen tidur dengan kedua neneknya. Dia sangat senang bisa bertemu dengan kedua wanita paruh baya tersebut.
Keesokan harinya, seperti biasa Dareen sudah bersiap hendak pergi ke sekolah. Dia menjelaskan kepada kedua wanita paruh baya tersebut tentang bagaimana dia ke sekolah dan pulang, tentu dengan jamnya.
Setelah Dareen ke sekolah, Bu Shafira dan Bu Sekar berangkat ke rumah sakit diantar Aziz. Nalendra sengaja meminta Aziz mengantar orangtuanya agar dia juga bisa berangkat ke kantor dengannya.
"Bu, pakaian kerjaku?" tanya Nalendra setelah menyapa kedua wanita paruh baya itu.
"Ada tuh di tas. Gimana keadaannya?" tanya Bu Shafira menghampiri Rania yang sedang duduk menyender ke kepala tempat tidur pasien.
"Alhamdulillah, udah baikan."
"Teteh, udah makan?" tanya Bu Sekar mengelus lengan putrinya.
"Udah, Mah."
"Udah, tapi cuma sedikit!" timpal Nalendra mengadu.
Rania langsung tersenyum, mengangguk. Sudah beberapa hari ini dia ingin makan sup buatan mamanya. Akhirnya kesampaian juga. "Ko Mama tahu Rania mau sup?"
"Taulah, Aa yang cerita."
Rania melirik Nalendra yang sedang memakai dasi. "Sini, biar aku pasangkan." Nalendra menghampiri Rania dan duduk di sebelah istrinya itu agar dia mudah memasang dasi untuknya.
"Cepat, Kak. Kasian Aziz nunggu di bawah!" seru Bu Shafira mengingatkan. Aziz tidak ikut mereka ke kamar inap, dia lebih memilih menunggu di cafe rumah sakit sambil menikmati segelas kopi.
"Biarkan saja!"
"Ih, sama bawahan ko begitu!"
"Iya, ini sebentar lagi," sergahnya. "Aku berangkat dulu ya, baik-baik. Kalau ada apa-apa telepon aku. Sayang, Daddy pergi dulu ya, jaga baik-baik Bundanya!" Nalendra mengelus perut bawah Rania yang masih terlihat rata.
Bu Sekar membawa semangkok nasi yang sudah bercampur dengan sup. Dia mendekati Rania hendak menyuapinya. "Ayo, makan dulu!"
Dengan telaten, Bu Sekar menyuapi sang anak. Dia tahu Rania sangat menyukai sup buatannya. Dia juga tidak menyangka jika makanan pertama yang dia idamkan adalah sup buatannya.
Ketika Rania hamil Dareen, dia tidak mengidamkan makanan apapun. Bahkan dia juga tidak merasakan pusing, mual seperti yang dia rasakan saat ini. Rania dapat melakukan aktivitas seperti biasa.
Makanya, ketika pertama kali merasakan pusing dan mual, dia hanya berpikir jika masuk angin biasa. Inilah kali pertama dia merasakan bagaimana nikmatnya mengalami morning sickness.
Morning sickness atau emesis gravidarum adalah kondisi mual dan muntah yang dialami oleh ibu hamil trimester awal (3 bulan pertama kehamilan). Kondisi ini normal terjadi dan pada umumnya akan hilang setelah masuk trimester kedua. Jika mual dan muntah terjadi hebat, maka disebut hiperemesis gravidarum sehingga memerlukan penanganan segera. Seperti yang dialami oleh Rania, dia harus mendapat perawatan di rumah sakit.
Siang harinya, Bu Sekar pamit pulang terlebih dahulu karena harus menjaga Dareen yang akan pulang sebentar lagi. Dia pulang dengan menggunakan taksi.
"Teh, udah di USG belum?" tanya Bu Shafira.
"Udah kemarin, kenapa?"
"Udah keliatan jenis kelaminnya?"
"Belum, Bu. Mungkin nanti dua atau tiga bulan lagi baru terlihat."
"Ga sabar rasanya. Mudah-mudahan perempuan?"
"Perempuan?" Rania agak terkejut, biasanya cucu pertama yang diharapkan orangtua adalah laki-laki. Ini memang anak kedua Rania, tetapi cucu kandung pertama di keluarga Nalendra.
"Ibu berharap perempuan karena anak-anak Ibu semuanya laki-laki, cucu pertama juga laki-laki. Jadi Ibu harap cucu kedua ya perempuan."
Rania tersenyum, perasaannya menghangat mendengar penuturan Bu Shafira. Dia tidak menyangka, jika orangtua Nalendra begitu menyayangi dan menganggap Dareen sebagai cucu mereka, cucu pertamanya.
"Dulu, waktu hamil Si kakak juga ibu sama seperti ini, di rawat inap di rumah sakit. Lemes banget rasanya, tiap makan ... pasti aja muntah. Pokonya manja banget!" ungkap Bu Shafira. "Eh ... sekarang Teteh juga kaya gini."
"Iya." Rania tersenyum.
"Tapi waktu hamil Alaric, Ibu ga ngerasain mual muntah. Ga terlalu lemes juga!"
"Iya, ternyata dua kali hamil, kondisinya beda-beda. Tapi aku bersyukur, Nalendra begitu perhatian sama aku. Dia sampai ambil cuti, masakin sup juga waktu kemarin." Rania tertawa kecil mengingat sup buatan Nalendra yang sedikit asin.
"Si Kakak masak?"
"Iya. Katanya dia liat tutorialnya di Utobe!"
Dua wanita beda generasi itu, asik bertukar cerita tentang kehamilan.
Senang rasanya bisa bebas bercerita dengan ibu mertua. pikir Rania, yang baru merasakan begitu dekat dengan seorang ibu mertua.
****
Maaf, baru bisa up karena kesibukan RL yang tidak bisa ditinggalkan 🙏.
Sambil menunggu, jangan lupa mampir di cerita Edelweiss dan Pangeran Malik.