Yes, It'S U

Yes, It'S U
Bab 5 Study tour



"Assalamu'alaikum, pagi semua ...," sapa Nalendra pada asisten dan sekertarisnya.


"Pagi, Pak," jawab Aziz dan Grace.


Nalendra segera masuk ke dalam ruangannya diikuti Aziz.


"Maaf, Pak. Asisten Pak Horison menghubungi kita meminta meetingnya dipindah sekalian makan siang," kata Aziz memberitahu jadwal Nalendra hari ini.


"Makan siang ya." Nalendra berpikir sebentar dan mengangguk menyetujuinya. "ok, atur aja seperti permintaan mereka. Kita tidak ada jadwal disaat makan siang hari ini kan?"


"Tidak, Pak. Baik, saya permisi," ucapnya pamit dan keluar dari ruangan Nalendra.


Nalendra menyalakan laptopnya sambil bersenandung ria. Aziz yang mendengarnya sebelum dia keluar tersenyum, mengerutkan dahinya.


"Sepertinya Minggu ini moodnya bagus," gumam Aziz. Nalendra dikenal sebagai orang yang tegas dan dingin. Namun, sejak hari Senin wajahnya selalu menyunggingkan senyum.


"Pak, gimana? beliau marah ga?" Grace menghentikan langkah Aziz yang hendak ke ruangannya.


Grace tahu jika jadwal meeting dipindah ke makan siang. Biasanya atasannya akan kesal dan meminta agar menuruti jadwal yang telah diatur.


"Enggak, si boss ga marah. Dia bilang atur aja," jawab Aziz. "kayanya moodnya lagi bagus Minggu ini, barusan aja dia nyanyi-nyanyi."


"Benarkah?" Grace mengerutkan kening, ga percaya dengan yang Aziz katakan.


Nalendra memang sedang merasa senang, mood nya bagus sejak dia bermain dengan Dareen. Namun, bukan itu yang menjadi alasan utamanya. Nalendra senang karena sekarang dia punya kesempatan lagi untuk mendekati Rania. Dia memang sedih karena Ergha meninggal, tetapi kesempatan untuk menjadikan Rania pendampingnya terbuka lebar.


Nalendra memandang kalender di ponselnya. Dia telah menandai tanggal untuk memperingati 7 hari meninggalnya Ergha. Ya, tentu saja dia akan datang. Dia tidak akan melewatkan kesempatan itu seperti yang dahulu pernah dia lakukan, belasan tahun yang lalu.


**Flashback on**


Hari Senin pagi selalu menjadi pagi yang paling sibuk karena para siswa harus mengikuti upacara. Pagi itu Rania dan Liana agak terlambat tiba di sekolah, tetapi diizinkan ikut upacara dan berdiri paling belakang di barisan kelas masing-masing.


Peserta upacara, guru maupun murid mengikuti upacara dengan khidmat kecuali yang dibarisan belakang. Mereka lebih banyak bergurau, tertib hanya ketika ada petugas OSIS yang memeriksa.


"Rania, pacarmu agak garang ya?" tanya Angga.


"Garang, maksudnya?" Rania balik bertanya.


"Tuh, bibirmu nyampe merah bekas gigitan," ejek Angga.


"Ih, Angga. Apaan coba!" kelak Rania.


"Beneran, aku bohong. Bentar ya," ucapnya, lalu menepuk punggung wanita di samping depannya meminjam cermin saku.


"Nih, coba liat sendiri," lanjutnya mengulurkan tangan memberikan cermin saku pada Rania.


Rania mengambil cermin saku dan melihat bibirnya. "Ah, iya. Kenapa ya?" gumamnya meraba bibirnya yang merah lebam seperti habis digigit.


"Bilang aja terlalu asik ciuman nyampe ga sadar dia gigit," ejek Angga lagi.


"Enak aja. Kayanya aku gigit sendiri," jawab Rania mencoba mengingat kapan dia menggigit bibirnya.


"Nih," lanjutnya mengembalikan cermin saku pada Angga.


Angga terus mengejek Rania, tanpa mengetahui ada seseorang yang penasaran dengan apa yang mereka perdebatkan. Dia selalu mencuri lirikan pada mereka dengan wajah sedikit kesal.


Semester dua telah dimulai, di semester ini seluruh siswa kelas dua akan mengikuti study tour ke beberapa tempat di Jawa Tengah. Pengumuman pembagian tempat duduk di bis sudah di tempel di Mading sekolah.


Dalam satu bis ukuran besar, terdiri dari tiga kelas IPA, IPS, juga Bahasa. Rania mendapat tempat duduk di bis 6.


Nalendra nampak lesu ketika tahu dia tak satu bis dengan Rania. Tentu saja tidak satu bis, karena mereka sama-sama jurusan IPA hanya saja berbeda kelas.


"Hei, 'Ndra satu bis kita," ucap Habib Putra. "Oh, Liana juga masuk bis kita," lanjutnya.


Mereka berangkat di hari Jumat malam pukul 8. Seperti kebanyakan siswa ketika study tour, suasana dalam bis sangat ramai, mereka bernyanyi, mengobrol, hingga dini hari.


Rania mengerjapkan matanya, melihat sekeliling dan tersadar ternyata ada seorang laki-laki yang tidur di sebelahnya. Rania dan Resi duduk di bagian kursi untuk tiga orang.


"Ah, ternyata si Ucup. Kirain sapa," gumam Rania segera bangun dan mengambil alat mandi di travel bag nya.


"Ayo," ajak Resi.


Mereka turun dari bis di parkiran sebuah mesjid lumayan besar. Anak-anak yang lain pun telah lebih dahulu turun dan membuat mesjid dan toilet ramai.


Saat hendak masuk ke mesjid Rania berpapasan dengan Nalendra. Mereka berhadapan, mematung.


"Hei, Ran. Mau solat ya, kayanya udah agak kosong tuh," ujar Imam menyadarkan Rania dari keterkejutannya.


"Ah, iya. Punten," jawab Rania dan melewati Nalendra yang masih memandangnya pergi.


"Kenapa, suka ya ma Rania?" tanya Imam pada Nalendra membuat wajahnya bersemu.


"Apaan sih, ayo," Nalendra menarik Imam yang cekikikan mengejeknya.


Pukul 7 mereka tiba di sebuah restoran lumayan besar. Semua siswa dan para guru turun untuk sarapan. Sepertinya restoran itu bekerja sama dengan pihak travel bus karena begitu mereka tiba, sudah tersedia beberapa menu sarapan secara prasmanan.


Nalendra menarik Rezky ke arah barisan prasmanan paling ujung. Dengan cepat Nalendra menyalip antrian dan mengantri tepat di belakang Rania tanpa menyadari orang yang disalipnya adalah Habib Putra.


"Woy, woy, woy ... antri woy!" seru Habib.


"Tau nih, dia main narik-narik aja," sergah Rezky. tetapi tidak dipedulikan oleh Nalendra.


Nalendra memperhatikan menu yang dipilih Rania dan menyamakannya. Dia sangat senang sekali bisa berdekatan dengan Rania si gadis bermata cokelat itu, walaupun mereka tidak bertegur sapa.


Begitu pun ketika makan malam di penginapan. Nalendra menolak makan karena menunggu Rania, tetapi begitu Rania datang bersama teman-temannya, dia langsung ikut mengantri membuat Rezky tertawa terbahak. Hanya Rezky yang mulai mengerti jika Nalendra suka dengan Rania.


Sampai ketika di Borobudur, mereka berfoto-foto mengabadikan kenangan yang akan selalu mereka ingat. Naik ribuan tangga, berfoto di stupa, Berkeliling ke beberapa museum tidak membuat mereka lelah.


Nalendra mengedarkan pandangannya, dia tidak melihat Riana sejak turun dari Borobudur.


"Ayo keliling museum," ajak Rezky yang sedari tadi tersenyum memperhatikan temannya.


"Cape," tolak Nalendra.


"Ayo, keliling museum," ajak Imam.


"Aku tunggu di sini aja," ujar Nalendra duduk di tepi jalanan.


"Ayo cepat!" seru Rezky. "Liana sama si Onta kemana ya?"


Onta adalah panggilan untuk Habib Putra karena dia keturunan Arab.


"Riana ke Museum kapal tuh," ucap Rezky sambil melirik Nalendra. "Tapi ga sama Liana, dia ma temen-temennya."


Nalendra langsung berdiri dan melihat ke arah yang ditunjuk Rezky. Benar saja itu Riana, Nalendra memang bermata minus, tetapi dia tidak mungkin salah mengenali gadis yang dia sukai.


"Ayo, katanya mau keliling!" seru Nalendra bersemangat.


Ketika memasuki Museum, terasa sunyi senyap. Banyak anak yang sedang melihat-lihat, tetapi perasaan sunyi langsung terasa seakan kau memasuki ruang hampa.


Nalendra mengajak teman-temannya melihat perahu lumayan besar berdiri terdiam di tengah ruangan.


Rezky mulai mengerti tentang Nalendra yang selalu bereaksi begitu mendengar nama Rania, akhirnya memberikan diri memberitahu sesuatu yang menurutnya penting.


"'Ndra, aku cuma mau ngasih tau. Ada gosip jika deasy memusuhi Rania gara-gara dia nyangka Rania suka sama kamu," bisik Rezky, tetapi bisikannya bisa terdengar oleh orang di belakangmu.


"Rania apa?" Suara gadis terdengar nyaring membekukan darah mereka.