
"Tapi, apa Pacar 'Nak Nalendra tidak marah kalau terus nengokin Dareen?"
"Saya belum punya pacar, Pak," jawab Nalendra tenang.
"Oh, saya pikir 'Nak Nalendra sudah ada yang punya atau minimal sudah bertunangan."
"Hahaha ... belum, saya masih single."
"Ah, saya tidak percaya."
"Benar, saya memang masih single," jawab Nalendra tersenyum.
"Tapi yang disuka pasti ada dong?" canda pak Idris.
"Ada, anak bapak," gumamnya dalam hati.
Nalendra hanya bisa tertawa kecil. Dia belum berani mengungkapkan keinginannya memperistri Rania
"Hatur nuhun ya 'Nak, hati-hati di jalan," ucap pak Idris setelah keluar dari mobil. Dia melambaikan tangannya melihat mobil Nalendra yang kemudian menghilang di kejauhan.
"Ternyata benar, dia menyukai anakku," gumamnya sambil tersenyum. "Semoga Rania mendapat jodoh yang terbaik menurut Engkau, ya Allah," batinnya.
***
Pekerjaan yang menumpuk tidak membuat Nalendra patah semangat, justru dia ingin dapat segera menyelesaikan semuanya.
Kurang dari sepuluh hari lagi berakhir masa Iddah Rania, Si wanita bermata cokelat. Sejak dari rumah sakit itu, Nalendra berusaha menekan rasa rindunya pada Rania maupun Dareen. Dia lebih banyak menyibukkan diri di kantor hingga larut malam.
"Sepertinya tidak berjalan lancar, dia kembali menjadi seorang yang gila kerja," gumam Aziz dalam hati.
Namun, satu yang Aziz sadari, Nalendra sudah jarang terlihat marah-marah. Dia lebih cenderung diam ketika mereka bersama.
"Indahnya hari ini," pikir Aziz.
Ponsel Nalendra bergetar, dilihatnya ada sebuah pesan masuk. Langsung dia mengambil dan membuka pesannya.
Seburat senyum tercipta di bibir seksinya. Pesan itu dari seseorang yang sangat dia hormati, Pak Idris.
'Nak, Kalau mau main ke sini Sabtu Minggu depan saja. Sabtu nanti Rania sudah tidak dalam masa Iddah dan mama juga adeknya akan berada di sini.
Beberapa kali Nalendra mengulang membaca pesan tersebut. Hatinya sungguh berbunga-bunga, tak sabar ingin segera bertemu Rania.
"Ziz, ayo kita berangkat sekarang. Biar agak santai di jalan." Nalendra menutup gagang teleponnya.
Dia bersenandung sambil mengenakan jas hitamnya. Dia harus berangkat ke Jakarta barat untuk rapat dengan beberapa klien.
Sepanjang jalan terlihat Nalendra tersenyum sambil melihat keluar jendela yang berada di sampingnya. Beberapa kali dia mengetuk-ngetuk jendela mobil dengan buku jari.
**Flashback**
Hari pertama masuk setelah liburan kenaikan kelas, menjadi kebahagian tersendiri bagi para siswa. Anak kelas XI dan XII dari semua jurusan bercampur menjadi satu di lapangan upacara. Bukan untuk upacara, tetapi mendengarkan arahan Tahuan ajaran baru sebagai ucapan selamat datang kembali di sekolah.
Tahun ajaran baru berarti pergantian kelas kembali, pergantian teman sekelas kembali.
"List daftar siswa pergantian semua kelas telah tersedia dan dapat dilihat di Mading pengumuman," ucap Kepala Sekolah.
"Tidak perlu berdesakan, karena Tahun ajaran akan efektif di hari Kamis. Masih ada tiga hari untuk kalian dapat melihat di kelas mana kalian akan belajar," lanjutnya.
Tiga hari, waktu yang sangat berharga untuk bersantai sebelum kembali sibuk dengan semua kegiatan pembelajaran.
Para siswa memenuhi koridor tempat pengumuman berada. Mereka ingin sekali melihat di kelas mana mereka akan belajar, apa masih sekelas dengan temannya atau berbeda kelas.
Jauh dari hiruk-pikuk keramaian depan Mading sekolah. Rania beserta teman-temannya yang sekelas ketika kelas XI sedang duduk bercanda tawa di kantin sekolah.
"Sekarang atau nanti juga sama saja, bisa melihatnya."
"Liburanku diam di rumah, bisa kalian bayangkan betapa bosannya aku hanya diam di rumah. Kamar, kamar mandi, dapur, teras depan rumah, balik lagi ke kamar," keluh salah seorang teman Rania.
"Sama, aku juga ga jauh beda. paling keluar ke warung beli pulsa atau jajan," timpal seorang yang lain menghela nafas.
"Kalau aku lumayan jalan-jalan," ucap Rania membuat semua temannya mendelik.
"Ya, jalan-jalan. Ke depan rumah ngejemur baju sambil ngejemur badan, kadang jalan kaki beli bakso, main monopoli sama temen deket rumah," terangnya.
"Kamu ga bosan?" tanya Uci.
"Enggak," jawabnya. "Cuma seminggu yang enggak, sisanya ya begitu, sama kaya kalian."
"Dasar! kirain beneran ga bosan!"
"Mommmyyyyy ...," teriak seorang laki-laki sedikit gemulai memanggil salah seorang teman Rania.
"Hey," jawab Fia sambil melambaikan tangan senang. Fia seorang gadis yang cantik berbadan lumayan berisi, berkulit putih bersih. Teman-temannya memanggil dia mommy karena selain pintar, dia juga selalu mengeluarkan kata-kata bijaksana seperti seorang ibu pada anaknya.
"Kita sekelas lagi," ucapnya menghampiri mereka.
"Masa?"
"Hey, itu punyaku, hey!" seru Uci yang langsung cemberut mendapati minumannya yang tandas.
"Masih penuh ga?" tanya Sari.
"Masih," jawab lelaki gemulai itu.
"Ko bisa liat, pasti susah ya desak-desakan?" tanya Fia.
"Hempaskan aja," ujarnya menirukan gaya tangan seorang selebriti.
Ya, melihat badannya yang tinggi dan gemuk pasti sangat mudah menerobos orang-orang yang berdesakan, pikir mereka.
"Jadi, kelas apa?" tanya Fia lagi.
"IPA 4," jawabnya singkat.
"Jadi penasaran pengen cepet liat," ungkap Rania.
"Oh, Rania ya," ucap lelaki gemulai itu berpikir sejenak. "aku ga tau, aku ga liat punya you. Aku cuma liat punyaku trus daftar siswa kelasku aja."
"Ih, dasar. Kirain tau!"
"Batagor nih, udah dateng. Sapa dulu nih," ujar Sari menyodorkan mangkok batagor kuah ke arah teman-temannya.
"Nih yang kering." kembali dia menyodorkan satu mangkok lagi.
Mereka mengobrol, bergosip, bercanda tawa sambil menikmati batagor, ada juga yang memesan mie ayam, mie rebus, bakso.
"Zupe, kamu ga makan?" tanya Fia.
"Enggak, tadi aku udah makan di rumah. Lagi usaha diet," ungkapnya sambil makan keripik pedas.
"Diet, tapi ngemil mulu!" Ledek Sari.
Zupe adalah panggilan lelaki gemulai tadi. Namanya Zulfikar, tetapi karena badannya gemulai teman-temannya memanggil Zupe. Dia pun tak keberatan dan seperti menikmati nama panggilan untuknya.
"Uci, kita sekelas," Ujar Trisno seorang laki-laki berbadan tinggi kurus berkulit sawo matang menghampiri mereka.
"Iya, kelas apa? mommy IPA 4," tanyanya.
"IPA 2 dong," ujar Tri.
"Mas, tolong ambilin kerupuk dong," pinta Fia pada Trisno. Mas adalah panggilan sayang teman-temannya karena dia berdarah Jawa.
"Apa ga ada yang sekelas lagi denganku gitu?" keluh Rania. Masa dia harus melihat daftar pergantian kelas sendirian. batinnya.
"Nanti kita temenin liat ko, nyante aja," ujar Sari. "Aku juga kan belum," ujarnya lagi.
"Eh, sari sekelas ma kita lagi," sergah Trisno.
"Masa?" ucapnya bebinar tak percaya.
"Yoi."
"Masih penuh ga di sana?" tanya Trisno pada temannya yang baru datang.
"Udah mulai sepi kayanya."
"Dah sepi tuh, mau liat ke sana ga? lagian banyak yang udah pada pulang. Anak-anak IPS kebanyak pulang, besok baru mereka pada liat ke sini."
"Nanti, aku abisin dulu mie ayamnya. Tunggu bentar lagi," ucap Sari. Diantara teman-temannya, dialah yang paling lelet ketika makan.
"Yogurt ini enak, cobain geura," ucap Rania, menyodorkan yogurt pada teman-temannya.
"Berapaan?"
"Dua rebuan," jawab Rania.
Mereka berjalan berjalan melewati beberapa koridor ruang kelas. Menaiki tangga yang lumayan membuatmu berkeringat. Sekolah Rania tidak berada di dataran seperti sekolah lain, tetapi berada di perbukitan.
"Ayo, sepi tuh," ujar Sari setengah berlari ke arah Mading sekolah lalu melihat daftar pembagian kelas.
Rania berjalan cepat mengikuti sari. Dia mulai menyusuri, mencari nama dengan telunjuknya.
"Ko namaku ga ada ya," ujar Rania setelah selesai melihat daftar kelas IPA 1.
Dia langsung meloncat ke daftar kelas IPA 3, karena dia pikir namanya tidak akan berada di sana setelah mendengar penuturan Trisno tadi di kantin.
Rania asik membaca nama-nama di daftar kelas tersebut. Dia menyusuri namanya dari bawah, karena namanya berawalan dari huruf R pasti berada di bawah.
Rania tertegun saat telunjuknya bertemu dengan telunjuk orang lain yang berada di atasnya. Telunjuk mereka beradu. Sepersekian detik mereka berdua terdiam memandangi telunjuk mereka.
Rania mendongakkan kepalanya melihat telunjuk siapa yang beradu dengannya.
Deg ..., Mereka benar-benar terdiam, menikmati irama jantung mereka yang sepertinya beradu pula.