Yes, It'S U

Yes, It'S U
Bab 21



Rania asik membaca nama-nama di daftar kelas tersebut. Dia menyusuri namanya dari bawah, karena namanya berawalan dari huruf R pasti berada di bawah.


Rania tertegun saat telunjuknya bertemu dengan telunjuk orang lain yang berada di atasnya. Telunjuk mereka beradu. Sepersekian detik mereka berdua terdiam memandangi telunjuk mereka.


Rania mendongakkan kepalanya melihat telunjuk siapa yang beradu dengannya.


Deg ..., Mereka benar-benar terdiam, menikmati irama jantung mereka yang sepertinya beradu pula.


🎶"Kurasa ku tlah jatuh cinta, pada pandangan yang pertama, sulit bagiku untuk bisa, berhenti mengagumi dirinya,"🎶 Rezky bernyanyi cukup keras membuyarkan lamunan Riana dan Nalendra.


Ya, itu adalah telunjuk Nalendra. "Maaf," ucapnya. lalu berjalan mundur karen menyadari badannya yang terlalu dekat dengan badan Rania.


Nalendra sungguh tidak menyadari bagaimana bisa dia tidak melihat atau sadar ada orang di depannya, yang membuatnya lebih terkejut itu adalah Rania. Walaupun membuat dia merasa senang juga.


Nalendra melirik teman-temannya yang cekikikan menertawakannya, apalagi setelah Rezky menyanyikan bait salah satu lagu dari RAN. Nalendra benar-benar merasa malu sekali.


Rania tertunduk malu, dia merasa ingin sekali berlari dari sana atau membuat lubang yang dalam. Sari yang tadi terlalu fokus mencari namanya tidak menyadari apa yang telah terjadi pada Rania.


"Udah, kelas apa?" tanya Fia yang baru sampai di sana.


"Aku IPA 4 bareng lagi sama mereka, aku kira bisa sekelas denganmu lagi," jawab Sari tertunduk lesu karena tidak bisa satu tempat duduk lagi dengan Rania, padahal hanya Rania yang selalu mendengar curahan hatinya yang menurut orang lain lebay.


"Rania?" tanya Fia.


"Mmm, aku IPA 3," jawab Rania, pikirannya masih terbagi dengan kejadian yang terjadi dia alami.


"Ternyata dia manis," pikir Rania, yang langsung menempelkan kedua tangan di pipinya. "malu sekali," batinnya.


"Hey, sekelas kita," ujar Trisno pada Faqih.


"IPA 4?" tanyanya memastika.


"Iya dong." mereka melakukan High five.


"Dia sekelas denganku," gumam Nalendra tersenyum bahagia. Jantungnya kembali berdetak kencang mengingat kejadian tadi.


"Rania," teriak Liana menghampirinya.


"Kita sekelas," ucapnya.


"Iya?" tanya Rania tidak percaya. Dia tidak sempat melihat nama-nama yang berada di atas namanya. Dia keburu terkejut karena Nalendra.


Rania kembali ke depan Mading, melihat kembali daftar nama di kelas IPA 3. "Iya, ternyata sekelas sama Liana, Habib Putra juga di kelasku," gumam Rania, terus menyusuri kembali nama-nama yang akan menjadi teman sekelasnya.


Telunjuknya berhenti di nama Nalendra Sulaiman. "Dia juga sekelas denganku," pikir Rania membuat wajahnya bersemu merah. Nama Nalendra hanya terhalang satu nama dari namanya.


"Iya kan sekelas?" tanya Liana. Riana mengangguk membenarkan.


**Flashback off**


"Pak," panggil Aziz.


"Iya, maaf. Ada apa?" tanyanya.


"Kita sudah sampai," ucap Aziz memberitahu. Aziz mengernyitkan dahi nya bingung dengan kelakuan Nalendra yang terlihat tidak fokus.


Mereka pun kita telah berada di private room sebuah restoran mewah dibilangan Jakarta barat. Meeting yang hampir memakan waktu empat jam membuat Aziz terlihat lelah, tetapi tidak dengan Nalendra.


Nalendra masih terlihat segar dan lebih banyak tersenyum walaupun fokusnya berkurang kalau hanya berdua bersama Aziz.


"Pak, apa mau ke kantor dulu atau bagaimana?" Aziz berharap dia sudah boleh pulang karena waktu pulang sebentar lagi.


"Mobilnya pakai saja olehmu, besok bawa ke kantor. Turunkan aku di halte depan."


"Bapak saya antar sampai apartemen aja ya," ucapnya merasa tidak enak jika harus menyuruh atasannya naik bis.


"Ga apa-apa, aku mau ke kantor dulu. Ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan," jawabnya.


"Apalagi ini, bisa gawat nanti!" pikirnya.


"Kalau gitu saya temani pak," kata Aziz.


"Maaf ya, gara-gara saya kamu harus ikutan lembur," ujar Nalendra merasa bersalah.


Aziz hanya tersenyum, walaupun di dalam hatinya merasa kesal dengan atasannya yang gila kerja ini.


***


Di rumah Rania telah kedatangan tamu dari saudara-saudara Ergha dari pihak pak Darmawan.


"Teh, masa Iddah teteh berapa lama lagi?" tanya Wa Hana, Kakak tertua pak Darmawan.


"Berapa ya, hari Kamis depan juga sudah selesai."


"Semingguan lagi berarti ya," ucapnya. Rania mengangguk membenarkan.


"Teteh katanya mau kerja lagi ya?" tanya Wa Nia. Kakak kedua pak Darmawan.


"Iya, insyaallah," jawab Rania.


"Kenapa ga diam di rumah aja?" tanyanya.


"Ya dulu kan ada Ergha yang kerja nyari nafkah, sekarang udah ga ada. Jadi ya, aku juga kan harus nabung buat nyekolahkan Dareen Wa," ungkap Rania sendu.


"Iya, masih muda ini ya teh," kata Wa Hana.


"Kata bapak, teteh mau pindah ke Bandung?" tanya Wa Nia lagi.


"Iya."


"Kenapa ga di sini aja. Sayang rumah kalau ditinggalin, nanti rusak," ujar Wa Nia.


Rania hanya tersenyum, "Ini pasti di suruh bapak biar aku tetep di sini," batinnya.


"Teteh di sini aja, titipin Dareen ke ibu. Biar ibu ngurusin cucunya."


Rania menggelengkan kepalanya. "Enggak Wa, Rania ga bisa nitipin ke ibu. Dari dulu Rania sama Ergha udah sepakat ga nitipin anak ke orangtua, dosa Wa," jawabnya.


"Sekarang 'kan Ergha nya juga udah ga ada. teteh ambil pengasuh aja, nanti ibu tinggal ngeliatin aja."


"Enggak ah Wa. Gaji pengasuh gede-gede di sini sekarang, sedangkan gaji pengajar juga ga seperti gaji pekerja atau karyawan pabrik atau perusahaan. Nanti Rania cuma dapat cape aja," tolaknya.


"Kalau di Bandung sama siapa kalau teteh kerja?"


"Di Bandung udah ada tetangga yang suka bantuin mama di rumah. Nanti biar dia sekalian jaga Dareen, juga 'kan udah kenal Rania-nya. Kalau di sini ngambil pengasuh suka takut, apalagi liat di pemberitaan di tv pada di bawa ngamen, dikasih makan sembarangan, dipukulin, ngeri Wa," tutur Rania.


"Atuh nanti gimana kalau mau ketemu teteh udah di Bandung mah?" keluhnya.


"Gampang Wa, Nanti juga Rania bakal main ke rumah Ibu sama Bapak ko. Telepon aja kasih tau kalau ada acara, nanti Rania insyaallah datang."


"Bapak teteh kapan ke sini lagi nya?"


"Mungkin lusa, lagi ada yang panen. Jadi ngurusin sawah dulu," jawab Rania tersenyum.


"Iya ya lagi musim panen di sana juga," kata Wa Hana.


"Teteh kapan pindah ke Bandung?"


"Belum tau Wa, mungkin Minggu depan, bulan depan atau bulan depannya lagi."


"Nanti kasih tau kalau mau pindahan. Wa mau ikut nganterin teteh ke Bandung,"


"Wa terakhir ke Bandung cuma pas teteh nikah aja dulu sama si aa Ergha abis itu belum ke Bandung lagi," keluhnya.


"Eh, 'kan kata Kakeknya Dareen juga kalau si teteh pindah semua harus ikut nganterin ke Bandung," Kata Wa Nia.


"Teh, nih Wa mau nanya ke teteh," ujarnya. "Teteh kan masa Iddah sebentar lagi udah selesai 'kan. Teteh ada kepikiran buat nyari pasangan lagi ga?" tanya Wa Nia.


"Ya, teteh kan masih muda, Dareen juga masih kecil. Kalau misalkan ada yang mau sama teteh gimana? teteh mau ga?" lanjutnya.