Yes, It'S U

Yes, It'S U
Bab 55



"Ehm, bolehkah Dareen menginap bersamaku. Aku takut kami pulang terlalu malam," tanya Nalendra.


"Apa?"


"Bolehkah aku mengajak Dareen menginap? aku ga tau ibuku mengajak pulang jam berapa. Aku meminta izin padamu, takutnya ibuku mengajak pulang larut malam atau menginap di rumah Abahku."


"Ndra, aku masih khawatir," jawab Rania jujur.


"Tenang aja, Dareen itu anak baik. Dia sama sekali tidak merepotkan. Kau masih ingat 'kan kemarin dia juga menginap di apartemenku?"


"Itu hanya denganmu, tapi sekarang 'kan dengan keluargamu. Aku takut dia merepotkan ibu dan ayahmu!"


Nalendra melihat Bu Shafira menggendong Dareen, sambil tertawa-tawa. Sedangkan ayahnya Pak Sulaiman berada di sampingnya membawa beberapa kantong belanja sambil tersenyum pula. Nalendra segera mengambil foto mereka dari kejauhan.


"Aku barusan mengirim pesan foto, mereka sudah datang. Nanti aku telepon lagi ya, jangan terlalu khawatir. Percayalah padaku," ujar Nalendra. "Assalamu'alaikum," pamitnya, mengakhiri telepon.


"Dari mana? lama banget!" Nalendra segera mengambil alih tentengan yang dibawa Pak Sulaiman dan membawanya ke dalam bagasi mobil.


Dareen tertidur ketika menuju rumah orangtua Pak Sulaiman. Dia tidur di pangkuan Bu Shafira, Pak Sulaiman duduk di kursi samping Nalendra.


Butuh hampir sejam perjalanan dari tempat kolam renang ke kampung Pak Sulaiman. Begitu memasuki perkampungan, jalan yang dilalui berubah menjadi jalan diantara hamparan pematang sawah.


Nalendra berhenti di sebuah rumah sederhana berwarna putih biru yang memiliki halaman luas berpagarkan dari bambu. Rumah itu sangat bersahaja dan asri, di sana sini ditanam berbagai jenis bunga yang sedang bermekaran. Di samping rumah terdapat semacam kebun dengan ditanami cabe rawit, tomat yang sudah merah siap dipanen.


Pintu rumah dibuka, keluarlah seorang laki-laki paruh baya. Dia tersenyum senang begitu melihat mobil yang masuk pekarangannya.


Pak Sulaiman segera keluar dari mobil dan menghampiri laki-laki paruh baya tersebut. "Pak," sapanya segera memberi salam hormat.


Nalendra keluar dari mobil, berjalan cepat mengikuti Sang ayah untuk memberi salam pada Laki-laki paruh baya tadi. Setelahnya dia berjalan kembali ke mobil untuk menggendong Dareen yang masih terlelap.


Bu Shafira pun keluar dengan membawa beberapa tentengan oleh-oleh.


"Kak, awas itu kepalanya!" seru Bu Shafira melihat kepala Dareen terkulai di bahu Nalendra.


Nalendra sedikit berlari ke dalam rumah meninggalkan Bu Shafira yang sedang mengomelinya karena menggendong Dareen sambil berlari.


"Tidurkan di kamar aja, Kak," kata Pak Sulaiman.


"Sini ajalah," jawab Nalendra hendak menidurkan Dareen di sofa.


Pak Sulaiman pun membawakan bantal untuk alas tidur Dareen.


"Saha ieu?" tanya laki-laki paruh baya tadi yang baru keluar dari ruang dalam. Dia terlihat bingung karena cucunya sedang menggendong seorang anak, padahal dia tahu jika Nalendra belum mempunyai anak. Jangankan anak, istri aja belum punya.


"Oh, ini cucu kita, Pak," jawab Bu Shafira tenang.


"Cucu Saha?" tanyanya terkejut.


Bu Shafira terkekeh melirik Pak Sulaiman. "Anak teman Nalendra. Dia dekat dengan Nalendra jadi udah kaya cucuku," kata Pak Sulaiman.


Nalendra merasa sangat senang ketika mendengar Bu Shafira berkata jika Dareen adalah cucu mereka.


Ada harapan. gumam Nalendra dalam hati.


"Meni kaget Abah. Kirain iya cucu Abah udah punya anak, ga ngasih tau Abah dulu nikahnya!" Laki-laki paruh baya tadi mendekati Nalendra menepuk bahunya sambil tertawa.


Dia adalah Abah Danu, bapak dari Pak Sulaiman. Beliau tinggal sendiri karena Sang istri sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Dia lebih senang tinggal di rumah sendiri daripada ikut dengan salah satu anaknya. Ya, tentu saja mengingat rumah sederhana tersebut sudah menjadi saksi bisu semua cerita hidup Abah Danu yang sudah berusia 81 tahun. Namun, jangan salah! badannya mungkin jauh lebih sehat dari yang berusia 60an.


Beliau masih suka mengurus sawah dan kebun dengan dibantu beberapa orang buruh tani. Beliau masih ikut dalam kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh kampung. Itulah sebabnya orang kampung menjadikannya sesepuh atau tokoh di kampung lereng yang asri itu.


"Man, hayu ka Balong (Empang). Urang ngala lauk (kita ngambil ikan)!" Abah Danu segera masuk ke dalam mengambil baskom lumayan besar untuk tempat ikan nanti.


Pak Sulaiman segera beranjak dari duduknya, mengikuti Abah Danu.


Nalendra menyenderkan badannya di kursi berlengan di sisi Dareen yang mulai bergerak hendak bangun. Mata Dareen mulai membuka, mengedarkan pandangan ke sekeliling karena merasa asing dengan tempat dia berada.


"Om," panggil dareen lemah karena baru bangun.


"Apa, jagoan. Udah bangun?"


Dareen mengangguk, dia merubah posisi menjadi menyamping. "Ini di mana?"


"Ini rumah Abahnya Om." Nalendra mengusap kepala Dareen pelan.


"Eh, anak ganteng cucu Nenek udah bangun. Dareen suka ikan ga? Kakek lagi mancing di kolam." ujar Bu Shafira yang baru saja keluar dari ruang dalam rumah.


"Mancing ikan, Dareen suka makan ikan 'kan? tanya Bu Shafira.


Dareen mengangguk, dia menatap Nalendra lekat.


"Iya, ayo ke kolam sama Om!" Nalendra segera berdiri mengulurkan tangannya untuk menggendong Dareen.


"Aku udah besar Om," ucapnya menepis ukuran Nalendra. Bu Shafira terkekeh mendengarnya. "Nek, aku mau ke Kakek dulu," pamitnya.


Nalendra menuntun Dareen yang tidak mau digendong. "Hati-hati licin!" ujar Nalendra mengingatkan Dareen.


Kolam ikan atau Empang berada tidak jauh dari rumah Abah Danu. Namun, tanah yang dilewati bisa menjadi licin jika sehabis hujan. Untunglah hari itu hujan tidak turun, tetapi tanah merah yang mereka lewati sedikit licin karena basah.


"Om." Dareen memandang Nalendra dengan mengangkat kakinya sebelah, memperlihatkan tanah di sandal yang dia pakai.


"Hahaha ... copot aja sandalnya," ujar Nalendra, dia pun mencopot sandal yang dia pakai.


Dareen tampak ragu, tetapi akhirnya dia mencopot sandalnya dan memberikan pada Nalendra untuk dibawa. Dareen menggerak-gerakkan jari kaki dan tersenyum. "Lengket ya Om, Kakiku kotor," ujarnya tertawa.


"Iya, kaki om juga sama, kotor." Nalendra memperlihatkan kaki yang sudah kotor oleh tanah merah.


"Ayo!" ajak Nalendra kembali menuntun Dareen.


Dareen berjalan sambil cekikikan sendiri melihat tanah menempel di kaki.


"Kakek!" Dareen melambaikan tangan ke arah Pak Sulaiman yang berada di dalam Empang untuk menangkap ikan dengan jaring.


Pak Sulaiman tersenyum menatap Dareen. "Udah bangun, sini nangkap ikan sama Kakek!" ajaknya.


Dareen berjongkok di pinggir Empang. Abah Danu mengusap kepala Dareen, "Namanya siapa?" tanya Abah Danu.


"Dareen."


"Dareen," ujar Abah Danu mengulang. "Dareen suka makan ikan?" Dareen mengangguk pelan tanpa melihat Abah Danu, dia terlalu asik melihat Pak Sulaiman dan Nalendra yang sedang berada di dalam Empang menjaring ikan.


"Om, ini ikannya ke sini!" teriak Dareen menunjuk sisi Empang di depan dia.


"Kalau Dareen mau ikut nangkap ikan, Dareen harus menginap dulu di rumah Abah Uu (Sebutan untuk menyebut kakek buyut). Nanti besok kita nangkap ikan lagi, nyebur ke Empang," rayu Abah Danu.


"Iya," jawab Dareen tersenyum.


Dareen tertawa ketika melihat Nalendra basah setengah badan. Dia pulang dituntun oleh Abah Danu, sedang Nalendra membawa ikan hasil tangkapan di dalam jaring dan baskom yang tadi mereka bawa dipakai untuk sandal.


Sampai di rumah, Dareen dengan riang bercerita pada Bu Shafira. Ini memang pertama kalinya Dareen diajak bermain bersama keluarga Nalendra, tetapi tidak terlihat sama sekali kerenggangan justru Dareen seperti satu keluarga dengan Nalendra.


Ikan sudah dibersihkan oleh Pak Sulaiman, dan dibumbui olehnya. Bu Shafira sedang menyiapkan lalapan dan sambel sebagai teman ikan goreng nanti. Dareen bermain di teras dengan Abah Danu. Beliau mengajarkan Dareen membuat orang-orangan dari batang dan daun singkong.


Setelah selesai mandi, Nalendra keluar duduk diteras, melihat Dareen tertawa bermain bersama Abah Danu. Dia mengeluarkan ponselnya dan memvideokan kegiatan Dareen dan Abah Danu lalu mengirimkan pada Rania.


Nalendra masuk ke dalam rumah begitu melihat Rania menghubunginya.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam," jawab Nalendra.


"Ndra, masih di mana?"


"Di rumah Abahku di Garut, alihkan ke Videocall aja ya," pinta Nalendra.


"Mana Dareen?" tanya Rania begitu sudah teralih ke Videocall.


Nalendra keluar rumah menghampiri Dareen yang masih tertawa mendengar Abah Danu mendongeng menggunakan orang-orang dari daun singkong.


"Bunda," panggil Dareen begitu melihat wajah Rania di layar ponsel Nalendra. "Bunda, aku mau nginep di sini, aku mau renang di kolam ikan besok. Hari ini Om masuk ke kolam ikan nangkap ikan, tapi aku ga boleh masuk. Om bilang udah sore di sini dingin. Jadi aku mau nginep ya," tutur Dareen tanpa jeda.


"Ndra, emang mau nginep ya?" tanya Rania.


Nalendra lalu menjauhkan ponsel dari Dareen yang kembali bermain dengan Abah Danu. "Kayanya Ibu sama Bapak pengen nginep semalam. Bisa sih aku pulang nganterin Dareen trus balik sini lagi." Nalendra terlihat berpikir.


"Ndra, maaf ya. Jadi ngerepotin," ucap Rania.


"Ga ngerepotin ko, beneran. Tapi boleh ga kalau Dareen ikut nginep aja, besok siang abis jumatan aku pulang. Lagian kalau habis magrib pulang nyampe Bandung jam 10an mungkin."


"Tapi, Ndra ...." Rania terlihat setengah hati.