Yes, It'S U

Yes, It'S U
Bab 37



Rania memesankan ayam bakar untuk Dareen dan kwetiau goreng pedas untuknya. "Pesankan aku menu yang sama denganmu," ujar nalendra. Rania pun mengangguk dan menuliskan pesanannya.


Beberapa puluh menit kemudian datanglah pesanan mereka. Rania menggeser ayam bakar ke depan Dareen, dan kwetiau goreng ke depan Nalendra. "Punyamu mana?" Rania menunjuk kwetiau miliknya yang baru disajikan oleh pelayan. "Ini ada," jawabnya.


Mereka memulai makan setelah berdoa, Dareen yang memimpin doa makan. Nalendra menyuapkan kwetiau ke mulutnya dan tertegun. "Ini ga pedas?" tanyanya terkejut.


"Oh, tadi aku pesankan yang ga pedas. Aku kira kamu masih ga suka pedas, kalau mau boleh ditukar punyaku," jawab Rania sama-sama terkejut.


"Tidak, ini saja. Terimakasih," ujarnya tersipu.


Rania mengernyitkan dahinya memandang Nalendra. "Oh, maksudku terimakasih karena masih ingat kalau aku tidak suka pedas." perkataan yang biasa tetapi mempunyai efek yang luar biasa karena membuat wajah wanita itu bersemu merah.


"Itu sudah belasan tahun yang lalu, kenapa ingatan itu kembali tiba-tiba?" Rania terkejut dengan pikirannya sendiri.


Rania makan malam dalam diam, kalau pun berbicara hanya untuk menjawab pertanyaan yang diajukan Dareen.


Mereka sampai di rumah pukul 9 malam karena harus mampir dahulu berbelanja bulanan. Nalendra sangat senang ketika Rania memintanya untuk mampir ke pusat perbelanjaan terbesar di Bekasi untuk berbelanja kebutuhan bulanan. Dia merasa sedang menemani istri dan anaknya jalan-jalan.


"Sini biar aku yang gendong," Nalendra mengambil Dareen yang tertidur dari gendongan Rania. "Tolong buka pintunya," ujarnya.


"Oh iya." Rania segera membuka pintu rumahnya.


Nalendra menggendong Dareen masuk dan menidurkannya di kamarnya. Sejak usia dua tahun Dareen sudah belajar tidur di kamar terpisah.


"Terimakasih," ucap Rania ketika melihat Nalendra keluar dan menutup pintu kamar Dareen. "Silahkan duduk, akan kubuatkan teh manis," ujarnya.


"Tidak usah, terimakasih. Aku sudah terlalu banyak minum yang manis hari ini, kalau boleh segelas air putih aja."


"Baiklah." Rania segera mengambilkan air putih dan meletakkannya di meja.


Nalendra segera menghabiskan segelas air putih yang diambilkan Rania. "Sudah malam, aku harus segera pulang." pamitnya.


"Iya, terimakasih sudah meluangkan waktu mengajak Dareen main dan terimakasih untuk makan malamnya juga," tutur Rania canggung.


"Belanjaannya sudah diambil?"


"Belanjaan apa?" tanya Rania. Matanya langsung membulat. "Ah, astaghfirullah. Aku lupa maaf," ungkap nya segera bergegas ke luar rumah mengambil belanjaan dari bagasi mobil Nalendra.


"Biar aku bantu. Ini berat." Nalendra segera mengambil kantong belanjaan dari tangan Rania dan membawanya ke dalam.


"Terima kasih," ucap Rania yang masih berdiri mematung di dekat mobil Nalendra.


"Aku pulang, assalamu'alaikum," ucapnya tersenyum masuk ke dalam mobil.


Nalendra melambaikan tangan ketika melihat Rania menutup pintu gerbang rumahnya.


***


Libur sekolah memang waktu yang paling ditunggu, bukan hanya oleh para siswa tetapi juga oleh para orangtua. Dua Minggu lagi liburan kenaikan kelas dimulai. Dareen telah Rania daftarkan di TK dekat rumah orangtuanya. Begitupun Rania sudah empat kali dipanggil sebuah yayasan tempat dia akan mengajar kembali.


Ketua yayasan tersebut adalah teman dekat mamanya, Bu Sekar. Namun, tetap saja Rania diberlakukan sama seperti pencari kerja lainnya.


Wawancaranya tidak seperti wawancara yang lainnya, mereka bertanya seperti kepada teman atau sahabatnya yang lama tidak berjumpa. Mereka tahu jika Rania seorang janda beranak satu.


"Kembali ngajar lagi ya Teh setelah sekian lama, gugup ga?" tanya Bu. Fatimah istri ketua yayasan tempat Rania akan mengajar.


"Gimana kabar Si Ade?"


"Alhamdulillah baik, Bu."


"Teh, berencana kuliah lagi ga. Nerusin lagi gitu?"


"Kalau ada kesempatan, insyaallah mau." ungkapnya. Rania sudah bergelar master pendidikan atau S2. Dia menikah dengan Ergha saat dirinya menempuh kuliah S2 dan lulus saat Dareen baru berumur beberapa bulan.


"Berarti nanti kalau berencana menikah lagi harus sama yang mapan, yang mengerti impian Teteh," tuturnya. Entah itu sindiran atau memberi semangat bagi Rania tapi berhasil membuat Rania tersenyum manis dengan hati yang kesal.


"Ada rencana buat menikah lagi dalam waktu dekat?" tanyanya lagi.


"Sepertinya untuk saat ini tidak. Tapi kalau Allah memberiku jodoh walaupun itu seminggu kemudian, ya aku insyaallah menerimanya," tutur Rania yang mulai jenuh dengan obrolan mereka.


Bu Fatimah tersenyum mendengar penuturan Rania. "Teteh sudah tinggal di sini atau masih bolak-balik Bekasi?"


"Masih bolak-balik, Rencananya dua Minggu lagi baru pindah menetap di sini."


"Oh, nunggu Ade nya selese semesteran ya?" Rania mengangguk.


"Baiklah, nanti akan ada yang menghubungi Teteh. Nanti ibu usahakan setelah Teteh menetap di sini, biar lebih mudah. Nanti Teteh akan bertemu dengan kepala sekolah SMP nya, walaupun hanya formalitas tapi lebih baik tunjukan kemampuan Teteh yang terbaik."


"Iya, baik Bu. haturnuhun," ucapnya.


"Salam buat mama ya," kata Bu Fatimah.


Rania berjalan ke arah tempat dia memarkirkan sepeda motornya. Sekolah tempat dia akan mengajar merupakan sekolah swasta yang cukup terkenal di Bandung. Yayasan itu menaungi beberapa tingkatan sekolah dari mulai SD, SMP hingga SMA. Gedung sekolahnya menjulang tinggi hingga lima lantai dan yang paling atas berupa rooftop.


Rania segera pulang ke rumah orangtuanya untuk bersiap kembali ke Bekasi. Lima hari ini dia telah berada di Bandung dan meninggalkan Dareen hanya berdua dengan pak Idris, mungkin juga beberapa malam di temani Nalendra, terlihat dari rekaman cctv di rumahnya.


Ingin sekali Rania meminta Nalendra untuk tidak terlalu sering berkunjung atau menemani Dareen. Dia tidak ingin ada air mata yang keluar dari mata anak semata wayangnya hanya karena ditinggal orang yang telah dekat dengannya.


Bagaimana pun Rania berpikir, tetap saja suatu hari nanti Nalendra mungkin akan meninggalkan Dareen sendirian, setelah dia memiliki keluarga kecilnya sendiri. Betapa akan sedihnya Dareen ketika saat itu tiba. Dareen? ya, Dareen bukan dirinya!.


Butuh keikhlasan ketika kita menerima seseorang dalam hidup kita, butuh lebih banyak lagi keikhlasan ketika kita harus melepaskannya. Rania sudah merasakan itu semua, Hatinya seperti dibuat setengah membeku karenanya. Dia tidak ingin merasakan kepedihan lagi, dia tidak ingin ada air mata lagi. Hingga dia berpikir mulai sekarang, hidupnya berfokus hanya untuk anaknya seorang, Dareen.


Rania berencana akan pulang ke Bekasi dengan kereta pukul empat sore. Zyan yang akan mengantarnya ke stasiun Bandung, tentu setelah mamanya pulang mengajar.


Begitu tiba di stasiun, Rania langsung ke tempat boarding pass dan masuk ke dalam kereta yang akan membawanya pulang. Hanya dua jam waktu yang diperlukan untuknya tiba di stasiun Bekasi kota.


"Sudah lewat magrib," ujarnya melihat jam yang bertengger di salah satu sudut stasiun.


Rania berjalan ke arah lift lalu pintu keluar, tangan kiri mendorong koper kecilnya dan tangan kanan memegang ponsel memesan ojeg online.


"Rania," Suara seorang pria terdengar begitu lantang di keramaian pintu keluar stasiun.


❄️❄️❄️❄️❄️


Hallo the real Readrs ataupun ghost Readrs. Mohon dukungannya dengan like, rate, koment atau hadiahny. Dengan begitu anda telah menghargai karya setiap author. 🥰


Stay safe everyone, see u on next chapter. 👋🥰