Yes, It'S U

Yes, It'S U
Bab 7 Curhat Nalendra



Nalendra susah tidak sabar akan bertemu wanita bermata cokelat yang sudah mengisi hatinya belasan tahun. Dia berencana akan langsung pulang ke Bandung begitu semua jadwalnya hari ini selesai. Pakaiannya masih banyak yang berada di rumah orangtuanya, hingga tidak perlu membawa pakaian dari sini.


"Sebaiknya aku mengajak Aziz makan siang," gumamnya. "Dia pasti tahu apa yang harus aku bawa buat berkunjung besok."


Sedari kemarin Nalendra memikirkan apa yang harus dia bawa ke rumah Rania, rasanya kurang sopan jika dia berkunjung tanpa membawa buah tangan.


Sebenarnya, kata berkunjung tidaklah tepat karena dia ke rumah Rania untuk mengikuti tahlilan 7 hari meninggalnya Ergha, sahabatnya. Namun, bukan itu saja tujuan utamanya, dia ingin mengambil hati sang anak untuk mendekati bundanya.


Nalendra mengambil ponselnya dan menghubungi Aziz. Dia mengajaknya makan siang, tentu dengan rayuan ingin mentraktirnya agar dia langsung menyetujuinya.


Mereka makan siang di restoran yang dekat dengan kantor.


"Kalau bukan karena akan ditraktir, aku ga akan mau makan siang dengannya dengan mengorbankan waktu luangku yang sangat berharga," gumamnya dalam hati.


Nalendra dan Aziz memesan makanan western. "Mumpung ditraktir." pikir Aziz.


"Ziz, aku mau nanya. Menurutmu aku harus bawa apa ke rumah temanku besok ya?" tanya Nalendra to the point.


"Ke rumah teman?" balik bertanya dan dijawab anggukan oleh Nalendra.


"Tergantung, Pak," jawab Aziz.


"Maksudnya?"


"Ya, tergantung. Tergantung teman bapak itu laki-laki atau perempuan," terangnya singkat.


"Dia perempuan." Aziz terkejut mendengar jawaban Nalendra. Selama ini Nalendra tidak pernah menunjukan menyukai seorang wanita. Menyukai dalam artian terhadap lawan jenis.


"Apa perempuan itu kekasih Bapak?" tanyanya hati-hati, takut terkena bogem mentah jika pertanyaan yang dia ajukan salah.


"Belum, dia belum menjadi kekasihku," ungkap Nalendra santai.


"Oh, maksud bapak, bapak lagi pendekatan gitu?" rasa penasaran Aziz langsung muncul.


"Iya, bisa dibilang begitu," terangnya.


"Apa dia tinggal sendiri atau sama orangtuanya? kalau tinggal sendiri ya bawain bunga aja atau cokelat, tetapi kalau tinggal dengan orangtuanya mungkin bapak bisa bawain cake, martabak atau buah-buahan."


"Oh, begitu." Nalendra terdiam berusaha mencerna saran dari asistennya.


"Terus apa yang harus aku bawa buat anaknya?" Aziz langsung tersedak mendengar kata anaknya, tetapi Nalendra tetap menatapnya tenang.


"Jadi perempuan itu sudah punya anak, Pak? tanya Aziz pelan.


"Iya." Nalendra mengangguk.


"Ternyata dia orang yang lebih aneh dari yang aku bayangkan!" pikir Aziz.


"Anaknya umur berapa tahun?" tanya Aziz kemudian.


"Ehm, sekitar empat tahun kayanya," ucap Nalendra.


"Beliin mainan aja, tapi jangan banyak-banyak. Cukup satu saja, karena tidak semua ibu senang anaknya dikasih banyak mainan oleh orang lain," terang Aziz.


"Pak, apa boleh saya bertanya sesuatu, tapi bapak jangan marah ya?" tanyanya lagi hati-hati takut menyinggung atasannya.


"Kenapa bapak menyukai perempuan itu?" tanya Aziz dengan setengah berbisik.


Aziz sungguh tidak bisa mengerti jalan pikiran Nalendra. Banyak gadis cantik yang menyukainya, tetapi yang dia suka malah seorang wanita beranak.


"Entahlah, aku hanya tau kalo aku menyukainya."


"Apa pernah bapak berpikir jika itu hanya rasa suka sesaat, gitu ...," selidik Aziz.


"Aku pikir 14 tahun bukanlah waktu yang sesaat atau sebentar," jawab Nalendra santai.


"Apa? 14 tahun!" seru Aziz dengan suara yang mampu membuat orang disekeliling mereka berbalik memandang mereka.


"Ma-af," ujar Aziz pelan sambil tersenyum malu kepada orang-orang yang melihat mereka.


"Iya." jawab Nalendra singkat.


"Terus kenapa ga dari dulu bapak deketin perempuan itu. Apa dia mantan bapak?" tanyanya lagi semakin penasaran saja.


"Bukan, dia bukan mantanku. Dia pacaran dengan temanku dan mereka menikah," jawab Nalendra.


"Oh, jadi dia istrinya teman bapak. Terus, jika bapak mendekati istri teman bapak, gimana dengan teman bapak itu?"


"Dia udah meninggal kemaren?" Nalendra menatap minuman di depannya.


"Meninggal!" Aziz segera mengatupkan bibirnya begitu sadar jika mulutnya menganga.


"Apa dia membunuhnya seperti di film-film?" pikirannya sudah membayangkan hal yang bisa saja Nalendra perbuat. Tiba-tiba Aziz merasa takut melihat Nalendra di depannya.


"Kenapa teman bapak meninggal?" tanyanya ragu.


"Kecelakaan?" jawab Nalendra singkat.


"Apa dia meminta geng mafia membuatnya kecelakaan seperti di film atau novel?" tangannya menutup mulut karena terkejut dengan pikirannya sendiri.


"Kamu kenapa?" tanya Nalendra yang melihat wajah Aziz sedikit pucat. "apa kamu sakit?"


Nalendra langsung berpikir, ah mungkin dia salah paham dengan perkataanku. "Kamu ingat Kamis kemarin aku buru-buru pulang ke Bandung?" tanya Nalendra.


"Itu karena temanku meninggal. Besok acara tahlilan 7 hari dia meninggal, aku berencana pulang untuk menghadirinya," lanjut Nalendra.


"Jadi perempuan yang bapak sukai itu, istri teman bapak yang baru saja meninggal beberapa hari lalu?" ucapnya dengan cepat.


"Dia benar-benar gila, sudah berniat mendekati janda yang baru saja ditinggal meninggal. Belum juga 7 hari temannya meninggal, tapi udah mau deketin istrinya. Dia benar-benar udah ga waras kek nya!" gumam Aziz dalam hati.


"Jadi gimana, aku harus bawa apa?" tanya Nalendra lagi.


"Pak, mungkin bapak bawa kue-kue aja atau buah-buahan untuk acara tahlilan." Aziz mencoba bersikap tenang setelah beberapa kali terkejut oleh perkataan Nalendra.


"Menurutku, bapak jangan terlalu tergesa-gesa mendekati perempuan itu. Kalau ga salah ada masa Iddah yang harus dia lewati selama tiga bulan," nasehatnya.


"Kalau bapak memang suka sama istri teman bapak yang udah meninggal itu, tunggulah masa Iddahnya. Setidaknya bapak juga harus menjaga kehormatannya, kehormatan keluarganya, menjauhkannya dari fitnah. Apalagi jaman sekarang tetangga itu bisa menjadi netizen yang paling kejam," lanjut Aziz.


"Ya, kau benar. Tiga bulan bukan waktu yang lama setelah penantian 14 tahun," gumam Nalendra mengangguk-angguk setuju dengan apa yang dikatakan Aziz.


"Bapak juga ke sana tidak sendiri 'kan?" tanya Aziz.


"Emang kenapa kalo ke sana sendiri, kemarin waktu 3 harinya aku ke sana sendirian dari siang, tapi keluarganya biasa aja," ungkap Nalendra.


"Besok bapak sebaiknya jangan sendiri," ujar Aziz menghela nafas. "Bapak bisa ajak Ibu misalnya, sekalian mendekatkan juga, Saya rasa ibu Anda tahu teman Anda yang meninggal kemarin mengingat Anda begitu tergesa-gesa waktu teman Anda meninggal." Aziz sedikit tahu jika Nalendra masih sering nongkrong dengan teman-teman sekolah maupun kuliahnya dan dia juga tahu jika tempat tongkrongan mereka ya ... di rumah orangtua Nalendra.


"Baiklah, akan aku usahakan tidak ke sana sendirian," ucapnya.


"Makasi ya Ziz, udah mau mendengarkan ceritaku," ucap Nalendra tersenyum.


"Tentu, Pak. Kapan pun bapak butuh teman ngobrol, saya siap menemani dan mendengarkan bapak," jawabnya.


Tanpa terasa, waktu bergulir begitu cepat ketika kita asik mengobrol. Nalendra dan Aziz kembali ke kantor hampir mendekati waktu asar.


"Ga akan ada yang berani mengomeliku pulang makan siang jam segini, jika bersama pak Nalendra," gumamnya terkekeh.


Nalendra masuk ke dalam ruangannya, membereskan beberapa pekerjaan yang hari ini harus selesai. Pukul empat, dia memanggil asistennya.


"Aziz, tolong kirim bahan untuk meeting lusa dan kalau ada yang harus saya tanda tangan besok, kirim email aja seperti biasa. Tolong besok ambil data dari pak Rizwan. Saya belum shalat," tuturnya melihat jam tangan yang melingkar di tangannya.


"Baik, Pak," jawab Aziz.


"Saya langsung berangkat ya, kalau ada masalah telepon saja atau kirim pesan."


Aziz mengangguk mengerti. Dia memang kesal karena pekerjaannya semakin menumpuk, tetapi dia senang akhirnya tahu jika atasannya telah menyukai seorang gadis. Eh ... bukan gadis lagi, tetapi wanita beranak satu. Ya, mudah-mudahan semuanya lancar, agar moodnya tetap bagus.