Yes, It'S U

Yes, It'S U
Bab 122



Nalendra memutuskan akan membawa Rania segera ke rumah sakit. Keadaan Rania tidak memungkinkan menunggu Dareen pulang sekolah. Wajah Rania memucat, wajah yang kelelahan karena terus memuntahkan makanan, membuat Nalendra semakin khawatir.


"Ayo, ke rumah sakit sekarang, Dareen biar Aziz yang akan menjemputnya!" Dia segera mengangkat membantu sang istri bangun dari posisi tidurnya. Rania tidak mau di gendong, jadi Nalendra hanya memegang, menopang tubuh Rania, membantunya berjalan.


"Bagaimana Dareen?" Rania masih mengkhawatirkan Dareen yang akan menangis jika tidak melihatnya sepulang sekolah.


"Aziz yang akan menjemputnya ke sekolah."


"Bagaimana jika dia menangis?"


"Tidak akan, dia anak yang sangat hebat. Tenang saja, Dareen sudah tau Aziz jadi tidak mungkin dia menangis!"


Nalendra membawa Rania ke UGD dan langsung diperiksa oleh dokter jaga di sana. Rania menjalani beberapa tes.


Dua jam kemudian, Rania sudah berada di ruang rawat inap. Dokter menyarankan dia untuk rawat inap karena kondisi badannya yang begitu lemah.


Rania tertidur karena pengaruh obat yang dia minum. Nalendra dengan setia menunggu di samping sang istri dengan menggenggam tangannya, sesekali dia pun mencium tangan tersebut.


"Sayang," ujar Nalendra begitu melihat Rania mengerjapkan mata.


"Bagaimana Dareen?"


"Dia sudah pulang, aku titipkan dulu ke Aziz."


"Tidak bisakah kita pulang. Aku ingin pulang."


"Tidak, dokter menyarankan agar rawat inap. Sebaiknya pun begitu."


"Bagaimana dengan Dareen?" tanyanya lagi dengan lirih.


"Nanti malam, Ibu dan Mama Sekar sampai sini. Beliau berdua yang akan menjaga Dareen."


"Mama sama ibu?"


"Iya," jawab Nalendra tersenyum.


Rania menghela napas, "Kenapa mereka ke sini. Ini bukan Jakarta, jaraknya jauh sekali!"


"Mereka yang bersikeras mau ke sini, begitu tau keadaan kamu."


"Kenapa kamu ngasih tau mereka. Mereka jadi khawatir gara-gara kamu dan Aku jadi malu!" ketus Rania cemberut. "Kenapa kamu harus telepon mereka segala!"


"Bukan aku yang telepon. Mama Sekar telepon ke ponselmu, ya aku angkat!"


"Tapi kenapa kamu cerita keadaanku? harusnya bilang saja kalau aku lagi ke toilet atau lagi apa gitu!"


"Maaf, aku tidak bisa merahasiakan rasa senangku dan aku juga bingung harus apa melihatmu seperti ini."


"Senang! kamu senang aku sakit?" Rania terkejut.


"Dokter bilang kalau kamu lagi hamil sekitar lima Minggu ...."


"Ehm, aku apa?" tanya Rania memotong pembicaraan Nalendra.


"Kamu lagi hamil lima Minggu dan kemungkinan kamu mengalami apa ya, aku lupa tadi dokter bilang apa gitu istilahnya. Aku terlalu bersemangat karena mendengar kamu hamil!" Nalendra tersenyum. Wajahnya terlihat senang sekaligus khawatir.


"Morning sickness?"


"I-iya itu. Maafkan aku, aku tidak tau harus berbuat apa ketika kamu seperti tadi. Aku merasa bersalah, tapi aku akan melakukan apapun untuk menjagamu dan Dareen juga baby kecil kita yang masih berada di perutmu."


Aku hamil, benarkah? pikirnya.


Rania mencoba mengingat kembali waktu menstruasinya. Dia terakhir kali menstruasi beberapa hari sebelum lebaran. Seminggu setelah lebaran dia pergi ke Singapore. Dua Minggu kemudian acara tahlilan satu taun Ergha meninggal. Sudah sebulan lebih, dia berada di Singapore, menemani Nalendra bekerja.


"Harusnya jadwal mentruasiku seminggu yang lalu. Aku lupa!" ucapnya memandang Nalendra. "Benarkah aku hamil?"


Nalendra mengangguk. "Terima kasih, maafkan aku."


"Kenapa kamu mengucapkan terima kasih sekaligus minta maaf padaku?"


"Terima kasih kamu bersedia menjadi ibu untuk anak-anakku. Maafkan aku karena kata ibuku ... Dia pun seperti ini ketika mengandungku."


Rania tertawa, "Ini sudah biasa dialami banyak wanita hamil. Tidak usah terlalu bersedih." Rania mengusap rambut Nalendra yang sedang menundukkan kepala bertumpu pada tangan di tempat tidur Rania.


"Mungkin beberapa hari lagi. Dokter bilang mereka harus melihatmu, memantau keadaanmu beberapa waktu ke depan. Dareen bersama Aziz, nanti malam mereka juga yang akan menjemput ibu dan mama Sekar."


"Tidak bisakah aku pulang saja?"


"Bisa saja. Tapi aku akan tetap menuruti kata dokter, aku ga mau kamu kenapa-kenapa!" Nalendra mengusap pipi Rania lembut.


Satu jam sebelumnya, Bu Sekar mengirim beberapa pesan ke ponsel Rania. Namun, Nalendra tidak membalas pesan tersebut, dia terlalu sibuk mengkhawatirkan keadaan Rania yang masih dalam penanganan dokter jaga di UGD.


Ponsel Rania terus berbunyi, akhirnya Nalendra mengangkat panggilan tersebut.


"Assalamu'alaikum, Mah," ucap Nalendra memberi salam pada Bu Sekar.


"Wa'alaikumsalam," jawab Bu Sekar do seberang telepon. "Ning Aa kirain Teteh. Kemana Tetehnya?"


"Teteh masih tidur, mungkin efek obat."


"Obat? Naha kunaon (Emang kenapa)?"


"Dari kemarin dia sakit, pusing. Terus tadi pagi juga muntah-muntah, tiap makan muntah. Badannya juga lemes banget, wajahnya nyampe pucat. Jadi aku bawa ke UGD aja."


"Terus kata dokter apa?"


"Katanya, Alhamdulillah Rania lagi hamil udah sekitar 5 atau 6 Minggu tadi ya, aku lupa." Kata Nalendra terkekeh.


"Sekarang Aa sama Teteh udah pulang?"


"Belum, Rania harus dirawat. Kata dokter perlu observasi lagi, mungkin karena melihat Rania yang lemes banget. Aku juga takut dia kenapa-kenapa. Tiap makan satu atau dua suap udah keluar lagi makanannya. Dia juga seperti yang kelelahan parah."


"Terus Dareen di mana?" tanya Bu Sekar ingat cucu laki-laki nya.


"Dia tadi masih sekolah, nanti asistenku yang bantu jemput. Dareen sudah kenal dengannya."


"Asisten?"


"Iya, Aziz. Yang dulu datang ketika ke acara lamaran sekaligus pernikahanku itu lho Bu." Nalendra menjelaskan agar tidak terjadi salah paham. Dia takut mama mertuanya menyangka kalau asistennya seorang perempuan seperti di banyak drama atau film. "Mah, apa bisa mama ke sini beberapa hari saja. Aku mengkhawatirkan Dareen dan Rania. Aku juga harus bekerja. Dareen mungkin bisa aku titipkan di day care, tapi rasanya aku ga tega."


"Tapi, gimana ya A. Apanan jauh."


"Kalau mama mau ke sini, aku pesankan tiket pesawat yang nanti malam. Nanti aku bilang Zyan sama Alaric buat nganter mama ke bandara. Aku juga mau minta Ibu buat ke sini. Setidaknya kalau aku bekerja ada yang nunggu Dareen di rumah dan Rania di rumah sakit. Maafkan Nalendra, jadi merepotkan Mama."


"Ya udah, kalau begitu Mama siap-siap sekarang. Aa telepon ibu dulu aja, nanti Mama juga mau telepon ibu buat janjian berangkatnya."


"Makasi ya, Mah. Assalamu'alaikum," ucap Nalendra berpamitan, lalu mengakhiri teleponnya.


Nalendra kembali menggulir layar ponsel Rania. Dia menghubungi Bu Shafira dengan Video call.


"Assalamu'alaikum, Eh Kakak, ada apa? Naha pake ponsel si Teteh?" Bu Shafira melihat layar ponsel dan tertera nama menantunya di sana.


"Iya, barusan abis teleponan sama Mama Sekar. Jadi sekalian aja langsung telepon Ibu."


"Ada apa?"


"Kakak lagi di rumah sakit. Rania di rawat!"


"Naha kunaon?"


"Muntah-muntah aja, kasian. Tiap makan muntah padahal baru satu atau dua suap. Badannya juga lemes. Makanya ku dokter disuruh dirawat."


"Si Teteh hamil?" tanya Bu Shafira dengan mata berbinar.


"Ko Ibu tahu?" tanya Nalendra, seingatnya dia belum memberitahu kabar bahagia tersebut pada ibunya.


"Tahulah, Ibu juga dulu begitu pas hamil Kakak!"


"Oh, Bu. Bisakah ke sini nanti malam? Kakak udah minta Bu Sekar dan beliau setuju. Nanti Kakak pesankan tiket ke sini yang malam. Jadi sekarang ibu siap-siap, tenang aja nanti Kakak minta Alaric sama Zyan yang anter kalian ke bandara."


"Ah, Kakak mah sama Teteh sok kebiasaan ngadadak mun nananon teh!"


"Ya, kan Kakak juga ga tau Rania mau di rawat. Kakak minta Mama Sekar dan Ibu ke sini karena kasian kalau ninggalin Dareen sama Rania sendirian. Kakak juga kan harus kerja. Masa harus ngambil cuti terus, nanti ga selesai-selesai kerjaan Kakak di sini!"